Hasil Derby Manchester: City Menang, Haaland Cetak Gol

Hasil derby Manchester edisi kali ini berpihak kepada Manchester City, yang menutup pertandingan dengan kemenangan meski harus bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-22. Phil Foden diganjar kartu merah langsung oleh wasit Michael Oliver setelah kakinya menghantam perut Bruno Fernandes dalam sebuah duel di sisi kanan pertahanan City. Alih-alih menarik garis bertahan, pelatih Enzo Maresca memilih tetap menyerang, dan keputusan itulah yang berujung pada gol Erling Haaland yang menentukan hasil akhir di markas Manchester United.

Soccer Football – Premier League – Manchester United v Manchester City – Old Trafford, Manchester, Britain – September 13, 2026 Manchester City’s Erling Haaland celebrates after the match Action Images via Reuters/Jason Cairnduff EDITORIAL USE ONLY. NO USE WITH UNAUTHORIZED AUDIO, VIDEO, DATA, FIXTURE LISTS, CLUB/LEAGUE LOGOS OR ‘LIVE’ SERVICES. ONLINE IN-MATCH USE LIMITED TO 120 IMAGES, NO VIDEO EMULATION. NO USE IN BETTING, GAMES OR SINGLE CLUB/LEAGUE/PLAYER PUBLICATIONS. PLEASE CONTACT YOUR ACCOUNT REPRESENTATIVE FOR FURTHER DETAILS..

Duel bertajuk derby ke-199 ini pada awalnya tampak akan berjalan berat bagi City. Mereka datang ke kandang United dengan bayang-bayang kekalahan 2-0 pada Januari, dan pertandingan ini juga menjadi ujian bagi Maresca dalam menghadapi tim besutan Michael Carrick. Namun muncul sosok yang tidak banyak diperhitungkan sebelumnya, yaitu Enzo Fernández, pemain anyar bernomor punggung 17 yang menjadi momok bagi lini pertahanan United. Pendukung City yang larut dalam euforia menyanyikan “Enzo, Enzo, Enzo, in your head”, sebuah penghormatan spontan yang langsung mengangkatnya sebagai idola baru di kalangan suporter.

Hasil Derby Manchester: Kartu Merah Foden dan Keputusan Berani Maresca

Insiden yang mengubah arah pertandingan terjadi ketika Foden dan Bruno Fernandes sama-sama memperebutkan bola di sisi kanan pertahanan City. Foden mendorong sekaligus menendang bagian perut kapten United tersebut, dan Oliver tanpa ragu menunjuk kartu merah. Video assistant referee atau VAR menguatkan keputusan itu, meski dalam rekaman Fernandes terlihat mungkin lebih dulu menyentuh bola dengan kakinya — namun tekanannya sama sekali tidak sekuat yang dilakukan Foden.

Berada dalam posisi kalah jumlah pemain, Maresca tidak mengambil langkah defensif. Ia menahan diri untuk tidak menukar seorang penyerang dengan bek demi mengamankan hasil imbang. Perubahan baru dilakukan menjelang akhir laga, ketika Nico O’Reilly masuk menggantikan Fernández untuk membantu mengunci kemenangan.

Pendekatan itu lahir dari pembelajaran City atas rekaman kekalahan 2-0 di kandang United pada Januari. Saat itu mereka terlalu mudah kehilangan bola dalam duel fisik pada laga pertama Carrick menangani United, sehingga kali ini City menargetkan start cepat sekaligus keberanian dalam kontak. Perubahan sikap itu terlihat dari cara para pemain City merebut kembali bola di sepertiga awal lapangan.

Jalannya Babak Pertama dan Peluang yang Terbuang

Antoine Semenyo menjadi motor serangan awal City dengan keberaniannya masuk ke area pertahanan lawan. Ia sempat kalah duel dengan Diogo Dalot sebelum bangkit kembali dan merebut bola dari bek kanan United tersebut. Dalot sendiri nyaris membahayakan gawang Gianluigi Donnarumma ketika umpan chip Fernandes menemukannya, tetapi kontrol bola yang buruk membuat kiper nomor satu City itu dengan mudah mengamankan bola.

United tidak tinggal diam menghadapi tekanan tersebut. Carrick menempatkan Matheus Cunha yang bergerak keluar dari posisi false nine serta Marcus Rashford di sisi kiri, sementara Maresca menginstruksikan Fernández untuk melebar dari rekan duetnya di lini tengah, Anderson. Intensitas duel berlangsung ketat, termasuk ketika Anderson menjatuhkan Bryan Mbeumo dalam sebuah pelanggaran yang berpotensi diganjar kartu kuning oleh Oliver.

City punya cara andalan berupa umpan panjang yang membiarkan Haaland berlari menuju gawang lawan. Pola itu nyaris menghasilkan gol keenamnya dalam empat pertandingan, tetapi keraguan membuat sang striker membuang peluang emas tersebut. Dalot hampir bernasib serupa ketika ragu di bawah bola tinggi, dan Semenyo yang mengintai hampir memanfaatkan kelengahan itu.

Menjelang turun minum, United beberapa kali mendekati gol. Fernandes mengirim umpan silang sederhana yang terlalu keras sehingga Rashford, yang sudah siap melepaskan tembakan, tidak dapat menjangkaunya. Sepakan Maguire dari jarak 25 yard malah menghantam rekannya sendiri, sebuah upaya yang terlihat ceroboh. Upaya paling serius datang dari Rashford lewat tendangan bebas 20 yard yang melewati pagar betis, tetapi tetap membentur tiang kanan gawang Donnarumma.

Gol Haaland dan Peran Krusial VAR

Di penghujung babak pertama, City berada di persimpangan antara memburu kemenangan atau bermain aman. Sebuah hasil imbang bukan bencana, tetapi mencetak gol lalu mempertahankannya akan menjadi hasil yang membanggakan sekaligus mengangkat moral tim. Ketika Haaland maju dan melepas umpan melengkung kepada Rayan Cherki — yang digeser dari posisi nomor 10 ke sisi kanan yang ditinggalkan Foden — alasan Maresca memilih menyerang mulai terlihat jelas.

Ambisi Maresca layak diacungi jempol, tetapi tetap bergantung pada kemampuan City menjaga gawang dari serangan balik United. Carrick pun menyadari hal itu, sehingga timnya dituntut bermain tenang alih-alih grusa-grusu. Pada jeda pertandingan, Maresca menarik Cherki dan memasukkan Iliman Ndiaye yang menawarkan kecepatan lebih besar di sisi kanan, langkah yang semakin menegaskan niatnya untuk terus menyerang.

Instruksi Carrick kepada pasukannya sederhana namun tegas, yaitu menyerang langsung ke jantung pertahanan demi tiga poin berharga yang akan mengangkat United ke peringkat kelima, lima poin di belakang pemuncak klasemen Arsenal. Kobbie Mainoo yang sebelumnya tenggelam dalam permainan nyaris membalas, tetapi usahanya kembali menemui sasaran yang sama. Donnarumma sudah terlewati, lalu tiang kanan gawang City menyelamatkan tuan rumah, dan bola rebound malah menghantam kiper itu.

Tekanan United pada fase ini tidak menghasilkan gol. Para pemain tuan rumah tampak seperti ruam merah yang menyebar ke seluruh pemain City, bola saling dioper cepat, dan tekel-tekel keras bermunculan. Salah satunya ketika Dorgu menjatuhkan Ndiaye, tetapi tetap tidak ada terobosan yang benar-benar tercipta.

Hingga akhirnya mimpi City soal mencuri kemenangan di kandang lawan menjadi kenyataan. Haaland menemukan jaring gawang, lalu merayakannya dengan pose duduk bak bermeditasi — tetapi perayaan itu baru dimulai setelah VAR menganulir keputusan offside awal. Umpan silang Gvardiol dari sisi kiri mengenai kaki Dorgu dan terus berjalan, melewati Fernández yang menyelam tanpa menyentuh bola (hal inilah yang menjadi bahan pemeriksaan VAR) serta Martínez, sebelum Haaland menggetarkan jaring gawang United.

Analisis: Arti Kemenangan bagi City dan United

Bagi City, kemenangan dengan sepuluh pemain memberi sinyal jelas soal mental skuad dan keberanian pelatihnya. Maresca terbukti tidak ingin mengambil jalan aman, dan para pemain merespons dengan mengorbankan lebih banyak tenaga untuk menutup ruang. Fernández menjadi wajah dari semangat itu karena ia tidak hanya merepotkan pertahanan United, tetapi juga melambangkan daya juang yang ingin ditanamkan Maresca.

Di kubu United, Carrick berusaha membalik keadaan dengan menggantikan Youri Tielemans untuk Benjamin Sesko di tengah kebutuhan mendesak akan gol. Peluang tetap datang, salah satunya saat Mbeumo melepaskan tembakan keras di masa tambahan waktu, tetapi Donnarumma mampu menepisnya. Kegagalan itu terasa mahal karena tambahan tiga poin akan membuat mereka naik ke peringkat lima dan menempel ketat Arsenal di puncak klasemen dengan selisih lima poin.

Sebaliknya, City menutup laga dengan nada tinggi. Fernández hampir menambahkan gol lewat tembakan jarak jauh yang membentur tiang kiri gawang yang dijaga Senne Lammens. Setelah peluit akhir berbunyi, Maresca berlari kecil dengan riang di sepanjang pinggir lapangan, merayakan kemenangan yang menjadi bukti keberanian dirinya dan para pemainnya.

Konteks Lebih Luas: Derby ke-199 dan Ketajaman Haaland

Kemenangan ini tercatat sebagai derby Manchester ke-199, dan gol Haaland membuatnya kini mengoleksi sembilan gol di laga derby. Ketajamannya sebagai ujung tombak kembali menjadi penentu, terlebih karena City memang mengandalkan umpan-umpan panjang yang membiarkan penyerang asal Norwegia itu berlari menuju gawang lawan. Pola ini bukan hal baru, tetapi efektivitasnya di laga sekelas derby menunjukkan betapa sulitnya pertahanan United mengantisipasi pergerakannya.

Bagi United, hasil ini menjadi catatan pahit dalam laga besar melawan rival sekota. Peluang mendekati puncak klasemen harus sirna di hadapan pendukung sendiri, dan tekanan untuk tampil lebih tajam di pertandingan-pertandingan besar akan terus membayangi Carrick. Kegagalan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain setelah kartu merah Foden menjadi sorotan utama dari kubu tuan rumah.

