Prancis menunjukkan kegigihan yang sulit dihentikan. Kylian Mbappé menjadi motor serangan dengan gol spektakulernya yang memastikan kemenangan 2-0 atas Maroko. Maroko, yang sebelumnya dikalahkan Prancis di semifinal Qatar, datang dengan niat membalas, tetapi pressing tinggi Prancis memaksa mereka bertahan mati-matian. Dengan kualitas serangan Prancis, bertahan saja tidak cukup untuk menghentikan laju Mbappé dan kawan-kawan.
Peran Kunci Kylian Mbappé Sepanjang Laga
Kylian Mbappé sekali lagi menjadi figur kunci. Ia gagal mengeksekusi penalti, lalu mencetak gol pembuka yang luar biasa, dan memberikan assist untuk gol kedua Ousmane Dembélé. Saat pertandingan mulai melambat dan Maroko mulai percaya diri, Mbappé menghasilkan gol dari ketiadaan yang membuat stadion bergemuruh.
Penalti Gagal, Tapi Tak Surutkan Semangat
Di babak pertama, Mbappé dilanggar di kotak penalti oleh Noussair Mazraoui. Wasit memberikan penalti setelah meninjau VAR. Namun tendangan Mbappé lemah ke kiri dan mudah ditangkap kiper Yassine Bounou, yang terkenal ahli dalam penalti. Ini menjadi penyelamatan penalti pertamanya untuk Maroko di luar adu penalti. Meski gagal, semangat Mbappé tak padam.
Bounou juga menggagalkan sundulan Dayot Upamecano dan tembakan muda Desiré Doué. Lucas Digne membentur mistar. Prancis mendominasi dengan 13 peluang sebelum Maroko mendapat peluang pertama di injury time babak pertama. Dominasi ini menunjukkan betapa sulitnya menghentikan aliran serangan Prancis yang dipimpin Mbappé.
Gol Spektakuler yang Membungkam Perlawanan
Mbappé sempat membuang peluang di awal babak kedua, tetapi pada menit ke-60 ia menunjukkan kelasnya. Umpan pendek dari Digne diterima Mbappé di kotak penalti. Dengan posisi sempit dan bek Issa Diop di depannya, Mbappé memukul bola dengan efek melengkung yang aneh di kecepatan 98 km/jam, menggunakan tubuh Diop sebagai perisai. Bola masuk ke tiang dekat – sebuah gol yang tidak mungkin diselamatkan bahkan oleh kiper terbaik sekalipun.
Pressing Prancis yang Membuat Maroko Terjebak
Maroko menarik Ismael Saibari yang cedera dan memasukkan Chemsdine Talbi untuk berlari di sisi kiri, tetapi ia lebih sibuk membantu pertahanan. Pressing Prancis begitu baik sehingga satu-satunya jalan Maroko adalah bertahan dan berharap adu penalti. Begitu garis pertahanan pertama jebol, gol kedua segera lahir. Mazraoui menghalangi pandangan Bounou saat Dembélé melengkungkan bola ke sudut gawang. Kiper sempat menyentuh tetapi bola tetap masuk.
Prancis mencatatkan dominasi penguasaan bola 60% berkat pressing efektif.
Kylian Mbappé menjadi ancaman konstan di sisi kiri, memaksa Maroko mengerahkan dua pemain untuk menjaganya.
Pelatih Didier Deschamps menunjukkan fleksibilitas taktik, tetap menekan tanpa berm
Kondisi Terkini Cedera Reece James Jelang Lawan Norwegia
Cedera Reece James kembali menjadi sorotan menjelang laga perempat final Piala Dunia antara Inggris dan Norwegia yang akan digelar di Miami pada Sabtu mendatang. Bek kanan andalan The Three Lions itu masih belum pulih sepenuhnya dan bahkan kembali absen dari sesi latihan bersama tim pada Rabu waktu setempat.
Pemain berusia 24 tahun itu mengalami cedera hamstring saat laga kedua fase grup melawan Ghana yang berakhir imbang 0-0 di Boston. Sejak saat itu, ia belum pernah bermain lagi. Pelatih Thomas Tuchel sudah memperkirakan bahwa Reece James akan absen setidaknya dalam dua pertandingan, termasuk kemungkinan besar babak 16 besar—dan itu terbukti. James tidak tampil dalam kemenangan dramatis Inggris atas Meksiko di Estadio Azteca pada Minggu lalu.
Target Kembali di Perempat Final Belum Pasti
Reece James sebenarnya menargetkan comeback pada babak perempat final. Namun, tanda-tanda positif masih belum terlihat. Di Kansas City, tempat Inggris berkemah, ia menjalani program latihan individu terpisah dari skuad utama. Situasi ini jelas menjadi alarm bagi Tuchel, yang kini menghadapi masalah besar di posisi bek kanan.
Sebelumnya, Jarell Quansah pernah dimainkan sebagai bek kanan saat melawan Meksiko, tetapi ia mendapat kartu merah dan harus menjalani hukuman larangan bermain melawan Norwegia. Dengan absennya Reece James dan Quansah, cedera Reece James menjadi pukulan telak bagi opsi lini belakang Inggris.
Kondisi Pemain Lain: Rice dan Guéhi
Declan Rice dan Marc Guéhi juga berlatih secara individual pada hari yang sama. Namun, ada sedikit kekhawatiran atas keterlibatan mereka melawan Norwegia. Rice telah bermain dengan nyeri saraf di hamstring sejak Natal dan terpaksa absen pada laga ketiga grup melawan Panama yang berakhir 2-0. Meski begitu, ia mengaku masih bisa bermain dengan rasa tidak nyaman. Sementara Guéhi absen karena kelelahan otot, dan kondisinya diyakini tidak serius.
Jordan Henderson Kembali ke Camp Meski Cedera
Kabar lain datang dari Jordan Henderson. Gelandang veteran yang mengalami patah tulang lengan akibat insiden jatuh aneh setelah laga melawan Meksiko kini telah kembali ke markas Inggris di Kansas City. Ia menjalani operasi di Mexico City dan dipastikan tidak akan bermain lagi di turnamen ini. Namun, Henderson tetap bersemangat membantu tim dengan kepemimpinan dan pengalamannya.
Rekan setimnya, Morgan Rogers, mengaku para pemain belum menutup kemungkinan Henderson kembali bermain. “Kedatangannya kembali menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Semoga dia tetap bisa terlibat bersama kami melewati sisa turnamen. Dia tidak akan mengesampingkan dirinya sendiri, dan kami pun tidak. Keyakinan pada tubuh dan kemampuannya sangat besar. Dia adalah jantung dari grup ini,” ujar Rogers.
