De Zerbi Sebut Tottenham Bukan Tim, Singgung Kondisi Fisik

Roberto De Zerbi menyebut Tottenham bukan tim yang sesungguhnya setelah mereka dipermalukan Brentford 3-0 pada laga pembuka musim ini. Pelatih asal Italia itu mengaku kecewa dengan kurangnya perlawanan dari anak asuhnya di Gtech Community Stadium. Ia bahkan menyoroti kesiapan fisik para pemainnya yang dinilai belum berada pada level yang diharapkan.

Kekalahan ini menjadi tamparan keras bagi Spurs yang nyaris terdegradasi pada musim lalu. Klub London utara itu diproyeksikan membelanjakan lebih dari 300 juta pound sterling pada bursa transfer musim panas ini untuk memperkuat skuad. Alih-alih tampil meyakinkan, Tottenham justru tampil inferior dan tidak berdaya di hadapan Brentford yang bermain lebih hidup serta terorganisir.

De Zerbi Sebut Tottenham Bukan Tim

Dalam konferensi pers usai laga, De Zerbi tidak menutup-nutupi kelemahan timnya. Ia menyebut ada banyak alasan mengapa Tottenham belum pantas disebut tim. Menurutnya, sebelum benar-benar menjelma menjadi sebuah tim, tidak ada yang bisa memastikan apa yang mampu mereka capai musim ini.

“Kami belum menjadi sebuah tim karena banyak alasan. Sebelum Anda menjadi tim, Anda tidak bisa mengatakan apa yang bisa Anda lakukan,” ujar De Zerbi. Ia juga menyoroti kesiapan fisik para pemainnya yang dinilai belum berada dalam kondisi terbaik. Beberapa pemain baru kembali dari Piala Dunia, sementara tur pramusim di Australia dinilainya jauh dari ideal.

“Kami tidak dalam kondisi fisik yang tepat karena banyak alasan. Beberapa pemain kembali terlambat dari Piala Dunia. Di Australia kami tidak bekerja dengan cara yang benar, tapi ini bukan alasan. Ini adalah situasi normal ketika membangun proyek baru,” tegasnya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa De Zerbi sadar betul dengan keterbatasan yang ada, meski ia tidak mau menjadikannya sebagai pembenaran. Ia justru memilih untuk tetap percaya pada proses yang sedang berjalan.

Kronologi dan Latar Belakang Masalah Tottenham

Tottenham memang datang ke laga ini dengan modal yang tidak ideal. Mereka nyaris terdegradasi musim lalu dan harus menjalani musim yang penuh gejolak. Manajemen lantas merespons dengan belanja besar-besaran, tetapi hasil di lapangan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Pada laga ini, Tottenham memberikan debut kepada lima pemain anyar sekaligus: Andy Robertson, Jan Paul van Hecke, Marcos Senesi, Mateus Fernandes, dan Sandro Tonali. Banyaknya pemain baru yang langsung diturunkan membuat koordinasi di lini belakang dan lini tengah masih terlihat rapuh. Kondisi itu wajar terjadi di awal proyek, tetapi tetap tidak bisa dijadikan alasan atas kekalahan telak ini.

De Zerbi juga mengungkapkan bahwa ia tidak diperkuat Pedro Porro, Kevin Danso, dan Micky van de Ven. Rodrigo Bentancur yang memulai laga dari bangku cadangan pun baru kembali bergabung belakangan pada pramusim. Ia menyebut tur Australia ikut membuat persiapan fisik kurang maksimal, meski ia enggan menjadikannya sebagai pembenaran.

Dampak dan Implikasi bagi Proyek De Zerbi

Kekalahan telak dari Brentford menjadi sinyal bahwa pekerjaan rumah De Zerbi masih sangat banyak. Ia tidak hanya dituntut membenahi fisik pemain, tetapi juga membangun mental juang yang belum terlihat sepanjang laga. Ungkapannya soal kalah dalam duel dan bola kedua menunjukkan kesenjangan yang cukup besar antara ekspektasi dan realitas di lapangan.

“Kami bisa bertarung lebih kuat dari yang kami lakukan hari ini. Kami kehilangan terlalu banyak duel. Kami tiba kedua di bola kedua. Kami tidak memenangkan satu pun bola kedua, satu duel, satu tekel,” keluh De Zerbi. Ucapan tersebut menggambarkan betapa dominannya Brentford dalam duel-duel fisik sepanjang pertandingan. Tottenham nyaris tidak mampu bersaing di setiap perebutan bola, dan itu jelas menjadi pekerjaan rumah yang serius.

De Zerbi menegaskan bahwa target utama saat ini adalah menjadikan Tottenham sebagai sebuah tim yang sesungguhnya. Ia menolak anggapan bahwa tim bisa dibangun hanya di atas kertas lewat belanja pemain. Menurutnya, koneksi, semangat, dan jiwa tim hanya bisa terbentuk ketika para pemain benar-benar menemukan ikatan satu sama lain.

Brentford dan Debut Impresif Mamadou Sangaré

Di sisi lain, laga ini menjadi awal yang sempurna bagi Brentford untuk memulai tahun kedua mereka di bawah Keith Andrews. Gol-gol dari Keane Lewis-Potter, Vitaly Janelt, dan Michael Kayode memastikan tiga poin penuh bagi tim tuan rumah. Namun, sorotan terbesar justru tertuju pada Mamadou Sangaré, gelandang anyar yang direkrut dari Lens dengan banderol 39 juta pound sterling.

Sangaré menjalani debut yang luar biasa di lini tengah Brentford. Andrews pun memberikan kredit besar kepada klub atas keberhasilan menyelesaikan kesepakatan tersebut. Ia menilai Sangaré sudah menunjukkan kapasitas dan atribut yang dimilikinya sejak laga pertama.

“Kalian telah melihat hari ini apa yang dia mampu lakukan. Dia menambah kekuatan di lini tengah yang berbakat. Saya sangat menikmati penampilannya hari ini. Dia beradaptasi dengan sangat baik. Dia adalah pemuda rendah hati yang sangat lapar akan permainan,” puji Andrews. Pujian setinggi itu membuktikan bahwa Sangaré langsung menjadi bagian penting dari rencana permainan Brentford. Kehadirannya jelas menambah kedalaman dan kualitas di lini tengah tim asuhan Andrews.

Transfer dan Langkah Berikutnya Tottenham

Tottenham dilaporkan hampir menyelesaikan perekrutan Omar Marmoush dan Savinho dari Manchester City untuk menambah daya gedor di lini depan. Kendati demikian, De Zerbi menegaskan bahwa kehadiran pemain baru tidak otomatis membuat tim menjadi solid. Ia menekankan pentingnya proses dan waktu untuk membangun kolektivitas.

“Ada langkah-langkah untuk menjadi lebih baik. Sekarang targetnya adalah menjadi sebuah tim. Anda tidak bisa menjadi tim dari bursa transfer di atas kertas. Anda menjadi tim ketika para pemain menemukan koneksi, semangat, dan jiwa. Ini sebuah proyek,” kata De Zerbi. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ia melihat pekerjaannya di Tottenham sebagai proyek jangka panjang. Ia tidak ingin terburu-buru menilai hasil, tetapi tetap sadar bahwa perbaikan harus segera datang.

Dengan jadwal padat yang menanti, De Zerbi harus segera menemukan formula yang tepat. Kegagalan di laga pembuka bukan akhir segalanya, tetapi jika tidak segera dibenahi, musim Tottenham bisa kembali berubah menjadi mimpi buruk. Laga demi laga ke depan akan menjadi ujian nyata bagi proyek yang sedang ia bangun.

Pada akhirnya, kekalahan dari Brentford menjadi pengingat bahwa membangun tim butuh proses yang panjang. De Zerbi sadar akan hal itu dan menolak kehilangan kepercayaan kepada para pemainnya. Namun, waktu terus berjalan dan publik Tottenham tentu berharap proyek ini segera menunjukkan hasil nyata di lapangan.

Lima Wakil Presiden FIFA Desak Gianni Infantino Mundur

Sandor Csanyi, Ketua Federasi Sepak Bola Hongaria sekaligus salah satu wakil presiden FIFA, secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Gianni Infantino. Dalam surat yang dikirim pada Selasa dan pertama kali diperoleh kantor berita Agence France-Presse (AFP), Csanyi mengkritik “penilaian profesional, standar etika, dan kepemimpinan” presiden FIFA tersebut. Ia bahkan menyebut pemecatan Kevin Lamour, chief operating officer (COO) FIFA, sebagai “pukulan terakhir” yang memicu sikapnya.

Langkah Csanyi ini bukan sekadar protes pribadi. Ia tercatat sebagai wakil presiden FIFA kelima dari total delapan wakil presiden yang kini mendesak Infantino mundur. Kondisi ini memperlihatkan semakin menipisnya dukungan terhadap kepemimpinan Infantino di tubuh organisasi sepak bola dunia.

Isi Surat Csanyi: Kritik Tajam untuk Kepemimpinan Infantino

Dalam suratnya, Csanyi menegaskan bahwa ia telah kehilangan keyakinan yang sebelumnya ia berikan kepada Infantino. “Keyakinan saya bahwa Anda mampu terus memimpin FIFA secara sukses dan efektif sesuai dengan nilai-nilai bersama yang sebelumnya menjadi dasar kerja sama kita telah terkikis,” tulis Csanyi. Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap sejumlah keputusan yang diambil presiden FIFA dalam beberapa bulan terakhir.

Csanyi menggambarkan pemecatan Kevin Lamour sebagai “final straw” atau puncak dari seluruh kekecewaannya. Baginya, pemberhentian Lamour merupakan keputusan yang tidak terduga dan sulit diterima. Surat itu sekaligus menjadi sinyal bahwa kesabaran para petinggi sepak bola dunia terhadap Infantino semakin menipis.

Kevin Lamour dan Kontroversi di Balik Pemecatannya

Kevin Lamour resmi dipecat FIFA pada Senin, sehari sebelum surat Csanyi dikirim. Pemecatan ini terjadi setelah Lamour memutuskan keluar dari barisan pada bulan lalu dengan mengkritik Infantino. Kritik tersebut menyasar rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta yang akhirnya dibatalkan.

Selain kasus Lamour, surat Csanyi juga menyoroti sejumlah keputusan kontroversial di Piala Dunia tahun ini. Csanyi mengangkat persoalan rencana outsourcing kompetisi FIFA yang disebut-sebut akan menyerahkan berbagai turnamen kepada pihak eksternal. Ia menilai langkah-langkah semacam ini mengancam tata kelola dan independensi FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia.