Ke depan, laga seperti ini bisa menjadi tolok ukur seberapa jauh Carrick mampu membawa United bersaing di papan atas, sementara Maresca mendapat bukti bahwa keberanian mengambil risiko bisa menjadi identitas timnya. City juga belajar bahwa bermain dengan sepuluh pemain tidak selalu berarti harus mundur dan bertahan. Berikut poin-poin penting dari pertandingan ini:

  • Gol Erling Haaland merupakan gol kesembilannya di laga derby Manchester.
  • Phil Foden menerima kartu merah langsung pada menit ke-22 setelah pelanggaran terhadap Bruno Fernandes.
  • VAR menganulir keputusan offside awal sehingga gol Haaland disahkan.
  • Enzo Fernández menjadi idola baru pendukung City sebagai pemain nomor punggung 17.
  • Tiga poin akan mengangkat United ke peringkat kelima, lima poin di belakang Arsenal.

Secara keseluruhan, derby ke-199 berjalan dengan skenario yang jarang terjadi: City kehilangan pemain di menit ke-22, tetapi justru tampil lebih berani dan mencuri kemenangan di kandang United. Gol Haaland yang disahkan VAR menjadi penentu, sementara Fernández menutup laga sebagai nama yang paling banyak dibicarakan. Kemenangan ini sekaligus membuktikan bahwa keputusan berani Maresca untuk tidak bermain aman berbuah manis.

Bagi United, pertanyaan besarnya kini adalah bagaimana mengubah dominasi penguasaan bola menjadi gol, terutama ketika lawan bermain dengan satu pemain lebih sedikit. Bagi City, hasil ini menjadi modal moral yang berharga sebelum menghadapi laga-laga berikutnya. Derby kali ini akan dikenang bukan karena skornya yang besar, melainkan karena cara City bertahan dan menyerang dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Hull Tahan Chelsea 2-2, Alonso Keluhkan Pertahanan

Hull kembali membuktikan bahwa kehadiran mereka di Premier League bukan sekadar kebetulan. Bermain di Stamford Bridge, tim asuhan Sergej Jakirovic itu menahan Chelsea 2-2 setelah sempat unggul 2-1 di babak pertama lewat dua gol Mohamed Belloumi, sebelum João Pedro menyelamatkan satu poin untuk tuan rumah. Hasil ini memperpanjang rekor tak terkalahkan Hull menjadi empat pertandingan dan menempatkan mereka di posisi ketiga klasemen sementara.

Bagi Chelsea, laga ini menjadi pukulan tersendiri karena mereka membuang keunggulan yang sudah di depan mata. Xabi Alonso menyebut timnya terlalu “lunak” ketika tidak menguasai bola, dan kritik itu muncul dari sosok yang biasanya tenang serta penuh pertimbangan. Nyanyian dari tribun tamu soal gelar juara memang dinyanyikan sebagai gurauan, tetapi penampilan Hull sepanjang awal musim ini membuat candaan tersebut terasa tidak sepenuhnya berlebihan.

Jalannya Laga: Dua Gol Cepat Mohamed Belloumi

Chelsea membuka keunggulan pada menit ketujuh melalui Morgan Rogers. Serangan itu berawal ketika tuan rumah meninggalkan empat pemain di depan saat Hull mengambil sepak pojok, lalu umpan João Pedro diteruskan Rogers dengan melewati Regan Slater sebelum menaklukkan Konstantinos Tzolakis di tiang dekat lewat tembakan rendah dan keras dari sisi kiri. Rekrutan senilai £117 juta dari Aston Villa itu menjadi pemain pertama yang mampu membobol gawang Hull sejak mereka promosi.

Alih-alih menambah gol, Chelsea justru kehilangan momentum. Pedro Neto sempat menguji Tzolakis dari sisi kanan, tetapi tuan rumah kemudian tampil datar dan lengah, sehingga membuka jalan bagi kebangkitan Hull. Gol penyama kedudukan lahir pada menit ke-28 dan berawal dari kesalahan Malo Gusto, yang gagal mengantisipasi bola panjang Tzolakis.

Ryan Giles memenangkan duel fisik melawan bek kanan Chelsea itu dan mengirim umpan silang ke tiang jauh, sementara Jorrel Hato salah membaca arah bola sehingga Belloumi leluasa melepaskan tembakan melewati Emiliano Martínez. Hull tidak berhenti di situ. Belloumi kembali mengirim bola ke Lewie Coyle, yang berlari melewati Rogers, tetapi tembakannya berhasil disapu Levi Colwill tepat di garis gawang.

Dari sepak pojok berikutnya, Martínez gagal meninju bola dengan sempurna, sundulan Semi Ajayi membentur mistar, dan bola yang jatuh di kaki Belloumi berubah arah sebelum masuk ke gawang. Hull pun menutup babak pertama dengan keunggulan 2-1, sebuah posisi yang membuat Stamford Bridge terdiam.

Babak Kedua dan Gol Penyelamat João Pedro

Alonso merespons dengan mengganti Hato dan memasukkan Pep Chavarría di posisi bek kiri. Chelsea sempat mengancam lewat tendangan bebas Reece James yang masih bisa diamankan Tzolakis. Namun Hull tetap berbahaya setiap kali melakukan serangan balik, bahkan hampir menambah gol ketika Martínez menumpahkan tembakan Regan Slater.

Kiper asal Argentina itu menebus kesalahannya dengan memblok rebound dari McBurnie. Tidak lama berselang, Chelsea menyamakan kedudukan lewat aksi Cole Palmer yang sebelumnya nyaris tidak terlihat: ia menusuk dari sisi kiri dan mengirim bola kepada João Pedro, yang melepaskan tembakan keras ke atap gawang.

Hull menolak menyerah. Ajayi, Giles, dan John Egan tampil luar biasa di lini belakang, dan para pemain bertahan itu tetap disiplin setelah kehilangan Nobel Mendy akibat tabrakan keras dengan João Pedro. Jakirovic melakukan pergantian yang berani, Alonso memasukkan Danny Welbeck, tetapi peluang terbaik justru datang dari sisi Hull ketika umpan silang Giles disambut Mohamed-Ali Cho, meski tembakannya mengarah tepat ke Martínez.

Chelsea Dominan tapi Rapuh di Lini Belakang

Menarik untuk dicatat bahwa laga ini menjadi kali pertama Chelsea mendominasi penguasaan bola dalam pertandingan liga musim ini, namun hasilnya jauh dari meyakinkan. Hull membatasi tuan rumah pada xG 0,89, yang menegaskan masalah Chelsea ketika menghadapi lawan dengan blok rendah. Sebaliknya, Hull tampil klinis setiap kali mendapat ruang untuk menyerang.

Keputusan Alonso menggeser Maxence Lacroix dari posisi bek tengah dan mengubah sistem dari tiga bek menjadi 4-2-3-1 tidak berjalan sesuai rencana. Hull mendapat ruang begitu lebar di kedua sisi lapangan, dan pertahanan Chelsea yang disebut Alonso “terlalu lunak” membuat keunggulan awal mereka menguap begitu saja. Kegagalan Gusto dan Hato dalam mengantisipasi bola panjang serta umpan silang menunjukkan persoalan komunikasi, bukan hanya kualitas individu.

Masalah ini bukan hal baru bagi Alonso. Chelsea memang menghibur saat menyerang, tetapi mereka tidak bisa bertahan dengan meyakinkan, dan kebobolan dua gol per pertandingan. Sifat pendekatan Alonso yang mirip pertandingan bola basket justru menciptakan kekacauan alih-alih kendali, sesuatu yang jelas mengganggu mantan pelatih Bayer Leverkusen itu.

“Semuanya menghibur, tetapi saya berharap suatu hari nanti Anda bilang ini pertandingan yang membosankan dan kami menang,” kata Alonso. Ia menegaskan bahwa timnya masih perlu belajar untuk tetap kompetitif setelah memimpin dan tidak memberikan peluang kepada lawan dengan mudah, terutama pada gol pertama Hull yang dinilainya terlalu lunak. Menurutnya, proses pembenahan akan memakan waktu, tetapi dampaknya sudah terasa pada performa tim saat ini.

Dampak Hull Tahan Chelsea bagi Kedua Tim

Arti hasil Hull tahan Chelsea ini sangat berbeda bagi kedua kubu. Bagi Chelsea, kegagalan meraih kemenangan melawan tim promosi di kandang menjadi catatan buruk yang kelima, dan mereka tampaknya tidak peka terhadap bahaya yang mengintai. Statistik itu memperkuat gambaran bahwa Chelsea punya persoalan struktural, bukan sekadar kesalahan individu sesekali.

Bagi Hull, satu poin ini menjadi bukti bahwa pendekatan disiplin dan cerdas yang diterapkan Jakirovic mampu bersaing dengan klub besar. Mereka memaksa Stamford Bridge menyaksikan pertandingan yang menegangkan, meski Martínez dua kali melakukan penyelamatan besar untuk mencegah kekalahan tuan rumah. Penampilan Belloumi, Giles, dan Egan menunjukkan bahwa tim ini punya keseimbangan antara ketenangan bertahan dan ketajaman menyerang.

Kritik Alonso juga menyoroti persoalan yang lebih dalam. Ia mengaku tidak menyukai dinamika kebobolan timnya, baik dari permainan terbuka, bola mati, maupun bola panjang. Menurutnya, ketangguhan dan rasa kompetitif harus menjadi bagian dari identitas Chelsea jika mereka ingin bersaing di papan atas.

Konteks Lebih Luas: Hull dan Target yang Masih Sama

Meski berada di posisi ketiga, Hull dan Jakirovic memilih untuk tidak terbawa suasana. Pelatih asal Bosnia itu menepis pembicaraan soal peluang tampil di kompetisi Eropa dan menegaskan bahwa target utama tim tetap bertahan di Premier League. Semua elemen di klub, menurutnya, menarik ke arah yang sama sehingga hasil-hasil positif bisa terus berlanjut.

Ada cerita menarik yang menunjukkan seberapa terukur ambisi Jakirovic. Sebelum musim dimulai, ia berjanji kepada stafnya akan memberikan libur tujuh hari jika Hull mampu mengumpulkan delapan poin dari lima pertandingan pertama. Target itu sudah tercapai dengan satu laga masih tersisa, buah dari kombinasi kemenangan dan hasil imbang seperti yang diraih di Stamford Bridge.

