Prakiraan Everton Premier League 2026-27: Mampukah Bangkit?

Prakiraan Everton di Premier League 2026-27 dari para penulis Guardian menempatkan The Toffees di peringkat 10. Posisi ini tiga tingkat lebih baik dari akhir musim lalu, ketika Everton mengakhiri kompetisi di peringkat 13. Namun, prediksi ini datang dengan catatan besar: kemajuan yang sesungguhnya masih harus dibuktikan di lapangan.

Musim lalu sebenarnya sempat berjalan melebihi ekspektasi pada empat perlima awal, dengan Everton tampil lebih proaktif dan berani menyerang, bebas dari ketakutan akan degradasi. Namun, keruntuhan di pengujung musim mengubah total persepsi terhadap musim penuh pertama David Moyes. Kini, pembicaraan soal kemajuan menuntut bukti yang lebih nyata daripada sekadar janji.

Peluang dan Target Everton di Premier League 2026-27

Pada 21 Maret lalu, Everton hanya tertinggal tiga poin dari posisi kelima yang menjadi ambang terakhir Liga Champions setelah menghancurkan Chelsea di kandang baru mereka. Sejak saat itu, The Toffees tidak pernah menang lagi hingga akhir musim dan jatuh ke peringkat 13. Posisi itu sama persis dengan musim sebelumnya di bawah Sean Dyche dan Moyes, dengan selisih satu poin lebih banyak tetapi selisih gol yang lebih buruk.

Sebenarnya, lolos ke kompetisi Eropa boleh dibilang target ambisius untuk klub yang masih beradaptasi dengan stadion baru dan kehilangan 10 pemain akibat habisnya kontrak, termasuk pemain pinjaman. Namun, peluang itu terbuka lebar di depan mata tim asuhan Moyes, dan mereka gagal memanfaatkannya. Musim ini, tanpa gejolak besar seperti musim panas lalu, lini tengah yang lebih baik, dan pengalaman setahun para pemain muda, peluang lolos ke Eropa bisa menjadi lebih realistis.

Semua itu hanya berlaku jika sejumlah lubang besar di skuad Moyes akhirnya diisi. Everton butuh peningkatan di posisi penyerang tengah, karena Beto dan Thierno Barry masih terbatas kemampuannya, meski Barry menunjukkan tanda-tanda positif di pramusim. Berikut beberapa sektor yang wajib dibenahi sebelum bursa transfer ditutup:

  • Penyerang tengah: Beto dan Thierno Barry dinilai belum cukup tajam untuk standar Premier League.
  • Bek kanan: Everton masih mencari penerus Séamus Coleman.
  • Bek tengah: sektor yang musim lalu kerap menjadi titik lemah.

Situasi di Luar Lapangan: Denda dan Tekanan Finansial

Konsekuensi dari kepemilikan Farhad Moshiri yang kacau masih terus dirasakan Everton hingga sekarang. Klub diperintahkan membayar kompensasi hampir £40 juta kepada Burnley atas degradasi tim tersebut pada musim 2021-22. Vonis yang dikeluarkan komisi disiplin independen Premier League ini dibarengi dengan denda finansial terbesar yang pernah dijatuhkan kepada klub Premier League.

Everton mengajukan banding atas vonis yang membuka kotak pandora ini, sekaligus atas denda terbesar tersebut. Klub mengklaim hukuman terbaru ini tidak memengaruhi rencana transfer mereka pada musim panas. Namun, di sisi lain, banyak pemegang tiket musiman harus menanggung kenaikan harga di atas inflasi, bahkan di sebagian kasus hampir 10 persen.

Di tengah semua tekanan itu, Everton justru memperpanjang kesepakatan sponsor dengan Stake. Padahal, pemerintah Inggris telah berkomitmen menindak operator judi tanpa izin yang mensponsori tim olahraga Inggris. Langkah ini tentu tidak lepas dari sorotan publik.

Hubungan Pemilik dan Suporter yang Belum Hangat

The Friedkin Group (TFG) memang berhasil membawa stabilitas finansial yang sangat dibutuhkan Everton. Namun, akan sulit untuk mengklaim bahwa suporter sudah benar-benar terhubung dengan kelompok pemilik yang rendah profil ini. Mereka bahkan jarang menghadiri pertandingan.

CEO Angus Kinnear, orang yang ditunjuk TFG untuk menjalankan klub, sempat memancing kemarahan suporter di akhir musim lalu. Ia menyebut hierarki klub merasa “bahagia namun tidak puas” dengan musim pertama di Hill Dickinson Stadium. Komentar itu langsung dianggap sebagai bukti baru bahwa Everton mulai terbiasa dengan mediokritas.

Namun, perlu dilihat konteks penuh dari pernyataan Kinnear tersebut. Ia sedang menulis tentang tekad TFG untuk mengusir ancaman ketidakstabilan finansial, degradasi, dan sanksi regulasi. Dalam kesempatan yang sama, ia juga menambahkan: “Kemajuannya jelas, tetapi kami belum mencapai apa pun.”

David Moyes dan Masa Depan di Tengah Spekulasi

David Moyes genap berusia 64 tahun pada April nanti dan tetap menjadi manajer tertua di Premier League. Ketajaman dan ambisinya untuk membangun kembali Everton masih jelas terlihat, meskipun menarik untuk disimak apakah ia tetap punya selera beradu argumen dengan kritikus jika musim dimulai dengan buruk. Terlebih, kursi pelatih tim nasional Skotlandia masih kosong dan Moyes tampak sebagai kandidat ideal untuk menggantikan Steve Clarke.

Hingga akhir musim lalu yang buruk, Moyes sebenarnya melampaui ekspektasi yang diberikan kepadanya. Namun, hasil buruk di pengujung musim merampas peluang Everton tampil di Eropa dan membuat pemilihan pemainnya disorot tajam. Pembicaraan soal perpanjangan kontrak pun sejak itu meredup.

Rekrutan yang Bisa Menjadi Kunci Kejutan

Jendela transfer Everton sejauh ini lebih terkesan masuk akal ketimbang spektakuler, seperti mengganti Idrissa Gana Gueye dengan Christian Nørgaard senilai £7 juta. Namun, satu langkah yang mungkin menjadi kejutan adalah pertukaran Dwight McNeil dengan Brennan Johnson. Hampir tidak ada yang membantah bahwa kepindahan pemain asal Wales itu dari Tottenham ke Crystal Palace pada Januari berakhir mengecewakan.

Palace pun siap menanggung kerugian besar atas investasi rekor mereka senilai £35 juta hanya tujuh bulan kemudian. Akan tetapi, jika Johnson yang kini berusia 25 tahun mampu menemukan kembali performa terbaiknya seperti di Nottingham Forest atau saat mencetak 18 gol untuk Spurs pada 2024-25, ia bisa menjadi pembelian yang sangat menguntungkan. Pemain ini dinilai mampu menjawab sejumlah masalah di lini depan Everton.

Statistik: Skuad Paling Stabil di Premier League

David Moyes dikenal sebagai manajer yang sangat suka mempertahankan susunan pemain tetap. Everton pun mencatatkan rata-rata perubahan susunan starter paling sedikit dibanding tim mana pun di Premier League 2025-26. Ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari pendekatan Moyes yang mengutamakan stabilitas dan chemistry antarpemain.

Dengan skuad yang sebagian besar masih sama seperti musim lalu, tren ini kemungkinan besar akan berlanjut. Namun, ada satu pertanyaan besar yang menggantung: bagaimana jika cedera mulai menyerang pemain-pemain kunci? Konsistensi memang baik, tetapi tanpa kedalaman skuad yang memadai, gaya ini bisa menjadi bumerang ketika jadwal padat datang.

Tyler Dibling: Pembelian Termahal yang Gagal Menonjol

Tyler Dibling seharusnya menjadi kandidat kuat untuk kategori pemain yang bakal bersinar musim ini setelah dibeli dari Southampton dengan biaya awal £35 juta. Namun, musim debutnya di Merseyside nyaris tidak meninggalkan jejak sama sekali. Dengan kata lain, ia kembali dinominasikan setahun kemudian justru karena musim yang tidak terjadi apa-apa.

Everton menginvestasikan banyak waktu dan uang untuk memboyong pemain timnas Inggris U-21 ini, yang hingga kini menjadi pembelian termahal pada periode kedua Moyes. Namun, hasilnya sangat mengecewakan. Gelandang serang itu hanya tampil sebagai starter dalam empat pertandingan liga sepanjang musim.

Yang lebih parah, Dibling tidak diberi satu menit pun bermain setelah kemenangan 2-0 atas Burnley pada 3 Maret lalu. Moyes tidak menyembunyikan frustrasinya terhadap apa yang ia lihat di lapangan latihan. Ini jelas bukan sinyal bagus bagi pemain yang diyakini bakal menjadi bintang masa depan Everton.

Dampak Piala Dunia bagi Skuad Everton

Piala Dunia terlama dalam sejarah ini seharusnya tidak memberi dampak terlalu berat bagi skuad Moyes. Hanya tiga pemain Everton yang terlibat, dan dari jumlah itu hanya Jordan Pickford yang masih tampil setelah 1 Juli. Pickford kembali menerima kritik yang biasa ia dapatkan setelah penampilannya melawan Ghana dan Argentina, meskipun ia menegaskan statusnya sebagai kiper utama Inggris sepanjang turnamen.

Iliman Ndiaye hanya sekali menjadi starter untuk Senegal dan ditarik keluar pada menit ke-73 ketika timnya unggul 2-0 atas Belgia di babak 32 besar. Hasil akhirnya justru kekalahan 3-2. Sementara itu, Nathan Patterson, yang masa depannya di Everton belum jelas, tampil dalam tiga pertandingan babak grup Skotlandia yang mudah dilupakan.

Everton kini berada di persimpangan yang sama seperti musim lalu: modal awal yang cukup baik, tetapi janji kemajuan harus dibuktikan dengan konsistensi. Skuad asuhan Moyes perlu mengisi posisi-posisi krusial, terutama penyerang tengah dan bek kanan, agar target Eropa tidak kembali menguap. Langkah terakhir di bursa transfer akan sangat menentukan apakah The Toffees benar-benar melaju atau kembali tertahan di papan tengah.