Daftar Wakil Presiden FIFA yang Menentang Infantino

Csanyi bergabung dengan sederet nama besar yang sebelumnya lebih dulu menyatakan sikap menentang Infantino. Mereka adalah Aleksander Ceferin, presiden UEFA; Victor Montagliani dari Concacaf, konfederasi sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia; serta Sheikh Salman bin Ebrahim al Khalifa dari Konfederasi Sepak Bola Asia. Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris, Debbie Hewitt, juga telah menyampaikan posisi serupa terhadap kepemimpinan Infantino.

Di sisi lain, masih ada tiga wakil presiden FIFA yang tetap mendukung Infantino. Mereka adalah Alejandro Domínguez dari Conmebol Amerika Selatan, Patrick Motsepe dari Konfederasi Sepak Bola Afrika, dan Lambert Maltock dari Oseania. Dengan komposisi ini, Infantino kini kehilangan dukungan dari mayoritas wakil presidennya di FIFA.

Posisi Infantino di FIFA Council Kian Rapuh

Csanyi juga merupakan anggota FIFA Council yang beranggotakan 37 orang. Dewan ini secara teoretis menjadi badan pengambil keputusan utama FIFA, tetapi nyatanya kerap diabaikan oleh Infantino dalam berbagai kebijakan. Kritik dari internal dewan seperti yang dilontarkan Csanyi menjadi indikasi lemahnya komunikasi antara presiden dan badan tertinggi organisasi.

Ketika anggota dewan yang juga menjabat wakil presiden mulai bersuara lantang, posisi Infantino semakin sulit dipertahankan. Dukungan yang terus menyusut berpotensi memengaruhi proses pengambilan keputusan di FIFA, terutama jika konflik ini berlarut hingga periode kepemimpinan berikutnya. Tekanan publik dan internal yang terus menguat membuat setiap langkah Infantino ke depan akan diawasi ketat.

Apa Dampaknya bagi Masa Depan FIFA?

Tren ditinggalkan oleh para petinggi sepak bola global menunjukkan adanya perpecahan serius di level tertinggi FIFA. Meski surat Csanyi tidak secara tegas meminta Infantino mundur, desakan agar presiden FIFA tersebut bertanggung jawab kian nyata. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin akan muncul tuntutan yang lebih formal dari federasi-federasi anggota.

Keputusan kontroversial yang disorot Csanyi, termasuk pemecatan Lamour dan rencana outsourcing kompetisi, akan terus menjadi perbincangan. Publik dan federasi anggota tentu berharap FIFA bisa kembali fokus pada pengembangan sepak bola, bukan justru tersibukkan oleh konflik internal. Namun dengan semakin banyaknya petinggi yang kehilangan kepercayaan, jalan menuju rekonsiliasi tampak masih panjang.

Tekanan terhadap Gianni Infantino kini datang dari lima dari delapan wakil presiden FIFA. Sandor Csanyi menjadi sosok terbaru yang menyatakan kehilangan kepercayaan, dengan pemecatan Kevin Lamour sebagai pemicu utamanya. Surat tersebut sekaligus mempertegas adanya perpecahan serius di level tertinggi FIFA.

Dengan semakin banyaknya petinggi yang angkat suara, tuntutan perbaikan tata kelola FIFA hampir mustahil diabaikan. Infantino dihadapkan pada pilihan sulit antara melakukan konsolidasi internal atau menghadapi tekanan yang kian membesar. Publik sepak bola dunia pun menanti langkah selanjutnya dari presiden FIFA tersebut.

Kevin Lamour Dipecat FIFA Usai Kritik Rencana Infantino

Kevin Lamour Dipecat FIFA: Ini Kata Organisasi

Kevin Lamour dipecat FIFA dari posisinya sebagai Chief Operating Officer (COO) setelah secara terbuka mengkritik rencana kontroversial Presiden Gianni Infantino untuk menjual sebagian hak Piala Dunia kepada investor swasta. Kabar ini mengejutkan banyak pihak karena Lamour baru menjabat kurang dari dua tahun. Ia menjadi salah satu pejabat tinggi yang berani bersuara lantang menentang kebijakan tersebut.

Pemecatan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan terhadap Infantino, yang wacana penyingkirannya terus bergulir. Skema FFE yang ia usung disebut telah menimbulkan keresahan besar di internal FIFA, termasuk di kalangan staf administrasi. Lamour sendiri sebelumnya sudah menyatakan siap menerima risiko kehilangan pekerjaan akibat sikapnya itu.

FIFA resmi mengonfirmasi bahwa hubungan kerja dengan Kevin Lamour sebagai chief operating officer telah berakhir pada 17 Agustus 2026. Juru bicara FIFA menyampaikan ucapan terima kasih atas pengabdian Lamour selama dua tahun dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya. Namun, FIFA menolak memberikan komentar lebih lanjut mengenai masalah ini.

Sebelum pengumuman resmi itu, Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafström telah memberi tahu para staf melalui surel bahwa Lamour akan meninggalkan organisasi. Hingga saat ini, detail pasti di balik pemecatan Lamour masih belum jelas. Yang jelas, kepergiannya terjadi tak lama setelah ia melontarkan kritik keras terhadap rencana Infantino.

Kronologi Kritik Lamour terhadap Skema FFE

Lamour merupakan salah satu pejabat internal yang paling vokal menentang rencana Infantino untuk menjual bagian-bagian Piala Dunia kepada investor swasta, yang dikenal sebagai skema FFE. Dalam pernyataannya pada 31 Juli, ia mengungkapkan bahwa jajaran administrasi FIFA merasa telah “ditipu” oleh rencana tersebut. Ia juga menilai presiden FIFA “percaya dirinya adalah FIFA” padahal seharusnya ia melayani organisasi itu.

Lebih jauh, Lamour menegaskan bahwa para koleganya “pantas diperlakukan lebih baik daripada rasa hina dan intimidasi”. Ia juga mengungkapkan perasaannya bahwa semua orang ingin bangga bekerja untuk FIFA, tetapi saat ini banyak yang tidak lagi merasakan hal itu. Menariknya, hanya beberapa jam setelah pernyataan itu meluncur, rencana FFE pun dibatalkan.

Menanggapi risiko yang dihadapinya, Lamour menyatakan siap menerima konsekuensi apa pun, termasuk kehilangan pekerjaan. “Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, biarlah,” ujarnya dalam pernyataan resmi. “Saya akan memahami dan menghormati keputusan tersebut. Setidaknya saya akan tidur nyenyak malam ini.”

Dampak Pemecatan terhadap Tekanan Kepemimpinan Infantino

Pemecatan Lamour menjadi semakin signifikan karena terjadi bersamaan dengan mundurnya Carlos Cordeiro, salah satu penasihat senior Infantino. Cordeiro mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap usulan rencana FFE tersebut. Dua kepergian penting dalam waktu berdekatan ini menunjukkan adanya resistensi internal yang cukup kuat di tubuh FIFA.

Tekanan terhadap Infantino pun disebut semakin membesar setelah kegagalan rencana FFE. Upaya untuk memaksakan kepergiannya dari kursi presiden FIFA terus berlanjut. Situasi ini menjadi ujian besar bagi kepemimpinan Infantino di tengah krisis kepercayaan yang melanda organisasi.

Hubungan Lama Lamour dan Infantino

Yang membuat pemecatan ini semakin mencolok adalah fakta bahwa Lamour memiliki hubungan kerja yang panjang dengan Infantino. Sebelum bergabung dengan FIFA, Lamour pernah menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal UEFA dan pertama kali bergabung dengan badan sepak bola Eropa itu pada 2007. Ia juga sempat bekerja sama dengan Infantino saat keduanya berkarier di UEFA.

Kedekatan historis ini membuat keputusan Lamour untuk bersuara melawan rencana Infantino semakin menarik perhatian. Ia tampaknya lebih memilih mempertahankan integritas daripada menjaga loyalitas buta kepada atasannya. Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa kritik terhadap arah kepemimpinan FIFA tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari lingkaran dalam.

Masa Depan FIFA di Tengah Krisis Tata Kelola

Kepergian Lamour meninggalkan pertanyaan besar tentang tata kelola dan transparansi di dalam FIFA. Kegagalan skema FFE yang dibatalkan hanya beberapa jam setelah kritik muncul menunjukkan betapa rapuhnya proses pengambilan keputusan di organisasi ini. Publik dan komunitas sepak bola dunia tentu akan mengawasi langkah FIFA selanjutnya.

Apakah pemecatan ini akan memicu gelombang protes baru dari internal FIFA, atau justru menjadi bahan bakar bagi mereka yang ingin menyingkirkan Infantino? Yang jelas, krisis di puncak FIFA belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Semua mata kini tertuju pada langkah berikutnya dari badan pengatur sepak bola dunia tersebut.

Singkatnya, pemecatan Kevin Lamour dari jabatan COO FIFA merupakan konsekuensi langsung dari keberaniannya mengkritik rencana kontroversial Gianni Infantino. Ia memilih bersikap jujur meskipun harus membayar mahal dengan posisinya. Di tengah tekanan yang terus menggunung, kepemimpinan Infantino kini berada di titik yang paling genting.

Bagi FIFA, insiden ini menjadi pengingat bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Masa depan organisasi akan sangat bergantung pada bagaimana mereka menyikapi kritik internal ke depannya. Satu hal yang pasti: kisah ini masih jauh dari kata usai.

Arteta Puji Mentalitas Arsenal Usai Hancurkan City di Community Shield

Kemenangan Meyakinkan Arsenal atas Manchester City

Mikel Arteta menegaskan bahwa para pemain Arsenal telah menunjukkan hasrat besar untuk mempertahankan gelar juara Premier League setelah sukses menaklukkan Manchester City dengan skor telak 3-0 pada laga Community Shield yang berlangsung di Principality Stadium, Cardiff. Kemenangan ini menjadi pembuka musim yang sempurna bagi The Gunners yang musim lalu berhasil mengakhiri puasa gelar selama 22 tahun. Arsenal pun kini mengincar gelar juara berturut-turut untuk pertama kalinya sejak musim 1934-35, sebuah pencapaian yang sudah lama dinantikan oleh para pendukung mereka.