Istirahat Singkat Setelah Kemenangan Dramatis
Setelah pertandingan penuh emosi dan tenaga melawan Meksiko, Tuchel memberikan waktu istirahat sejenak kepada para pemain. Rogers menggambarkan semua pemain “sedikit lelah dan habis” setelah laga tersebut. Mereka menjalani sesi pendinginan di Kansas City pada Senin dan libur penuh pada Selasa, yang dimanfaatkan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
Inggris memilih basis tetap di Kansas City untuk semua pertandingan, berbeda dengan Norwegia yang berpindah-pindah tempat. Rogers memuji keuntungan dari pendekatan ini: “Satu-satunya kekurangan adalah perjalanan pulang yang terasa panjang. Tapi sisi positifnya besar—terasa seperti rumah, hangat, dan kami bisa bersantai. Lingkungan yang familiar sangat membantu performa kami.”
Peringatan Rogers untuk Norwegia: Jude Bellingham Siap Tampil Ganas
Morgan Rogers juga memberikan peringatan kepada Norwegia. Ia mengatakan Jude Bellingham, yang tampil eksplosif sepanjang turnamen, siap mendominasi di perempat final. “Dia baru berusia 23 tahun. Masa puncaknya masih di depan. Masih panjang perjalanannya, dan dia pasti akan mengatakan hal yang sama. Yang menggairahkan adalah seberapa jauh dia bisa melangkah; tidak ada batasan untuk apa yang bisa dia capai. Saya tidak terkejut dengan performanya di Piala Dunia ini, begitu juga semua anggota skuad. Dia selalu tampil di momen-momen besar. Anda butuh pemain terbaik untuk berdiri, dan dia melakukannya hampir di setiap pertandingan,” ujar Rogers.
Dengan cedera Reece James yang masih menghantui, Inggris harus mengandalkan kedalaman skuad dan performa gemilang Bellingham untuk melaju ke semifinal. Laga melawan Norwegia akan menjadi ujian nyata bagi ketahanan tim asuhan Thomas Tuchel.
Aturan emas sepak bola jangan pernah menulis Lionel Messi. Ketika mimpi membawa Argentina meraih gelar juara dunia kedua tampak hancur, pemain berusia 39 tahun itu kembali menjadi penyelamat negaranya dengan cara yang spektakuler. Dalam pertandingan yang menegangkan, Argentina yang sempat tertinggal dua gol berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan laga dengan skor dramatis.
Pertandingan ini menjadi salah satu comeback Argentina paling berkesan di Piala Dunia. Dengan 11 menit tersisa dan masih tertekan oleh gol awal Yasser Ibrahim serta gol kedua Mostafa Ziko, tim asuhan Lionel Scaloni menghadapi ancaman kekalahan besar melawan Egypt. Kiper Egypt, Mostafa Shobeir—yang ayahnya, Ahmed, menjadi kiper Pharaohs di Piala Dunia 1990—tampil brilian dan mampu menepis semua serangan juara dunia tersebut.
Awal Mula Tekanan: Gol Cepat dan Penalti Messi yang Gagal
Egypt datang dengan semangat bebas setelah kemenangan adu penalti bersejarah atas Australia di babak sebelumnya. Mereka bermain dengan kebebasan yang membuat Argentina tidak nyaman sejak awal. Leandro Paredes harus waspada membersihkan tendangan bebas berbahaya dari Marwan Attia. Namun Argentina tidak menggubris peringatan itu. Pada menit ke-15, Mohamed Hany memenangkan tendangan sudut dan umpan Attia disundul dengan keras oleh Ibrahim. Sundulan itu membuat bangku cadangan Egypt bergemuruh.
Argentina mendapat peluang emas ketika Haissem Hassan menjatuhkan Nicolás Tagliafico di kotak penalti dan wasit Prancis, François Letexier, menunjuk titik putih. Namun Messi kembali gagal memanfaatkannya. Tendangan penaltinya yang lemah berhasil ditepis oleh Shobeir. Ini bukan pertama kalinya Messi gagal dari titik putih di turnamen ini—ia menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gagal dua kali penalti dalam satu turnamen. Meski demikian, ia tetap menjadi andalan Argentina.
Kiper Egypt Menggila, Argentina Frustrasi
Shobeir—yang baru menjadi kiper utama menggantikan Mohamed El Shenawy setelah penampilan gemilang bersama Al Ahly—kemudian melakukan penyelaman jarak dekat dari Alexis Mac Allister. Tendangan bebas Messi mengenai tiang luar, lalu Shobeir kembali menahan tembakan Julián Alvarez yang sudah berada di depan mulut gawang. Striker Atletico Madrid itu tampak tak percaya. Ini adalah pertama kalinya Argentina tertinggal saat turun minum dalam pertandingan Piala Dunia sejak kekalahan 4-0 dari Jerman di perempat final 2010.
Namun setelah jeda, Argentina tidak menunjukkan perbaikan berarti. Membuat Scaloni lega, VAR menganulir gol indah Ziko di awal babak kedua setelah pelanggaran terhadap Lisandro Martínez oleh Attia terjadi hampir 30 detik sebelumnya. Tapi Egypt tidak bisa terus ditahan. Hassan membuat Nahuel Molina mati kaku sebelum mengirim umpan matang untuk Ziko yang langsung menyarangkan bola ke gawang Emiliano Martínez. Argentina kini benar-benar di ambang kekalahan.
Comeback Ajaib ala Argentina
Momentum berubah ketika Messi memberikan assist kepada Cristian Romero untuk memperkecil ketertinggalan. Empat menit kemudian, giliran Messi yang menjadi eksekutor. Umpan silang pemain Argentina tidak dibersihkan dengan sempurna oleh pertahanan Egypt, bola jatuh ke kaki Messi, dan dengan satu sentuhan ia melepaskan tembakan yang meski sempat disentuh Shobeir, tetap masuk ke gawang. Gol ini membuat Argentina menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Belum selesai, drama berlanjut. Egypt kehilangan bola ketika Mohamed Salah lengah, dan umpan Enzo Fernández dari Chelsea menemukan Lautaro Martínez yang dengan tenang menyundul bola ke gawang. Egypt protes karena menganggap ada pelanggaran dalam proses tersebut, tetapi wasit tetap mengesahkan gol. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, sebuah tim berhasil membalikkan defisit dua gol pada menit-menit akhir.
Messi yang meneteskan air mata—menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam enam pertandingan knockout beruntun—diangkat oleh rekan-rekannya setelah peluit akhir. Scaloni, yang berjanji timnya akan “waspada” setelah nyaris kalah dari Cape Verde di babak sebelumnya, begitu emosional hingga tidak bisa menyelesaikan wawancara usai pertandingan.
