Argentina Comeback Dramatis, Messi Tumpahkan Air Mata Usai Kalahkan Egypt di Piala Dunia

Keajaiban Messi di Tengah Tekanan Besar

Aturan emas sepak bola jangan pernah menulis Lionel Messi. Ketika mimpi membawa Argentina meraih gelar juara dunia kedua tampak hancur, pemain berusia 39 tahun itu kembali menjadi penyelamat negaranya dengan cara yang spektakuler. Dalam pertandingan yang menegangkan, Argentina yang sempat tertinggal dua gol berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan laga dengan skor dramatis.

Pertandingan ini menjadi salah satu comeback Argentina paling berkesan di Piala Dunia. Dengan 11 menit tersisa dan masih tertekan oleh gol awal Yasser Ibrahim serta gol kedua Mostafa Ziko, tim asuhan Lionel Scaloni menghadapi ancaman kekalahan besar melawan Egypt. Kiper Egypt, Mostafa Shobeir—yang ayahnya, Ahmed, menjadi kiper Pharaohs di Piala Dunia 1990—tampil brilian dan mampu menepis semua serangan juara dunia tersebut.

Awal Mula Tekanan: Gol Cepat dan Penalti Messi yang Gagal

Egypt datang dengan semangat bebas setelah kemenangan adu penalti bersejarah atas Australia di babak sebelumnya. Mereka bermain dengan kebebasan yang membuat Argentina tidak nyaman sejak awal. Leandro Paredes harus waspada membersihkan tendangan bebas berbahaya dari Marwan Attia. Namun Argentina tidak menggubris peringatan itu. Pada menit ke-15, Mohamed Hany memenangkan tendangan sudut dan umpan Attia disundul dengan keras oleh Ibrahim. Sundulan itu membuat bangku cadangan Egypt bergemuruh.

Argentina mendapat peluang emas ketika Haissem Hassan menjatuhkan Nicolás Tagliafico di kotak penalti dan wasit Prancis, François Letexier, menunjuk titik putih. Namun Messi kembali gagal memanfaatkannya. Tendangan penaltinya yang lemah berhasil ditepis oleh Shobeir. Ini bukan pertama kalinya Messi gagal dari titik putih di turnamen ini—ia menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gagal dua kali penalti dalam satu turnamen. Meski demikian, ia tetap menjadi andalan Argentina.

Kiper Egypt Menggila, Argentina Frustrasi

Shobeir—yang baru menjadi kiper utama menggantikan Mohamed El Shenawy setelah penampilan gemilang bersama Al Ahly—kemudian melakukan penyelaman jarak dekat dari Alexis Mac Allister. Tendangan bebas Messi mengenai tiang luar, lalu Shobeir kembali menahan tembakan Julián Alvarez yang sudah berada di depan mulut gawang. Striker Atletico Madrid itu tampak tak percaya. Ini adalah pertama kalinya Argentina tertinggal saat turun minum dalam pertandingan Piala Dunia sejak kekalahan 4-0 dari Jerman di perempat final 2010.

Namun setelah jeda, Argentina tidak menunjukkan perbaikan berarti. Membuat Scaloni lega, VAR menganulir gol indah Ziko di awal babak kedua setelah pelanggaran terhadap Lisandro Martínez oleh Attia terjadi hampir 30 detik sebelumnya. Tapi Egypt tidak bisa terus ditahan. Hassan membuat Nahuel Molina mati kaku sebelum mengirim umpan matang untuk Ziko yang langsung menyarangkan bola ke gawang Emiliano Martínez. Argentina kini benar-benar di ambang kekalahan.

Comeback Ajaib ala Argentina

Momentum berubah ketika Messi memberikan assist kepada Cristian Romero untuk memperkecil ketertinggalan. Empat menit kemudian, giliran Messi yang menjadi eksekutor. Umpan silang pemain Argentina tidak dibersihkan dengan sempurna oleh pertahanan Egypt, bola jatuh ke kaki Messi, dan dengan satu sentuhan ia melepaskan tembakan yang meski sempat disentuh Shobeir, tetap masuk ke gawang. Gol ini membuat Argentina menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Belum selesai, drama berlanjut. Egypt kehilangan bola ketika Mohamed Salah lengah, dan umpan Enzo Fernández dari Chelsea menemukan Lautaro Martínez yang dengan tenang menyundul bola ke gawang. Egypt protes karena menganggap ada pelanggaran dalam proses tersebut, tetapi wasit tetap mengesahkan gol. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, sebuah tim berhasil membalikkan defisit dua gol pada menit-menit akhir.

Messi yang meneteskan air mata—menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam enam pertandingan knockout beruntun—diangkat oleh rekan-rekannya setelah peluit akhir. Scaloni, yang berjanji timnya akan “waspada” setelah nyaris kalah dari Cape Verde di babak sebelumnya, begitu emosional hingga tidak bisa menyelesaikan wawancara usai pertandingan.

Kekecewaan Egypt dan Pelajaran Berharga

Bagi Egypt, kekalahan ini terasa pahit. Mereka marah atas keputusan VAR yang menganulir gol kedua mereka karena pelanggaran yang terjadi di sisi lain lapangan lebih dari 30 detik sebelum Ziko memasukkan bola. Namun, tim asuhan Hossam Hassan yang belum pernah memenangkan pertandingan final Piala Dunia dalam tiga penampilan sebelumnya telah menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap. Mereka hampir mencatatkan kejutan besar dan layak mendapat respek.

Pertandingan ini membuktikan bahwa Messi inspirasi Argentina bukan sekadar klise. Dalam situasi paling sulit sekalipun, ia mampu mengangkat performa tim. Meskipun gagal penalti, kontribusinya dalam assist dan gol penyeimbang menunjukkan kelasnya sebagai pemain terbaik sepanjang masa. Kemenangan ini juga mengirimkan pesan kepada lawan-lawan lain: jangan pernah menganggap Argentina sudah mati sebelum laga benar-benar usai.

Bagi penggemar sepak bola, laga Argentina vs Egypt ini akan terus dikenang sebagai salah satu thriller paling mendebarkan dalam sejarah Piala Dunia. Comeback dramatis, air mata Messi, dan kegigihan Egypt menjadi bahan cerita yang tak terlupakan.