Pertandingan ini sekaligus menjadi ujian besar pertama bagi Enzo Maresca yang baru mengambil alih kursi pelatih Manchester City menggantikan Pep Guardiola pada musim panas ini. Gol cepat Riccardo Calafiori hanya berselang 24 detik setelah kick-off langsung mengejutkan kubu City dan meruntuhkan mentalitas para pemain lawan. Kemenangan 3-0 ini pun tercatat sebagai kekalahan terburuk yang dialami seorang manajer City di laga perdananya, menyamai rekor kelam Harry Newbould pada tahun 1906 yang juga kalah dari Arsenal dengan skor 4-1.

Arteta: Ini Standar yang Harus Kami Jaga

Arteta tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah timnya tampil dominan sepanjang laga. “Saya sangat senang dengan penampilan, hasil, dan tentu saja meraih trofi pertama di musim ini,” ujar Arteta usai pertandingan. Pelatih asal Spanyol itu juga menekankan bahwa kemenangan ini adalah bukti nyata bahwa anak asuhnya sudah siap bersaing memperebutkan gelar di musim yang baru. Ia menyebut banyak hal positif yang bisa dilihat dari cara timnya bermain melawan lawan sekelas Manchester City.

“Kami berbicara tentang keinginan besar untuk memulai musim ini dan membuktikan betapa kami menginginkannya, dan saya melihat banyak hal positif melawan lawan yang kuat,” tambah Arteta. “Saya sangat terkesan dengan cara kami bermain, cara kami bertanding. Itulah standar kami. Jika kami menjaga standar di level ini, saya yakin kami akan sangat kompetitif.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Arsenal tidak hanya puas dengan satu trofi, melainkan siap untuk terus tampil konsisten dan menjadi kekuatan yang sulit dikalahkan.

Ketika ditanya mengenai sumber motivasi timnya yang tampil begitu haus akan kemenangan, Arteta menjawab dengan gamblang. “Karena kami ingin merasakan momen itu lagi. Kami ingin menjalani momen-momen lain yang bahkan lebih besar dari sebelumnya,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa mempertahankan gelar adalah tugas yang sangat sulit, terutama karena klub belum pernah melakukannya sebelumnya dalam sejarah modern. Namun, ia menegaskan bahwa skuadnya sudah siap menghadapi tantangan besar tersebut dan akan memberikan segalanya untuk mengulang kesuksesan.

Peran Penting Christos Tzolis dan Kontribusi Ødegaard

Salah satu sorotan dalam laga ini adalah penampilan impresif Christos Tzolis yang terlibat langsung dalam terciptanya tiga gol Arsenal kala itu. Arteta memberikan pujian khusus kepada pemainnya tersebut yang dinilai memiliki kecerdasan luar biasa dalam membaca situasi di lapangan. “Dia pemain yang sangat cerdas dan memiliki kualitas besar, yaitu ketika berada di 20-30 meter terakhir lapangan, dia sangat tenang dalam memilih rekan yang tepat di sekitar kotak penalti,” jelas Arteta.

Menurut Arteta, kemampuan Tzolis untuk menyelesaikan peluang juga menjadi nilai tambah yang sangat berharga bagi tim. Ia menilai bahwa pemain asal Yunani tersebut kembali membuktikan ketajamannya melalui aksi-aksi krusial di laga ini. Keberadaan pemain seperti Tzolis memberikan dimensi baru dalam serangan Arsenal, terutama ketika mereka menghadapi pertahanan yang rapat seperti milik Manchester City.

Di sisi lain, kapten tim Martin Ødegaard juga tampil gemilang dengan menyumbangkan satu gol pada menit ke-48 setelah sebelumnya Kai Havertz menggandakan keunggulan. Ødegaard menegaskan bahwa penampilan timnya malam itu adalah bukti nyata bahwa Arsenal layak memenangkan gelar beruntun. “Kami memainkan sepak bola yang brilian. Penampilan hebat dan cara yang luar biasa untuk memulai musim,” kata playmaker asal Norwegia itu. Ia juga menegaskan ambisinya pribadi untuk terus mencetak gol dan membantu tim dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Maresca dan Kesiapan Manchester City Menghadapi Musim Baru

Di kubu Manchester City, Enzo Maresca mengakui bahwa timnya masih membutuhkan tambahan pemain baru sebelum memulai laga perdana Premier League melawan Bournemouth di kandang sendiri pada hari Minggu. The Citizens dikabarkan sedang mendekati kesepakatan untuk merekrut Ayyoub Bouaddi dari Lille, seiring dengan persiapan mereka melepas Rodri ke Barcelona. Rodri sendiri tidak ikut terbang ke Cardiff dan posisinya di lini tengah diisi oleh Elliot Anderson, sementara Jack Grealish masuk dari bangku cadangan untuk penampilan pertamanya sejak Mei 2025.

Maresca menegaskan bahwa kedatangan pemain baru semakin cepat akan semakin baik bagi kesiapan timnya. “Pemain baru mana pun, semakin cepat mereka datang, semakin baik karena kami akan memulai Premier League dalam satu minggu lagi. Jika mereka mulai bekerja bersama kami sesegera mungkin, itu akan lebih baik karena mereka juga bisa memahami cara kami ingin bermain,” jelas pelatih asal Italia tersebut. Ia tampak sangat menyadari bahwa persiapan yang minim akan menjadi hambatan besar bagi timnya di awal musim.

Meski menuai kekalahan telak, Maresca menegaskan bahwa dirinya tidak merasa khawatir berlebihan dengan hasil tersebut. “Secara umum saya selalu khawatir, bahkan ketika kami memenangkan pertandingan, jadi bayangkan bagaimana perasaan saya karena kami tidak memenangkan pertandingan ini,” katanya dengan nada ringan. Ia menganggap kekalahan ini sebagai bagian dari proses adaptasi timnya dan menegaskan bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki sebelum pertandingan berikutnya. Reaksi tim setelah kebobolan gol pertama dinilainya cukup baik, dan ia akan segera menganalisis pertandingan ini bersama staf pelatihnya.

Dampak Kemenangan Ini bagi Persaingan Gelar Musim Ini

Kemenangan telak atas Manchester City tentu memberikan dampak psikologis yang besar bagi kedua tim. Bagi Arsenal, hasil ini bukan sekadar trofi pelengkap, melainkan pernyataan jelas bahwa mereka layak diperhitungkan sebagai calon kuat juara musim ini. Para pemain menunjukkan kematangan dan kepercayaan diri yang tinggi, sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk melewati musim yang panjang dan penuh tekanan. Keberhasilan mengalahkan lawan terkuat di kompetisi domestik juga menjadi modal berharga bagi mentalitas mereka menghadapi laga-laga berat lainnya.

Sementara itu, bagi City, kekalahan ini menjadi alarm awal bahwa musim ini tidak akan berjalan mudah tanpa kehadiran Pep Guardiola di bangku pelatih. Maresca harus segera menemukan formula yang tepat untuk mengembalikan performa terbaik timnya, terutama di lini pertahanan yang tampak rapuh sepanjang laga. Proses transisi kepelatihan memang selalu membutuhkan waktu, namun tekanan untuk meraih hasil di kompetisi seketat Premier League tidak memberi ruang untuk beradaptasi terlalu lama.

Menarik untuk dinantikan bagaimana kedua tim akan menjalani start musim ini, apakah Arsenal mampu membuktikan konsistensinya atau apakah City akan bangkit dengan cepat di bawah kepemimpinan anyar. Yang jelas, persaingan di papan atas Premier League musim ini diprediksi akan berlangsung sengit dengan beberapa tim lain yang juga memperkuat skuad mereka. Jika Arsenal mampu menjaga standar permainan seperti yang ditunjukkan di Cardiff, maka bukan tidak mungkin mereka akan kembali mengangkat trofi di akhir musin nanti.

Klub-Klub Eropa Ancam Boikot Piala Dunia Antarklub FIFA

Klub-klub papan atas Eropa sempat mengancam akan boikot Piala Dunia Antarklub edisi mendatang jika Presiden FIFA, Gianni Infantino, tidak mencabut skema Fifa Forward Enterprise. Ancaman itu disampaikan hanya beberapa jam sebelum rencana bisnis yang kontroversial tersebut akhirnya dibatalkan pada awal Agustus. Sikap keras ini menunjukkan betapa gentingnya hubungan antara klub-klub Eropa dan FIFA dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam surat yang dikirim kepada Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, kelompok European Football Clubs (EFC) yang sangat berpengaruh menegaskan bahwa kerja sama mereka dengan turnamen-turnamen mendatang bergantung pada keputusan Infantino. Surat bertanggal 31 Juli yang ditandatangani CEO EFC, Charlie Marshall, itu menyebut langkah Infantino berpotensi menjadi “pelanggaran substansial” atas nota kesepahaman kedua pihak. EFC bahkan mengancam akan menarik dukungannya terhadap Piala Dunia Antarklub jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Fakta Utama: Ultimatum Menit Terakhir Sebelum Rencana FFE Dibatalkan

Eskalasi ini terjadi setelah FIFA memperkenalkan Football Forward Enterprise (FFE), skema yang didanai pihak swasta dan dirancang untuk mengelola hak siar, hak komersial, serta hak sponsor turnamen-turnamen FIFA. EFC menilai skema ini mengambil alih hak-hak yang sebelumnya dijanjikan akan dikelola bersama melalui usaha patungan antara EFC dan FIFA. Dalam suratnya, EFC menuntut kejelasan dari FIFA terkait skema baru tersebut dan mengancam akan mengambil tindakan tegas jika tuntutan itu tidak diakomodasi.

EFC menegaskan bahwa usaha patungan yang kerangkanya telah disepakati dalam nota kesepahaman itu harus diselesaikan sebelum hak siar Piala Dunia Antarklub Wanita 2028 dijual. Organisasi ini juga melontarkan kritik tajam karena proyek usaha patungan tersebut, tidak seperti proposal FFE, tidak mengalami kemajuan berarti selama setahun terakhir. Padahal, EFC sudah memiliki pengalaman kerja sama serupa dengan UEFA melalui perusahaan patungan bernama UC3 yang diluncurkan pada 2025.

Infantino akhirnya menghentikan skema FFE pada dini hari 1 Agustus setelah mendapat kecaman luas dari berbagai pihak. Namun, surat EFC menyiratkan bahwa ancaman boikot itu masih tetap berlaku selama usaha patungan yang dijanjikan belum terbentuk secara penuh. FIFA sendiri dikabarkan telah berjanji untuk segera mengadakan pertemuan dengan EFC demi menjaga kelangsungan proyek kerja sama tersebut.