Kekecewaan Egypt dan Pelajaran Berharga
Bagi Egypt, kekalahan ini terasa pahit. Mereka marah atas keputusan VAR yang menganulir gol kedua mereka karena pelanggaran yang terjadi di sisi lain lapangan lebih dari 30 detik sebelum Ziko memasukkan bola. Namun, tim asuhan Hossam Hassan yang belum pernah memenangkan pertandingan final Piala Dunia dalam tiga penampilan sebelumnya telah menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap. Mereka hampir mencatatkan kejutan besar dan layak mendapat respek.
Pertandingan ini membuktikan bahwa Messi inspirasi Argentina bukan sekadar klise. Dalam situasi paling sulit sekalipun, ia mampu mengangkat performa tim. Meskipun gagal penalti, kontribusinya dalam assist dan gol penyeimbang menunjukkan kelasnya sebagai pemain terbaik sepanjang masa. Kemenangan ini juga mengirimkan pesan kepada lawan-lawan lain: jangan pernah menganggap Argentina sudah mati sebelum laga benar-benar usai.
Bagi penggemar sepak bola, laga Argentina vs Egypt ini akan terus dikenang sebagai salah satu thriller paling mendebarkan dalam sejarah Piala Dunia. Comeback dramatis, air mata Messi, dan kegigihan Egypt menjadi bahan cerita yang tak terlupakan.
Mimpi indah Amerika Serikat untuk mengubah wajah sepak bola dunia berakhir dengan pilu. Kekalahan AS dari Belgia dengan skor 1-4 pada babak 16 besar Piala Dunia membuat tim yang sempat menuai pujian itu harus pulang lebih awal. Padahal, sebelumnya publik Amerika mulai jatuh cinta dengan semangat dan permainan menyerang yang diperagakan skuad asuhan Mauricio Pochettino.
Pertandingan yang berlangsung di Pacific Northwest pada Senin malam itu sebenarnya menyisakan secercah harapan. Namun, berbagai kesalahan individu dan momen kepanikan justru menjadi bumerang. Kiper Matt Freese yang melakukan blunder besar dan pertahanan yang lalai membuat mimpi itu sirna. Kekalahan AS di Piala Dunia kali ini terasa lebih menyakitkan karena performa mereka sebelumnya sangat menjanjikan.
Kontroversi Balogun dan Keputusan Pelatih Belgia
Sehari sebelum laga, perbincangan hangat soal kartu merah Folarin Balogun yang akhirnya dianulir sempat menyita perhatian. Striker andalan AS itu dianggap melakukan pelanggaran tak disengaja, dan ia menunjukkan sikap yang patut dicontoh. Namun, kekalahan AS dari Belgia justru tidak bisa dilepaskan dari strategi lawan yang cerdik. Pelatih Belgia, Rudi Garcia, mengejutkan semua orang dengan mencadangkan Kevin De Bruyne dan Jérémy Doku. Sebagai gantinya, Dodi Lukébakio dan Nicolas Raskin turun sejak awal. Lukébakio sendiri sudah menjadi momok bagi Amerika saat Belgia menang 5-2 di laga uji coba Maret lalu.
Babak Pertama: Belgia Mendominasi
Sejak menit awal, Belgia menunjukkan taji mereka. Umpan silang berbahaya dan pressing ketat membuat lini belakang AS kewalahan. Pada menit ke-8, Amadou Onana berhasil melewati beberapa pemain AS dan memberikan bola kepada Lukébakio. Meski peluang pertama gagal, Belgia akhirnya memecah kebuntuan lewat kombinasi apik. Umpan panjang dari belakang diterima Leandro Trossard dengan satu sentuhan, lalu diteruskan ke Raskin yang dengan cerdik memantulkan bola ke tanah sehingga Charles De Ketelaere dengan mudah menceploskannya ke gawang. Penonton yang mayoritas pendukung AS terdiam.
Alih-alih bangkit, AS justru goyah. Weston McKennie, yang biasanya tenang, mulai kehilangan bola. Christian Pulisic sering dijatuhkan di lini tengah. Chris Richards nyaris membuat gol bunuh diri. Namun, di tengah tekanan, Malik Tillman muncul sebagai penyelamat. Ia mencetak gol tendangan bebas spektakuler yang melengkung melewati tembok dan mengecoh Thibaut Courtois. Gol itu menjadikan Tillman pemain kedua dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak dua gol dari tendangan bebas langsung dalam satu turnamen. Sayangnya, gol tersebut hanya menjadi pelipur lara. Kekalahan AS di Piala Dunia tak terhindarkan karena Belgia kembali unggul melalui sundulan De Ketelaere sebelum turun minum.
Babak Kedua: Blunder Freese dan Kehancuran
Pochettino mencoba mengubah keadaan dengan memasukkan Gio Reyna menggantikan Sergiño Dest pada babak kedua. AS mulai tampil lebih agresif, tetapi semua usaha sirna akibat kesalahan fatal Matt Freese. Pada menit ke-57, Freese maju terlalu jauh dari garis gawang untuk menyambut bola panjang. Setelah mendahului De Ketelaere, ia justru ragu-ragu membuang bola. Hans Vanakan dengan tenang menceploskan bola ke gawang kosong dari jarak jauh. Wajah Freese dan Tim Ream langsung tertunduk lesu.
Meski belum menyerah, pukulan terakhir datang dari Romelu Lukaku yang masuk pada menit ke-67. Di masa tambahan waktu, Lukaku mencetak gol cerdik yang memastikan kekalahan AS dari Belgia menjadi kenyataan. Para pemain AS jatuh berlutut di lapangan. Chris Richards tetap dalam posisi fetal di rumput selama beberapa menit sebelum dihibur rekan setimnya. Suasana hening dan kecewa.
Analisis Kekalahan: Dari Percaya Diri Menjadi Realitas Pahit
Sebelum turnamen ini, AS tampil sangat meyakinkan. Mereka sukses menjungkalkan Paraguay dan Bosnia & Herzegovina, bahkan dianggap sebagai tim Amerika paling berbakat dalam sejarah Piala Dunia. Pertahanan solid dan serangan kreatif menjadi andalan. Namun, dalam laga hidup-mati kontra Belgia, semua itu hilang. Umpan-umpan mudah hilang, koordinasi pertahanan kacau, dan kepanikan bawah sadar muncul begitu tekanan meningkat. Kekalahan AS di Piala Dunia ini menjadi pengingat pahit bahwa sepak bola bukan hanya soal talenta, melainkan juga konsistensi mental dalam 90 menit.
Pochettino mengakui timnya tidak tampil seperti biasanya. “Sejak awal kami tidak terhubung dengan pertandingan. Bahkan setelah mencetak gol, kami langsung kebobolan lagi. Selamat untuk Belgia, mereka lebih baik dari kami,” ujarnya dengan nada pasrah.