Pendekatan semacam ini menjelaskan mengapa Hull tidak cepat puas. Mereka sadar bahwa musim masih panjang dan lawan-lawan besar akan semakin serius menghadapi mereka. Namun penampilan di kandang Chelsea menunjukkan bahwa Jakirovic sudah membangun tim yang tahu cara bertahan, menyerang, dan mengelola tekanan dalam situasi sulit.

Hull tahan Chelsea 2-2 berkat dua gol cepat Mohamed Belloumi dan gol penyama João Pedro, dan hasil itu membuat mereka tetap tak terkalahkan dalam empat laga sambil menempati posisi ketiga. Sementara itu, Chelsea harus mengakui bahwa keunggulan yang mereka bangun dengan susah payah kembali menghilang karena kelemahan bertahan yang belum juga terselesaikan.

Pertanyaan yang tersisa adalah seberapa lama Hull mampu mempertahankan performa ini, dan apakah Chelsea bisa mengubah kritik menjadi perbaikan nyata di laga-laga berikutnya. Bagi keduanya, hasil di Stamford Bridge sudah memberi gambaran jelas tentang apa yang masih perlu dibenahi.

Kiernan Dewsbury-Hall Kesal Lihat Reaksi Fans Everton

Gelandang Everton, Kiernan Dewsbury-Hall, mengaku sempat terganggu dengan derasnya reaksi dan “meltdown” suporter setelah bursa transfer musim panas ditutup. Menurutnya, narasi yang menyebut Everton bakal kesulitan bertahan di Premier League justru mengabaikan kenyataan yang ia dan rekan-rekannya lihat langsung di ruang ganti setiap hari.

Pernyataan itu muncul usai deadline day yang berjalan pahit bagi Everton. Manajer David Moyes menutup bursa transfer dengan jumlah pemain yang lebih sedikit dibanding saat ia memulainya, hanya menyisakan satu striker, dan tanpa pelapis untuk kedua posisi full-back. Situasi tersebut memicu gelombang kekecewaan dari basis suporter, yang mempertanyakan arah kebijakan klub di bawah kepemilikan The Friedkin Group.

Suasana Ruang Ganti Everton di Mata Dewsbury-Hall

Berbeda dengan kegaduhan di luar, suasana di dalam skuad disebut Dewsbury-Hall jauh lebih tenang. Ia menegaskan bahwa mood para pemain “sangat bagus, jujur” dan sama sekali tidak mencerminkan apa yang ia baca serta lihat di media sosial maupun pemberitaan. Menurutnya, ada mentalitas baru yang tumbuh tahun ini, yaitu keyakinan untuk membuktikan kemampuan kepada semua orang. Penampilan Everton sejauh musim ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa keyakinan itu bukan sekadar basa-basi.

Dewsbury-Hall mengaku sudah menonton semua reaksi dan kemarahan suporter, dan hal itu sedikit mengganggunya. Ia memahami dari mana kekecewaan itu berasal, karena setiap penggemar tentu ingin klubnya mendatangkan banyak pemain dan punya skuad yang sempurna. Namun, ia mengingatkan bahwa di dalam gedung klub masih ada 19 pemain yang berharap bisa membawa Everton ke hal-hal baik musim ini, dan keberadaan mereka terkesan diabaikan dalam perdebatan tersebut.

Yang paling membuatnya tak nyaman adalah munculnya komentar bernada pesimistis dari sebagian pendukung. Ia menyoroti ucapan yang menyebut Everton “akan beruntung bisa bertahan tahun ini” dan mempertanyakan pesan apa yang hendak dikirim ke para pemain yang sudah ada di klub. Ia menegaskan tidak menyalahkan siapa pun, karena ia paham rencana transfer tidak berjalan sesuai harapan. Namun, ia berharap semua pihak bisa segera move on dan bersikap positif, sebab itulah yang terus digaungkan di ruang ganti.

Kronologi Deadline Day yang Mengguncang Everton

Kekecewaan suporter tidak muncul tanpa sebab. Salah satu momen paling mencolok adalah keputusan striker tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun, yang mundur dari transfer senilai £40 juta hanya beberapa menit setelah dokumen kesepakatan diserahkan. Kegagalan itu membuat Everton menutup jendela transfer tanpa tambahan amunisi di lini depan yang memadai.

Konsekuensinya, Moyes harus melanjutkan musim dengan skuad yang lebih tipis, tanpa pelapis di posisi full-back kanan maupun kiri. Manajer asal Skotlandia itu bahkan sempat menyatakan kekhawatiran bahwa aktivitas transfer klub bisa mengirim sinyal negatif ke ruang ganti, tepat ketika ia sedang berusaha mendorong tim naik ke level berikutnya. Kekhawatiran itu wajar, mengingat stabilitas mental pemain sering kali ikut terpengaruh oleh hiruk-pikuk di luar lapangan.

Di sisi lain, sebagian pendukung menilai masalahnya lebih dalam daripada sekadar satu atau dua transfer gagal. Mereka mempertanyakan arah dan ambisi klub di bawah The Friedkin Group, terutama setelah melihat jendela transfer yang dinilai tidak sepadan dengan target yang dicanangkan. Perdebatan inilah yang kemudian sampai ke telinga para pemain, termasuk Dewsbury-Hall.

Mengapa Skuad Tipis Tak Dianggap Masalah Besar

Dewsbury-Hall menolak anggapan bahwa kegagalan di bursa transfer merusak moral tim. Menurutnya, meski skuad sekarang lebih kecil, kualitas di dalamnya tetap terjaga. Ia bahkan menyebut starting XI Everton saat ini berada di level tim Eropa, dan ada 17 hingga 18 pemain dengan kualitas yang sangat baik yang bisa diandalkan sepanjang musim.

Ia menambahkan bahwa kedalaman skuad seperti ini belum tentu dimiliki Everton beberapa tahun lalu, dan ia yakin betul akan hal itu. Dalam sepak bola, kata dia, ada banyak hal yang berada di luar kendali pemain maupun staf, dan itulah yang terjadi pada jendela transfer kali ini. Namun, para pemain dengan cepat menyadari bahwa jika mereka melihat sekeliling ruang ganti, mereka masih dikelilingi pemain-pemain berkualitas.

Kesadaran itu kemudian menjadi bahan bakar tambahan. Alih-alih larut dalam kekecewaan, Dewsbury-Hall menyebut situasi ini justru memberi dorongan lebih besar untuk melangkah maju. Ia tidak menampik bahwa tim tentu ingin merekrut satu atau dua pemain lagi, tetapi ia menegaskan para pemain senang dengan apa yang mereka miliki sekarang dan siap membuktikannya di lapangan.

Peran Baru Dewsbury-Hall di Kelompok Kepemimpinan

Pengaruh Dewsbury-Hall ternyata tidak hanya terasa di atas lapangan. Setelah kepergian Séamus Coleman, klub membentuk kelompok kepemimpinan baru untuk mengisi kekosongan sosok kapten yang telah lama mengabdi itu, dan namanya ikut masuk dalam daftar. Ia bergabung bersama Jordan Pickford, James Tarkowski yang kini menjadi kapten klub, serta James Garner.

Menurut Dewsbury-Hall, kelompok ini terdiri dari para pemain berpengalaman yang sudah lama berkecimpung di Premier League atau merasa sudah mapan di klub. Tugas mereka sederhana namun penting: menjaga standar tetap tinggi dan mendorong rekan-rekan setim untuk terus berkembang. Ia menilai kehadiran kelompok semacam ini krusial karena lubang yang ditinggalkan Coleman sangat besar dan tidak bisa ditutup oleh satu orang saja.

Ia mengaku senang dipilih masuk ke kelompok tersebut, terlebih karena ia baru satu musim berseragam Everton. Namun, ia menegaskan bahwa posisi itu memang merupakan dampak yang ingin ia ciptakan sejak awal. Ia merasa puas karena para pemain memandangnya sebagai sosok yang bisa berperan penting bagi ruang ganti.

Keputusan Dewsbury-Hall meninggalkan Chelsea dengan nilai transfer £28 juta musim panas lalu terbukti menjadi langkah yang tepat. Waktu bermain yang lebih banyak dan pengaruh yang terus tumbuh membenarkan pilihannya. Pada usia 28 tahun, ia menyebut dirinya sedang berada di puncak karier dan tidak bisa lagi membuang bertahun-tahun untuk stagnan di bangku cadangan.

Harrison Armstrong dan Kekuatan Suara Suporter

Tanggung jawab itu juga tampak dalam cara Dewsbury-Hall membimbing gelandang muda Harrison Armstrong. Pemain berusia 19 tahun itu hampir saja bergabung dengan Nottingham Forest sebelum deadline day, namun respons keras suporter Everton memicu perubahan keputusan dari pemilik klub. Menurut Dewsbury-Hall, para pendukung jelas menyampaikan perasaan mereka dan hasilnya berhasil.

Ia memberi kredit besar kepada suporter yang hadir dalam laga melawan Bournemouth, yang ia sebut tampil luar biasa pada hari itu. Ia juga mengetahui secara pasti bahwa dukungan tersebut membuat Armstrong merasa sangat dihargai dan membantunya melewati situasi sulit. Meski masih sangat muda, Armstrong dinilai sebagai pemain yang percaya diri dan dihormati di ruang ganti.

Dewsbury-Hall menyatakan siap membantu Armstrong dalam hal apa pun, termasuk soal penyelesaian akhir yang menurutnya masih perlu diperbaiki. Ia mengaku sudah sering mengingatkan hal itu kepada sang pemain muda. Meski begitu, ia menilai Armstrong sudah punya hampir semua kemampuan lain yang dibutuhkan, dan keduanya kerap saling meledek soal siapa yang punya tendangan lebih baik.

Target Musim Ini dan Peluang Timnas Inggris

Dewsbury-Hall menetapkan target yang jelas untuk musim ini: membawa Everton lolos ke kompetisi Eropa, mencetak langkah jauh di kompetisi cup, meningkatkan kualitas permainan secara menyeluruh, dan meraih panggilan pertama ke tim nasional Inggris. Ia yakin target kualifikasi Eropa masih bisa dicapai meski skuad yang tersedia lebih ramping dari yang ia harapkan.