Apa Isi Surat EFC dan Mengapa Klub Eropa Murka?

Bagian paling keras dalam surat EFC memuat ancaman yang sangat eksplisit. Dalam surat itu disebutkan: “Kecuali usaha patungan FIFA-EFC untuk Piala Dunia Antarklub, dengan kewenangan eksklusif atas semua urusan komersial dan operasional, terbentuk jauh sebelum siklus hak siar Piala Dunia Antarklub Wanita 2028, EFC tidak akan mendukung – dan klub-klub anggotanya tidak akan berpartisipasi dalam – edisi mendatang mana pun, termasuk Piala Dunia Antarklub wanita dan pria 2028 serta 2029.” Pernyataan ini menegaskan bahwa dukungan EFC terhadap turnamen mendatang benar-benar dipertaruhkan.

Kemarahan ini bukan hanya datang dari EFC, melainkan juga dari sejumlah besar klub di seluruh Eropa yang kecewa karena tidak dilibatkan dalam perancangan FFE. Salah satu klub besar Eropa bahkan menyampaikan kekhawatirannya melalui surat terpisah dan menyatakan siap mendukung EFC dalam “aksi kolektif yang lebih tegas” jika diperlukan. Klub tersebut juga menuntut adanya proses tata kelola yang lebih ketat dan transparan di tubuh FIFA.

EFC juga mengangkat persoalan keterlambatan penyaluran dana solidaritas sebesar £185 juta kepada klub-klub yang tidak berpartisipasi dalam Piala Dunia Antarklub. Masalah ini pertama kali dilaporkan pada Februari lalu dan hingga kini belum juga tuntas. EFC meminta FIFA segera membagikan laporan surplus pendapatan final dari Piala Dunia Antarklub 2025 beserta laporan laba rugi lengkap agar semua pendapatan, biaya, dan pengeluaran dapat dievaluasi secara transparan sesuai semangat kemitraan.

Dampak: Mengapa Ancaman Boikot Ini Begitu Serius?

Dalam praktiknya, jika klub-klub Eropa benar-benar menarik diri, turnamen Piala Dunia Antarklub tidak mungkin bisa berjalan tanpa keikutsertaan mereka. EFC dan FIFA sendiri telah mengoperasikan Piala Dunia Antarklub tahun lalu, edisi pertama dengan format 32 tim, dengan menggunakan semacam prototipe jangka pendek dari usaha patungan yang direncanakan. Hingga saat ini, belum ada tuan rumah yang diumumkan untuk Piala Dunia Antarklub Wanita yang baru maupun edisi turnamen pria pada 2029.

Ada optimisme yang meningkat bahwa masalah dana solidaritas ini akan segera menemukan titik terang. Namun, jika dana £185 juta itu dibagi rata, setiap klub liga papan atas dunia hanya akan menerima sekitar £50.000 – jumlah yang sangat kecil dibandingkan hadiah £84 juta yang sudah diterima Chelsea sebagai juara Piala Dunia Antarklub tahun lalu. Ketimpangan yang mencolok ini jelas memicu kekecewaan di kalangan klub yang tidak ikut serta dalam turnamen.

EFC juga mengingatkan bahwa nota kesepahaman yang akan berakhir pada 30 Desember 2030 mencakup penerimaan EFC dan klub anggotanya terhadap kalender pertandingan internasional serta aturan pelepasan pemain untuk tim nasional. Kedua hal ini dinilai sangat relevan bagi asosiasi anggota FIFA di luar Eropa dan juga bagi nilai yang seharusnya dimiliki FFE. Jika nota kesepahaman itu dibatalkan, EFC menyebut visi komersial FIFA dalam skema FFE merupakan “pelanggaran serius atas kepercayaan” yang bisa membahayakan seluruh kerja sama kedua belah pihak.

Kekuatan EFC: Dari Lobi Klub Menjadi Penentu Arah Sepak Bola Global

Surat bernada keras ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh EFC, yang diketuai oleh presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi. Organisasi yang didirikan pada 2008 sebagai kelompok lobi untuk klub-klub Eropa ini kini memiliki lebih dari 800 anggota, meskipun hanya sebagian kecil yang memiliki hak suara penuh. Pengaruh EFC terhadap FIFA disebut telah melampaui perkiraan banyak pihak di industri sepak bola.

Sejumlah pemangku kepentingan lain dalam ekosistem sepak bola dikabarkan merasa khawatir dengan tingkat kekuatan yang telah diambil alih oleh EFC. Sebagai respons, terbentuklah Union of European Clubs pada 2023 yang mewakili klub-klub kecil, meskipun organisasi ini tidak diakui oleh UEFA. Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika kekuasaan yang kompleks dan semakin memanas di sepak bola Eropa.

Salah satu konsekuensi potensial dari pembahasan EFC dengan FIFA adalah kemungkinan ekspansi organisasi ini menjadi kelompok yang mewakili klub di seluruh dunia dalam jangka menengah. Dalam waktu dekat, surat bulan lalu itu juga menuntut FIFA memenuhi janjinya untuk mengintegrasikan Al-Khelaifi ke dalam Dewan FIFA, yang dianggap sebagai badan pengambil keputusan utama. Tuntutan ini semakin mempertegas ambisi EFC untuk duduk di kursi kekuasaan sepak bola global.

Ancaman boikot yang dilayangkan EFC pada akhirnya berhasil memaksa FIFA untuk menghentikan skema FFE, tetapi pekerjaan rumah bagi kedua belah pihak masih panjang. Usaha patungan yang dijanjikan, transparansi keuangan, dan penyaluran dana solidaritas menjadi ujian apakah hubungan EFC dan FIFA benar-benar bisa kembali sehat. Jika tidak ditangani dengan serius, bukan tidak mungkin ancaman boikot Piala Dunia Antarklub itu akan kembali mencuat di masa depan.

Prakiraan Everton Premier League 2026-27: Mampukah Bangkit?

Prakiraan Everton di Premier League 2026-27 dari para penulis Guardian menempatkan The Toffees di peringkat 10. Posisi ini tiga tingkat lebih baik dari akhir musim lalu, ketika Everton mengakhiri kompetisi di peringkat 13. Namun, prediksi ini datang dengan catatan besar: kemajuan yang sesungguhnya masih harus dibuktikan di lapangan.

Musim lalu sebenarnya sempat berjalan melebihi ekspektasi pada empat perlima awal, dengan Everton tampil lebih proaktif dan berani menyerang, bebas dari ketakutan akan degradasi. Namun, keruntuhan di pengujung musim mengubah total persepsi terhadap musim penuh pertama David Moyes. Kini, pembicaraan soal kemajuan menuntut bukti yang lebih nyata daripada sekadar janji.

Peluang dan Target Everton di Premier League 2026-27

Pada 21 Maret lalu, Everton hanya tertinggal tiga poin dari posisi kelima yang menjadi ambang terakhir Liga Champions setelah menghancurkan Chelsea di kandang baru mereka. Sejak saat itu, The Toffees tidak pernah menang lagi hingga akhir musim dan jatuh ke peringkat 13. Posisi itu sama persis dengan musim sebelumnya di bawah Sean Dyche dan Moyes, dengan selisih satu poin lebih banyak tetapi selisih gol yang lebih buruk.

Sebenarnya, lolos ke kompetisi Eropa boleh dibilang target ambisius untuk klub yang masih beradaptasi dengan stadion baru dan kehilangan 10 pemain akibat habisnya kontrak, termasuk pemain pinjaman. Namun, peluang itu terbuka lebar di depan mata tim asuhan Moyes, dan mereka gagal memanfaatkannya. Musim ini, tanpa gejolak besar seperti musim panas lalu, lini tengah yang lebih baik, dan pengalaman setahun para pemain muda, peluang lolos ke Eropa bisa menjadi lebih realistis.

Semua itu hanya berlaku jika sejumlah lubang besar di skuad Moyes akhirnya diisi. Everton butuh peningkatan di posisi penyerang tengah, karena Beto dan Thierno Barry masih terbatas kemampuannya, meski Barry menunjukkan tanda-tanda positif di pramusim. Berikut beberapa sektor yang wajib dibenahi sebelum bursa transfer ditutup:

  • Penyerang tengah: Beto dan Thierno Barry dinilai belum cukup tajam untuk standar Premier League.
  • Bek kanan: Everton masih mencari penerus Séamus Coleman.
  • Bek tengah: sektor yang musim lalu kerap menjadi titik lemah.

Situasi di Luar Lapangan: Denda dan Tekanan Finansial

Konsekuensi dari kepemilikan Farhad Moshiri yang kacau masih terus dirasakan Everton hingga sekarang. Klub diperintahkan membayar kompensasi hampir £40 juta kepada Burnley atas degradasi tim tersebut pada musim 2021-22. Vonis yang dikeluarkan komisi disiplin independen Premier League ini dibarengi dengan denda finansial terbesar yang pernah dijatuhkan kepada klub Premier League.

Everton mengajukan banding atas vonis yang membuka kotak pandora ini, sekaligus atas denda terbesar tersebut. Klub mengklaim hukuman terbaru ini tidak memengaruhi rencana transfer mereka pada musim panas. Namun, di sisi lain, banyak pemegang tiket musiman harus menanggung kenaikan harga di atas inflasi, bahkan di sebagian kasus hampir 10 persen.

Di tengah semua tekanan itu, Everton justru memperpanjang kesepakatan sponsor dengan Stake. Padahal, pemerintah Inggris telah berkomitmen menindak operator judi tanpa izin yang mensponsori tim olahraga Inggris. Langkah ini tentu tidak lepas dari sorotan publik.

Hubungan Pemilik dan Suporter yang Belum Hangat

The Friedkin Group (TFG) memang berhasil membawa stabilitas finansial yang sangat dibutuhkan Everton. Namun, akan sulit untuk mengklaim bahwa suporter sudah benar-benar terhubung dengan kelompok pemilik yang rendah profil ini. Mereka bahkan jarang menghadiri pertandingan.

CEO Angus Kinnear, orang yang ditunjuk TFG untuk menjalankan klub, sempat memancing kemarahan suporter di akhir musim lalu. Ia menyebut hierarki klub merasa “bahagia namun tidak puas” dengan musim pertama di Hill Dickinson Stadium. Komentar itu langsung dianggap sebagai bukti baru bahwa Everton mulai terbiasa dengan mediokritas.

