Manchester City kalahkan Liverpool di Anfield dalam laga yang berlangsung keras dan penuh tekanan, sekaligus menjaga catatan sempurna mereka di awal musim Premier League. Tiga gol tanpa balas memastikan City pulang dengan hasil maksimal, meski sepanjang pertandingan mereka harus menahan gempuran suara dari tribun yang tak henti menyoraki klub tersebut.
Kemenangan ini istimewa karena datang di tengah badai yang belum surut. City baru saja dinyatakan bersalah atas hampir seluruh dari 115 dakwaan pelanggaran aturan finansial Premier League oleh komisi independen. Klub bersikeras tidak bersalah dan telah mengajukan banding. Suasana Anfield pun menjadi panggung bagi para pendukung tuan rumah untuk menyampaikan isi pikiran mereka, dan City memilih untuk tidak menggubrisnya.
Jalannya Laga: Manchester City Kalahkan Liverpool Lewat Tiga Gol
City sebenarnya tidak mendominasi sejak awal. Babak pertama berjalan lambat dan nyaris tanpa peluang berarti, bahkan keributan kecil yang pecah pada menit ke-12 setelah Alexis Mac Allister bersitegang dengan Anderson tak lebih dari sekadar dorong-dorongan biasa. Presisi pada umpan terakhir sering kali hilang, sehingga kedua tim sulit menciptakan ancaman nyata ke gawang lawan.
Pelatih Liverpool, Andoni Iraola, memberi debut penuh di liga kepada Lewis Koumas di lini depan. Pemain berusia 21 tahun itu langsung mendapat peluang bagus tak lama setelah babak kedua dimulai, tetapi Gianluigi Donnarumma berdiri tegak untuk menyelamatkan gawangnya. Liverpool sempat menaikkan intensitas dan mendorong pertahanan City, dengan Gravenberch menguji Donnarumma dan Mac Allister melepaskan tembakan voli yang melebar.
Titik balik terjadi pada menit ke-62. Ryan Gravenberch, yang sudah mendapat kartu kuning di awal babak kedua karena melanggar Anderson, kembali melakukan pelanggaran terhadap Jérémy Doku yang sedang bersiap memicu serangan balik. Pelanggaran itu terkesan kikuk dan kontaknya tidak terlalu keras, tetapi wasit tetap memberinya kartu kuning kedua. Liverpool harus bermain dengan sepuluh orang, dan City langsung memanfaatkan situasi itu.
Erling Haaland, seperti biasa, yang membuka keunggulan City. Doku, yang masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-56, lalu menggandakan skor lewat tendangan melengkung yang indah. Gol terbaik datang kemudian: Rayan Cherki berlari menyambut umpan tumit dari pemain pengganti lain, Josko Gvardiol, lalu melewati Jeremie Frimpong dan menuntaskan peluangnya dengan tenang. Sebuah gol tim yang lahir dari sentuhan individu.
Latar Belakang: 115 Dakwaan yang Membayangi City
Laga di Anfield ini tidak bisa dilepaskan dari keputusan komisi independen yang menyatakan City bersalah atas hampir semua dari 115 dakwaan pelanggaran aturan finansial Premier League. Klub tetap menyatakan tidak bersalah dan menempuh jalur banding, tetapi dampaknya sudah terasa di lapangan maupun di tribun.
Premier League menerbitkan dokumen berisi rincian awal keputusan terhadap City pada Selasa dua pekan sebelumnya. Bobot bahasanya terasa tajam dan sarat nada merendahkan, sejalan dengan luasnya pelanggaran yang diungkap. Dokumen itu menyebut adanya pelanggaran yang terbukti, pengaturan yang tidak sah, upaya terkoordinasi untuk menghambat investigasi, hingga kesaksian dari sejumlah saksi klub yang dianggap tidak benar.
Bagi City, dokumen tersebut menjadi latar yang membingkai setiap pertandingan yang mereka jalani untuk waktu yang bisa diperkirakan ke depan. Para pemain hanya bisa berusaha menutup telinga dari kebisingan di luar lapangan. Di Anfield, mereka berhasil melakukannya, menghantam sepuluh pemain Liverpool dan mempertahankan awal musim yang sempurna. Tema utama yang dibawa pemain dan pendukung mereka adalah sikap menantang: City berniat terus melakukan apa yang biasa mereka lakukan.