Peningkatan performanya rupanya tidak luput dari perhatian pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, yang akan mengumumkan skuad untuk pertandingan berikutnya dalam waktu dekat. Dewsbury-Hall mengaku sadar bahwa dirinya kini berada di titik terdekat untuk menembus skuad dibandingkan kapan pun sebelumnya. Ia pernah menerima pesan semacam itu dua pekan sebelum pengumuman skuad, termasuk untuk daftar panjang Piala Dunia dan untuk laga-laga internasional mendatang.

Ia menjelaskan bahwa pesan tersebut sangat panjang dan berisi pemberitahuan resmi dari asosiasi bahwa dirinya masuk dalam pertimbangan serta diminta bersiap pada tanggal-tanggal tertentu. Menurutnya, itu adalah perasaan yang menyenangkan karena ia tahu dirinya sudah dekat dengan pintu masuk skuad. Namun, ia sadar harus terus mendorong performanya hingga menit terakhir, karena tidak ada yang akan diberikan dengan cuma-cuma.

Kesempatan itu, kata dia, sepenuhnya bergantung pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin menunggu dipilih, melainkan memaksa pelatih untuk memilihnya lewat penampilan di lapangan. Gol ke gawang Crystal Palace pada laga pembuka musim dan gol ke gawang Wolves musim lalu menjadi bukti kontribusinya, sekaligus bahan ledekan ringan dengan Armstrong di ruang ganti.

Konteks Lebih Luas: Tekanan Suporter dan Arah Klub

Kasus Everton musim ini menggambarkan fenomena yang makin umum di sepak bola modern, yakni besarnya pengaruh suporter terhadap keputusan klub. Keputusan U-turn terkait Armstrong menunjukkan bahwa tekanan publik, terutama melalui media sosial, bisa mengubah arah kebijakan yang sebelumnya sudah disepakati. Di sisi lain, hal ini juga menempatkan pemain dalam posisi rumit, karena mereka harus tetap fokus ketika klub mereka menjadi bahan perdebatan publik.

Bagi Everton sendiri, tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara ambisi jangka panjang dan keterbatasan sumber daya yang tersedia. Dengan skuad yang lebih tipis, risiko cedera atau penurunan performa menjadi lebih besar dan akan langsung terasa sepanjang musim. Karena itu, kemampuan Moyes mengelola rotasi pemain serta peran kelompok kepemimpinan baru akan menjadi faktor penentu.

Sebaliknya, ada juga sisi positif yang bisa diambil dari situasi ini. Ketika ekspektasi luar diturunkan, ruang untuk mengejutkan lawan justru terbuka lebih lebar, dan itu sejalan dengan semangat yang terus ditekankan Dewsbury-Hall kepada rekan-rekannya. Jika Everton mampu menjaga konsistensi, narasi negatif dari bursa transfer bisa berbalik menjadi cerita tentang tim yang melampaui perkiraan.

Penutup

Kiernan Dewsbury-Hall menegaskan bahwa kekecewaannya bukan kepada suporter, melainkan kepada cara sebagian orang meremehkan pemain yang sudah ada di skuad Everton. Baginya, skuad yang lebih tipis tetap punya kualitas, dan starting XI saat ini bahkan layak disebut berada di level Eropa. Yang dibutuhkan sekarang bukan penyesalan berkepanjangan atas transfer yang gagal, melainkan sikap positif dan kerja keras untuk membuktikan bahwa semua penilaian pesimistis itu salah.

Dengan peran barunya di kelompok kepemimpinan, tugas membimbing pemain muda seperti Harrison Armstrong, dan ambisi meraih panggilan pertama ke timnas Inggris, musim ini menjadi momen penting dalam karier Dewsbury-Hall. Ia tidak ingin peluang itu datang dengan sendirinya, dan semangat itulah yang ia harap menular ke seluruh ruang ganti Everton.

Manchester United vs Sabah: Menang 4-0 di Liga Champions

Manchester United membuka kiprah mereka di Liga Champions setelah dua tahun absen dengan kemenangan tegas 4-0 atas Sabah di Old Trafford. Matheus Cunha memecah kebuntuan di pertengahan babak pertama, lalu Bruno Fernandes dan Benjamin Sesko memastikan keunggulan tiga gol sebelum turun minum, dan Lisandro Martínez menutup pesta gol di akhir laga. Bagi manajer Michael Carrick, duel Manchester United vs Sabah ini berjalan tanpa guncangan sama sekali.

Hasil ini terasa melegakan karena United baru saja menyerahkan dua poin di menit-menit akhir saat bermain imbang melawan Everton di Premier League pada Minggu. Tim ini butuh sesuatu untuk menenangkan diri, terutama karena laga besar sudah menanti: derby melawan Manchester City pada Minggu berikutnya. Sabah sendiri datang membawa cerita yang luar biasa, sehingga malam itu mempertemukan dua hal sekaligus — romantisme sepak bola dan kenyataan yang keras.

Jalannya Laga Manchester United vs Sabah

United memulai pertandingan dengan tempo yang perlahan menghangat sebelum akhirnya menyala. Gol pembuka lahir dari usaha Fernandes mengejar bola panjang ke atas yang tampak sudah hilang, namun ia berhasil menjaga bola tetap hidup. Setelah Sabah kehilangan bola dengan mudah kepada Bryan Mbeumo, United bergerak cepat ke sisi kiri, umpan silang Patrick Dorgu diselesaikan Cunha dengan penyelesaian yang bersih.

Sabah bukan tim yang datang untuk bertahan. Mereka menurunkan formasi 4-3-3 dan berani mengajukan pertanyaan kepada lini belakang United yang terlihat belum sepenuhnya solid. Peluang emas mereka datang pada menit ke-35 ketika umpan silang Kaheem Parris ke tiang jauh disambut sundulan Joy-Lance Mickels yang sudah lepas dari Noussair Mazraoui, tetapi bola melebar. Sudut memang tidak menguntungkan bagi Mickels, meski itu tidak sepenuhnya menjadi alasan.

Skor babak pertama terasa terlalu keras bagi Sabah, karena mereka sebenarnya ikut bermain dan menciptakan peluang. Akan tetapi, dua pukulan beruntun di penghujung babak pertama mengubah segalanya. Fernandes — lagi-lagi dia — menyelesaikan dengan sisi kaki setelah Youri Tielemans menerobos dari umpan Cunha ke dalam kotak penalti, berputar, lalu menyodorkan bola. Gol ketiga berawal dari umpan langsung Fernandes kepada Mbeumo, yang melepaskan Sesko; dengan garis belakang Sabah terlalu tinggi, Sesko melewati kiper dan tidak tampak akan gagal.

Sabah: Debutan Liga Champions dengan Kisah Luar Biasa

Laga ini punya nuansa romantis karena Sabah menjalani debut di Liga Champions di Old Trafford. Klub ini bahkan belum ada satu dekade lalu, dan tidak ada yang menduga mereka bisa menjuarai Liga Azerbaijan musim lalu. Sebelumnya, pada 2024-25, mereka finis 41 poin di bawah pemuncak klasemen, sehingga lonjakan mereka ke tangga juara benar-benar di luar perkiraan.

Pekerjaan yang dilakukan manajer Valdas Dambrauskas sejak mengambil alih pada musim panas tahun lalu tergolong istimewa. Ia membawa tim dengan latar belakang sederhana ini ke panggung paling bergengsi di Eropa. Sembilan puluh menit sebelum kick-off, sebagian pemain Sabah berjalan-jalan di lapangan yang masih hampir kosong, mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan ketenangan sebelum badai dan besarnya skala Old Trafford. Mereka tersenyum lebar dan bertekad tidak terpukau oleh suasana.

Performa gelandang tengah Ivan Lepinjica memberi kesan tersendiri, terutama dalam membawa bola dari lini kedua. Namun, masalah utama Sabah sepanjang laga adalah kelonggaran mereka di area pertahanan sendiri. Berani bermain menyerang memang memberi mereka kehormatan, tetapi juga membuka ruang yang dihukum tanpa ampun oleh tuan rumah.

Bayang-Bayang Kampanye 2023-24

Kembalinya United ke kompetisi elite Eropa tidak bisa dilepaskan dari memori buruk dua tahun lalu. Pada 2023-24, saat Erik ten Hag masih menjadi manajer, United mengakhiri fase grup di dasar klasemen dengan hanya empat poin. Kampanye itu dibuka dan ditutup dengan kekalahan dari Bayern Munich, dan yang paling membuat banyak orang masih bergidik adalah apa yang terjadi di antara kedua laga tersebut.

Menghadapi Galatasaray dan Copenhagen, United berulang kali kehilangan kendali ketika sudah memimpin. Tim ini panik tak terkendali, sementara kesalahan di lini belakang datang bertumpuk-tumpuk dalam waktu singkat. Karena itulah kemenangan bersih atas Sabah punya makna lebih dari sekadar tiga poin bagi Carrick dan para pemainnya.

Perbandingannya cukup jelas: dulu United rapuh saat unggul, kini mereka menutup laga tanpa gol balasan. Carrick juga tidak mengambil risiko besar dengan susunan pemainnya, memilih melakukan rotasi seminimal mungkin di lini tengah dan lini depan. Dampaknya terlihat pada stabilitas permainan yang jauh lebih terjaga dari awal hingga akhir.

Rotasi Carrick dan Sinyal Menuju Derby Manchester

Carrick memberikan start pertama musim ini kepada Sesko di posisi nomor 9, sementara lini tengah dan depan nyaris tidak diubah. Pilihan itu mudah dibaca sebagai upaya memantapkan pasangan Youri Tielemans dan Kobbie Mainoo di jantung permainan sebelum menghadapi Manchester City. Fernandes tetap menjadi penggerak utama, dengan pergerakan cerdas, umpan-umpan tajam, dan penyamaran arah passing yang menyulitkan lawan.

Pada babak kedua, Mason Mount masuk menggantikan Tielemans untuk penampilan pertamanya musim ini. “Senang rasanya bisa mengembalikan Mason ke lapangan,” ujar Carrick setelah pertandingan. Penampilan Tielemans sendiri layak diapresiasi karena memberi pengaruh nyata dalam terciptanya gol kedua.

Carrick juga menarik keluar sejumlah pemain yang kemungkinan besar akan menjadi starter melawan City, termasuk Mainoo dan Sesko pada menit ke-64. Sesko meninggalkan lapangan dengan tepuk tangan hangat dari penonton, apalagi setelah ia mencetak gol ke gawang Everton pada Minggu. Pertanyaannya sekarang, apakah penampilan itu sudah cukup membuatnya masuk starting XI di derby?