Prakiraan peringkat 10 dari para penulis Guardian bisa menjadi pijakan yang wajar, tetapi bukan sesuatu yang otomatis terjadi. Everton harus belajar dari keruntuhan musim lalu, ketika peluang tampil di Eropa hilang hanya dalam beberapa pekan. Kini tinggal menunggu apakah skuad Moyes sanggup membuktikan bahwa kemajuan itu nyata, bukan sekadar wacana.

PSG Juara Super Cup: Gol Doué Bungkam Aston Villa

Paris Saint-Germain (PSG) sukses merebut gelar juara Super Cup setelah menaklukkan Aston Villa dalam pertandingan penuh drama di Salzburg. Gol kemenangan Les Parisiens dicetak oleh Désiré Doué, sementara Brian Madjo menorehkan sejarah sebagai pencetak gol termuda di ajang ini. Kemenangan tipis itu sekaligus menegaskan dominasi PSG di kancah Eropa.

Laga ini menjadi ujian menarik bagi kedua tim. Aston Villa tidak tampil gentar, bahkan sempat menyamakan kedudukan dan nyaris memaksa adu penalti. Namun pengalaman PSG dalam laga-laga besar kembali menjadi pembeda, dan kini pertanyaan besarnya adalah apakah mereka mampu menambah koleksi trofi Liga Champions untuk ketiga kalinya beruntun.

PSG Juara Super Cup Usai Menang Dramatis atas Aston Villa

Pertandingan di Salzburg berjalan sengit sejak menit awal. PSG membuka keunggulan pada menit ke-20 melalui Khvicha Kvaratskhelia, yang memanfaatkan bola liar hasil rebutan Vitinha setelah kontrol Brian Madjo kurang sempurna. Kvaratskhelia lalu memotong masuk melewati Matty Cash dan melepaskan tembakan keras ke tiang dekat Marco Bizot. Enam menit kemudian, PSG nyaris menggandakan keunggulan, tetapi umpan silang Nuno Mendes dari sisi kiri gagal dimanfaatkan Maghnes Akliouche dan rekan-rekannya.

Madjo sempat membuang sejumlah peluang sebelum akhirnya menyamakan skor menjelang turun minum. Penyerang berusia 17 tahun itu menyambut umpan silang John McGinn dengan voli menyamping yang meluncur deras ke atap gawang Matvey Safonov. Sebelum gol itu, Madjo juga sempat melihat tayangan ulang sundulannya yang meleset di layar stadion, lalu gagal mencetak gol dari dua kesempatan lain. Namun pada momen krusial, ia tampil tenang dan mencatatkan namanya sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah kompetisi.

PSG kembali unggul tepat setelah satu jam pertandingan. Ousmane Dembélé yang masuk pada babak kedua memberikan umpan terobosan ke sisi kanan yang membuka pertahanan Aston Villa. Gol Doué sempat dianulir setelah Ian Maatsen dan Pau Torres mengangkat tangan, tetapi tinjauan VAR dan teknologi semi-automated offside menunjukkan bahwa Matty Cash berada dalam posisi yang membuat Doué tetap onside. Wasit asal Somalia, Omar Artan, yang ditunjuk UEFA setelah sempat ditolak masuk Amerika Serikat untuk memimpin Piala Dunia, akhirnya mengesahkan gol tersebut.

Brian Madjo Cetak Sejarah di Debut Penuh Bersama Aston Villa

Penampilan Madjo menjadi sorotan utama dari kubu Aston Villa. Pemain yang direkrut dari Metz dengan nilai sekitar 10 juta pound pada Januari lalu itu baru bisa menjalani laga kompetitif pertamanya setelah Villa memenangkan banding di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). FIFA sebelumnya melarangnya bermain, tetapi keputusan itu akhirnya dibatalkan sehingga Madjo bebas memperkuat timnya di musim ini.

Sejak pramusim, Madjo sudah menunjukkan ketajamannya dengan mencetak gol ke gawang Walsall, Real Sociedad, dan Indonesia All Stars. Dalam daftar pencetak gol terbanyak pramusim, hanya João Pedro dari Chelsea yang mampu melampaui catatannya di antara pemain Premier League. Debut penuhnya melawan PSG berjalan impresif: ia merepotkan bek sekaliber Willian Pacho dan Marquinhos, dua nama yang dikenal sebagai salah satu bek terbaik dunia.

Kehadiran Madjo juga semakin menekan posisi Tammy Abraham. Striker yang dibeli Aston Villa seharga 18,25 juta pound tujuh bulan lalu itu belum mampu memenuhi ekspektasi. Madjo justru tampil menonjol di panggung besar pertamanya, memberi sinyal bahwa persaingan di lini depan Villa akan semakin ketat musim ini.

Dampak Hasil Ini bagi Aston Villa dan PSG

Meski harus pulang dengan kekalahan, Aston Villa punya banyak alasan untuk optimistis. Mereka bermain berani dan hampir membawa laga ke adu penalti andai Warren Zaïre-Emery tidak melakukan blok luar biasa terhadap tembakan João Gomes. Emi Buendía juga menyia-nyiakan peluang emas dengan sundulan yang melebar di masa injury time. Villa membuktikan bahwa mereka layak bersaing dengan tim papan atas Eropa.

Unai Emery sebelumnya mengingatkan bahwa timnya belum berada di kondisi terbaik. Sejumlah pilar seperti Emiliano Martínez, Ezri Konsa, dan Ollie Watkins masih menjalani liburan, sementara Boubacar Kamara baru kembali menjadi starter untuk pertama kalinya sejak cedera lutut serius yang dialaminya pada Januari. Meski demikian, Emery merasa bangga dengan performa anak asuhnya dan yakin timnya akan semakin baik.

Di sisi lain, PSG kembali menunjukkan mentalitas juara yang ditanamkan Luis Enrique. Pelatih asal Spanyol itu dikenal selalu ingin menang dalam segala hal, baik di lapangan sepak bola, saat bermain tenis, padel, maupun permainan papan parchis. Filosofi itu tampak jelas dalam cara PSG mengendalikan momen-momen krusial pertandingan, termasuk saat menghadapi tekanan Villa di menit-menit akhir.

Konteks Lebih Luas: Ambisi PSG dan Masa Depan Villa

Bagi PSG, gelar ini menjadi awal yang sempurna setelah dua musim beruntun menjuarai Liga Champions lewat partai final di Munich dan Budapest. Kini muncul pertanyaan apakah mereka mampu mewujudkan three-peat di Madrid pada bulan Mei. Melihat kedalaman skuad dan mentalitas yang ditunjukkan di Super Cup, peluang itu jelas terbuka lebar.

Aston Villa sendiri tidak tinggal diam di bursa transfer. Mereka dikabarkan tengah memfinalisasi kesepakatan untuk João Palhinha dari Bayern Munich, sementara bek kiri Atlético Madrid, Matteo Ruggeri, dijadwalkan menjalani tes medis dalam 48 jam ke depan. Emery mengatakan bahwa beberapa perubahan tetap diperlukan, tetapi ia percaya diri menghadapi musim ini.

Dengan tambahan pemain baru dan kembalinya sejumlah pilar, Villa diprediksi akan tampil lebih kompetitif. John McGinn sendiri telah mengisyaratkan bahwa timnya akan membungkam kritik, dan performa melawan PSG bisa menjadi modal penting untuk membuktikan hal itu. Adapun PSG, kemenangan ini menegaskan bahwa mereka tetap menjadi tim yang harus dikalahkan di kompetisi Eropa musim ini.

Secara keseluruhan, Super Cup ini menghadirkan pertandingan kelas Eropa yang atraktif dan penuh semangat juang. PSG pulang dengan trofi, tetapi Aston Villa pulang dengan kepercayaan diri yang tidak kalah berharga. Musim depan akan menjadi panggung bagi keduanya untuk membuktikan bahwa performa mereka di laga ini hanyalah permulaan dari persaingan yang lebih sengit.

Pratinjau Brighton Premier League 2026-27: Ambisi Eropa

Brighton & Hove Albion memasuki Premier League 2026-27 dengan modal kepercayaan diri tinggi setelah musim lalu memastikan tiket ke Liga Conference Eropa. Meski kalah 3-0 dari Manchester United di laga pamungkas Mei lalu, para pemain dan suporter justru kompak merayakan pencapaian tersebut karena itu mengantarkan mereka kembali ke pentas Eropa. Kini target Brighton tidak sekadar bertahan di papan tengah, melainkan berani bermimpi melaju jauh di kompetisi antarklub Eropa.

Posisi kedelapan musim lalu menjadi bukti konsistensi Brighton sebagai salah satu klub model di Premier League, tetapi tantangan musim ini jauh lebih berat. Sejumlah pemain senior hengkang, sang pelatih masih sangat muda, dan padatnya jadwal akibat kompetisi Eropa bakal menguji ketahanan skuad. Pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana Fabian Hürzeler meracik tim untuk bersaing di tiga ajang sekaligus tanpa kehilangan identitas permainan.

  • Prediksi posisi para penulis Guardian: ke-9
  • Posisi akhir musim lalu: ke-8
  • Pelatih: Fabian Hürzeler (33 tahun)
  • Kompetisi Eropa: Liga Conference Eropa

Prospek Brighton di Premier League 2026-27

Sebagai klub yang lolos ke Liga Conference Eropa, Brighton langsung dihadapkan pada pertanyaan besar: seberapa realistis target trofi tersebut? West Ham dan Crystal Palace telah membuktikan bahwa klub asal Inggris mampu memenangkan kompetisi ini sejak pertama kali digelar, sehingga menjadikan trofi itu target yang wajar untuk dikejar. Meski begitu, jadwal padat yang mengharuskan tim bermain Kamis-Minggu akan menjadi ujian berat bagi ketebalan skuad The Seagulls.

Pengalaman tiga musim lalu menjadi pelajaran berharga bagi klub. Saat itu Brighton menikmati perjalanan hingga babak 16 besar Liga Europa, tetapi efeknya justru merusak performa di kompetisi domestik karena skuad kelelahan dan hubungan dengan manajer kala itu, Roberto De Zerbi, ikut meregang. Hasilnya, Brighton harus puas finis di peringkat 11 yang mengecewakan. Musim ini, klub berharap cerita berbeda dengan manajemen tim yang lebih siap menghadapi padatnya kalender.