Namun, perlu dilihat konteks penuh dari pernyataan Kinnear tersebut. Ia sedang menulis tentang tekad TFG untuk mengusir ancaman ketidakstabilan finansial, degradasi, dan sanksi regulasi. Dalam kesempatan yang sama, ia juga menambahkan: “Kemajuannya jelas, tetapi kami belum mencapai apa pun.”

David Moyes dan Masa Depan di Tengah Spekulasi

David Moyes genap berusia 64 tahun pada April nanti dan tetap menjadi manajer tertua di Premier League. Ketajaman dan ambisinya untuk membangun kembali Everton masih jelas terlihat, meskipun menarik untuk disimak apakah ia tetap punya selera beradu argumen dengan kritikus jika musim dimulai dengan buruk. Terlebih, kursi pelatih tim nasional Skotlandia masih kosong dan Moyes tampak sebagai kandidat ideal untuk menggantikan Steve Clarke.

Hingga akhir musim lalu yang buruk, Moyes sebenarnya melampaui ekspektasi yang diberikan kepadanya. Namun, hasil buruk di pengujung musim merampas peluang Everton tampil di Eropa dan membuat pemilihan pemainnya disorot tajam. Pembicaraan soal perpanjangan kontrak pun sejak itu meredup.

Rekrutan yang Bisa Menjadi Kunci Kejutan

Jendela transfer Everton sejauh ini lebih terkesan masuk akal ketimbang spektakuler, seperti mengganti Idrissa Gana Gueye dengan Christian Nørgaard senilai £7 juta. Namun, satu langkah yang mungkin menjadi kejutan adalah pertukaran Dwight McNeil dengan Brennan Johnson. Hampir tidak ada yang membantah bahwa kepindahan pemain asal Wales itu dari Tottenham ke Crystal Palace pada Januari berakhir mengecewakan.

Palace pun siap menanggung kerugian besar atas investasi rekor mereka senilai £35 juta hanya tujuh bulan kemudian. Akan tetapi, jika Johnson yang kini berusia 25 tahun mampu menemukan kembali performa terbaiknya seperti di Nottingham Forest atau saat mencetak 18 gol untuk Spurs pada 2024-25, ia bisa menjadi pembelian yang sangat menguntungkan. Pemain ini dinilai mampu menjawab sejumlah masalah di lini depan Everton.

Statistik: Skuad Paling Stabil di Premier League

David Moyes dikenal sebagai manajer yang sangat suka mempertahankan susunan pemain tetap. Everton pun mencatatkan rata-rata perubahan susunan starter paling sedikit dibanding tim mana pun di Premier League 2025-26. Ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari pendekatan Moyes yang mengutamakan stabilitas dan chemistry antarpemain.

Dengan skuad yang sebagian besar masih sama seperti musim lalu, tren ini kemungkinan besar akan berlanjut. Namun, ada satu pertanyaan besar yang menggantung: bagaimana jika cedera mulai menyerang pemain-pemain kunci? Konsistensi memang baik, tetapi tanpa kedalaman skuad yang memadai, gaya ini bisa menjadi bumerang ketika jadwal padat datang.

Tyler Dibling: Pembelian Termahal yang Gagal Menonjol

Tyler Dibling seharusnya menjadi kandidat kuat untuk kategori pemain yang bakal bersinar musim ini setelah dibeli dari Southampton dengan biaya awal £35 juta. Namun, musim debutnya di Merseyside nyaris tidak meninggalkan jejak sama sekali. Dengan kata lain, ia kembali dinominasikan setahun kemudian justru karena musim yang tidak terjadi apa-apa.

Everton menginvestasikan banyak waktu dan uang untuk memboyong pemain timnas Inggris U-21 ini, yang hingga kini menjadi pembelian termahal pada periode kedua Moyes. Namun, hasilnya sangat mengecewakan. Gelandang serang itu hanya tampil sebagai starter dalam empat pertandingan liga sepanjang musim.

Yang lebih parah, Dibling tidak diberi satu menit pun bermain setelah kemenangan 2-0 atas Burnley pada 3 Maret lalu. Moyes tidak menyembunyikan frustrasinya terhadap apa yang ia lihat di lapangan latihan. Ini jelas bukan sinyal bagus bagi pemain yang diyakini bakal menjadi bintang masa depan Everton.

Dampak Piala Dunia bagi Skuad Everton

Piala Dunia terlama dalam sejarah ini seharusnya tidak memberi dampak terlalu berat bagi skuad Moyes. Hanya tiga pemain Everton yang terlibat, dan dari jumlah itu hanya Jordan Pickford yang masih tampil setelah 1 Juli. Pickford kembali menerima kritik yang biasa ia dapatkan setelah penampilannya melawan Ghana dan Argentina, meskipun ia menegaskan statusnya sebagai kiper utama Inggris sepanjang turnamen.

Iliman Ndiaye hanya sekali menjadi starter untuk Senegal dan ditarik keluar pada menit ke-73 ketika timnya unggul 2-0 atas Belgia di babak 32 besar. Hasil akhirnya justru kekalahan 3-2. Sementara itu, Nathan Patterson, yang masa depannya di Everton belum jelas, tampil dalam tiga pertandingan babak grup Skotlandia yang mudah dilupakan.

Everton kini berada di persimpangan yang sama seperti musim lalu: modal awal yang cukup baik, tetapi janji kemajuan harus dibuktikan dengan konsistensi. Skuad asuhan Moyes perlu mengisi posisi-posisi krusial, terutama penyerang tengah dan bek kanan, agar target Eropa tidak kembali menguap. Langkah terakhir di bursa transfer akan sangat menentukan apakah The Toffees benar-benar melaju atau kembali tertahan di papan tengah.

Prakiraan peringkat 10 dari para penulis Guardian bisa menjadi pijakan yang wajar, tetapi bukan sesuatu yang otomatis terjadi. Everton harus belajar dari keruntuhan musim lalu, ketika peluang tampil di Eropa hilang hanya dalam beberapa pekan. Kini tinggal menunggu apakah skuad Moyes sanggup membuktikan bahwa kemajuan itu nyata, bukan sekadar wacana.

PSG Juara Super Cup: Gol Doué Bungkam Aston Villa

Paris Saint-Germain (PSG) sukses merebut gelar juara Super Cup setelah menaklukkan Aston Villa dalam pertandingan penuh drama di Salzburg. Gol kemenangan Les Parisiens dicetak oleh Désiré Doué, sementara Brian Madjo menorehkan sejarah sebagai pencetak gol termuda di ajang ini. Kemenangan tipis itu sekaligus menegaskan dominasi PSG di kancah Eropa.

Laga ini menjadi ujian menarik bagi kedua tim. Aston Villa tidak tampil gentar, bahkan sempat menyamakan kedudukan dan nyaris memaksa adu penalti. Namun pengalaman PSG dalam laga-laga besar kembali menjadi pembeda, dan kini pertanyaan besarnya adalah apakah mereka mampu menambah koleksi trofi Liga Champions untuk ketiga kalinya beruntun.

PSG Juara Super Cup Usai Menang Dramatis atas Aston Villa

Pertandingan di Salzburg berjalan sengit sejak menit awal. PSG membuka keunggulan pada menit ke-20 melalui Khvicha Kvaratskhelia, yang memanfaatkan bola liar hasil rebutan Vitinha setelah kontrol Brian Madjo kurang sempurna. Kvaratskhelia lalu memotong masuk melewati Matty Cash dan melepaskan tembakan keras ke tiang dekat Marco Bizot. Enam menit kemudian, PSG nyaris menggandakan keunggulan, tetapi umpan silang Nuno Mendes dari sisi kiri gagal dimanfaatkan Maghnes Akliouche dan rekan-rekannya.

Madjo sempat membuang sejumlah peluang sebelum akhirnya menyamakan skor menjelang turun minum. Penyerang berusia 17 tahun itu menyambut umpan silang John McGinn dengan voli menyamping yang meluncur deras ke atap gawang Matvey Safonov. Sebelum gol itu, Madjo juga sempat melihat tayangan ulang sundulannya yang meleset di layar stadion, lalu gagal mencetak gol dari dua kesempatan lain. Namun pada momen krusial, ia tampil tenang dan mencatatkan namanya sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah kompetisi.

PSG kembali unggul tepat setelah satu jam pertandingan. Ousmane Dembélé yang masuk pada babak kedua memberikan umpan terobosan ke sisi kanan yang membuka pertahanan Aston Villa. Gol Doué sempat dianulir setelah Ian Maatsen dan Pau Torres mengangkat tangan, tetapi tinjauan VAR dan teknologi semi-automated offside menunjukkan bahwa Matty Cash berada dalam posisi yang membuat Doué tetap onside. Wasit asal Somalia, Omar Artan, yang ditunjuk UEFA setelah sempat ditolak masuk Amerika Serikat untuk memimpin Piala Dunia, akhirnya mengesahkan gol tersebut.

Brian Madjo Cetak Sejarah di Debut Penuh Bersama Aston Villa

Penampilan Madjo menjadi sorotan utama dari kubu Aston Villa. Pemain yang direkrut dari Metz dengan nilai sekitar 10 juta pound pada Januari lalu itu baru bisa menjalani laga kompetitif pertamanya setelah Villa memenangkan banding di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). FIFA sebelumnya melarangnya bermain, tetapi keputusan itu akhirnya dibatalkan sehingga Madjo bebas memperkuat timnya di musim ini.

Sejak pramusim, Madjo sudah menunjukkan ketajamannya dengan mencetak gol ke gawang Walsall, Real Sociedad, dan Indonesia All Stars. Dalam daftar pencetak gol terbanyak pramusim, hanya João Pedro dari Chelsea yang mampu melampaui catatannya di antara pemain Premier League. Debut penuhnya melawan PSG berjalan impresif: ia merepotkan bek sekaliber Willian Pacho dan Marquinhos, dua nama yang dikenal sebagai salah satu bek terbaik dunia.

Kehadiran Madjo juga semakin menekan posisi Tammy Abraham. Striker yang dibeli Aston Villa seharga 18,25 juta pound tujuh bulan lalu itu belum mampu memenuhi ekspektasi. Madjo justru tampil menonjol di panggung besar pertamanya, memberi sinyal bahwa persaingan di lini depan Villa akan semakin ketat musim ini.