“Kami selalu menuntut lebih. Dari sisi hasil, ini belum jadi awal yang kami inginkan, tetapi dari sisi performa ada banyak hal yang kami cari,” kata Carrick. “Clean sheet malam ini penting. Secara kolektif sebagai tim kami sudah melakukan banyak hal baik dan itulah kenapa kami bersemangat menyambut musim ini.”

Gaya Pass-and-Move Carrick Sedang Diuji

United mengendalikan babak kedua dengan nyaman dan ancaman terhadap mereka sudah lama hilang. Mainoo dan Fernandes terus terlibat dalam aliran bola, dan ketika permainan umpan-lalu-bergerak ala Carrick berjalan mulus, kemungkinan besar yang bisa diraih tim ini terasa nyata. Tantangan sesungguhnya adalah menerapkan pola itu secara konsisten melawan tim-tim besar, dan ujian pertamanya adalah City.

Gol keempat menjadi gambaran sempurna kesulitan Sabah di sepertiga akhir pertahanan mereka. Fernandes mengangkat bola dari tendangan bebas untuk Joshua Zirkzee yang masuk sebagai pengganti, dan ketika penyelesaian tumitnya mengenai Aden McCarthy, kiper Sabah, Stas Pokatilov, kehilangan arah sehingga bola tersangkut di kakinya. Martínez hanya perlu menyonteknya masuk.

Sabah nyaris mendapat gol penghiburan ketika pemain pengganti Orphé Mbina menyundul bola tinggi di akhir laga, tetapi gol dongeng itu tidak pernah datang. Kekalahan 0-4 memang berat, namun penampilan mereka di babak pertama memberi gambaran bahwa keberanian bermain bisa menjadi modal berharga di laga-laga berikutnya.

Kesimpulan

Kemenangan 4-0 atas Sabah membuat United memulai kiprah Liga Champions tanpa keraguan dan tanpa guncangan yang pernah menghantui mereka. Cunha, Fernandes, Sesko, dan Martínez berbagi peran dalam pesta gol yang menutup malam di Old Trafford, sementara clean sheet menjadi nilai tambah yang disebut langsung oleh Carrick. Untuk sementara, misi pertama sudah tuntas.

Namun, ukuran sebenarnya dari kemajuan United tidak ditentukan oleh laga melawan debutan. Derby melawan Manchester City pada Minggu akan menunjukkan apakah gaya pass-and-move Carrick sudah cukup matang untuk diandalkan di pertandingan besar. Sabah pulang dengan pelajaran keras, sementara United berjalan menuju ujian sesungguhnya dengan modal kepercayaan diri.

Mac Allister Jadi Pahlawan, Liverpool Kalahkan Atlético

Alexis Mac Allister memilih menjawab semua tanda tanya dengan cara paling meyakinkan: mencetak gol kemenangan saat Liverpool bangkit untuk mengalahkan Atlético Madrid di Anfield. Gelandang asal Argentina itu melepaskan tembakan akurat dari jarak sekitar 20 yard yang tidak mampu dijangkau kiper Jan Oblak. Hasil ini sekaligus memperpanjang catatan buruk Atlético, yang kini menelan 11 laga tanpa kemenangan melawan klub Inggris di fase liga Liga Champions.

Gol tersebut lahir di tengah situasi yang tidak nyaman bagi Mac Allister. Ia disebut sedang merasa sangat kecewa karena Liverpool menolak memberinya kontrak baru, sementara Dominik Szoboszlai dan Ryan Gravenberch justru mendapatkan perpanjangan. Alih-alih melampiaskan kekecewaan lewat mikrofon, ia memilih bicara di lapangan. Laga ini juga menjadi momen penting bagi pelatih kepala Liverpool, Andoni Iraola, yang untuk pertama kalinya memimpin pertandingan Liga Champions sepanjang kariernya.

Mac Allister Bicara Lewat Gol di Lapangan

Proses terciptanya gol kemenangan Liverpool menunjukkan bagaimana Mac Allister membaca situasi dengan tenang. Rio Ngumoha yang tampil lincah berhasil melewati Marcos Llorente, lalu umpan silangnya membentur Alexander Isak dan mengarah ke Mac Allister di depan kotak penalti. Ia sempat meminta Szoboszlai agar tidak menyentuh bola, sebelum melepaskan tembakan kaki kiri yang melesat tak terbendung ke gawang Oblak.

Sebelum pertandingan, Mac Allister memang sudah memberi sinyal soal sikapnya musim ini. Dalam konferensi pers pra-laga, ia mengaku percaya diri bahwa dirinya sedang bermain untuk mendapatkan kontrak baru. Ia juga berjanji akan memberikan “100% sampai hari terakhir” kepada klub. Janji itu ia tepati dengan penampilan yang menentukan hasil akhir pertandingan.

Penampilan Mac Allister malam itu bukan sekadar soal gol. Ia menjadi salah satu dari lima finalis Piala Dunia yang terlibat dalam laga yang berjalan ketat dan menarik ini. Kontribusinya menegaskan bahwa kekecewaan terhadap manajemen klub tidak lantas menurunkan standar profesionalismenya di lapangan.

Llorente Kembali Menghantui Anfield

Liverpool memulai laga dengan buruk, dan itu tidak lepas dari keputusan Diego Simeone mengubah formasi Atlético menjadi 3-5-2. Perubahan tersebut membuat tuan rumah kewalahan sejak menit awal. Gol pembuka Atlético lahir ketika Julián Álvarez melepas umpan terobos di belakang pertahanan Liverpool, dan Llorente berlari bebas menuju gawang sebelum menchip bola melewati Alisson.

Bagi Llorente, Anfield seperti tanah yang bersahabat. Gol tersebut merupakan gol kelimanya di stadion itu, atau setengah dari total golnya di Liga Champions sepanjang karier. Ia sebelumnya menamai anjingnya “Anfield” setelah mencetak dua gol yang menyingkirkan tim asuhan Jürgen Klopp dari kompetisi pada 2020, dalam laga yang digelar ketika Madrid sedang lockdown akibat pandemi Covid-19.

Dalam proses gol itu, Llorente dijaga onside oleh Milos Kerkez. Álvarez sendiri tampil sebagai starter Atlético untuk pertama kalinya musim ini, setelah upayanya bergabung dengan Barcelona gagal terwujud. Namanya sempat mendapat sorakan dari sekelompok kecil pendukung Atlético ketika susunan pemain diumumkan, dan ia membalasnya dengan menciptakan gol pembuka.

Álvarez nyaris menggandakan keunggulan tim tamu ketika diberi terlalu banyak ruang untuk melepaskan tembakan dari jarak hampir 30 yard. Alisson yang meregang penuh berhasil menyelamatkan gawangnya dengan penyelamatan ujung jari yang luar biasa. Anfield mulai gelisah melihat kelalaian Liverpool dalam menguasai bola, sementara Atlético tampak nyaman memainkannya.

Kerkez Menebus Kesalahan, Szoboszlai Menyamakan

Milos Kerkez menjalani malam yang naik-turun. Bek kiri itu beberapa kali salah posisi dan kurang akurat dalam distribusi bola, tetapi ia menebusnya dengan peran penting dalam gol penyama kedudukan Liverpool. Kerkez merebut bola lewat tekel bersih dan keras kepada Lee Kang-in, lalu mengirimnya ke Bradley Barcola. Tembakan Barcola diblok Oblak, namun Wirtz terus menekan dan membuat peluang kembali terbuka.

Gol penyama kedudukan lahir dari sentuhan cerdik Ronald Araújo. Szoboszlai, yang sebelumnya dihentikan di tepi kotak penalti, mendapat bola kedua dari flick Araújo dan langsung melepaskan tembakan first time yang bersarang di sudut jauh gawang Atlético. Gol ini menjadi bukti ketangguhan Liverpool dalam menjaga tekanan meski sempat tertinggal.

Barcola seharusnya bisa membawa Liverpool unggul lebih dulu di awal babak kedua. Ia dilepas Wirtz menuju gawang dan punya cukup waktu untuk mengukur penyelesaian, tetapi tembakannya melebar di sisi kanan tiang gawang Oblak. Winger asal Prancis itu kemudian harus keluar lapangan karena kram.

Dampak bagi Iraola, Mac Allister, dan Atlético

Andoni Iraola mengakui bahwa ia turut bertanggung jawab atas buruknya awal pertandingan timnya. Menurutnya, Atlético mengejutkan Liverpool dengan cara mereka mendekati laga, karena formasi tersebut jarang digunakan sepanjang musim ini. Ia menilai para pemainnya kesulitan karena tidak siap, tetapi kemudian mampu menyesuaikan diri dan bermain lebih baik.

“Di babak kedua kami adalah tim terbaik,” ujar Iraola. Ia juga menekankan bahwa ini merupakan comeback ketiga Liverpool musim ini, sebuah tanda bahwa para pemain terus berjuang dan memiliki karakter kuat. Kemenangan ini pun menjadi awal yang ideal bagi Iraola di kancah Liga Champions sebagai pelatih.

Bagi Mac Allister, penampilan seperti ini justru memperkuat posisinya dalam negosiasi kontrak. Gol tersebut menjadi pernyataan tegas bahwa kontribusinya masih sangat dibutuhkan Liverpool. Sementara bagi Atlético, kekalahan ini menambah panjang derita mereka melawan klub Inggris di fase liga Liga Champions menjadi 11 pertandingan tanpa kemenangan.

Malam Penuh Debut dan Tren yang Berlanjut

Laga ini menjadi malam pertama bagi sejumlah pihak. Iraola memimpin pertandingan Liga Champions untuk pertama kalinya sepanjang karier, setelah sebelumnya menangani 12 laga Europa League bersama AEK Larnaca pada 2018-19. Bradley Barcola juga menjalani start pertamanya untuk Liverpool setelah kepindahan senilai £123 juta dari Paris Saint-Germain.

Di kubu Atlético, Julián Álvarez akhirnya masuk sebagai starter untuk pertama kalinya musim ini setelah gagalnya upaya kepindahan ke Barcelona. Simeone juga mengambil keputusan taktis dengan mengubah formasi menjadi 3-5-2, yang terbukti sempat membuat Liverpool kedinginan di awal laga. Masuknya Ademola Lookman di babak kedua menambah dimensi baru bagi serangan tim tamu, tetapi Liverpool bertahan dengan impresif.