Perombakan Skuad: Perpaduan Pengalaman dan Masa Depan

Musim panas ini menjadi periode transisi besar di Brighton. James Milner memutuskan pensiun dan bahkan tidak ikut merayakan keberhasilan tim lolos ke Eropa, sebuah sinyal bahwa generasi emas klub perlahan berganti. Sementara itu, Danny Welbeck yang tampil impresif sebagai penyerang utama musim lalu memilih pindah ke Chelsea, langkah yang menarik perhatian mengingat usianya akan menginjak 36 tahun pada November mendatang.

Dengan kepergian para senior, Brighton kini hanya memiliki Pascal Gross, Lewis Dunk, dan kiper cadangan Jason Steele sebagai pemain veteran yang usianya lebih tua dari sang pelatih. Kejutan lain datang dari Solly March yang tidak ditawari kontrak baru, sebuah keputusan yang sulit diterima suporter setia mengingat dedikasinya selama bertahun-tahun, meski masalah cedera menjadi pertimbangan utama di balik langkah tersebut.

Di lini pertahanan, Jan Paul van Hecke yang menjadi bek terbaik Brighton musim lalu dilepas ke Tottenham dengan nilai transfer £52 juta. Sebagai gantinya, Brighton memboyong bek muda menjanjikan, Luka Vuskovic, yang sebelumnya tidak pernah tampil untuk Spurs. Meski reputasi rekrutan Brighton sangat dihormati industri sepak bola berkat kecanggihan analitik Jamestown Analytics milik Tony Bloom, bukan berarti semua pembelian selalu sukses—sejumlah pemain pernah gagal memenuhi ekspektasi.

Renovasi Stadion Amex dan Sentuhan Modern untuk Suporter

Di luar lapangan, Brighton berinvestasi besar untuk meningkatkan pengalaman suporter. Stadion Amex akan memperluas area berdiri aman (safe standing) di South Stand sebagai bagian dari proyek modernisasi senilai £40 juta. Pekerjaan ini dijadwalkan berlangsung pada jeda internasional September dengan tujuan utama menciptakan atmosfer stadion yang lebih hidup.

Klub juga membuka 1901 Pub, sebuah konsep baru yang menggabungkan pub tradisional dengan ruang santai premium bagi suporter yang ingin menikmati pertandingan dalam suasana lebih rileks. Dengan kapasitas 660 orang, keanggotaan tempat ini dibanderol mulai £173 per bulan. Langkah ini menunjukkan bagaimana manajemen Brighton menaruh perhatian serius pada kenyamanan fans, sejalan dengan reputasi klub yang dikenal peka terhadap kebutuhan suporter.

Tony Bloom: Tulang Punggung di Balik Kesuksesan Brighton

Tidak ada yang meragukan bahwa kesuksesan Brighton bertumpu pada dukungan finansial Tony Bloom. Pemilik sekaligus suporter setia sejak kecil ini kembali membuktikan komitmennya dengan menambah pinjaman sebesar £107 juta pada Januari lalu, sehingga total pinjaman yang diberikan mencapai £400 juta. Tanpa suntikan dana dan antusiasme Bloom yang terus menyala, Brighton mustahil menjadi kekuatan mapan dan panutan di Premier League seperti sekarang.

Menariknya, Bloom juga terlibat dalam perburuan gelar Hearts di Liga Skotlandia musim lalu, menunjukkan bahwa pria yang akrab disapa “the Lizard” di dunia perjudian ini memiliki perhatian luas di luar Brighton. Namun, prioritas utamanya tidak pernah berubah, yaitu klub kota kelahirannya. Para suporter Brighton sepenuhnya sadar bahwa kehadiran Bloom adalah faktor penentu keberlangsungan klub.

Fabian Hürzeler: Pelatih Muda yang Kian Dewasa

Fabian Hürzeler telah melalui banyak proses pendewasaan selama dua musim memimpin Brighton. Ada kalanya keraguan muncul terhadap kemampuannya, tetapi manajemen klub yang dipimpin Bloom dan CEO Paul Barber tetap percaya penuh pada pelatih asal Bavaria yang masih berusia 33 tahun ini. Kontrak baru berdurasi tiga tahun diumumkan pada Mei lalu, dengan Bloom menyebut adanya “identitas permainan yang jelas” dalam tim asuhannya.

Hürzeler memang dikenal memiliki temperamen tinggi, dan perilakunya di pinggir lapangan kerap menuai protes dari wasit maupun pelatih lawan. Meski begitu, ia akan memulai musim ini sebagai manajer dengan masa bakti terlama kelima di Premier League, sebuah pencapaian yang layak dihargai. Ditambah gaya rambut barunya yang mencolok pada pramusim, Hürzeler siap membuktikan bahwa kesuksesan di pentas Eropa bisa semakin memoles reputasinya yang sedang naik daun.

Bintang Baru dan Kandidat Terobosan Musim Ini

Luka Vuskovic: Bek Masa Depan Pengganti Lewis Dunk

Di lini belakang, Luka Vuskovic menjadi rekrutan yang paling dinantikan. Bek Kroasia ini mencuri perhatian saat dipinjamkan ke Hamburg, di mana kemampuan membaca permainan, positioning, dan kematangannya menuai pujian. Kedatangan Pascal Struijk dari Leeds memberinya ruang untuk berkembang perlahan, tetapi kemampuan Vuskovic dalam membangun serangan dari lini belakang berpotensi menjadikannya penerus jangka panjang Lewis Dunk sebagai kapten.

Nilai transfernya yang dilaporkan mencapai £46 juta—saat Spurs membayar £12 juta untuk mendapatkannya—menunjukkan besarnya permintaan terhadap bek muda ini. Angka tersebut juga menegaskan keyakinan Brighton bahwa Vuskovic layak dijadikan investasi jangka panjang. Harapan besar pun tersemat bahwa kesepakatan ini nantinya akan dianggap sebagai pembelian yang sangat menguntungkan.

Charalampos Kostoulas Siap Gantikan Welbeck

Untuk lini depan, Brighton memiliki Charalampos Kostoulas yang siap mengisi kekosongan yang ditinggalkan Welbeck. Musim lalu, pemain Yunani berusia 19 tahun ini baru mendapat dua kali kesempatan starter di liga, tetapi gol tendangan salto spektakulernya ke gawang Bournemouth pada Januari menjadi bukti kualitasnya. Dengan kebijakan klub yang sabar memberi waktu adaptasi kepada pemain baru, musim ini diyakini menjadi panggung bagi Kostoulas untuk tampil lebih banyak.

Rekan senegaranya, Stefanos Tzimas, yang sudah kembali berlatih setelah pulih dari cedera ACL, juga akan menjadi kompetitor atau partner potensial di lini serang. Kehadiran dua penyerang muda Yunani ini memberi Hürzeler lebih banyak opsi dalam merotasi tim. Kombinasi keduanya bisa menjadi senjata baru Brighton untuk menggantikan produktivitas Welbeck.

Catatan Statistik dan Jejak Pemain di Piala Dunia

Catatan statistik musim lalu menunjukkan Brighton adalah tim yang sangat produktif dalam membangun serangan terbuka. Hanya dua klub Manchester yang berhasil mencetak lebih banyak gol dari permainan terbuka, sementara tingkat expected goals (xG) per laga Brighton identik dengan Arsenal pada 2025-26. Artinya, peluang mencetak gol tidak akan menjadi masalah—tinggal menunggu siapa yang mampu mengambil tongkat estafet pencetak gol setelah kepergian Welbeck.

Piala Dunia baru-baru ini juga meninggalkan jejak bagi sejumlah pemain Brighton. Jordan Henderson memastikan Jason Steele mendapat medali perunggu atas kontribusinya sebagai kiper latihan yang diakui kualitasnya saat Inggris finis di posisi ketiga. Sementara itu, Maxim De Cuyper melaju hingga perempat final bersama Belgia, dan Yasin Ayari mencetak dua gol dalam satu pertandingan Piala Dunia—sebuah rekor baru bagi pemain Brighton—saat Swedia menekuk Tunisia 5-1.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, musim Brighton di Premier League 2026-27 menjanjikan cerita yang penuh warna. Di satu sisi ada optimisme berkat rekrutan muda potensial dan kepercayaan penuh manajemen terhadap Hürzeler, tetapi di sisi lain transisi skuad dan padatnya jadwal Eropa menjadi tantangan nyata. Jika semua elemen berjalan mulus, finis di papan atas klasemen dan perjalanan panjang di Liga Conference bukanlah mimpi yang mustahil bagi The Seagulls.

Trump Dukung Infantino: Memecatnya akan Jadi Kesalahan FIFA

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, buka suara di tengah krisis yang mengguncang FIFA. Trump memperingatkan bahwa badan sepak bola dunia itu akan membuat kesalahan besar jika mengganti Gianni Infantino dari kursi presiden. Pernyataan tegas ini disampaikan Trump ketika posisi Infantino tengah terancam oleh desakan sejumlah konfederasi.

Tekanan terhadap Infantino datang dari berbagai arah setelah rencananya menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta berakhir gagal. UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan Concacaf—yang membawahi sepak bola di Karibia, Amerika Utara, dan Amerika Tengah—menuduh Infantino melakukan penipuan. Di tengah desakan agar Infantino mundur, dukungan dari Presiden AS itu pun menjadi sorotan.

Trump Dukung Infantino dengan Pernyataan Keras di Truth Social

Dalam unggahan di platform media sosial Truth Social pada Selasa pagi waktu setempat, Trump dengan tegas membela Infantino. “FIFA akan membuat kesalahan besar jika, karena alasan apa pun, mereka mempertimbangkan untuk mengganti Presiden Gianni Infantino,” tulis Trump. Presiden AS itu menyebut Infantino sebagai sosok yang fantastis.

Trump juga menilai Infantino baru saja memimpin Piala Dunia paling sukses sepanjang sejarah, bahkan empat kali lipat lebih sukses dari edisi mana pun sebelumnya. “Jika dia pergi, turnamen ini tidak akan pernah sesukses atau seuntung itu lagi,” lanjutnya. Pernyataan ini menjadi tamparan bagi pihak-pihak yang selama ini mendesak Infantino lengser.