Kesimpulan: Mimpi yang Tertunda
Pertanyaan “Why not us?” yang menjadi slogan kebangkitan AS di Piala Dunia ini kini berubah menjadi “What could have been?” atau bahkan “Apa yang baru saja terjadi?” Tim yang sempat dipuja karena ketangguhannya akhirnya tumbang di bawah awan mendung Puget Sound. Para pendukung hanya bisa berharap empat tahun lagi langit cerah kembali, dan generasi baru Amerika bisa belajar dari kekalahan AS di Piala Dunia ini untuk bangkit lebih kuat. Perjalanan masih panjang, namun keperihan malam Senin itu akan sulit dilupakan.
Pertandingan antara Inggris dan Meksiko di Estadio Azteca menyajikan drama Inggris vs Meksiko yang tak terlupakan. Dalam laga knockout Piala Dunia ini, Inggris harus bermain dengan 10 pemain setelah kartu merah, namun tetap menang 3–2 berkat penalti Harry Kane. Stadion legendaris yang menyimpan kenangan pahit bagi Inggris (kekalahan 1986 karena “Tangan Tuhan”) menjadi saksi bagaimana Tim Tiga Singa mampu bertahan dari tekanan luar biasa.
Meksiko, tuan rumah bersama turnamen, datang dengan rekor sempurna: empat kemenangan beruntun. Dukungan puluhan ribu penonton lokal menciptakan atmosfer yang nyaris mencekik. Namun Inggris justru tampil dingin di awal, menguasai bola dengan sabar sambil menunggu celah. Strategi itu berbuah manis ketika Jude Bellingham membuka keunggulan pada menit ke-23.
Babak Pertama: Bellingham Gila
Gol Bellingham dan Keunggulan 2-0
Jude Bellingham menjadi bintang utama di babak pertama. Ia mencetak dua gol dalam rentang waktu singkat. Gol pertama lahir dari umpan silang sempurna Bukayo Saka yang disundul keras oleh Bellingham. Gol kedua hasil kerja sama dengan Harry Kane: umpan silang rendah dari Kane disambar Bellingham yang lebih gesit dari bek Meksiko. Skor 2–0 untuk Inggris membuat pendukung tuan rumah terdiam.
Namun Meksiko tidak menyerah. Mereka membalas melalui gol Julian Quiñones memanfaatkan kemelut dari tendangan bebas. Babak pertama ditutup dengan skor 2–1. Meksiko bahkan hampir menyamakan kedudukan lewat sundulan Raúl Jiménez yang digagalkan oleh Bellingham yang kembali ke garis gawang. Drama Inggris vs Meksiko masih panjang.
Babak Kedua: Kartu Merah dan Pergulatan
Quansah Diusir, Inggris Harus Bermain 10 Orang
Memasuki babak kedua, Inggris mencoba menambah gol. Peluang datang dari tembakan Nico O’Reilly yang membentur mistar. Namun momentum berbalik saat Jarell Quansah, bek kanan pengganti, melakukan tekel keras ke arah Jesús Gallardo. Wasit Alireza Faghani memberikan kartu merah setelah meninjau VAR. Inggris harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-54. Keputusan itu memicu kemarahan bangku cadangan Meksiko, sekaligus meningkatkan tekanan pada pertahanan Inggris.
Penalti Kane dan Jimenez
Pelatih Thomas Tuchel segera melakukan penyesuaian: memasukkan John Stones untuk menggantikan Saka dan mengubah formasi menjadi 5-3-1. Namun justru Anthony Gordon yang menjadi pahlawan. Ia berlari cepat merebut bola liar setelah Kane bertabrakan dengan bek Meksiko. Kiper Raúl Rangel menjatuhkan Gordon di kotak penalti. Harry Kane maju sebagai algojo dan menuntaskan tugasnya: skor 3–1. Itu adalah gol keenam Kane di turnamen dan ke-73 musim ini untuk klub dan negara.
Meksiko kembali bangkit melalui penalti kedua. Kali ini giliran Kane yang dianggap melanggar pemain pengganti Brian Gutiérrez saat mencoba membuang bola. VAR kembali memanggil wasit ke monitor, dan hasilnya penalti untuk Meksiko. Raúl Jiménez mengeksekusi dengan dingin, memperkecil ketertinggalan menjadi 3–2. Sisa pertandingan menjadi drama Inggris vs Meksiko yang menegangkan.
Akhir yang Mendebarkan
Tuchel memasukkan Dan Burn dan Djed Spence untuk memperkuat lini belakang. Inggris bertahan dengan gigih dalam formasi rapat. Meksiko terus mengirimkan umpan silang, namun Burn dan Stones selalu mampu menyapu bersih. Pada menit tambahan ke-11, Stones nyaris mencetak gol bunuh diri saat menghalau umpan silang, namun bola melebar tipis. Kiper Jordan Pickford tampil sigap, sementara para pemain Inggris mengerahkan segalanya untuk mempertahankan keunggulan. Peluit panjang berbunyi, dan kemenangan heroik pun diraih.
Kesimpulan
Kemenangan ini menjadi salah satu yang terbaik Inggris sejak 1966. Selain soal taktik dan mentalitas, drama Inggris vs Meksiko juga menunjukkan betapa pentingnya ketenangan dalam situasi genting. Inggris melaju ke perempat final melawan Norwegia di Miami. Bagi Meksiko, meski tersingkir, penampilan mereka layak diacungi jempol. Pertandingan di Azteca ini akan terus dikenang sebagai laga klasik Piala Dunia yang penuh emosi, gol, kartu merah, dan penalti.
Pertandingan Sengit di Philadelphia: Prancis Pilih Gaya Kasar
Pada laga yang berlangsung di Philadelphia dalam suasana gelombang panas Hari Kemerdekaan AS, tim nasional Prancis memutuskan untuk meninggalkan gaya champagne football mereka. Alih-alih bermain indah dan dominan, Les Bleus justru menunjukkan sisi lain: Prancis main kotor lawan Paraguay untuk meraih kemenangan tipis 1-0 berkat penalti Kylian Mbappé. Pertandingan ini membuktikan bahwa sebagai juara bertahan Piala Dunia, Prancis tidak hanya mahir menyerang, tetapi juga bisa bermain keras saat situasi menuntut.
Cuaca mencapai 38 derajat Celcius membuat kedua tim kesulitan menjaga ritme. Paraguay, yang sebelumnya berhasil mengeliminasi Jerman, datang dengan tekad mengganggu. Namun strategi fisik dan provokasi mereka justru dihadapi dengan sikap serupa oleh Prancis. Hasilnya, laga berubah menjadi adu kekuatan dan ketegangan, bukan sekadar taktik bola-bola indah.