Ketangguhan lini belakang Liverpool di penghujung laga memastikan kemenangan yang mereka layak dapatkan. Kombinasi antara ketenangan Mac Allister, kerja keras Isak, kreativitas Florian Wirtz, serta kecerdasan Szoboszlai memberi Iraola banyak hal untuk disyukuri. Laga ini menjadi gambaran bahwa Liverpool mampu bangkit meski memulai pertandingan dengan cara yang jauh dari ideal.

Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan Liga Champions, hasil ini menegaskan dua hal sekaligus. Pertama, kualitas individu seperti Mac Allister masih bisa menjadi pembeda dalam laga ketat. Kedua, tren buruk Atlético melawan klub Inggris belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat, meski penampilan mereka di Anfield sempat menjanjikan.

Kemenangan Liverpool atas Atlético Madrid meninggalkan satu pesan jelas: Mac Allister memilih menjawab ketidakpastian kontraknya dengan gol, bukan dengan keluhan. Ia tampil profesional, menentukan, dan tepat pada momen yang paling dibutuhkan timnya. Sementara bagi Atlético dan Simeone, Anfield kembali menjadi tempat yang sulit untuk ditaklukkan.

Transfer Enzo Fernández ke Man City Samai Rekor Inggris

Manchester City resmi mengumumkan transfer Enzo Fernández dari Chelsea dengan nilai mencapai £125 juta, sekaligus menyamai rekor transfer termahal di Inggris. Gelandang asal Argentina itu kini sejajar dengan Alexander Isak sebagai pemain termahal di liga Inggris saat ini. Kesepakatan ini pun langsung mencuri perhatian publik di tengah hiruk-pikuk bursa transfer musim panas.

Kepindahan ini terjadi di tengah drama bursa transfer yang penuh kejutan. Chelsea sebenarnya tidak ingin kehilangan Fernández, tetapi upaya mereka mencari pengganti justru gagal di menit-menit akhir setelah Monaco menarik diri dari kesepakatan untuk menjual Lamine Camara. Di sisi lain, City tengah gencar membangun ulang tim setelah kehilangan sejumlah pemain kunci, dan mereka juga merekrut Iliman Ndiaye dari Everton dengan nilai hingga £65 juta untuk memperkuat lini serang.

City Samai Rekor Transfer Inggris senilai £125 Juta

Manchester City mengumumkan kedatangan Fernández setelah menuntaskan negosiasi alot dengan Chelsea. Chelsea bertahan dengan banderol selangit, dan City akhirnya menyetujui angka £125 juta untuk memboyong pemain berusia 25 tahun itu. Nilai tersebut persis sama dengan biaya transfer Alexander Isak ke Liverpool musim lalu, menjadikan keduanya pemain termahal di Inggris.

Dalam kesepakatan ini, City berhasil mendaratkan salah satu target terbesar Enzo Maresca dengan kontrak berdurasi lima tahun. Reuni antara Maresca dan Fernández sebenarnya sudah santer diperkirakan terjadi, mengingat keduanya pernah bekerja sama di Chelsea. Kedatangan Fernández diharapkan langsung memberi dampak bagi lini tengah City yang tengah bertransformasi.

“Saya tidak bisa lebih bahagia bisa berada di sini, dan saya siap menghadapi tantangan membantu City terus memenangi trofi. Klub ini dibangun untuk meraih kesuksesan,” ujar Fernández dalam pernyataan resminya. “Saya bangga terus mengembangkan permainan saya. Siapa pun yang pernah bekerja dengan saya tahu betapa kerasnya saya berlatih setiap hari dan seberapa besar yang saya berikan di setiap pertandingan. Saya memberikan segalanya, dan saya berjanji kepada Manchester City bahwa itu akan terus berlanjut begitu saya berada di sini.”

Kronologi Transfer Enzo Fernández yang Penuh Drama

Transfer Enzo Fernández ke Manchester City sebenarnya sempat terhambat oleh upaya Chelsea mencari pengganti di hari terakhir bursa. Chelsea mengajukan tawaran sebesar £38,1 juta untuk Lamine Camara dari Monaco, tetapi ditolak pada awal hari. Setelah itu, Chelsea kembali dengan penawaran £47 juta dan mencapai kesepakatan dengan Monaco; Camara dijadwalkan menandatangani kontrak enam tahun dengan opsi perpanjangan satu musim.

Kesepakatan itu terwujud setelah Everton mengalami kendala dalam upaya merekrut Folarin Balogun, yang membuat Monaco perlu mencari dana dari sumber lain. Chelsea pun memanfaatkan celah itu untuk menghidupkan kembali perburuan Camara. Namun, menjelang tenggat waktu, Monaco justru menarik diri dari perjanjian yang sudah dibuat secara tertulis, membuat petinggi Chelsea terkejut dan kecewa.

Sumber internal menyebut perilaku Monaco sebagai “sangat tidak profesional”. Di sisi lain, Everton juga tidak menyerah mengejar Balogun dan bahkan merenegosiasi biaya transfer mantan penyerang Arsenal itu, hanya untuk kembali gagal setelah tengah malam. Meski kehilangan pengganti, Chelsea tetap melanjutkan penjualan Fernández ke City, yang akhirnya diumumkan melalui pernyataan singkat di situs klub.

City Bangun Ulang Lini Tengah Setelah Ditinggal Banyak Bintang

Keputusan City menggelontorkan dana besar untuk Fernández bukan tanpa alasan. Musim panas ini, City kehilangan Rodri yang dijual ke Barcelona, Bernardo Silva yang pindah ke Real Madrid, dan Nico González yang dilepas ke Newcastle. Kehilangan tiga gelandang sekaligus memaksa City bergerak cepat di bursa transfer demi menjaga kedalaman skuad.

Secara total, City telah membelanjakan £327 juta untuk mendatangkan pemain lini tengah pada musim panas ini. Rinciannya sebagai berikut:

  • Elliot Anderson dari Nottingham Forest – £116 juta
  • Ayyoub Bouaddi dari Lille – £86 juta
  • Enzo Fernández dari Chelsea – £125 juta

Investasi sebesar ini menunjukkan betapa seriusnya City merombak sektor tengah mereka. Dengan komposisi baru ini, City berharap lini tengah mereka tetap solid sepanjang musim dan mampu bersaing di kompetisi domestik maupun Eropa.

Negosiasi City dengan Chelsea sendiri baru dimulai pada Senin malam. Menariknya, City tidak gentar meskipun Chelsea sempat menetapkan tenggat tak resmi bagi klub yang ingin mengajukan tawaran di atas £120 juta pada bulan lalu. Kegigihan City akhirnya membuahkan hasil, dan mereka berhasil mengamankan tanda tangan Fernández sebelum jendela transfer ditutup.

Perjalanan Fernández di Chelsea dan Alasan di Balik Kepergiannya

Fernández bergabung dengan Chelsea dari Benfica pada Januari 2023 dengan biaya £106,7 juta dan mencetak 31 gol selama membela The Blues. Selama di Stamford Bridge, ia memenangkan Conference League dan Piala Dunia Antarklub. Namun, sejak Maret lalu ia sudah berusaha mencari jalan keluar, dengan Real Madrid sempat menjadi tujuan utama.

Keinginan hengkang itu semakin kuat setelah Enzo Maresca berpisah dengan Chelsea secara tidak harmonis awal tahun ini. Situasi kian memanas ketika Fernández angkat bicara setelah Chelsea tersingkir dari Liga Champions oleh Paris Saint-Germain pada Maret. Chelsea merespons dengan menjatuhkan larangan bermain dua pertandingan kepada gelandang yang berstatus wakil kapten tidak resmi tersebut.

Setelah Piala Dunia, Fernández kembali mengikuti latihan, tetapi ia mendapat cemoohan dari pendukung Chelsea saat laga pramusim melawan Real Sociedad di Stamford Bridge. Ia sempat tampil sebagai pemain pengganti dalam laga pembuka musim yang berakhir dengan kemenangan atas Fulham, namun kemudian tidak dimainkan dalam dua pertandingan berikutnya. Lambat laun, Chelsea pun sampai pada kesimpulan bahwa menjual Fernández adalah keputusan terbaik bagi semua pihak.

Di internal klub, ada penilaian bahwa Fernández belum menunjukkan diri layak menjadi wakil kapten selama berseragam Chelsea. Kombinasi faktor performa, hubungan yang merenggang, dan nilai jual yang tinggi membuat Chelsea akhirnya membuka pintu negosiasi. Keputusan ini memang berat, tetapi secara finansial sangat menguntungkan bagi klub asal London Barat tersebut.

Chelsea Raup Sekitar £500 Juta dari Penjualan dan Pinjaman Pemain

Sepanjang musim panas ini, Chelsea telah mengantongi sekitar £500 juta dari hasil penjualan dan peminjaman pemain. Fernández menjadi salah satu bagian terbesar dari total tersebut. Selain itu, Chelsea juga merampungkan sejumlah transaksi lain di penghujung bursa, termasuk melepas Marc Guiu ke RB Leipzig dengan nilai £16 juta.

Berikut rangkuman aktivitas Chelsea di penghujung jendela transfer:

  • Marc Guiu – dijual ke RB Leipzig senilai £16 juta
  • Dário Essugo – dipinjamkan ke Strasbourg
  • Robert Sánchez – dipinjamkan ke Como
  • Mykhailo Mudryk – dipinjamkan ke Tottenham
  • Tosin Adarabioyo – pindah permanen ke Tottenham

Transaksi-transaksi ini menunjukkan pola bisnis Chelsea yang agresif dalam merombak skuad. Pendapatan besar dari penjualan pemain diharapkan bisa memberi ruang gerak finansial bagi Chelsea di bursa berikutnya. Dengan begitu, Chelsea tetap punya modal untuk membangun ulang tim dalam waktu dekat.

Transfer Enzo Fernández ke Manchester City menutup salah satu saga bursa transfer paling dramatis musim panas ini. City mendapatkan gelandang kelas dunia yang siap menjadi motor serangan, sementara Chelsea harus menerima kenyataan kehilangan bintang utamanya tanpa pengganti yang jelas. Dengan rekor transfer yang disamai dan belanja besar-besaran di lini tengah, City menunjukkan ambisi mereka untuk tetap bersaing di papan atas.