Dampak Hasil Ini bagi Aston Villa dan PSG

Meski harus pulang dengan kekalahan, Aston Villa punya banyak alasan untuk optimistis. Mereka bermain berani dan hampir membawa laga ke adu penalti andai Warren Zaïre-Emery tidak melakukan blok luar biasa terhadap tembakan João Gomes. Emi Buendía juga menyia-nyiakan peluang emas dengan sundulan yang melebar di masa injury time. Villa membuktikan bahwa mereka layak bersaing dengan tim papan atas Eropa.

Unai Emery sebelumnya mengingatkan bahwa timnya belum berada di kondisi terbaik. Sejumlah pilar seperti Emiliano Martínez, Ezri Konsa, dan Ollie Watkins masih menjalani liburan, sementara Boubacar Kamara baru kembali menjadi starter untuk pertama kalinya sejak cedera lutut serius yang dialaminya pada Januari. Meski demikian, Emery merasa bangga dengan performa anak asuhnya dan yakin timnya akan semakin baik.

Di sisi lain, PSG kembali menunjukkan mentalitas juara yang ditanamkan Luis Enrique. Pelatih asal Spanyol itu dikenal selalu ingin menang dalam segala hal, baik di lapangan sepak bola, saat bermain tenis, padel, maupun permainan papan parchis. Filosofi itu tampak jelas dalam cara PSG mengendalikan momen-momen krusial pertandingan, termasuk saat menghadapi tekanan Villa di menit-menit akhir.

Konteks Lebih Luas: Ambisi PSG dan Masa Depan Villa

Bagi PSG, gelar ini menjadi awal yang sempurna setelah dua musim beruntun menjuarai Liga Champions lewat partai final di Munich dan Budapest. Kini muncul pertanyaan apakah mereka mampu mewujudkan three-peat di Madrid pada bulan Mei. Melihat kedalaman skuad dan mentalitas yang ditunjukkan di Super Cup, peluang itu jelas terbuka lebar.

Aston Villa sendiri tidak tinggal diam di bursa transfer. Mereka dikabarkan tengah memfinalisasi kesepakatan untuk João Palhinha dari Bayern Munich, sementara bek kiri Atlético Madrid, Matteo Ruggeri, dijadwalkan menjalani tes medis dalam 48 jam ke depan. Emery mengatakan bahwa beberapa perubahan tetap diperlukan, tetapi ia percaya diri menghadapi musim ini.

Dengan tambahan pemain baru dan kembalinya sejumlah pilar, Villa diprediksi akan tampil lebih kompetitif. John McGinn sendiri telah mengisyaratkan bahwa timnya akan membungkam kritik, dan performa melawan PSG bisa menjadi modal penting untuk membuktikan hal itu. Adapun PSG, kemenangan ini menegaskan bahwa mereka tetap menjadi tim yang harus dikalahkan di kompetisi Eropa musim ini.

Secara keseluruhan, Super Cup ini menghadirkan pertandingan kelas Eropa yang atraktif dan penuh semangat juang. PSG pulang dengan trofi, tetapi Aston Villa pulang dengan kepercayaan diri yang tidak kalah berharga. Musim depan akan menjadi panggung bagi keduanya untuk membuktikan bahwa performa mereka di laga ini hanyalah permulaan dari persaingan yang lebih sengit.

Pratinjau Brighton Premier League 2026-27: Ambisi Eropa

Brighton & Hove Albion memasuki Premier League 2026-27 dengan modal kepercayaan diri tinggi setelah musim lalu memastikan tiket ke Liga Conference Eropa. Meski kalah 3-0 dari Manchester United di laga pamungkas Mei lalu, para pemain dan suporter justru kompak merayakan pencapaian tersebut karena itu mengantarkan mereka kembali ke pentas Eropa. Kini target Brighton tidak sekadar bertahan di papan tengah, melainkan berani bermimpi melaju jauh di kompetisi antarklub Eropa.

Posisi kedelapan musim lalu menjadi bukti konsistensi Brighton sebagai salah satu klub model di Premier League, tetapi tantangan musim ini jauh lebih berat. Sejumlah pemain senior hengkang, sang pelatih masih sangat muda, dan padatnya jadwal akibat kompetisi Eropa bakal menguji ketahanan skuad. Pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana Fabian Hürzeler meracik tim untuk bersaing di tiga ajang sekaligus tanpa kehilangan identitas permainan.

  • Prediksi posisi para penulis Guardian: ke-9
  • Posisi akhir musim lalu: ke-8
  • Pelatih: Fabian Hürzeler (33 tahun)
  • Kompetisi Eropa: Liga Conference Eropa

Prospek Brighton di Premier League 2026-27

Sebagai klub yang lolos ke Liga Conference Eropa, Brighton langsung dihadapkan pada pertanyaan besar: seberapa realistis target trofi tersebut? West Ham dan Crystal Palace telah membuktikan bahwa klub asal Inggris mampu memenangkan kompetisi ini sejak pertama kali digelar, sehingga menjadikan trofi itu target yang wajar untuk dikejar. Meski begitu, jadwal padat yang mengharuskan tim bermain Kamis-Minggu akan menjadi ujian berat bagi ketebalan skuad The Seagulls.

Pengalaman tiga musim lalu menjadi pelajaran berharga bagi klub. Saat itu Brighton menikmati perjalanan hingga babak 16 besar Liga Europa, tetapi efeknya justru merusak performa di kompetisi domestik karena skuad kelelahan dan hubungan dengan manajer kala itu, Roberto De Zerbi, ikut meregang. Hasilnya, Brighton harus puas finis di peringkat 11 yang mengecewakan. Musim ini, klub berharap cerita berbeda dengan manajemen tim yang lebih siap menghadapi padatnya kalender.

Perombakan Skuad: Perpaduan Pengalaman dan Masa Depan

Musim panas ini menjadi periode transisi besar di Brighton. James Milner memutuskan pensiun dan bahkan tidak ikut merayakan keberhasilan tim lolos ke Eropa, sebuah sinyal bahwa generasi emas klub perlahan berganti. Sementara itu, Danny Welbeck yang tampil impresif sebagai penyerang utama musim lalu memilih pindah ke Chelsea, langkah yang menarik perhatian mengingat usianya akan menginjak 36 tahun pada November mendatang.

Dengan kepergian para senior, Brighton kini hanya memiliki Pascal Gross, Lewis Dunk, dan kiper cadangan Jason Steele sebagai pemain veteran yang usianya lebih tua dari sang pelatih. Kejutan lain datang dari Solly March yang tidak ditawari kontrak baru, sebuah keputusan yang sulit diterima suporter setia mengingat dedikasinya selama bertahun-tahun, meski masalah cedera menjadi pertimbangan utama di balik langkah tersebut.

Di lini pertahanan, Jan Paul van Hecke yang menjadi bek terbaik Brighton musim lalu dilepas ke Tottenham dengan nilai transfer £52 juta. Sebagai gantinya, Brighton memboyong bek muda menjanjikan, Luka Vuskovic, yang sebelumnya tidak pernah tampil untuk Spurs. Meski reputasi rekrutan Brighton sangat dihormati industri sepak bola berkat kecanggihan analitik Jamestown Analytics milik Tony Bloom, bukan berarti semua pembelian selalu sukses—sejumlah pemain pernah gagal memenuhi ekspektasi.

Renovasi Stadion Amex dan Sentuhan Modern untuk Suporter

Di luar lapangan, Brighton berinvestasi besar untuk meningkatkan pengalaman suporter. Stadion Amex akan memperluas area berdiri aman (safe standing) di South Stand sebagai bagian dari proyek modernisasi senilai £40 juta. Pekerjaan ini dijadwalkan berlangsung pada jeda internasional September dengan tujuan utama menciptakan atmosfer stadion yang lebih hidup.

Klub juga membuka 1901 Pub, sebuah konsep baru yang menggabungkan pub tradisional dengan ruang santai premium bagi suporter yang ingin menikmati pertandingan dalam suasana lebih rileks. Dengan kapasitas 660 orang, keanggotaan tempat ini dibanderol mulai £173 per bulan. Langkah ini menunjukkan bagaimana manajemen Brighton menaruh perhatian serius pada kenyamanan fans, sejalan dengan reputasi klub yang dikenal peka terhadap kebutuhan suporter.

Tony Bloom: Tulang Punggung di Balik Kesuksesan Brighton

Tidak ada yang meragukan bahwa kesuksesan Brighton bertumpu pada dukungan finansial Tony Bloom. Pemilik sekaligus suporter setia sejak kecil ini kembali membuktikan komitmennya dengan menambah pinjaman sebesar £107 juta pada Januari lalu, sehingga total pinjaman yang diberikan mencapai £400 juta. Tanpa suntikan dana dan antusiasme Bloom yang terus menyala, Brighton mustahil menjadi kekuatan mapan dan panutan di Premier League seperti sekarang.

Menariknya, Bloom juga terlibat dalam perburuan gelar Hearts di Liga Skotlandia musim lalu, menunjukkan bahwa pria yang akrab disapa “the Lizard” di dunia perjudian ini memiliki perhatian luas di luar Brighton. Namun, prioritas utamanya tidak pernah berubah, yaitu klub kota kelahirannya. Para suporter Brighton sepenuhnya sadar bahwa kehadiran Bloom adalah faktor penentu keberlangsungan klub.

Fabian Hürzeler: Pelatih Muda yang Kian Dewasa

Fabian Hürzeler telah melalui banyak proses pendewasaan selama dua musim memimpin Brighton. Ada kalanya keraguan muncul terhadap kemampuannya, tetapi manajemen klub yang dipimpin Bloom dan CEO Paul Barber tetap percaya penuh pada pelatih asal Bavaria yang masih berusia 33 tahun ini. Kontrak baru berdurasi tiga tahun diumumkan pada Mei lalu, dengan Bloom menyebut adanya “identitas permainan yang jelas” dalam tim asuhannya.

Hürzeler memang dikenal memiliki temperamen tinggi, dan perilakunya di pinggir lapangan kerap menuai protes dari wasit maupun pelatih lawan. Meski begitu, ia akan memulai musim ini sebagai manajer dengan masa bakti terlama kelima di Premier League, sebuah pencapaian yang layak dihargai. Ditambah gaya rambut barunya yang mencolok pada pramusim, Hürzeler siap membuktikan bahwa kesuksesan di pentas Eropa bisa semakin memoles reputasinya yang sedang naik daun.