Menariknya, dukungan ini datang justru saat reputasi Infantino sedang diuji oleh sejumlah konfederasi besar. Meski begitu, Trump tampak tidak meragukan kapasitas Infantino dalam mengelola FIFA. Baginya, memecat ketua FIFA saat ini sama saja dengan membuang peluang besar organisasi itu.

Akar Masalah: Rencana Penjualan Saham Piala Dunia

Krisis yang dihadapi Infantino bermula dari usulannya membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan yang dirancang untuk mengurus aspek komersial dan operasional turnamen FIFA. Dalam rencana itu, sekitar 20 persen saham akan ditawarkan kepada investor swasta. Gagasan ini langsung menuai kritik tajam dari berbagai pihak di dalam maupun luar FIFA.

Infantino akhirnya meminta maaf atas usulan tersebut dan rencana itu pun dianggap gagal. Namun, permintaan maaf itu tidak menghentikan gelombang protes dari sejumlah konfederasi. UEFA, misalnya, sebelumnya sudah sempat mengancam akan memboikot kompetisi yang digelar FIFA.

Setidaknya ada beberapa fakta penting yang menjadi pemicu kisruh ini. Rangkaian peristiwa tersebut bermula dari keputusan internal FIFA yang kemudian memicu reaksi berantai dari sejumlah konfederasi. Berikut poin-poin utamanya:

  • Rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) untuk mengelola aspek komersial dan operasional turnamen FIFA.
  • Wacana penjualan sekitar 20 persen saham kepada investor swasta.
  • Permintaan maaf Infantino setelah rencana tersebut menuai penolakan luas.
  • Desakan tinjauan independen dari UEFA, AFC, dan Concacaf terhadap skema Infantino.

UEFA, AFC, dan Concacaf Minta Tinjauan Independen

Ketiga konfederasi itu menyampaikan sikapnya melalui surat terbuka yang ditujukan kepada FIFA. Dalam surat tersebut, mereka mendesak adanya tinjauan independen terhadap skema yang diusulkan Infantino. Menariknya, surat itu tidak menyebut nama Infantino secara langsung, tetapi nada tudingannya sangat jelas tertuju kepadanya.

“Kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah kepemilikan,” demikian bunyi surat tersebut. “Ini bukan tentang memegang—atau menuntut—kekuasaan untuk dipegang. Ini adalah kewajiban pengabdian kepada keluarga sepak bola yang mempercayakannya. Ketika kepercayaan rusak karena penipuan, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kolektif yang memberinya otoritas, maka kewajiban itu telah ditinggalkan.”

Tak hanya itu, UEFA dan dua konfederasi lain dikabarkan telah mengadakan pembicaraan awal soal kemungkinan menyelenggarakan kompetisi sendiri. Langkah ini menjadi sinyal bahwa mereka serius menjauhkan diri dari krisis yang melanda FIFA. Mereka juga disebut ingin memberi Infantino kesempatan mundur dengan bermartabat tanpa mencalonkan diri lagi pada Maret tahun depan.

Dampak bagi Masa Depan FIFA dan Infantino

Dukungan Donald Trump terhadap Infantino menjadi faktor baru dalam dinamika politik FIFA. Trump jelas ingin Infantino tetap bertahan, dan pernyataannya soal Piala Dunia yang sukses menunjukkan penilaian positif terhadap kepemimpinannya. Namun, dukungan politik dari luar FIFA tidak otomatis mengubah tuntutan dari dalam.

Konflik ini menempatkan FIFA pada posisi yang sulit. Di satu sisi, ada presiden yang didukung penuh oleh presiden negara tuan rumah Piala Dunia 2026. Di sisi lain, tiga konfederasi besar menuntut akuntabilitas dan bahkan membuka opsi untuk menggelar kompetisi tandingan.

Jika Infantino tetap bertahan hingga pemilihan Maret tahun depan, ketegangan dengan UEFA, AFC, dan Concacaf berpotensi semakin terbuka. Sebaliknya, jika ia memilih mundur, FIFA harus menghadapi tantangan besar mencari pengganti yang bisa diterima semua pihak. Apa pun skenarionya, stabilitas FIFA akan terus diuji dalam beberapa bulan ke depan.

Konteks Lebih Luas: Apa yang Bakal Terjadi Berikutnya?

Pertarungan antara Infantino dan konfederasi-konfederasi besar belum menunjukkan titik terang. Surat terbuka yang menegaskan bahwa “kepemimpinan bukan kepemilikan” memperlihatkan bahwa mereka menginginkan perubahan mendasar, bukan sekadar pergantian orang. Sementara itu, dukungan Trump justru memperkuat posisi Infantino di mata publik internasional.

Pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung tahun depan akan menjadi momen penentu. Apakah Infantino akan mencalonkan diri lagi atau memilih mundur dengan bermartabat, masih menjadi pertanyaan besar. Yang jelas, krisis kepercayaan ini tidak akan selesai hanya dengan permintaan maaf atau dukungan dari tokoh politik.

Kisruh ini pada akhirnya berpusat pada satu hal: kepercayaan. Infantino dituduh merusak kepercayaan keluarga sepak bola melalui rencana yang dinilai membahayakan integritas Piala Dunia. Dukungan Trump mungkin menambah warna, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan anggota FIFA.

Masa depan Infantino kini bergantung pada tinjauan independen dan sikap konfederasi-konfederasi yang selama ini menjadi pilar FIFA. Sampai pemilihan tahun depan tiba, semua mata akan terus tertuju pada perkembangan kisruh ini. Satu hal yang pasti, dunia sepak bola tengah menyaksikan salah satu ujian terbesar dalam sejarah FIFA.

Skandal FIFA: Rencana Jual Piala Dunia Ancam Infantino

Skandal FIFA kembali menyeruak — kali ini menyeret langsung posisi presiden Gianni Infantino. Rencananya untuk menjual hak komersial Piala Dunia kepada investor eksternal memicu gelombang protes dari UEFA dan sejumlah pihak internal, memaksanya berebut menyelamatkan kursi kepresidenan. Padahal, baru dua pekan sebelumnya, Infantino masih sempat berpuas diri memamerkan kesuksesan Piala Dunia 2022 yang mencatat pendapatan rekor 15 miliar dolar AS.

Skandal yang menimpa FIFA ini sebenarnya bukan cerita yang lahir dalam semalam. Akarnya sudah tertanam sejak keputusan Zurich pada 2010 yang memberikan hak tuan rumah Piala Dunia 2022 kepada Qatar, bukan kepada Amerika Serikat. Rangkaian peristiwa setelahnya — penyelidikan FBI, kesaksian Chuck Blazer, hingga tumbangnya Sepp Blatter — menjadi rantai panjang yang terus membayangi FIFA hingga hari ini.

Rencana Jual Piala Dunia yang Memicu Skandal FIFA

Rencana yang memicu skandal tersebut sebenarnya cukup sederhana: Infantino hendak menjual 21 persen pendapatan masa depan Piala Dunia kepada investor luar, hanya demi mendapatkan 28 persen dari nilai komersial yang sudah dihasilkan Piala Dunia kali ini. Hitungan ini jelas merugikan FIFA dalam jangka panjang, dan banyak pihak menilai keputusan itu mengandung konflik kepentingan yang serius. Publik pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin rencana sebesar ini bisa disusun tanpa sepengetahuan dewan pengawas.

Lebih memprihatinkan lagi, rencana ini disembunyikan dari staf senior FIFA. Para anggota dewan hanya diberi waktu 53 hari untuk mempertimbangkan, dengan iming-iming bonus tunai agar menyetujui. Infantino bahkan disebut-sebut sengaja menambahkan jeda hidrasi dan pertunjukan paruh waktu di final Piala Dunia demi memperkuat daya tarik komersial turnamen di mata calon investor.

Yang terlibat dalam rencana ini juga memunculkan banyak pertanyaan. Orang-orang yang mengetahui skema tersebut memiliki koneksi dengan keluarga Trump, khususnya Joshua Kushner, saudara ipar menantu presiden AS saat itu. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa ada kepentingan politik dan bisnis di balik tawaran kontroversial tersebut.

Akar Skandal: Dari Chuck Blazer hingga Jatuhnya Blatter

Untuk memahami krisis saat ini, perlu menengok ke belakang. Salah satu tokoh sentral dalam sejarah korupsi FIFA adalah Chuck Blazer, sekretaris jenderal Concacaf yang dikenal dengan gaya hidup mencolok. Pria yang memiliki dua apartemen di Trump Tower — satu untuk dirinya, satu lagi untuk kucing-kucingnya — bahkan pernah saling high-five dengan Vladimir Putin ketika pemimpin Rusia itu melontarkan candaan soal penampilannya yang mirip Karl Marx.

Di balik citranya yang tampak ceria dengan janggut tebal dan burung beo bernama Max di pundak, Blazer adalah informan kunci FBI. Kesaksiannya menjadi dasar penangkapan sejumlah petinggi FIFA di Hotel Baur au Lac, Zurich, pada 2015, dan enam hari kemudian Sepp Blatter mengundurkan diri. Kejatuhan Blatter membuka pertarungan suksesi yang sengit di internal FIFA.

Kandidat terkuat saat itu adalah Michel Platini, presiden UEFA, yang dinilai mampu membawa reformasi. Namun, Amerika Serikat menolak Platini karena keputusannya mengalihkan dukungan kepada Qatar dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2022. Keputusan itu diambil setelah pertemuan di Istana Élysée bersama Presiden Nicolas Sarkozy dan petinggi Qatar, meski Platini membantah adanya kesepakatan terselubung.

Nasib Platini ujung-ujungnya ditentukan oleh sebuah pembayaran yang ia terima dari FIFA pada 2011. Jaksa federal Bern, Michael Lauber, menyebut Platini sebagai sosok “antara saksi dan tersangka” — pernyataan yang melanggar protokol dan cukup untuk menggagalkan pencalonannya. Platini pun tersingkir, dan jalan menuju kursi presiden FIFA terbuka lebar bagi Infantino.