Di sisi lain, Chelsea kini punya pekerjaan rumah untuk menjaga keseimbangan skuad setelah ditinggal Fernández. Namun, dengan dana segar yang masuk, mereka punya modal untuk berbenah pada kesempatan berikutnya. Yang jelas, drama transfer kali ini akan dikenang sebagai salah satu momen paling liar dalam sejarah bursa transfer Inggris.

Belanja Besar Tak Sembuhkan Masalah Tottenham: Kurang Jiwa

Masalah Tottenham Hotspur sejatinya tidak pernah berubah: berapa pun uang yang dikeluarkan, klub ini tetap kehilangan jiwa dan tulang punggung. Kekalahan dari Newcastle United menjadi bukti terbaru bahwa belanja besar-besaran tidak otomatis menyembuhkan penyakit kronis yang sudah mendarah daging. Tottenham memang punya pelatih baru, struktur kepemimpinan baru, dan lebih dari sepertiga miliar poundsterling untuk belanja pemain, tetapi hasilnya tetap sama: rapuh saat tekanan datang.

Soccer Football – Premier League – Brentford v Tottenham Hotspur – GTech Community Stadium, London, Britain – August 22, 2026 Tottenham Hotspur’s Sandro Tonali looks dejected after the match Action Images via Reuters/Matthew Childs EDITORIAL USE ONLY. NO USE WITH UNAUTHORIZED AUDIO, VIDEO, DATA, FIXTURE LISTS, CLUB/LEAGUE LOGOS OR ‘LIVE’ SERVICES. ONLINE IN-MATCH USE LIMITED TO 120 IMAGES, NO VIDEO EMULATION. NO USE IN BETTING, GAMES OR SINGLE CLUB/LEAGUE/PLAYER PUBLICATIONS. PLEASE CONTACT YOUR ACCOUNT REPRESENTATIVE FOR FURTHER DETAILS..

Sebenarnya, pertanyaan apakah Tottenham mulai panik adalah pertanyaan jebakan yang tidak perlu dijawab. Tottenham termasuk klub yang tidak pernah benar-benar berhenti panik: mereka panik ketika kebobolan, panik ketika mencetak gol, panik saat menguasai bola, dan panik ketika lawan yang memegang kendali permainan. Pelatih Roberto De Zerbi bahkan memiliki ekspresi wajah yang selalu tampak siaga, seperti seseorang yang terus-menerus dikejutkan oleh keadaan di sekelilingnya. Pernah juga mereka panik sedemikian rupa sampai akhirnya lolos ke Liga Europa. Bagi penggemar Spurs yang sudah terbiasa gelisah, klub ini bukanlah kebanggaan yang menenangkan, melainkan semacam teror yang menemani seumur hidup.

Fakta Kekalahan: Newcastle Memangsa Kegugupan Tottenham

Gol Anthony Elanga lahir dari umpan panjang Nico González yang tidak ditekan, sundulan Amar Dedic yang kurang sempurna, lalu satu putaran badan dan penyelesaian dingin. Tiga kejadian sederhana yang beruntun, dan setidaknya dua di antaranya seharusnya bisa dicegah oleh lini belakang Tottenham. Tidak ada blunder besar atau momen mengejutkan di sini — hanya serangkaian duel yang kalah, akumulasi kelemahan kecil, dan tim yang belum benar-benar menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh.

Newcastle, tim yang hanya mencatat satu clean sheet dalam 18 laga terakhir, justru tampil rapat dan sabar. Mereka menunggu kereta yang selalu datang, karena melawan Tottenham, tekanan pada akhirnya akan membuahkan hasil. Yoane Wissa pun menutup laga dengan gol penentu yang tidak mengejutkan siapa pun, mengingat betapa mudahnya Spurs kecolongan di momen-momen penting.

Ironisnya, kegagalan ini terjadi di kandang sendiri. Tottenham Hotspur Stadium yang megah bahkan belum memiliki hak penamaan karena hampir setiap tim tamu merasa berhak “memiliki” tempat tersebut. Dalam 12 bulan terakhir, Aston Villa memenangi dua laga domestik di stadion ini — jumlah yang sama dengan kemenangan Tottenham sendiri di sana. Pasukan Unai Emery bahkan berpeluang kembali unggul di stadion ini dalam tiga pekan ke depan.

Belanja Besar Tak Menyembuhkan Sindrom “Long Tottenham”

Ada semacam penyakit bawaan yang oleh banyak pengamat disebut “Long Tottenham”, dan hingga kini belum ditemukan obatnya. Sejak mengalahkan Aston Villa 4-1 pada penghujung 2024, Spurs telah tertinggal lebih dulu sebanyak 44 kali di semua kompetisi dan tidak pernah sekali pun berhasil membalikkan keadaan menjadi kemenangan. Angka itu menunjukkan bahwa persoalan ini bukan soal kualitas pemain, melainkan soal karakter tim yang runtuh ketika tertinggal.

Pelatih baru Roberto De Zerbi, struktur kepemimpinan anyar, dan lebih dari sepertiga miliar poundsterling yang dibelanjakan untuk transfer tetap tidak membawa perubahan berarti. De Zerbi datang dengan reputasi sepak bola menyerang, tetapi raut wajahnya justru menggambarkan keadaan darurat yang permanen. Para penggemar yang setia bertahun-tahun hanya bisa menyaksikan pola kegagalan yang sama berulang terus-menerus.

Budaya vs Komersial: Pelajaran Berharga dari Newcastle

Di tengah kekalahan ini, ada simbolisme yang menenangkan sekaligus menyakitkan: pelajaran tentang nilai budaya yang bertahan di atas komersialitas. Newcastle kehilangan separuh timnya tetapi tetap mempertahankan jiwa mereka; Tottenham membeli separuh tim baru dan masih saja mencari jati diri. Matthias Jaissle berhasil meracik tim Newcastle yang unggul dalam duel dan bola kedua, dua hal yang sama sekali tidak dimiliki Spurs.

Beberapa pemain Tottenham sebenarnya tampil baik di laga ini. Sandro Tonali, yang tentu saja tidak luput dari cemoohan, justru bermain apik — termasuk salah satu dari sedikit pemain Spurs yang benar-benar menghargai bola dan mencoba melakukan hal-hal menarik dengannya. Mateus Fernandes tampil lincah, elegan, dan sangat baik, sementara Omar Marmoush yang menjalani debut terlihat bugar dan tajam. Sayangnya, kualitas individu tidak pernah menjadi akar persoalan klub ini.

Akar Masalah Tottenham: Hal-Hal Kecil dan Trauma Kolektif

Masalah Tottenham sebenarnya tidak sulit dikenali jika diperhatikan dari detail-detail kecil di lapangan. Momentum yang baru saja terbangun sering kali langsung padam karena satu dua sentuhan yang salah. Ketika duel terjadi, terlalu banyak pemain yang memilih mundur alih-alih berani bertarung. Kekalahan dari Newcastle memperlihatkan semua gejala itu secara gamblang.

Secara lebih luas, kelemahan tersebut muncul dalam berbagai bentuk:

  • sundulan yang kalah dalam duel udara;
  • jeda sesaat di atas bola yang membunuh momentum serangan;
  • tembakan tergesa-gesa tanpa pengaturan;
  • sentuhan ekstra yang tidak perlu;
  • tekel yang tidak tuntas dan setengah hati.

Semua itu adalah tanda kelembutan yang mengakar jauh di dalam tim. Pemain-pemain veteran dari musim 2024-25, ketika skuat tipis dipaksa bermain melampaui batas kewajaran dan kesehatan mental, masih menyimpan trauma kolektif. Archie Gray, Micky van de Ven, Destiny Udogie, dan Rodrigo Bentancur kerap terlihat menahan diri dalam duel fisik 50-50, seolah-olah belum sepenuhnya percaya pada tubuh mereka sendiri.

Lawan-lawan Tottenham jelas membaca kerentanan ini. Saat ini sudah ada cetak biru untuk mengalahkan Spurs: bertarung sejak menit pertama, melakukan hal-hal sederhana dengan baik, dan terus menekan sampai mereka bermain di bawah kendali lawan. Newcastle membuktikan resep itu berhasil, dan tim-tim lain pasti akan meniru pola yang sama.

Dampak ke Depan: Seberapa Dalam Tottenham Akan Terpuruk?

Pertanyaan yang kini menggantung adalah seberapa buruk kondisi ini sebelum akhirnya membaik. Apakah dua kekalahan akan berubah menjadi empat atau enam? Apakah pada bulan November nanti pencetak gol terbanyak Spurs masih Richarlison dengan dua gol? Klub yang secara medis begitu kecanduan panik ini tentu akan sulit menghindari kekacauan jika hasil buruk terus berlanjut.

Namun, di balik semua kekacauan itu, Tottenham sebenarnya menyimpan talenta kreatif yang luar biasa. Kedatangan Marmoush dan Sávio, lini tengah baru, kembalinya Mohammed Kudus dan Dominic Solanke, serta prospek James Maddison, Dejan Kulusevski, dan Xavi Simons yang akan bergabung memberikan secercah harapan. Bahkan Marcos Senesi, finalis Piala Dunia, masih duduk di bangku cadangan.

Mustahil rasanya Tottenham kembali terjerumus ke zona degradasi dengan materi pemain seperti ini. Tetapi seperti yang dialami banyak klub sebelum mereka, Spurs sedang belajar bahwa membeli pemain baru hanyalah bagian yang mudah. Menumbuhkan tulang punggung tim membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, dan di sanalah masalah Tottenham yang sesungguhnya berada.

Kesimpulannya, akar persoalan Tottenham bukan terletak pada minimnya investasi, melainkan pada hilangnya jiwa dan ketahanan mental yang tidak bisa dibeli dengan uang. De Zerbi dan para pemain barunya butuh waktu, tetapi waktu adalah barang mewah yang tidak pernah dimiliki klub yang kecanduan panik. Sampai akar masalah ini dibereskan, Tottenham akan terus menjadi stadion impian bagi tim-tim lain dan kisah menyakitkan bagi pendukungnya sendiri.

Rayan Cherki dan Haaland Brace, Man City Kalahkan Palace

Rayan Cherki tampil memukau saat Manchester City mengalahkan Crystal Palace. Pemain Prancis itu mencetak dua gol, begitu pula Erling Haaland, dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan nyaman untuk tim tamu. Penampilan Cherki menjadi sorotan utama karena aksinya tidak hanya menghasilkan gol, tetapi juga menghidupkan serangan City sepanjang laga.