Bintang Baru dan Kandidat Terobosan Musim Ini

Luka Vuskovic: Bek Masa Depan Pengganti Lewis Dunk

Di lini belakang, Luka Vuskovic menjadi rekrutan yang paling dinantikan. Bek Kroasia ini mencuri perhatian saat dipinjamkan ke Hamburg, di mana kemampuan membaca permainan, positioning, dan kematangannya menuai pujian. Kedatangan Pascal Struijk dari Leeds memberinya ruang untuk berkembang perlahan, tetapi kemampuan Vuskovic dalam membangun serangan dari lini belakang berpotensi menjadikannya penerus jangka panjang Lewis Dunk sebagai kapten.

Nilai transfernya yang dilaporkan mencapai £46 juta—saat Spurs membayar £12 juta untuk mendapatkannya—menunjukkan besarnya permintaan terhadap bek muda ini. Angka tersebut juga menegaskan keyakinan Brighton bahwa Vuskovic layak dijadikan investasi jangka panjang. Harapan besar pun tersemat bahwa kesepakatan ini nantinya akan dianggap sebagai pembelian yang sangat menguntungkan.

Charalampos Kostoulas Siap Gantikan Welbeck

Untuk lini depan, Brighton memiliki Charalampos Kostoulas yang siap mengisi kekosongan yang ditinggalkan Welbeck. Musim lalu, pemain Yunani berusia 19 tahun ini baru mendapat dua kali kesempatan starter di liga, tetapi gol tendangan salto spektakulernya ke gawang Bournemouth pada Januari menjadi bukti kualitasnya. Dengan kebijakan klub yang sabar memberi waktu adaptasi kepada pemain baru, musim ini diyakini menjadi panggung bagi Kostoulas untuk tampil lebih banyak.

Rekan senegaranya, Stefanos Tzimas, yang sudah kembali berlatih setelah pulih dari cedera ACL, juga akan menjadi kompetitor atau partner potensial di lini serang. Kehadiran dua penyerang muda Yunani ini memberi Hürzeler lebih banyak opsi dalam merotasi tim. Kombinasi keduanya bisa menjadi senjata baru Brighton untuk menggantikan produktivitas Welbeck.

Catatan Statistik dan Jejak Pemain di Piala Dunia

Catatan statistik musim lalu menunjukkan Brighton adalah tim yang sangat produktif dalam membangun serangan terbuka. Hanya dua klub Manchester yang berhasil mencetak lebih banyak gol dari permainan terbuka, sementara tingkat expected goals (xG) per laga Brighton identik dengan Arsenal pada 2025-26. Artinya, peluang mencetak gol tidak akan menjadi masalah—tinggal menunggu siapa yang mampu mengambil tongkat estafet pencetak gol setelah kepergian Welbeck.

Piala Dunia baru-baru ini juga meninggalkan jejak bagi sejumlah pemain Brighton. Jordan Henderson memastikan Jason Steele mendapat medali perunggu atas kontribusinya sebagai kiper latihan yang diakui kualitasnya saat Inggris finis di posisi ketiga. Sementara itu, Maxim De Cuyper melaju hingga perempat final bersama Belgia, dan Yasin Ayari mencetak dua gol dalam satu pertandingan Piala Dunia—sebuah rekor baru bagi pemain Brighton—saat Swedia menekuk Tunisia 5-1.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, musim Brighton di Premier League 2026-27 menjanjikan cerita yang penuh warna. Di satu sisi ada optimisme berkat rekrutan muda potensial dan kepercayaan penuh manajemen terhadap Hürzeler, tetapi di sisi lain transisi skuad dan padatnya jadwal Eropa menjadi tantangan nyata. Jika semua elemen berjalan mulus, finis di papan atas klasemen dan perjalanan panjang di Liga Conference bukanlah mimpi yang mustahil bagi The Seagulls.

Trump Dukung Infantino: Memecatnya akan Jadi Kesalahan FIFA

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, buka suara di tengah krisis yang mengguncang FIFA. Trump memperingatkan bahwa badan sepak bola dunia itu akan membuat kesalahan besar jika mengganti Gianni Infantino dari kursi presiden. Pernyataan tegas ini disampaikan Trump ketika posisi Infantino tengah terancam oleh desakan sejumlah konfederasi.

Tekanan terhadap Infantino datang dari berbagai arah setelah rencananya menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta berakhir gagal. UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan Concacaf—yang membawahi sepak bola di Karibia, Amerika Utara, dan Amerika Tengah—menuduh Infantino melakukan penipuan. Di tengah desakan agar Infantino mundur, dukungan dari Presiden AS itu pun menjadi sorotan.

Trump Dukung Infantino dengan Pernyataan Keras di Truth Social

Dalam unggahan di platform media sosial Truth Social pada Selasa pagi waktu setempat, Trump dengan tegas membela Infantino. “FIFA akan membuat kesalahan besar jika, karena alasan apa pun, mereka mempertimbangkan untuk mengganti Presiden Gianni Infantino,” tulis Trump. Presiden AS itu menyebut Infantino sebagai sosok yang fantastis.

Trump juga menilai Infantino baru saja memimpin Piala Dunia paling sukses sepanjang sejarah, bahkan empat kali lipat lebih sukses dari edisi mana pun sebelumnya. “Jika dia pergi, turnamen ini tidak akan pernah sesukses atau seuntung itu lagi,” lanjutnya. Pernyataan ini menjadi tamparan bagi pihak-pihak yang selama ini mendesak Infantino lengser.

Menariknya, dukungan ini datang justru saat reputasi Infantino sedang diuji oleh sejumlah konfederasi besar. Meski begitu, Trump tampak tidak meragukan kapasitas Infantino dalam mengelola FIFA. Baginya, memecat ketua FIFA saat ini sama saja dengan membuang peluang besar organisasi itu.

Akar Masalah: Rencana Penjualan Saham Piala Dunia

Krisis yang dihadapi Infantino bermula dari usulannya membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan yang dirancang untuk mengurus aspek komersial dan operasional turnamen FIFA. Dalam rencana itu, sekitar 20 persen saham akan ditawarkan kepada investor swasta. Gagasan ini langsung menuai kritik tajam dari berbagai pihak di dalam maupun luar FIFA.

Infantino akhirnya meminta maaf atas usulan tersebut dan rencana itu pun dianggap gagal. Namun, permintaan maaf itu tidak menghentikan gelombang protes dari sejumlah konfederasi. UEFA, misalnya, sebelumnya sudah sempat mengancam akan memboikot kompetisi yang digelar FIFA.

Setidaknya ada beberapa fakta penting yang menjadi pemicu kisruh ini. Rangkaian peristiwa tersebut bermula dari keputusan internal FIFA yang kemudian memicu reaksi berantai dari sejumlah konfederasi. Berikut poin-poin utamanya:

  • Rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) untuk mengelola aspek komersial dan operasional turnamen FIFA.
  • Wacana penjualan sekitar 20 persen saham kepada investor swasta.
  • Permintaan maaf Infantino setelah rencana tersebut menuai penolakan luas.
  • Desakan tinjauan independen dari UEFA, AFC, dan Concacaf terhadap skema Infantino.

UEFA, AFC, dan Concacaf Minta Tinjauan Independen

Ketiga konfederasi itu menyampaikan sikapnya melalui surat terbuka yang ditujukan kepada FIFA. Dalam surat tersebut, mereka mendesak adanya tinjauan independen terhadap skema yang diusulkan Infantino. Menariknya, surat itu tidak menyebut nama Infantino secara langsung, tetapi nada tudingannya sangat jelas tertuju kepadanya.

“Kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah kepemilikan,” demikian bunyi surat tersebut. “Ini bukan tentang memegang—atau menuntut—kekuasaan untuk dipegang. Ini adalah kewajiban pengabdian kepada keluarga sepak bola yang mempercayakannya. Ketika kepercayaan rusak karena penipuan, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kolektif yang memberinya otoritas, maka kewajiban itu telah ditinggalkan.”

Tak hanya itu, UEFA dan dua konfederasi lain dikabarkan telah mengadakan pembicaraan awal soal kemungkinan menyelenggarakan kompetisi sendiri. Langkah ini menjadi sinyal bahwa mereka serius menjauhkan diri dari krisis yang melanda FIFA. Mereka juga disebut ingin memberi Infantino kesempatan mundur dengan bermartabat tanpa mencalonkan diri lagi pada Maret tahun depan.

Dampak bagi Masa Depan FIFA dan Infantino

Dukungan Donald Trump terhadap Infantino menjadi faktor baru dalam dinamika politik FIFA. Trump jelas ingin Infantino tetap bertahan, dan pernyataannya soal Piala Dunia yang sukses menunjukkan penilaian positif terhadap kepemimpinannya. Namun, dukungan politik dari luar FIFA tidak otomatis mengubah tuntutan dari dalam.

Konflik ini menempatkan FIFA pada posisi yang sulit. Di satu sisi, ada presiden yang didukung penuh oleh presiden negara tuan rumah Piala Dunia 2026. Di sisi lain, tiga konfederasi besar menuntut akuntabilitas dan bahkan membuka opsi untuk menggelar kompetisi tandingan.

Jika Infantino tetap bertahan hingga pemilihan Maret tahun depan, ketegangan dengan UEFA, AFC, dan Concacaf berpotensi semakin terbuka. Sebaliknya, jika ia memilih mundur, FIFA harus menghadapi tantangan besar mencari pengganti yang bisa diterima semua pihak. Apa pun skenarionya, stabilitas FIFA akan terus diuji dalam beberapa bulan ke depan.

Konteks Lebih Luas: Apa yang Bakal Terjadi Berikutnya?

Pertarungan antara Infantino dan konfederasi-konfederasi besar belum menunjukkan titik terang. Surat terbuka yang menegaskan bahwa “kepemimpinan bukan kepemilikan” memperlihatkan bahwa mereka menginginkan perubahan mendasar, bukan sekadar pergantian orang. Sementara itu, dukungan Trump justru memperkuat posisi Infantino di mata publik internasional.

Pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung tahun depan akan menjadi momen penentu. Apakah Infantino akan mencalonkan diri lagi atau memilih mundur dengan bermartabat, masih menjadi pertanyaan besar. Yang jelas, krisis kepercayaan ini tidak akan selesai hanya dengan permintaan maaf atau dukungan dari tokoh politik.

Kisruh ini pada akhirnya berpusat pada satu hal: kepercayaan. Infantino dituduh merusak kepercayaan keluarga sepak bola melalui rencana yang dinilai membahayakan integritas Piala Dunia. Dukungan Trump mungkin menambah warna, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan anggota FIFA.