Koneksi Erat Infantino dengan Politik Amerika

Infantino terpilih sebagai presiden FIFA pada Februari 2016, mengalahkan Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa dari Bahrain. Kunci kemenangannya adalah perubahan sikap blok Karibia di menit-menit akhir, dan Sunil Gulati, ketua Federasi Sepak Bola AS kala itu, tidak segan mengambil pujian atas hasil tersebut.

Setelah sekutu barunya menang, Amerika Serikat bersama Meksiko dan Kanada mendapatkan hak tuan rumah Piala Dunia 2026. Urutan peristiwanya penting untuk dicatat: Infantino terpilih pada Februari 2016, Donald Trump dilantik pada Januari 2017, dan keputusan tuan rumah diambil pada Mei 2018. Momen-momen ini menunjukkan bagaimana AS selalu bermain di belakang layar sepanjang masa kepemimpinan Infantino.

Hubungan Infantino dengan Trump semakin hari semakin dalam. Ia memberikan Trump penghargaan Perdamaian FIFA yang pertama, menyerahkan trofi Piala Dunia Antarklub, dan bahkan menyewa kantor untuk FIFA di Trump Tower — yang nyaris tidak pernah digunakan. Laporan juga menyebut keterlibatan Joshua Kushner, saudara ipar menantu Trump, dalam rencana penjualan Piala Dunia yang kini memicu krisis.

Infantino juga menunjukkan keberpihakannya dengan memecat Miguel Maduro, ketua komite tata kelola dan review FIFA, yang memblokir pemilihan kembali Vitaly Mutko sebagai wakil presiden FIFA. Mutko adalah pejabat Rusia yang sempat menjabat menteri olahraga, dan keputusan Maduro dianggap benar karena melanggar pedoman keterlibatan politik. Namun, Infantino justru memecatnya — sebuah sinyal bahwa janji reformasi yang ia dengungkan saat kampanye tidak pernah benar-benar dijalankan.

UEFA Melawan dan Gagalnya Rencana Penjualan

UEFA memberikan respons yang jauh lebih keras dari perkiraan Infantino. Federasi sepak bola Eropa itu mengancam akan memboikot turnamen FIFA dan menyatakan siap melumpuhkan FIFA selama Infantino masih menjabat. Respons yang solid dan terkoordinasi ini ternyata sama sekali tidak diantisipasi oleh tim Infantino.

Rencana penjualan Piala Dunia akhirnya dinyatakan gagal — setidaknya untuk saat ini. Infantino, yang terluka secara politik, mencoba bertahan dengan menggelar rapat darurat di Rabat, Maroko. Namun, kehadiran staf senior tidak lengkap: Kevin Lamour, chief operating officer FIFA yang termasuk dua anggota dewan lima orang yang menolak rencana tersebut, justru tidak hadir.

Sebagai upaya menggalang dukungan, rencana memperluas Piala Dunia menjadi 64 tim dipercepat. Langkah ini dianggap sebagai cara Infantino memperkuat basis dukungannya di kalangan anggota FIFA yang mayoritas negara berkembang. Namun, surat-surat dukungan yang sebelumnya hampir menjamin ia melenggang tanpa lawan mulai ditarik kembali satu per satu.

Masa Depan FIFA di Persimpangan Jalan

Pada Jumat pekan ini, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) justru menyatakan dukungannya kepada Infantino. Dukungan itu diduga terkait dengan janji final Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Casablanca. Beberapa negara yang juga menyatakan dukungan antara lain:

  • Meksiko
  • Argentina
  • Qatar
  • Uni Emirat Arab
  • Lebanon
  • Kuwait
  • Bhutan
  • Sri Lanka

Dengan 211 anggota FIFA, jumlah dukungan tersebut masih jauh dari cukup untuk mengamankan posisi Infantino. Pemilihan presiden tetap dijadwalkan pada Maret tahun depan, dan perbincangan politik kini mulai bergeser dari membahas cara mengubah FIFA menjadi siapa calon penantangnya. Turnamen yang berpotensi menjadi sasaran boikot pertama adalah Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia yang dimulai pada 5 September.

Polandia telah berinvestasi besar-besaran untuk infrastruktur turnamen dan berharap acara tetap berjalan sesuai jadwal. Namun, federasi sepak bola Polandia kemungkinan besar akan solid mengikuti blok UEFA. Sejarah mencatat, FIFA sudah lama terjangkit budaya klientelisme sejak João Havelange memenangkan pemilihan presiden pada 1974, dan banyak pihak mulai meragukan lembaga ini bisa diperbaiki dari dalam.

Skandal yang menerpa Infantino kali ini hanyalah puncak gunung es dari masalah yang sudah lama membusuk di tubuh FIFA. Upaya reformasi yang dijanjikan saat ia pertama kali terpilih ternyata hanya tinggal retorika, terbukti dari berbagai kebijakan kontroversial dan kedekatannya dengan lingkaran politik Amerika. Dari Blazer yang menyewa apartemen untuk kucing-kucingnya di Trump Tower, hingga Infantino yang menyewa kantor di gedung yang sama — FIFA seakan tidak pernah benar-benar beranjak dari masa lalunya yang kelam.

Yang jelas, rencana penjualan Piala Dunia memang gagal untuk saat ini, tetapi politik di dalam FIFA masih jauh dari selesai. UEFA bertekad melumpuhkan FIFA sampai Infantino angkat kaki, sementara Infantino sendiri masih bertahan dengan menggalang dukungan dari berbagai konfederasi. Pertanyaan terbesar yang tersisa adalah: apakah FIFA bisa berubah, atau justru kebusukan ini memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari institusi tersebut sejak puluhan tahun lalu?

Gianni Infantino Dipastikan Tetap Jadi Presiden FIFA

FIFA akhirnya angkat bicara soal masa depan Gianni Infantino. Melalui pernyataan resmi yang dirilis Rabu malam usai rapat krisis di Rabat, Maroko, FIFA menegaskan bahwa Infantino tetap menjabat sebagai presiden. Kepastian ini sekaligus meredam spekulasi yang sempat berkembang setelah munculnya gelombang kritik dari berbagai pihak.

Rapat tersebut digelar di tengah tekanan besar dari UEFA dan Concacaf, yang sama-sama meminta evaluasi terhadap tata kelola FIFA. Kedua konfederasi itu kecewa karena Infantino tidak berkonsultasi terlebih dahulu mengenai rencana penjualan hak komersial Piala Dunia. Selain itu, Infantino juga telah mengirimkan permintaan maaf tertulis kepada Dewan FIFA dan 211 asosiasi anggota.

FIFA Pastikan Infantino Tetap di Kursi Presiden

Dalam pernyataannya, FIFA menyebut Sekretaris Jenderal Mattias Grafström dan anggota dewan manajemen yang hadir dalam pertemuan di Rabat menegaskan dukungan penuh mereka kepada Infantino. Ia dinilai sebagai satu-satunya pejabat yang dipilih langsung oleh 211 asosiasi anggota FIFA. Sebaliknya, Infantino juga menyatakan dukungan penuh kepada Grafström dan jajaran administrasi FIFA atas kerja keras mereka mewujudkan visinya.

Sebelumnya, Infantino menghabiskan waktu seharian berdialog dengan Grafström dan Kepala Bagian Hukum Emilio García Silvero. Dalam pertemuan itu, ia menegaskan tekadnya untuk bertahan di tengah derasnya kritik yang datang. FIFA pun menambahkan bahwa proses komunikasi dan interaksi antara presiden, sekretaris jenderal, dan dewan manajemen akan terus dievaluasi agar lebih efektif dan efisien.

Akar Krisis: Rencana Penjualan Hak Komersial Piala Dunia

Krisis ini bermula dari usulan FIFA Forward Enterprise atau FFE yang kini resmi dibatalkan. Rencana tersebut akan menjual 21 persen hak komersial FIFA kepada investor swasta. Karena digarap tanpa melibatkan Dewan FIFA dan asosiasi anggota, banyak pihak merasa tersisih dari proses pengambilan keputusan yang seharusnya menjadi domain bersama.

Dalam pernyataannya, FIFA mengakui adanya kesalahan dalam proses penyusunan usulan itu. FIFA juga mengakui ada kekeliruan setelah proposal tersebut bocor ke media. Meski begitu, FIFA menegaskan bahwa semua langkah yang diambil saat itu tetap patuh pada kerangka regulasi FIFA.

Infantino pun telah mengirim surat permintaan maaf terpisah kepada Dewan FIFA dan 211 asosiasi anggota. Ia berkomitmen untuk memastikan kesalahan serupa tidak terulang lagi di masa depan. FIFA juga berjanji akan melakukan tinjauan menyeluruh dan menyampaikan laporannya pada rapat dewan yang dijadwalkan berikutnya.

UEFA dan Concacaf Menolak Diam, Kandidat Lawan Terus Dicari

Sikap FIFA yang menyatakan tidak akan lagi menoleransi kritik terhadap tata kelola organisasi kemungkinan besar tidak akan menyurutkan langkah UEFA. Badan sepak bola Eropa itu dikabarkan terus mencari kandidat yang akan menantang Infantino pada pemilihan presiden FIFA yang digelar Maret tahun depan. Menariknya, pemilihan tersebut juga akan berlangsung di Rabat.

Concacaf, konfederasi untuk kawasan Amerika Utara dan Tengah, juga ikut mendesak agar tata kelola FIFA dikaji ulang. Tekanan dari dua konfederasi besar ini membuat peta politik di FIFA memanas jelang kongres pemilihan. Meski demikian, FIFA tampak berusaha memperlihatkan kekompakan internal di tengah badai yang menerpa.

Sebagai bentuk solidaritas, Infantino dan Grafström tampil bersama dalam laga Grup Piala Afrika Wanita antara Malawi melawan Zambia pada Rabu. Keduanya juga menandatangani surat bersama yang ditujukan kepada anggota Dewan FIFA dan wakil presiden, sejalan dengan pernyataan resmi FIFA. Langkah ini seolah ingin menunjukkan bahwa hubungan presiden dan sekretaris jenderal tetap solid.