Mbappé Bicara soal Jas dan Sepak Bola Kotor
Usai pertandingan, Mbappé menjadi sorotan. Dalam wawancara televisi, ia mengatakan, “Kami menunjukkan bahwa kami bukan sekadar tim yang tahu cara menyerang. Jika harus mengotori tangan, kami akan lakukan. Mereka pikir kami akan datang dengan jas, tapi kami tahu cara bermain sepak bola kotor.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Prancis main kotor lawan Paraguay adalah keputusan sadar untuk menyesuaikan diri dengan lawan yang agresif.
Mbappé sendiri hanya mencetak satu gol dari titik putih, menyamakan jumlah golnya dengan Lionel Messi dalam perebutan Sepatu Emas. Namun ia masih tertinggal satu gol dari rekor sepanjang masa. Kini dengan satu kaki di perempat final melawan Maroko, Mbappé punya kesempatan memperbaiki catatannya.
Strategi Prancis yang Berubah Drastis
Babak pertama berlangsung hati-hati. Prancis mendominasi penguasaan bola—208 operan berbanding 33 milik Paraguay—namun sebagian besar hanya di depan pertahanan lawan. Mereka memilih melelahkan Paraguay dengan sirkulasi bola, sebuah taruhan jangka panjang. Setelah jeda hidrasi dan turun minum, bayangan mulai menaungi lapangan, dan Prancis mulai lebih berani menusuk.
Peluang pertama Prancis baru datang menit ke-55 melalui tembakan jarak jauh Manu Koné yang ditepis kiper. Pelatih Didier Deschamps kemudian menarik Bradley Barcola dan memasukkan Désiré Doué. Pemain muda ini langsung menjadi pembeda. Hanya sembilan menit setelah masuk, Doué menerobos kotak penalti, melewati dua pemain, lalu dijatuhkan oleh Diego Gomez. Meski awalnya wasit Ilgiz Tantashev tidak meniup peluit, VAR turun tangan dan menunjuk titik putih.
Paraguay Bermain Kasar Tanpa Kartu Kuning
Paraguay mencatat 13 pelanggaran berbanding 11 milik Prancis. Namun yang mencengangkan, tim tamu sama sekali tidak menerima kartu kuning, sementara Prancis mendapat tiga. Wasit asal Uzbekistan dituduh terlalu longgar. Sikap kasar Paraguay—sikut, tekel sembrono, dan tekanan konstan pada wasit—membuat pertandingan semakin panas. Mbappé secara khusus menyoroti pendekatan ini sebagai alasan mengapa Prancis main kotor lawan Paraguay menjadi pilihan tepat.
Pertandingan ini mengingatkan pada duel Prancis-Paraguay di Piala Dunia 1998 yang juga berkesudahan 1-0, bukan kemenangan telak ala Just Fontaine di 1958. Kini, Mbappé menjadi mesin gol modern yang harus bekerja keras demi satu gol penalti.
Kesimpulan: Kemenangan Kontroversial yang Berbicara Banyak
Prancis mungkin tidak tampil mewah, tapi mereka keluar sebagai pemenang. Prancis main kotor lawan Paraguay bukan sekadar taktik, melainkan pesan kepada seluruh lawan bahwa juara bertahan bisa beradaptasi dengan situasi apa pun. Di tengah panasnya Philadelphia, Mbappé dan kawan-kawan membuktikan bahwa mereka siap mengotori tangan demi melaju lebih jauh. Dengan perempat final menanti, fleksibilitas ini bisa menjadi senjata berharga.
Laga antara Argentina vs Cape Verde di Piala Dunia kali ini menyajikan drama yang luar biasa. Tim kecil dari kepulauan Afrika itu nyaris menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah turnamen. Selama 120 menit, Argentina harus bekerja keras untuk mengalahkan perlawanan sengit Cape Verde yang dipenuhi pemain diaspora.
Pertandingan yang digelar di Miami ini berakhir dengan skor 3-2 untuk Argentina. Namun, sorotan justru tertuju pada semangat juang Cape Verde yang tak pernah menyerah. Mereka berhasil menyamakan kedudukan dua kali, termasuk gol spektakuler di masa perpanjangan waktu. Inilah salah satu laga paling mendebarkan di Piala Dunia edisi ini.
Babak Pertama: Dominasi Argentina yang Berujung Gol Messi
Argentina mendominasi penguasaan bola sejak awal. Lionel Messi mulai menunjukkan gerakannya pada menit ke-14 dengan tembakan melambung. Tiga menit kemudian, tendangan bebas Messi masih bisa diamankan kiper Cape Verde, Vozinha.
Pada menit ke-28, gol yang ditunggu akhirnya datang. Umpan diagonal Lisandro Martínez menemui lari Messi. Dengan sentuhan setengah voli yang brilian, Messi melepaskan tembakan ke pojok atas gawang. Gol ini menunjukkan kelasnya sebagai pemain terbaik sepanjang masa. Skor 1-0 untuk Argentina bertahan hingga turun minum.
Vozinha: Kiper Veteran yang Menjadi Bintang
Kiper Cape Verde berusia 40 tahun, Vozinha, tampil gemilang. Ia bermain untuk Chaves di divisi kedua Portugal dan menjadi sorotan karena penyelamatan-penyelamatan krusialnya. Vozinha bahkan sempat menandatangani kontrak promosi platform video game bersama Cristiano Ronaldo di tengah turnamen. Usianya tak menghalangi performa apiknya saat menghadapi Argentina.
Babak Kedua: Kebangkitan Cape Verde
Memasuki babak kedua, Cape Verde bermain lebih berani. Mereka menekan lini tengah Argentina dan meninggalkan ruang di belakang. Pada menit ke-53, Deroy Duarte melepaskan tembakan pertama yang mengarah ke gawang, namun masih bisa ditepis Emiliano Martínez.
Enam menit kemudian, Cape Verde berhasil menyamakan kedudukan. Ryan Mendes mengirim umpan cepat ke dalam kotak penalti, lalu Duarte melepaskan tembakan kaki kanan melengkung ke sudut jauh gawang Argentina. Para pemain Cape Verde merayakannya dengan histeris, dan suporter mereka menangis di tribun. Skor menjadi 1-1.
Perpanjangan Waktu Penuh Kejutan
Babak perpanjangan waktu dimulai dengan tekanan Argentina. Hanya dua menit berjalan, Lisandro Martínez mencetak gol setelah memanfaatkan kemelut dari sepak pojok. Tendangannya melesat ke atap gawang. Kembali Argentina unggul 2-1.