Masa depan Infantino kini bergantung pada tinjauan independen dan sikap konfederasi-konfederasi yang selama ini menjadi pilar FIFA. Sampai pemilihan tahun depan tiba, semua mata akan terus tertuju pada perkembangan kisruh ini. Satu hal yang pasti, dunia sepak bola tengah menyaksikan salah satu ujian terbesar dalam sejarah FIFA.

Skandal FIFA: Rencana Jual Piala Dunia Ancam Infantino

Skandal FIFA kembali menyeruak — kali ini menyeret langsung posisi presiden Gianni Infantino. Rencananya untuk menjual hak komersial Piala Dunia kepada investor eksternal memicu gelombang protes dari UEFA dan sejumlah pihak internal, memaksanya berebut menyelamatkan kursi kepresidenan. Padahal, baru dua pekan sebelumnya, Infantino masih sempat berpuas diri memamerkan kesuksesan Piala Dunia 2022 yang mencatat pendapatan rekor 15 miliar dolar AS.

Skandal yang menimpa FIFA ini sebenarnya bukan cerita yang lahir dalam semalam. Akarnya sudah tertanam sejak keputusan Zurich pada 2010 yang memberikan hak tuan rumah Piala Dunia 2022 kepada Qatar, bukan kepada Amerika Serikat. Rangkaian peristiwa setelahnya — penyelidikan FBI, kesaksian Chuck Blazer, hingga tumbangnya Sepp Blatter — menjadi rantai panjang yang terus membayangi FIFA hingga hari ini.

Rencana Jual Piala Dunia yang Memicu Skandal FIFA

Rencana yang memicu skandal tersebut sebenarnya cukup sederhana: Infantino hendak menjual 21 persen pendapatan masa depan Piala Dunia kepada investor luar, hanya demi mendapatkan 28 persen dari nilai komersial yang sudah dihasilkan Piala Dunia kali ini. Hitungan ini jelas merugikan FIFA dalam jangka panjang, dan banyak pihak menilai keputusan itu mengandung konflik kepentingan yang serius. Publik pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin rencana sebesar ini bisa disusun tanpa sepengetahuan dewan pengawas.

Lebih memprihatinkan lagi, rencana ini disembunyikan dari staf senior FIFA. Para anggota dewan hanya diberi waktu 53 hari untuk mempertimbangkan, dengan iming-iming bonus tunai agar menyetujui. Infantino bahkan disebut-sebut sengaja menambahkan jeda hidrasi dan pertunjukan paruh waktu di final Piala Dunia demi memperkuat daya tarik komersial turnamen di mata calon investor.

Yang terlibat dalam rencana ini juga memunculkan banyak pertanyaan. Orang-orang yang mengetahui skema tersebut memiliki koneksi dengan keluarga Trump, khususnya Joshua Kushner, saudara ipar menantu presiden AS saat itu. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa ada kepentingan politik dan bisnis di balik tawaran kontroversial tersebut.

Akar Skandal: Dari Chuck Blazer hingga Jatuhnya Blatter

Untuk memahami krisis saat ini, perlu menengok ke belakang. Salah satu tokoh sentral dalam sejarah korupsi FIFA adalah Chuck Blazer, sekretaris jenderal Concacaf yang dikenal dengan gaya hidup mencolok. Pria yang memiliki dua apartemen di Trump Tower — satu untuk dirinya, satu lagi untuk kucing-kucingnya — bahkan pernah saling high-five dengan Vladimir Putin ketika pemimpin Rusia itu melontarkan candaan soal penampilannya yang mirip Karl Marx.

Di balik citranya yang tampak ceria dengan janggut tebal dan burung beo bernama Max di pundak, Blazer adalah informan kunci FBI. Kesaksiannya menjadi dasar penangkapan sejumlah petinggi FIFA di Hotel Baur au Lac, Zurich, pada 2015, dan enam hari kemudian Sepp Blatter mengundurkan diri. Kejatuhan Blatter membuka pertarungan suksesi yang sengit di internal FIFA.

Kandidat terkuat saat itu adalah Michel Platini, presiden UEFA, yang dinilai mampu membawa reformasi. Namun, Amerika Serikat menolak Platini karena keputusannya mengalihkan dukungan kepada Qatar dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2022. Keputusan itu diambil setelah pertemuan di Istana Élysée bersama Presiden Nicolas Sarkozy dan petinggi Qatar, meski Platini membantah adanya kesepakatan terselubung.

Nasib Platini ujung-ujungnya ditentukan oleh sebuah pembayaran yang ia terima dari FIFA pada 2011. Jaksa federal Bern, Michael Lauber, menyebut Platini sebagai sosok “antara saksi dan tersangka” — pernyataan yang melanggar protokol dan cukup untuk menggagalkan pencalonannya. Platini pun tersingkir, dan jalan menuju kursi presiden FIFA terbuka lebar bagi Infantino.

Koneksi Erat Infantino dengan Politik Amerika

Infantino terpilih sebagai presiden FIFA pada Februari 2016, mengalahkan Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa dari Bahrain. Kunci kemenangannya adalah perubahan sikap blok Karibia di menit-menit akhir, dan Sunil Gulati, ketua Federasi Sepak Bola AS kala itu, tidak segan mengambil pujian atas hasil tersebut.

Setelah sekutu barunya menang, Amerika Serikat bersama Meksiko dan Kanada mendapatkan hak tuan rumah Piala Dunia 2026. Urutan peristiwanya penting untuk dicatat: Infantino terpilih pada Februari 2016, Donald Trump dilantik pada Januari 2017, dan keputusan tuan rumah diambil pada Mei 2018. Momen-momen ini menunjukkan bagaimana AS selalu bermain di belakang layar sepanjang masa kepemimpinan Infantino.

Hubungan Infantino dengan Trump semakin hari semakin dalam. Ia memberikan Trump penghargaan Perdamaian FIFA yang pertama, menyerahkan trofi Piala Dunia Antarklub, dan bahkan menyewa kantor untuk FIFA di Trump Tower — yang nyaris tidak pernah digunakan. Laporan juga menyebut keterlibatan Joshua Kushner, saudara ipar menantu Trump, dalam rencana penjualan Piala Dunia yang kini memicu krisis.

Infantino juga menunjukkan keberpihakannya dengan memecat Miguel Maduro, ketua komite tata kelola dan review FIFA, yang memblokir pemilihan kembali Vitaly Mutko sebagai wakil presiden FIFA. Mutko adalah pejabat Rusia yang sempat menjabat menteri olahraga, dan keputusan Maduro dianggap benar karena melanggar pedoman keterlibatan politik. Namun, Infantino justru memecatnya — sebuah sinyal bahwa janji reformasi yang ia dengungkan saat kampanye tidak pernah benar-benar dijalankan.

UEFA Melawan dan Gagalnya Rencana Penjualan

UEFA memberikan respons yang jauh lebih keras dari perkiraan Infantino. Federasi sepak bola Eropa itu mengancam akan memboikot turnamen FIFA dan menyatakan siap melumpuhkan FIFA selama Infantino masih menjabat. Respons yang solid dan terkoordinasi ini ternyata sama sekali tidak diantisipasi oleh tim Infantino.

Rencana penjualan Piala Dunia akhirnya dinyatakan gagal — setidaknya untuk saat ini. Infantino, yang terluka secara politik, mencoba bertahan dengan menggelar rapat darurat di Rabat, Maroko. Namun, kehadiran staf senior tidak lengkap: Kevin Lamour, chief operating officer FIFA yang termasuk dua anggota dewan lima orang yang menolak rencana tersebut, justru tidak hadir.

Sebagai upaya menggalang dukungan, rencana memperluas Piala Dunia menjadi 64 tim dipercepat. Langkah ini dianggap sebagai cara Infantino memperkuat basis dukungannya di kalangan anggota FIFA yang mayoritas negara berkembang. Namun, surat-surat dukungan yang sebelumnya hampir menjamin ia melenggang tanpa lawan mulai ditarik kembali satu per satu.

Masa Depan FIFA di Persimpangan Jalan

Pada Jumat pekan ini, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) justru menyatakan dukungannya kepada Infantino. Dukungan itu diduga terkait dengan janji final Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Casablanca. Beberapa negara yang juga menyatakan dukungan antara lain:

  • Meksiko
  • Argentina
  • Qatar
  • Uni Emirat Arab
  • Lebanon
  • Kuwait
  • Bhutan
  • Sri Lanka

Dengan 211 anggota FIFA, jumlah dukungan tersebut masih jauh dari cukup untuk mengamankan posisi Infantino. Pemilihan presiden tetap dijadwalkan pada Maret tahun depan, dan perbincangan politik kini mulai bergeser dari membahas cara mengubah FIFA menjadi siapa calon penantangnya. Turnamen yang berpotensi menjadi sasaran boikot pertama adalah Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia yang dimulai pada 5 September.

Polandia telah berinvestasi besar-besaran untuk infrastruktur turnamen dan berharap acara tetap berjalan sesuai jadwal. Namun, federasi sepak bola Polandia kemungkinan besar akan solid mengikuti blok UEFA. Sejarah mencatat, FIFA sudah lama terjangkit budaya klientelisme sejak João Havelange memenangkan pemilihan presiden pada 1974, dan banyak pihak mulai meragukan lembaga ini bisa diperbaiki dari dalam.

Skandal yang menerpa Infantino kali ini hanyalah puncak gunung es dari masalah yang sudah lama membusuk di tubuh FIFA. Upaya reformasi yang dijanjikan saat ia pertama kali terpilih ternyata hanya tinggal retorika, terbukti dari berbagai kebijakan kontroversial dan kedekatannya dengan lingkaran politik Amerika. Dari Blazer yang menyewa apartemen untuk kucing-kucingnya di Trump Tower, hingga Infantino yang menyewa kantor di gedung yang sama — FIFA seakan tidak pernah benar-benar beranjak dari masa lalunya yang kelam.

Yang jelas, rencana penjualan Piala Dunia memang gagal untuk saat ini, tetapi politik di dalam FIFA masih jauh dari selesai. UEFA bertekad melumpuhkan FIFA sampai Infantino angkat kaki, sementara Infantino sendiri masih bertahan dengan menggalang dukungan dari berbagai konfederasi. Pertanyaan terbesar yang tersisa adalah: apakah FIFA bisa berubah, atau justru kebusukan ini memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari institusi tersebut sejak puluhan tahun lalu?