Langkah Berikutnya dan Dampaknya bagi Sepak Bola Global

Dengan batalnya FFE dan ditegaskannya posisi Infantino, arah kebijakan FIFA ke depan kini lebih jelas. FIFA menyatakan akan fokus mendukung pengembangan sepak bola melalui program FIFA Forward demi kepentingan 211 asosiasi anggotanya, konfederasi, dan asosiasi regional. Organisasi ini juga bertekad memperbaiki proses dan komunikasi internal sebagai pelajaran berharga dari pengalaman ini.

Di sisi lain, rencana Infantino terbang ke Kolombia pada Kamis untuk menghadiri pelantikan presiden baru Abelardo de la Espriella di Cali menjadi sinyal bahwa ia tak berniat mengubah gaya kerjanya. Ia tetap aktif bergerak di panggung diplomasi sepak bola dunia. Artinya, persaingan menuju pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang diprediksi bakal semakin seru untuk diikuti.

Singkatnya, FIFA telah memilih untuk tetap solid mendukung Gianni Infantino dan menjadikan kasus FFE sebagai pelajaran berharga. Namun, kritik dari UEFA dan Concacaf belum sepenuhnya reda, dan perburuan kandidat penantang masih terus berjalan. Semua mata kini tertuju pada kongres pemilihan di Rabat tahun depan untuk melihat apakah Infantino sanggup mempertahankan kursinya.

Dukungan untuk Infantino Menipis, FIFA Dituduh Blackmail

Dukungan untuk Infantino kembali menghadapi guncangan serius. Pangeran Ali bin al-Hussein, Presiden Asosiasi Sepak Bola Yordania, menuduh FIFA melakukan pemerasan terhadap federasi yang enggan mendukung Gianni Infantino. Tuduhan itu disampaikan dalam pernyataan terbuka yang diunggahnya di media sosial X, dan langsung menjadi sorotan publik.

Pangeran Ali adalah sosok yang pernah bersaing dengan Infantino pada pemilihan presiden FIFA 2016. Saat itu ia finis di urutan ketiga, dan kini ia masih memimpin Federasi Sepak Bola Asia Barat. Organisasi regional ini mencakup negara-negara berpengaruh seperti Qatar dan Uni Emirat Arab yang selama ini mendukung Infantino untuk bertahan.

Tudingan Blackmail: FIFA Menahan Bantuan untuk Yordania

Dalam pernyataannya di X, Pangeran Ali menggambarkan bagaimana Yordania menghadapi banyak hambatan saat membutuhkan bantuan dari FIFA. Ia menyebut para pemainnya belum menerima uang hadiah sejak Desember untuk Piala Arab di Qatar, padahal turnamen itu merupakan ajang resmi FIFA dan Yordania berhasil lolos ke final. Menurutnya, dana yang seharusnya diterima tim Yordania hingga kini belum juga disalurkan, sementara FIFA kerap membanggakan cadangan dana miliaran dolar yang dimilikinya.

Tidak hanya itu, sebagian suporter Yordania yang sudah membeli tiket Piala Dunia pertama mereka juga disebut tidak mendapatkan visa. Pangeran Ali pun menyuarakan kekesalan atas pengenaan pajak oleh Amerika Serikat yang membebani federasinya. Ia menegaskan bahwa akar dari semua masalah ini adalah kepemimpinan FIFA, bukan hal-hal teknis semata.

“Masalahnya jelas ada pada kepemimpinan,” tulis Pangeran Ali dalam pernyataannya. “Selama berbulan-bulan FIFA menolak membantu kami, hingga akhirnya saya diberi tahu secara lisan bahwa jika saya mendukung Infantino, hal itu akan sangat membantu federasi kami.” Ia menambahkan bahwa Yordania bangga memegang nilai-nilai etis dan menolak menyerah pada praktik yang disebutnya sebagai pemerasan itu.

“Kami bangga di Yordania menjunjung nilai-nilai etika. Kami tidak mendukungnya sebelumnya dan pasti tidak akan mendukungnya sekarang,” lanjutnya. “Tetapi seluruh situasi ini adalah pemerasan dan kami menolak untuk tunduk.”

Kronologi: Dari Persaingan 2016 hingga Tekanan Menjelang Maret

Pangeran Ali bukan nama baru dalam pertarungan kekuasaan FIFA. Pada 2016, ia menantang Infantino dalam pemilihan presiden dan harus menerima kenyataan finis di posisi ketiga. Kini, di tengah upaya Infantino memperpanjang masa jabatan untuk periode keempat, suara kritis justru datang dari kawasan Asia Barat yang selama ini dianggap dekat dengan FIFA.

Pangeran Ali juga menyatakan bahwa Yordania bukan satu-satunya yang merasakan tekanan. Ia meyakini beberapa negara lain mendapat tekanan terkoordinasi untuk menyatakan dukungan secara resmi sebelum pemilihan Maret. Namun cara tekanan itu diterapkan masih belum jelas dan belum ada bukti tambahan yang dipublikasikan.

Dukungan untuk Infantino Menipis dari Eropa hingga Concacaf

Infantino semakin ditinggalkan oleh federasi-federasi yang sebelumnya sempat menandatangani surat dukungan untuk masa jabatan keempatnya. Yunani menjadi negara terbaru yang menarik dukungan, menyusul langkah serupa dari Inggris, Wales, Finlandia, dan Serbia. Dukungan untuk Infantino dari kawasan Eropa terus merosot dalam waktu singkat.

  • Inggris telah lebih dulu menarik dukungan.
  • Wales dan Finlandia mengikuti langkah serupa.
  • Serbia juga tidak lagi berada di barisan pendukung.
  • Yunani menjadi federasi terbaru yang mencabut dukungan.

Gelombang penarikan dukungan ini tidak berhenti di Eropa. Sejumlah negara anggota Concacaf, konfederasi sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, juga disebut sedang mempertimbangkan untuk mencabut dukungan mereka. Ini menandakan bahwa kekuatan politik Infantino mulai goyah di berbagai benua sekaligus.

Sekutu Kunci Menjauh: Grafström dan Wenger

Pada hari yang sama, posisi Infantino semakin terdesak setelah dua sekutunya menjaga jarak dari kebijakan kontroversialnya. Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafström menyebut proyek investasi swasta yang gagal, Fifa Forward Enterprise, sebagai “rangkaian peristiwa yang menyedihkan dan tercela” dalam email kepada staf. Ia menulis bahwa rangkaian peristiwa tersebut tidak seharusnya menutupi kenyataan bahwa institusi dan misi FIFA terhadap sepak bola dunia harus terus berjalan.

Dalam email itu, Grafström meminta staf tetap menjaga moral tinggi setelah Piala Dunia yang dinilai sukses, dan menjanjikan perlindungan dari gejolak internal. Ia merujuk pada “gejolak yang sulit dipahami dan diterima” yang melanda organisasi, tetapi menekankan bahwa institusi dan misinya harus tetap berlanjut. Arsène Wenger, kepala pengembangan sepak bola global FIFA, juga angkat bicara dan menyebut penarikan proyek itu “sangat diperlukan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi”.

Wenger, yang menjabat sejak November 2019, mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proyek strategis ini. Ia bahkan baru mengetahui keberadaan proyek tersebut melalui pemberitaan media. Baginya, keputusan menarik proyek itu adalah langkah yang mutlak diperlukan demi menjaga independensi dan integritas FIFA.

Dampak dan Implikasi: Krisis Menjelang Pemilihan Maret

Rentetan peristiwa ini memperlihatkan adanya krisis kepemimpinan yang jauh lebih dalam di FIFA. Tuduhan pemerasan dari Pangeran Ali muncul di saat Infantino tengah berjuang mempertahankan kursi presiden untuk periode keempat. Jika dukungan terus menguap, peluangnya untuk kembali terpilih akan semakin berat.

Menurut laporan yang beredar, Infantino telah memanggil staf FIFA dalam pertemuan darurat di Rabat, Maroko, pada hari ini. Langkah ini dinilai sebagai upaya terakhir untuk menstabilkan situasi internal yang sedang bergejolak. Sementara itu, media sudah menghubungi FIFA untuk meminta komentar atas tuduhan Pangeran Ali, tetapi belum ada tanggapan resmi yang disampaikan.

Apa Artinya bagi Masa Depan FIFA?

Semua perkembangan ini menunjukkan bahwa masalah FIFA bukan hanya soal proyek investasi atau sekadar dukungan politik, melainkan kepercayaan publik dan federasi anggota. Pangeran Ali memilih berbicara terbuka justru ketika banyak pihak mulai berani meninggalkan kubu Infantino. Ini bisa menjadi titik balik dalam dinamika kekuasaan FIFA menjelang pemilihan presiden.

Keputusan sejumlah federasi untuk mencabut dukungan, ditambah pernyataan keras dari Pangeran Ali, akan membuat perjalanan Infantino menuju periode keempat semakin terjal. Pertemuan darurat di Rabat mungkin bisa meredam gejolak untuk sementara. Tetapi jika gelombang penarikan dukungan terus berlanjut, tekanan terhadap presiden FIFA itu hanya akan bertambah.

Pertemuan Darurat UEFA Bahas Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia

Latar Belakang: Rencana Kontroversial FIFA

FIFA, di bawah kepemimpinan Gianni Infantino, mengusulkan pembentukan entitas komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) dan menjual 20% sahamnya kepada investor swasta. Langkah ini disebut-sebut dapat mendatangkan pendanaan besar untuk pengembangan sepak bola global. Namun, rencana tersebut menuai kritik keras dari berbagai pihak—terutama UEFA, Konfederasi Sepak Bola Eropa—yang menilai inisiatif ini berpotensi menjual “jiwa” sepak bola demi kepentingan finansial segelintir orang.

Sebagai respons terhadap rencana FIFA tersebut, UEFA memanggil rapat darurat seluruh 55 anggotanya pada Kamis sore untuk membahas langkah bersama. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah boikot turnamen FIFA oleh negara-negara Eropa. Jika terjadi, boikot ini bisa berdampak serius pada ajang-ajang seperti Piala Dunia Wanita 2023 atau turnamen pria selanjutnya.