Tapi Cape Verde tidak menyerah. Mereka terus menekan dan memenangkan tiga sepak pojok berturut-turut. Pada menit ke-102, momen brilian lahir dari Sydney Lopes Cabral. Ia menerima bola di sisi kiri, memotong masuk, dan melepaskan tembakan kaki kanan melengkung yang indah ke sudut jauh. Bola melayang lambat di udara lembap Florida sebelum masuk dengan sempurna. Skor menjadi 2-2.
Gol Penentu Argentina di Menit Akhir
Argentina kembali unggul pada menit ke-111. Sepak pojok Messi disundul Cristian Romero, bola mengenai pemain Cape Verde Diney Borges dan masuk ke gawang. Meski sudah tertinggal, Cape Verde masih memberikan tekanan. Emiliano Martínez melakukan dua penyelamatan gemilang pada menit ke-116 dan di menit-menit akhir. Hingga peluit panjang berbunyi, Argentina menang 3-2.
Kesimpulan: Semangat Cape Verde yang Patut Diacungi Jempol
Pertandingan Argentina vs Cape Verde ini menjadi salah satu laga paling dramatis di Piala Dunia. Cape Verde, negara kepulauan berpenduduk 600.000 jiwa, nyaris menumbangkan juara dunia tiga kali. Hampir seluruh pemain mereka berasal dari diaspora—tersebar di AS, Belanda, dan Prancis. Sepak bola telah menjadi alat untuk menyatukan kembali bangsa yang terpecah.
Argentina kini melaju ke babak berikutnya melawan Mesir di Atlanta. Namun, performa mereka tampak rentan. Messi bermain penuh 120 menit dan mengalami laga paling tidak berpengaruh sepanjang turnamen. Sementara itu, Cape Verde pulang dengan kepala tegak setelah memberikan perlawanan sengit. Mereka adalah bukti bahwa di Piala Dunia, keajaiban selalu mungkin terjadi.
Portugal Lolos ke Fase Gugur usai Laga Penuh Kontroversi
Rafael Leão langsung berlutut setelah umpan silangnya ditanduk Gonçalo Ramos untuk membawa Portugal lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Namun, ekspresi pemain AC Milan itu bukanlah kegembiraan, melainkan kelegaan luar biasa. Pertandingan yang disebut-sebut sebagai “tarian perpisahan” bagi dua ikon sepak bola, Luka Modrić dan Cristiano Ronaldo, justru berakhir dengan drama yang tak terlupakan.
Luka Modrić yang kini berusia 40 tahun harus mengucapkan selamat tinggal pada Piala Dunia terakhirnya. Sementara Cristiano Ronaldo masih terus melaju, bahkan mencetak gol dan akhirnya ditarik keluar di tengah laga yang penuh insiden. Namun, pertandingan ini bukan hanya tentang dua individu tersebut, melainkan sebuah pertempuran klasik Piala Dunia antara dua tim tangguh dengan momentum yang silih berganti. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, tercatat empat gol dianulir dalam satu pertandingan, termasuk satu gol Kroasia yang dianulir pada detik-detik terakhir laga.
Babak Pertama: Dominasi Portugal Tanpa Gol
Cuaca panas di Toronto mulai mereda saat malam tiba, dan atmosfer stadion langsung terasa panas sejak menit awal. Babak pertama dikuasai Portugal yang seharusnya bisa unggul saat turun minum. Peluang pertama datang pada menit kedelapan ketika Leão menerobos dari sisi kiri dan mengirim umpan tarik rendah ke Bruno Fernandes. Fernandes melepaskan dua tembakan: satu diselamatkan Dominik Livaković, satu lagi diblok pemain belakang Kroasia.
Pedro Neto menjadi ancaman paling konsisten Portugal di babak pertama. Ia mendominasi duel melawan Ivan Perišić yang kembali bermain sebagai bek sayap Kroasia. Neto mampu menciptakan ruang untuk mengirimkan serangkaian umpan silang terukur ke kotak penalti, namun semuanya belum membuahkan hasil. Livaković sempat gagal menangkap bola, tapi bola luput dari jangkauan Ronaldo. Pada menit ke-30, umpan silang lain nyaris disambut Ronaldo dan Fernandes di tiang jauh, tetapi mereka terlambat sedikit untuk menyentuh bola.
Kroasia sendiri cukup puas dengan jalannya babak pertama. Mereka bertahan dengan percaya diri menghadapi gelombang serangan Portugal, kokoh di lini tengah, dan punya rencana menyerang dengan mengisolasi Martin Baturina melawan João Cancelo serta mengirim umpan silang ke kotak penalti untuk diandalkan Ante Budimir. Sayangnya, rencana itu belum berjalan mulus, mungkin karena ketatnya kawalan Rúben Dias yang kerap menjegal Budimir di momen-momen krusial.
Babak Kedua: Kroasia Bangkit, VAR Jadi Bintang
Zlatko Dalić menarik Budimir saat turun minum dan menggantinya dengan Igor Matanović yang bertubuh sama kekarnya. Perubahan langsung terasa. Kroasia kini tampil agresif, sementara intensitas permainan Portugal menurun. Hanya delapan menit babak kedua berjalan, Kroasia unggul lewat skenario yang persis sama dengan yang dilakukan Portugal sebelumnya. Josip Stanišić mengirim umpan silang dari kanan, dan Ivan Perišić yang bersembunyi di tiang belakang berhasil mengontrol bola dengan memutar tubuh dan menembak balik ke gawang Diogo Costa.
Kroasia nyaris menggandakan keunggulan beberapa saat kemudian. Petar Sučić memberikan umpang kepada Matanović yang melepaskan tembakan akurat, namun dianulir karena offside. Menit ke-59, Sučić hampir mencetak gol setelah menusuk dari sisi kiri dan melepaskan tembakan keras yang hanya bisa ditepis Costa dengan kakinya.
Di tengah tekanan Kroasia, Portugal bukannya tanpa peluang. Leão sempat menghantam mistar gawang Kroasia dari jarak 25 yard, sementara Ronaldo juga mencetak gol yang dianulir karena offside. Namun, Livaković kemudian melakukan blunder fatal: ia terlalu lama memegang bola setelah menerima umpan bek, dan secara tidak sengaja membuang bola ke belakang untuk sebuah sepak pojok. Sepak pojok itu berhasil dibersihkan, tapi bangku cadangan Portugal bergerak histeris, meminta VAR turun tangan—dan penonton pun ikut berteriak mendukung. Pemeriksaan dilakukan, wasit Norwegia Espen Eskås dipanggil ke monitor, dan terlihat bahwa Nikola Vlašić melilitkan tangannya di tubuh Leão saat umpan silang melayang. Dianggap sebagai pelanggaran penalti.