Dampak bagi City dan Liverpool
Bagi City, hasil ini adalah pembuktian bahwa fokus di dalam lapangan belum terganggu. City sebenarnya punya alasan mengeluhkan waktu pertandingan ini, karena selain melawat ke markas Manchester United di Old Trafford, tak ada tempat yang lebih sulit daripada Anfield. Apalagi Liverpool termasuk salah satu klub yang paling dirugikan oleh praktik pembukuan City. Tim bus City bahkan menyelinap lewat belakang stadion saat datang untuk menghindari cemoohan dari jalanan, tetapi hal itu hanya menunda apa yang tak terhindarkan.
Bagi Liverpool, ini adalah kekalahan pertama di bawah asuhan Iraola. Sang pelatih tidak diperkuat tiga pemain terbaiknya sejauh musim ini, yaitu Dominik Szoboszlai, Cody Gakpo, dan Alexander Isak, yang semuanya mengalami cedera selama jeda internasional. Tanpa mereka, Liverpool kehilangan daya gedor dan kesulitan memberi ancaman berarti sepanjang laga.
Cara City menundukkan Liverpool benar-benar menunjukkan kekuatan mereka. Setelah unggul jumlah pemain, mereka menyerbu tanpa ampun dan nyaris menambah gol lewat peluang Nico O’Reilly sebelum Haaland menuntaskan umpan Doku yang membelok. Bagi City, realitas baru di luar lapangan nyatanya tidak mengubah wajah mereka di dalam lapangan.
Atmosfer Anfield dan Konteks yang Lebih Luas
Suasana Anfield malam itu bukanlah neraka yang benar-benar menakutkan, melainkan luapan kemarahan yang mustahil diabaikan. Para pendukung Liverpool ingin memberi tahu City siapa mereka dan ke mana mereka akan pergi, dan mereka mengulanginya berkali-kali. Menurut mereka, City adalah para kecurangan yang akan terdegradasi. Nyanyian itu mengalir sejak sebelum kick-off dan kembali bergema di sepanjang pertandingan.
Pendukung City datang membawa banyak pisang tiup dan sebagian mengenakan kaus replika edisi lama, seolah ingin menyampaikan pesan bahwa klub mereka sudah ada jauh sebelum pengambilalihan oleh Abu Dhabi. Spanduk dukungan untuk Khaldoon al-Mubarak, ketua klub, juga terlihat di tribun. Di sisi lain, The Kop memasang sejumlah spanduk, termasuk yang menyerap lirik lagu Oasis dengan baris “after all, you really robbed us all”. Spanduk paling mencolok dibentangkan sebelum kick-off, memuat kata “cheats” dan deretan panjang tanda pound.
Kontroversi ini akan terus membayangi setiap laga City untuk waktu yang tak bisa dipastikan. Selama proses banding berjalan, pertanyaan soal integritas klub akan ikut hadir di setiap stadion yang mereka kunjungi. Para pemain bisa berusaha mengabaikannya, tetapi atmosfer seperti di Anfield menunjukkan bahwa isu ini belum akan hilang dalam waktu dekat.
Kemenangan Manchester City kalahkan Liverpool di Anfield menegaskan satu hal: di dalam lapangan, City masih menjadi kekuatan yang sulit dibendung, terlebih ketika lawan kehilangan pemain dan daya gedor. Haaland, Doku, dan Cherki menjadi penentu lewat gol-gol yang memastikan City menjaga awal musim yang sempurna.
Namun di luar lapangan, bayangan 115 dakwaan dan proses banding tetap menjadi latar yang tak terpisahkan dari setiap pertandingan mereka. Bagi Liverpool, kekalahan ini menjadi pukulan pertama di era Iraola, diperparah oleh absennya tiga pemain kunci. Sementara City, dengan sikap menantangnya, tampaknya sudah siap menjalani musim yang tidak hanya soal sepak bola.