Opsi Boikot dan Dampaknya terhadap Sepak Bola Wanita

Dalam diskusi awal, boikot Piala Dunia Wanita tahun depan disebut-sebut sebagai salah satu bentuk tekanan. Namun, ada kekhawatiran di sebagian kalangan bahwa menjadikan sepak bola wanita sebagai korban protes adalah langkah yang tidak adil. Pasalnya, rencana FIFA yang menuai kontroversi ini lebih berfokus pada komersialisasi Piala Dunia pria dan Piala Dunia Klub. Meski begitu, UEFA tetap mempertimbangkan semua opsi untuk menunjukkan penolakan tegas.

Dukungan dari Konfederasi Lain: Concacaf dan AFC

Kecaman awal UEFA mendapat dukungan kuat dari Concacaf—Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia—serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Jika seluruh anggota mereka bersatu, akan ada cukup suara untuk menggagalkan proposal FIFA. Ketiga konfederasi ini mewakili 143 dari 211 anggota FIFA, meskipun tidak semua anggota di dalamnya dijamin sependapat. Contohnya, Asosiasi Sepak Bola Ceko menjadi yang pertama di Eropa yang justru mendukung rencana Infantino.

Di sisi lain, Infantino mengklaim telah menerima lebih dari 200 surat dukungan untuk pencalonannya kembali tahun depan. Ia yakin memiliki cukup suara untuk meloloskan rencana tersebut—meskipun belum jelas apakah persetujuan hanya membutuhkan suara mayoritas sederhana. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pembentukan FFE dan penjualan saham memerlukan perubahan statuta FIFA, yang membutuhkan persetujuan 75% anggota dan lebih sulit diraih.

Pernyataan Infantino: Tawaran, Bukan Keharusan

Pada Rabu malam, Infantino merilis video untuk menjawab kritik. Ia menegaskan bahwa FFE hanyalah sebuah proposal dan tawaran, bagian dari proses demokrasi dan konsultasi. Menurutnya, ini adalah “peluang emas untuk mempercepat pengembangan sepak bola global secara masif.” Ia meminta para pemangku kepentingan untuk melihatnya sebagai kesempatan, bukan kewajiban.

Reaksi UEFA: Tuduhan Menggunakan Sepak Bola untuk Memperkaya Diri

UEFA tidak tinggal diam. Mereka mengeluarkan pernyataan lebih keras setelah mengetahui bahwa FIFA memberikan tenggat waktu 19 September kepada anggota untuk memutuskan apakah akan menerima pembayaran awal sebesar $20 juta dari dana hasil penjualan saham. Pembayaran tambahan $20 juta untuk setiap asosiasi juga dijanjikan nanti, namun tidak jelas apakah menerima uang itu sama dengan menyetujui rencana tersebut sehingga tidak perlu dilakukan pemungutan suara.

“Hari ini kami mengetahui tenggat waktu FIFA kepada asosiasi untuk mendukung proposal mereka atau tawaran pembayaran satu kali itu ditarik,” kata UEFA dalam pernyataannya. “Ini menunjukkan semua yang perlu Anda ketahui tentang rencana ini. Namun setelah berdiskusi dengan banyak pemangku kepentingan, UEFA tahu ada penolakan yang signifikan dan terus berkembang terhadap skema FIFA. FIFA tidak bisa terus menggunakan olahraga kita untuk memperkaya diri mereka sendiri dan teman-teman mereka. Kita bisa mengembangkan sepak bola dengan cara yang benar. Sudah saatnya memprioritaskan asosiasi, klub, liga, pemain, dan penggemar.”

Concacaf: Kecam Kurangnya Transparansi

Concacaf juga angkat bicara dengan nada serupa. Sikap mereka sangat signifikan mengingat konfederasi ini baru saja menjadi tuan rumah Piala Dunia paling menguntungkan dan mencakup wilayah yang mendatangkan investor potensial—Thrive Eternal yang berbasis di New York. Presiden Concacaf, Victor Montagliani, berperan penting dalam keberhasilan tuan rumah bersama AS, Meksiko, dan Kanada untuk Piala Dunia mendatang. Namun, ia dan delapan wakil presiden FIFA lainnya tidak diberi tahu tentang rencana ini.

“Concacaf mengetahui masalah ini hanya melalui laporan media dan kemudian melalui siaran pers. Kami sangat prihatin dengan kurangnya proses yang semestinya,” demikian pernyataan Concacaf. “Kami berbagi kekecewaan banyak pihak di wilayah kami dan sepak bola bahwa detail tingkat ini dirancang dan dibagikan secara publik sebelum ada diskusi dengan badan tata kelola dan pemangku kepentingan terkait. Sebagai pemimpin sepak bola, kami adalah penjaga olahraga ini. Secara kolektif, FIFA, konfederasi, dan setiap asosiasi anggota memiliki tanggung jawab untuk selalu bertindak demi kepentingan terbaik olahraga. Setiap keputusan harus didasarkan pada tata kelola yang baik, proses yang kuat, dan pengelolaan jangka panjang.”

AFC: Kecewa Tidak Dikonsultasikan

AFC mengeluarkan pernyataan ketidaksetujuan serupa. Yang menarik, AFC dipahami mendapat dukungan dari Asosiasi Sepak Bola Arab Saudi—sekutu dekat Infantino dan tuan rumah Piala Dunia 2034. “AFC tidak dikonsultasikan mengenai proposal ini dan kecewa bahwa masalah sebesar ini memasuki ranah publik sebelum keluarga AFC diberi kesempatan untuk memeriksanya melalui saluran tata kelola yang tepat,” bunyi pernyataan AFC. “Meskipun AFC mengakui pentingnya mengeksplorasi pendekatan inovatif untuk memperkuat masa depan sepak bola global, inisiatif skala dan konsekuensi seperti ini harus didasarkan pada prinsip tata kelola yang baik, transparansi, dan konsultasi yang bermakna.”

Klub Elite Juga Bersuara

Organisasi Klub Sepak Bola Eropa (EFC) juga menyatakan ketidakpuasan. EFC mencatat bahwa FIFA tidak berkonsultasi dengan mereka, meskipun kedua badan telah menandatangani nota kesepahaman. “Sebagai lembaga yang mewakili lebih dari 850 klub sepak bola—yang anggota klub, pemain, dan komunitasnya merupakan peserta fundamental dalam sepak bola di seluruh dunia, tidak hanya di kompetisi FIFA termasuk semua kompetisi klub internasional—sangat pantas bagi EFC untuk sepenuhnya dikonsultasikan mengenai proposal sebesar ini,” kata EFC. “EFC mengetahui proposal ini dengan cara yang sama seperti kebanyakan pemangku kepentingan sepak bola global: tanpa peringatan dan melalui media.”

Kesimpulan: Tekanan Meningkat, Masa Depan Rencana FIFA Masih Abu-abu

Tekanan terhadap rencana FIFA jual saham Piala Dunia semakin meningkat. Dengan pertemuan darurat UEFA, dukungan dari Concacaf dan AFC, serta kritik dari klub-klub elite, Infantino menghadapi tantangan serius. Meskipun ia optimis memiliki suara yang cukup, persyaratan perubahan statuta yang membutuhkan mayoritas 75% menjadi hambatan besar. Pertemuan Kamis ini akan menjadi momen kunci untuk menentukan apakah Eropa benar-benar akan memboikot turnamen FIFA atau memilih jalur diplomasi lainnya. Yang jelas, perlawanan terhadap rencana ini tidak akan surut dalam waktu dekat.

Kontroversi FIFA Jual Hak Komersial Piala Dunia, UEFA dan Politikus Bereaksi Keras

FIFA Dituduh Mengkomersialkan Piala Dunia Secara Berlebihan

FIFA baru-baru ini mengumumkan rencana untuk menjual hak komersial turnamen mereka, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta. Langkah ini langsung menuai kecaman keras dari UEFA, klub-klub Eropa, dan sejumlah politikus. UEFA bahkan menuduh FIFA “mencoba menjual jiwa sepak bola” melalui kebijakan ini.

Organisasi sepak bola Eropa tersebut mengeluarkan pernyataan yang sangat tajam dan dikabarkan sedang mempertimbangkan langkah hukum. Sementara itu, beberapa sumber di klub-klub elite Eropa secara pribadi mengkritik rencana FIFA. Perdana Menteri Inggris yang baru, Andy Burnham, juga ikut mengutuk langkah kontroversial ini.

Rencana Pembentukan Entitas Bisnis Baru FIFA

FIFA mengonfirmasi bahwa mereka bekerja sama dengan bank Amerika Serikat, JP Morgan, untuk mendirikan entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Entitas ini akan mengumpulkan dana ratusan juta dolar dengan menjual sebagian besar hak komersial Piala Dunia putra dan putri, serta Piala Dunia Antarklub, kepada para investor.

FIFA berjanji akan mendistribusikan kembali lebih dari $10 miliar (£7,5 miliar) ke 211 asosiasi anggota mereka. Thrive Capital, perusahaan investasi milik Joshua Kushner – saudara ipar Donald Trump – disebut-sebut memimpin pencarian investor untuk proyek ini.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengatakan rencana ini akan membuat “sisi komersial permainan beroperasi sebagai bisnis yang fokus dan berdedikasi, dengan nilainya dibagikan lebih luas dan lebih baik di seluruh dunia.” Rencana ini masih harus disetujui oleh mayoritas asosiasi anggota, namun FIFA menolak memberikan detail kapan pemungutan suara akan dilakukan.

Nilai Proyek Fantastis dan Reaksi Keras UEFA

Beberapa sumber yang mengetahui proposal FIFA mengatakan bahwa mereka menilai usaha komersial baru ini sekitar $20 miliar. Infantino disebut-sebut ingin memanfaatkan popularitas sepak bola yang terus meningkat setelah Piala Dunia musim panas ini di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Sebelumnya, Guardian mengungkapkan bahwa pendapatan FIFA untuk turnamen tersebut akan melampaui $15 miliar, naik signifikan dari proyeksi awal $13 miliar. Pertumbuhan ini tampaknya membuat Infantino semakin percaya diri untuk mencari keuntungan lebih besar.

UEFA langsung bereaksi keras. “Ini melampaui batas yang tidak boleh dilewati oleh lembaga pengatur sepak bola,” kata UEFA dalam pernyataannya. Mereka menambahkan, “Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang bisa diperdagangkan – terutama tanpa transparansi soal siapa yang diuntungkan secara finansial. Tak satu pun dari kita adalah pemilik sepak bola. Ini bukan milik FIFA untuk dijual.”