Ronaldo Eksekusi Penalti, Sorak Sorai Bergemuruh
Momen yang ditunggu puluhan ribu suporter Portugal di Toronto akhirnya tiba. Ronaldo menjauh dari kerumunan hingga penalti dikonfirmasi, lalu berjalan mantap menuju titik putih. Ia mengatur bola, melakukan ritual khasnya, kemudian mengeksekusi dengan tenang, mengecoh Livaković dan menceploskan bola. Ia berlari ke sudut lapangan, stadion meledak, dan gemuruh “siuuuu” membahana dari tribun penonton. Portugal kembali menyamakan skor.
Namun, dinamika pertandingan belum berubah. Kroasia tetap tampil superior setelah jeda hidrasi. Mateo Kovačić melepaskan dua tembakan jarak jauh beruntun yang masih bisa diselamatkan. Matanović juga punya peluang emas di tiang dekat, namun kiper Portugal sigap mengamankannya. Satu gol lagi Sučić dianulir karena offside. Sementara itu, Ronaldo ditarik keluar dan digantikan Rúben Neves—keputusan yang hampir tak pernah terjadi sebelumnya, menunjukkan betapa Roberto Martínez membaca tekanan lawan.
Keputusan itu terbukti efektif. Portugal menutup ruang serangan balik dan kembali menguasai bola di menit-menit akhir. Berulang kali bola diarahkan ke Leão, seolah menuntut kontribusi besar darinya. Ia pun akhirnya membayar lunas kepercayaan itu dengan umpan silang yang ditanduk Ramos untuk gol kemenangan. Perayaan gol berlangsung begitu lama, wasit menambahkan tiga menit tambahan dari waktu injury time. Kroasia kembali mencetak gol di detik-detik terakhir, namun untuk keempat kalinya gol Joško Gvardiol dianulir karena offside oleh VAR. Hujan botol plastik beterbangan ke lapangan sebagai protes, tetapi tak bisa mengubah hasil akhir.
Pertandingan Portugal vs Kroasia ini menjadi salah satu laga paling dramatis di Piala Dunia 2026, membuktikan bahwa sepak bola modern tak lepas dari campur tangan teknologi dan emosi yang meluap-luap.
Pada sore yang liar, riuh, dan penuh ketegangan di bawah kubah raksasa Atlanta Stadium, Republik Demokratik Harry Kane berhasil melaju ke babak 16 besar Piala Dunia. Inggris tampil seperti tim yang ketakutan dengan permainan mereka sendiri dan tertinggal 1-0 dari DR Kongo yang bermain sangat baik. Namun, Kane memutuskan untuk mengubah segalanya dengan mencetak dua gol dalam 11 menit menjelang akhir pertandingan, mengubah kekalahan yang sudah di depan mata menjadi kemenangan yang membahagiakan. Dalam prosesnya, Harry Kane selamatkan Inggris dari mimpi buruk sekaligus menyelamatkan pekerjaan Thomas Tuchel dan mungkin juga para bosnya di Federasi Sepak Bola Inggris (FA).
Awal yang Buruk dan Gol Cepat DR Kongo
Babak pertama menjadi salah satu momen paling aneh dalam sejarah sepak bola Inggris. Inggris tampil mengerikan—tidak hanya tidak seimbang secara taktik, tetapi juga bingung dan tidak bahagia. Mereka memantulkan bola seperti kaleng cat kosong di pinggir jalan tol. Wajah para pemain Inggris tampak kusut dan sedih, seolah sudah memulai perjalanan menuju kenangan pahit masa lalu: kekalahan dari Islandia, Kroasia, Norwegia, hingga era Graham Taylor yang meminta maaf di pinggir lapangan.
Pada jeda hidrasi pertama, Tuchel yang mengenakan kemeja hitam, celana hitam, dan sepatu putih berjalan seperti petugas pemakaman di kapal pesiar. Ia membungkuk ke arah para pemainnya, berbicara tanpa henti tentang penyesuaian sistem dan proses. Namun tidak ada yang tenang—ini bukanlah ketenangan. DR Kongo mencetak gol indah setelah pertahanan Inggris yang ceroboh. Djed Spence membiarkan ruang kosong yang besar, dan umpan diagonal menemukan Brian Cipenga yang melepaskan tembakan rendah ke tiang dekat Jordan Pickford. Kiper sekelas Pickford seharusnya bisa menyelamatkannya, tetapi bola tetap masuk.
Harry Kane Selamatkan Inggris dari Trauma Masa Lalu
Menjelang jeda hidrasi kedua, skenario hampir sama. Inggris menciptakan peluang, memaksa penyelamatan gemilang dari Lionel Mpasi, tetapi tetap tertinggal 1-0. Ini adalah momen penentuan. Jika kalah, ini akan menjadi kekalahan turnamen terburuk sejak 1950 melawan Amerika Serikat. Islandia di Nice memang buruk, tapi tim Inggris saat itu juga jelek. Tim ini sudah mencapai dua final besar, sehingga kekalahan akan menjadi lelucon yang menyakitkan bagi penunjukan Tuchel yang penuh harapan.
Tuchel kembali berbicara kepada para pemainnya, menembakkan kata-kata seperti senapan mesin ke arah lingkaran kepala yang tertunduk. Mungkin pemain level ini benar-benar bisa menyerap detail sebanyak itu di bawah tekanan sebesar itu, meskipun penampilan mereka tidak menunjukkan hal tersebut. Di titik itulah Harry Kane selamatkan Inggris dengan penampilan terbaiknya sebagai pemain Timnas. Saat mereka kembali ke lapangan, Inggris bermain dengan lima pemain depan—hanya Elliot Anderson di belakang dan Declan Rice sebagai bek kanan. Mereka terus menekan dari kanan ke kiri; Rice mencapai garis akhir, umpan panjang diterima Anthony Gordon yang mengembalikannya ke Kane. Kane menyundul bola dengan kuat melewati tangan Mpasi dan masuk ke gawang. Stadion Atlanta bergemuruh—bukan karena kegembiraan, melainkan kelegaan yang luar biasa.
Inggris terus menekan saat DR Kongo kelelahan mendekati garis finis. Kane kembali mencetak gol dari umpan Gordon, berputar dan melepaskan tembakan kaki kanan yang brutal ke sudut tepat di bawah mistar. Jaring masih bergelombang indah saat bangku cadangan Inggris kosong melompat ke lapangan merayakannya.
Momen Bersejarah bagi Harry Kane
Kane bermain di pertandingan melawan Islandia tahun 2016, mengalami kengerian di Nice, menyaksikan pelecehan terhadap Raheem Sterling di tribun, dan ejekan penggemar tentang mata uang Euro. Sepuluh tahun kemudian, ia melakukan hal yang berbeda: membawa Inggris dari tertinggal 1-0 menjadi menang 2-1, menyelamatkan hari lain di waktu yang berbeda. Sungguh aneh sekarang ada pembicaraan bahwa Tuchel mungkin ingin menepikan Kane 18 bulan lalu. Di Atlanta, ia menyelamatkan tidak hanya pekerjaan Tuchel tetapi juga reputasi pelatih Jerman tersebut.
Kini Kane telah mencetak lima gol di Piala Dunia ini dan total 84 gol untuk Inggris, menuju angka 100 yang tak terhindarkan. Kariernya sungguh luar biasa mengingat kedalaman tekad yang diperlukan untuk mencapai level ini sejak awal kariernya di Tottenham. Bahkan gol penentu kemenangan bercerita banyak: betapa manisnya koneksi di menit ke-85 setelah frustrasi, jalan buntu, dan kerja keras sepanjang pertandingan.
Analisis Permainan Inggris yang Masih Rapi
Inggris akan melawan Meksiko di Mexico City pada babak 16 besar. Namun, tidak ada yang benar-benar tahu apakah mereka bagus. Mereka tampil seperti tim dengan koneksi longgar sejak awal pertandingan. Atlanta Stadium mungkin adalah stadion terbaik di Piala Dunia ini karena benar-benar berada di pusat kota, dikelilingi jalan dan trotoar, bukan pusat perbelanjaan raksasa ala film Bladerunner yang terpencil. Cuaca Atlanta sangat panas dan menyengat—jenis panas di mana berjalan di jalan raya saja sudah menjadi serangan fisik total. Namun di bawah kubah stadion, udaranya sejuk, ringan, dan berangin sepoi-sepoi.
Namun ada masalah bahkan sebelum pertandingan dimulai. Inggris memulai dengan sisi kanan Spence-Madueke. Noni Madueke khususnya masih pemain satu kaki yang sedang berkembang untuk peran kunci di panggung sepenting ini. Mereka hampir tidak melakukan apa pun selama enam menit pertama. Inggris juga kekurangan gelandang bertahan karier yang bisa melac
Pertandingan Piala Dunia antara Prancis dan Swedia di New York-New Jersey Stadium menyajikan tontonan yang sulit dilupakan. Prancis kalahkan Swedia di Piala Dunia dengan skor meyakinkan berkat dua gol indah Kylian Mbappé dan penampilan gemilang Michael Olise. Pertandingan ini menjadi bukti kekuatan tim asuhan Didier Deschamps yang tampil dominan sejak menit awal.
Awal Pertandingan: Swedia Memberi Perlawanan
Pada setengah jam pertama, pertandingan berjalan menarik. Prancis menguasai bola, namun Swedia beberapa kali mengancam lewat serangan balik. Kiper Swedia, Jacob Widell Zetterström, tampil sigap menggagalkan peluang dari Adrien Rabiot. Namun, Prancis terus menekan. Mbappé sempat melepaskan tembakan yang membentur tiang gawang dari jarak enam yard. Sementara itu, sepakan gunting Michael Olise juga mengenai mistar. Pertahanan Swedia mulai goyah.
Gol Pertama Mbappé: Keindahan Eksekusi
Pada menit ke-35, tendangan sudut pendek dimanfaatkan dengan cepat. Ousmane Dembélé mengirim bola ke Olise yang kemudian mengembalikannya. Dembélé dengan cepat mengalihkan ke Mbappé yang berada di sisi kanan kotak penalti. Meskipun sudutnya sempit dan ada banyak pemain bertahan, Mbappé dengan tenang mengecoh Gyökeres lalu melesakkan bola melengkung melewati Zetterström. Gol itu menjadi salah satu momen terbaik turnamen. Selebrasi tim yang langsung memeluk Deschamps menunjukkan ikatan kuat antara pemain dan pelatih.
Babak Kedua: Dominasi Total Prancis
Prancis menggandakan keunggulan delapan menit setelah jeda. Swedia kehilangan bola di area sendiri, dimanfaatkan Aurélien Tchouaméni yang memberikan umpan ke Olise. Dengan visi luar biasa, Olise mengirimkan umpan terobosan kepada Bradley Barcola yang berlari masuk kotak penalti dan melepaskan tembakan keras ke atap gawang.
Peran Kunci Michael Olise
Olise tampil dalam performa terbaiknya di babak kedua. Ia bergerak bebas di lini depan, turun ke tengah, dan selalu menciptakan bahaya. Umpan segitiga antara Olise, Rabiot, dan Jules Koundé di garis tengah menjadi tontonan memukau. Setiap sentuhan bola memiliki bobot dan spin yang berbeda, menunjukkan kualitas teknis tinggi.
Gol Kedua Mbappé dan Penutup
Pada 15 menit tersisa, Olise kembali menjadi kreator. Umpan terukur kepada Mbappé yang melakukan pergerakan tepat waktu, diakhiri dengan tendangan melengkung yang kembali bersarang di pojok gawang Swedia. Itu adalah gol kedua Mbappé dan assist kedua Olise. Tidak ada yang bisa menahan Prancis saat mereka berada dalam ritme seperti ini.
Komentar Pelatih dan Pemain
Didier Deschamps, yang baru saja kehilangan ibunya, memuji konsentrasi dan semangat tim. “Pemain Prancis memiliki kualitas luar biasa dan ketika mereka memiliki pola pikir seperti ini, itu pertanda baik,” ujarnya. Mbappé menambahkan bahwa kebersamaan kelompok ini sudah menjadi DNA. “Kami selalu saling mendukung,” katanya. Deschamps tetap rendah hati dan mengingatkan bahwa lawan ke depan akan lebih sulit, sehingga tim perlu melakukan penyesuaian.
Analisis Graham Potter: Tantangan Menghadapi Prancis
Pelatih Swedia, Graham Potter, mengakui kekuatan lawan. “Mereka memanfaatkan lebar lapangan dengan baik. Anda harus bertahan di seluruh lebar lapangan dan karena kualitas pemain sayap, Anda perlu double cover. Belum lagi striker tengah yang tidak buruk. Mereka juga bisa membangun serangan dengan kontrol baik dan bek tengah yang kuat, sehingga sepak bola langsung pun tidak mudah. Jika Anda kuat di seluruh lapangan, peluang menang besar.”
Kesimpulan: Prancis Kandidat Kuat Juara
Prancis kalahkan Swedia di Piala Dunia dengan penampilan yang mendekati sempurna. Dua gol Mbappé dan kontribusi Olise membuat tim ini sulit dihentikan. Masih ada ruang untuk peningkatan, namun performa ini menempatkan Prancis sebagai favorit utama. Jika terus tampil konsisten, bukan tidak mungkin mereka akan mengangkat trofi di akhir turnamen.