Andy Burnham, penggemar setia Everton, juga angkat bicara di media sosial. “Sepak bola bukan milik investor. Sepak bola milik orang-orang yang memenuhi stadion dan berdiri di pinggir lapangan minggu demi minggu, dalam hujan maupun panas. Piala Dunia bukanlah produk. Ini adalah kompetisi terhebat dalam olahraga dunia, dan tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual. Hiasi kesepakatan itu sesuka kalian. Begitu kalian menjual sebagian darinya, kalian sudah menjual habis.”

Proses Keputusan yang Tidak Transparan

Infantino berhasil merahasiakan rencana FIFA hingga laporan pertama kali muncul di The Times dan Financial Times. Anggota Dewan FIFA dikabarkan terkejut dengan pengumuman ini karena mereka dikesampingkan dari proses pengambilan keputusan.

Ini bukan pertama kalinya Infantino mencoba menarik modal swasta untuk mendanai FIFA. Pada 2018, ia menyetujui kesepakatan dengan bank Jepang SoftBank senilai $25 miliar untuk mendanai Piala Dunia Antarklub yang diperluas dan Nations League global. Namun, rencana itu gagal mendapatkan dukungan karena tentangan dari Eropa. Kini, UEFA dan klub-klub Eropa kembali bersatu menentang rencana FIFA, meskipun Infantino mungkin memiliki cukup dukungan dari luar Eropa untuk mengabaikan mereka.

Dampak Potensial bagi Sepak Bola Global

Dalam pernyataannya, FIFA mengatakan entitas baru ini akan memungkinkan mereka meningkatkan dana yang diberikan kepada setiap asosiasi dari $8 juta menjadi $20 juta per tahun. Jumlah ini sangat besar bagi mayoritas dari 211 anggota FIFA.

FIFA bersikeras mereka akan tetap bertanggung jawab atas tata kelola sepak bola dan kalender pertandingan internasional. Namun, mengundang investasi swasta ke dalam hak komersial berpotensi membuat pengambil keputusan menghadapi tekanan eksternal yang signifikan. Investor pada akhirnya bisa mendapatkan pengaruh besar atas keputusan yang memengaruhi seluruh olahraga, sehingga memicu kekhawatiran bahwa mereka akan mendorong Piala Dunia digelar lebih sering dan hanya di pasar paling menguntungkan, seperti AS.

FIFA menyatakan akan “secara hati-hati memilih investor jangka panjang yang akan membeli kepentingan minoritas non-pengendali di FFE – semua keuntungan bersih FFE akan diinvestasikan kembali ke sepak bola di seluruh dunia.”

Infantino diperkirakan akan terpilih kembali tanpa lawan sebagai presiden tahun depan meskipun kontroversi besar yang ia timbulkan. Namun, berdasarkan statuta FIFA, ia harus mundur pada 2031 setelah menjabat tiga periode penuh. The Times melaporkan bahwa Infantino memiliki ambisi untuk menjadi ketua perusahaan komersial baru tersebut, yang bisa memberinya pendapatan puluhan juta dolar.

Kesimpulan: Pertarungan antara Komersialisasi dan Jiwa Sepak Bola

Rencana FIFA untuk menjual hak komersial Piala Dunia memicu perdebatan sengit antara ambisi finansial dan nilai-nilai tradisional sepak bola. UEFA, politikus, dan para penggemar menolak langkah ini karena dianggap mengancam kemurnian olahraga. Di sisi lain, FIFA melihat ini sebagai peluang untuk mendistribusikan kekayaan lebih merata ke seluruh dunia. Keputusan akhir ada di tangan para asosiasi anggota. Yang jelas, perseteruan antara FIFA dan UEFA semakin memanas, dan masa depan tata kelola sepak bola global berada di persimpangan jalan.

Skandal Hubungan Infantino dan Trump: FIFA Dimintai Dokumen oleh Kongres AS

Presiden FIFA Dipanggil ke Kongres AS Akibat Kedekatan dengan Trump

Presiden FIFA Gianni Infantino kini berada dalam sorotan tajam Komite Yudikatif DPR Amerika Serikat. Jamie Raskin, anggota senior Demokrat di komite tersebut, resmi meluncurkan penyelidikan terhadap hubungan erat antara Infantino dan mantan Presiden Donald Trump. Melalui surat yang dikirim pada Minggu lalu, Raskin meminta FIFA menyerahkan berbagai dokumen dan komunikasi yang berkaitan dengan hadiah, pembayaran, atau keuntungan yang diberikan kepada Trump dan rekan-rekannya.

Tak hanya dokumen, Raskin juga meminta akses ke log kunjungan kantor FIFA di Trump Tower, New York — gedung yang disewa induk sepak bola dunia itu pada tahun lalu. Lebih lanjut, Infantino diminta hadir dalam wawancara resmi yang akan direkam. Langkah ini membuka babak baru dalam investigasi hubungan Infantino dengan Trump, yang sebelumnya sudah menjadi perbincangan hangat selama ajang Piala Dunia musim panas ini.

Kedekatan yang Terlihat sejak Piala Dunia Digelar

Hubungan antara Infantino dan Trump mulai menuai kecurigaan sejak undian Piala Dunia di Washington pada Desember lalu. Saat itu, Trump dianugerahi “FIFA Peace Prize” yang baru diciptakan, sebuah penghargaan kontroversial yang diberikan di Kennedy Center. Renovasi gedung tersebut disebut-sebut dikebut atas perintah pemerintahan Trump demi menyambut acara. FIFA sendiri membuka kantor di Trump Tower Manhattan pada Juli tahun sebelumnya.

Ketegangan semakin memuncak selama Piala Dunia berlangsung. Trump diketahui menelepon Infantino beberapa kali untuk melobi peninjauan kembali kartu merah kontroversial yang diterima striker AS, Folarin Balogun, sebelum laga babak 16 besar melawan Belgia. FIFA akhirnya membatalkan larangan Balogun, namun intervensi politik ini memicu kritik dari tim-tim lain dan asosiasi sepak bola global. Bahkan saat final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina, Trump bersama Infantino duduk di ruang VIP berkaca dan mendapat cemoohan dari penonton Stadion New York New Jersey ketika mereka turun ke lapangan.

Landasan Hukum dan Tuduhan Etika

Dalam suratnya, Raskin mengacu pada keputusan Departemen Kehakiman AS yang “mengesampingkan dakwaan” terhadap sejumlah terdakwa dalam investigasi korupsi sepak bola global, termasuk kasus tahun 2015 yang menjerat lebih dari 20 pejabat tinggi FIFA dan eksekutif pemasaran olahraga.

“Anda terpilih sebagai presiden FIFA seharusnya menjadi titik balik (red-card break) dari budaya korupsi yang sudah puluhan tahun merusak reputasi sepak bola dunia,” tulis Raskin kepada Infantino. “Namun, di awal masa jabatan, Anda justru membongkar pagar-pagar etika FIFA dan melumpuhkan komite etika dengan mendepak sebagian besar anggotanya. Kurangnya transparansi dan pengawasan ini membuka jalan bagi Anda untuk menjilat pemerintahan Trump melalui taktik yang oleh seorang profesor hukum Universitas New York dan mantan anggota komite etika Anda sebut sebagai ‘suap legal’.”

Kebijakan Tiket Piala Dunia Juga Disorot

Surat Raskin juga menyoroti kebijakan penetapan harga tiket Piala Dunia yang dinamis. Praktik ini sudah diselidiki oleh beberapa jaksa agung di AS karena memicu lonjakan harga yang fantastis dan membuat banyak penggemar tidak mampu membeli tiket. Raskin menyebut skema ini sebagai “quid pro quo” antara FIFA dan Trump yang merugikan konsumen Amerika.

“Kesepakatan terbaru antara FIFA dan Presiden Trump bukanlah kejahatan tanpa korban. Ini merugikan rakyat Amerika. FIFA merasa status istimewanya di bawah pemerintahan Trump memberi lampu hijau untuk merampok konsumennya, terutama dengan praktik penipuan harga dan taktik penjualan tiket yang ilegal,” tegas Raskin.

Tenggat dan Keterbatasan Wewenang

Surat tersebut menetapkan batas waktu 9 Agustus untuk penyerahan dokumen dan penjadwalan wawancara. Namun, Raskin tidak memiliki kewenangan untuk memaksa Infantino hadir karena Demokrat tidak memegang mayoritas di DPR. Ia hanya bisa berhasil jika mendapat dukungan dari Partai Republik.

Interaksi FIFA dengan pemerintah AS tidak berhenti setelah Piala Dunia. AS diproyeksikan menjadi tuan rumah utama Piala Dunia Wanita 2031, dan kesuksesan turnamen tahun ini memicu spekulasi bahwa Piala Dunia Pria 2038 bisa digelar di AS. FIFA telah dihubungi untuk memberikan tanggapan, namun belum ada pernyataan resmi.

Infantino Membela Diri, Norwegia Siap Melapor

Pada Senin pagi, Infantino menggunakan unggahan Instagram sepanjang 15 bagian untuk mengecam para pengkritiknya. Ia menuduh mereka menyebarkan kebencian dan narasi palsu, serta menyebut Piala Dunia sebagai sebuah kesuksesan.

Sementara itu, lebih dari 200 anggota FIFA telah mendukung Infantino menjelang pemilihan presiden Maret mendatang. Namun, tidak semua asosiasi sepakat. Federasi Sepak Bola Norwegia berencana mengajukan pengaduan resmi ke komite investigasi etika FIFA terkait peran Trump dalam pembatalan larangan Balogun.

Kesimpulan: Menanti Langkah Selanjutnya

Investigasi yang dipimpin Jamie Raskin membuka kembali isu transparansi dan etika di tubuh FIFA di bawah kepemimpinan Infantino. Meskipun Demokrat terbatas kewenangannya, tekanan publik dan dukungan dari negara-negara anggota seperti Norwegia bisa mendorong perubahan. Dunia sepak bola kini menanti apakah Infantino akan memenuhi panggilan Kongres atau justru semakin memperkuat posisinya melalui kemenangan dalam pemilihan presiden FIFA mendatang.