Kemenangan ini tentu menjadi jawaban penting bagi City setelah kegagalan di Community Shield. Di sisi lain, Crystal Palace justru semakin tenggelam karena belum meraih satu poin pun musim ini. Bagi pelatih Enzo Maresca, hasil ini juga menjadi bukti bahwa transisi permainannya mulai berjalan mulus.

Rayan Cherki: Bintang di Balik Kemenangan City

Cherki sedang dalam performa terbaiknya di tahun kedua berkarier di Inggris. Pekan sebelumnya, ia masuk dari bangku cadangan dan memberikan dua assist saat City membalikkan keadaan melawan Bournemouth. Kali ini, kontribusinya jauh lebih besar karena ia tampil sebagai kreator sekaligus pencetak gol penentu.

Gol pertama Cherki lahir dari aksi individunya yang melewati beberapa pemain Palace, lalu diakhiri sentuhan halus menggunakan kaki kiri bagian luar. Ia bahkan memanfaatkan Takehiro Tomiyasu sebagai tameng, dan bola pun menggelinding pelan melewati garis meski Dean Henderson sudah berusaha menjangkaunya. Gol keduanya datang dari tembakan keras dari jarak 20 yard yang membelok dan mengecoh Henderson.

Meski tampil cemerlang, Cherki tetap rendah hati. Saat menerima pujian setelah laga, ia hanya tersenyum dan menyebut penampilannya di babak pertama “payah”. Namun Maresca berbeda pendapat; pelatih asal Italia itu menilai penampilan Cherki sangat lengkap, bukan hanya karena gol, tetapi juga karena cara dia bekerja tanpa bola.

Haaland Kembali Subur, Foden Ikut Bersinar

Erling Haaland juga menunjukkan ketajamannya dengan mencetak dua gol kontra Palace. Gol pertamanya tercipta pada menit ke-17 melalui sundulan cerdas memanfaatkan umpan silang Antoine Semenyo. Gol keduanya lahir setelah menerima umpan matang dari Phil Foden, dan seperti biasa, Haaland tidak menyia-nyiakan peluang tersebut.

Catatan menarik muncul dari gol-gol Haaland melawan Palace. Penyerang asal Norwegia itu selalu mencetak gol dalam enam laga liga melawan tim asal London tersebut. Dengan performa seperti ini, Haaland kembali menjadi mesin gol utama City musim ini.

Phil Foden juga tampil impresif dan menjadi perhatian Thomas Tuchel yang hadir di stadion. Kombinasi Foden dan Haaland membuat lini serang City semakin tajam. Penampilan kolektif ini pun meyakinkan Maresca bahwa timnya sudah bangkit dari keterpurukan di Community Shield, meski sempat kesulitan di awal laga karena pressing yang salah.

Crystal Palace: Nihil Poin dan Masalah yang Menumpuk

Crystal Palace masih belum menemukan kemenangan di bawah pelatih Pierre Sage. Padahal, dalam dua pertandingan pertamanya, ada tanda-tanda permainan yang cukup positif. Namun menghadapi City, mereka tidak mampu membendung kualitas individu lawan yang jauh lebih unggul.

Masalah Palace semakin pelik karena banyak pemain penting yang tidak tersedia. Jean-Philippe Mateta absen dan dikabarkan bisa menepi hingga empat pekan, sementara Ismaïla Sarr tidak bisa dimainkan karena ingin pindah ke Galatasaray. Daniel Muñoz juga hanya menjadi cadangan di tengah kab

Gol Debut Sávio Bawa Tottenham Lumat Charlton di Carabao Cup

Tottenham Hotspur meraih kemenangan telak 5-1 atas Charlton Athletic di ajang Carabao Cup, dengan gol debut Sávio menjadi puncak dari malam yang nyaris sempurna. Rekrutan anyar seharga £75 juta dari Manchester City itu mencetak gol hanya 11 menit setelah masuk sebagai pemain pengganti. Laga yang digelar di kandang Tottenham itu juga menjadi panggung kebangkitan Spurs setelah awal musim yang buruk.

Kemenangan ini terasa sangat berarti bagi Spurs yang sedang tertekan. Pasukan Roberto De Zerbi baru saja menelan kekalahan memalukan 0-3 dari Brentford, dan hasil positif ini menjadi penawar yang mereka butuhkan. Apalagi musim lalu Tottenham hanya meraih empat kemenangan kandang melawan tim domestik, tiga di antaranya terjadi di Premier League dengan kemenangan atas Everton di hari terakhir yang menyelamatkan mereka dari degradasi.

Jalannya Pertandingan: Dari Kebuntuan Menuju Pesta Gol

Untuk waktu yang cukup lama, laga ini tampak akan menjadi milik Mikey Moore. Pemain berusia 19 tahun asuhan akademi Spurs itu memecah kebuntuan dengan tendangan keras dari tepi kotak penalti yang membuat gawang Charlton bergetar. Kemurnian tembakan kaki kirinya menjadi kunci, dan stadion langsung memberikan tepuk tangan meriah sebagai bentuk penghormatan.

Sebelum gol itu tercipta, Tottenham sebenarnya kesulitan menembus pertahanan rapat tim tamu. Peluang pertama baru hadir ketika tembakan Dominic Solanke diblok, dan Archie Gray melepaskan tembakan rebound yang masih bisa diamankan kiper Tiernan Brooks. Bahkan, Charlton nyaris unggul lebih dulu lewat tembakan Greg Docherty yang ditepis Antonin Kinsky, serta sundulan Nathan Asiimwe yang masih melenceng tipis dari sasaran.

Setelah gol pertama hadir, Spurs meningkatkan tempo permainan secara signifikan. Mateus Fernandes tampil impresif di lini tengah, sementara Solanke akhirnya memperlebar keunggulan dengan penyelesaian klinis ke pojok gawang. Gol itu bermula dari bola liar di kotak penalti akibat keraguan bek Charlton dalam menyapu bola, dan Solanke tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Di babak kedua, Tottenham semakin menggila. Kevin Danso yang masuk sebagai pemain pengganti langsung mencetak gol dengan sundulan pada sentuhan pertamanya, memanfaatkan tendangan bebas Fernandes. Namun, dalam proses mencetak gol tersebut, ia sempat berbenturan dengan pemain pengganti Charlton, Danny McNamara, dan mengalami luka yang membutuhkan perawatan. Sávio yang sudah siap masuk harus bersabar menunggu hingga Danso selesai ditangani.

Gol Debut Sávio, Kilatan yang Mengubah Laga

Momen yang paling dinanti akhirnya tiba ketika Roberto De Zerbi memasukkan Sávio untuk debutnya di laga ini. Penyerang sayap asal Brasil itu langsung membuktikan nilai transfernya dengan gol debut yang memukau hanya 11 menit setelah masuk lapangan. Gol itu tercipta setelah ia meliuk dari sisi kanan, melewati pemain bertahan yang tampak dekat namun tak mampu menjangkaunya, sebelum melepaskan tembakan rendah yang melesat deras ke pojok dekat gawang.

Tidak berhenti di situ, Sávio kembali menjadi mimpi buruk pertahanan Charlton pada serangan berikutnya. Ia menusuk dari sisi kanan, memotong ke dalam, dan melewati lawan-lawannya dengan tenang sebelum melepaskan tembakan yang justru mengenai rekan setimnya, Ben Davies, dan masuk ke gawang. Gol tersebut akhirnya dicatatkan atas nama Davies, yang mengaku sama sekali tidak keberatan dengan kejadian itu.

De Zerbi menyebut malam itu sebagai hari yang sempurna bagi Sávio dan langsung memberikan tantangan besar kepada pemain anyarnya tersebut. “Saya ingin dia mencetak 10 hingga 12 gol sebelum akhir musim,” tegas sang manajer. Target itu terasa realistis mengingat penampilan impresif yang ia tunjukkan hanya dalam beberapa menit di lapangan.

Kemenangan yang Sangat Dibutuhkan Spurs

Awal musim Tottenham berjalan sangat buruk. Kekalahan telak 0-3 dari Brentford di laga pembuka menjadi pukulan berat, dan tanpa sepak bola Eropa musim ini, perjalanan yang baik di kompetisi domestik menjadi prioritas utama. Kemenangan ini menjadi langkah pertama untuk memulai proses pembersihan setelah performa mengecewakan akhir pekan lalu.

Bahkan, musim lalu Spurs hanya mengoleksi empat kemenangan kandang melawan tim domestik. Tiga di antaranya terjadi di Premier League, termasuk kemenangan atas Everton pada hari terakhir yang menyelamatkan mereka dari degradasi. Andai kalah di laga tersebut, pertandingan Carabao Cup melawan Charlton ini akan dimainkan sebagai tim Championship, bukan Premier League.

Menariknya, laga ini juga menjadi ajang kembalinya sejumlah pemain penting. Destiny Udogie, Rodrigo Bentancur, Mateus Fernandes, dan Solanke yang hanya duduk di bangku cadangan saat melawan Brentford langsung dipasang sebagai starter. Sementara itu, Pedro Porro dan Micky van de Ven juga akhirnya mendapatkan menit bermain setelah melewatkan pramusim dan tidak tampil melawan Brentford.

Namun, Marcos Senesi dan Sandro Tonali tidak masuk dalam skuad pada laga ini. Keduanya diharapkan sudah siap tampil saat Tottenham menjamu Newcastle di akhir pekan nanti. Kehadiran mereka akan menambah kekuatan tim di pertandingan-pertandingan berikutnya.

Mikey Moore, Bintang Muda di Tengah Sorotan

Mikey Moore berhasil mencuri perhatian pada awal laga dengan gol pembuka yang spektakuler. Berawal dari pergerakannya masuk ke dalam dari sisi kanan, pemain muda itu melepaskan tendangan kaki kiri yang begitu manis hingga bola menghujam tajam melewati jangkauan kiper. Pemain Charlton yang paling dekat dengannya, Millenic Alli, bahkan sempat tergelincir sebelum tembakan itu dilepaskan.

Moore sendiri baru memiliki satu gol sebelumnya untuk Spurs, yakni ke gawang Elfsborg di Liga Europa pada Januari 2025. Setelah pertandingan tersebut, rekan setimnya James Maddison sempat membandingkannya dengan Neymar. Meski lintasan kariernya tidak setajam yang dibayangkan banyak orang, Moore tetap menjadi talenta muda yang menjanjikan di usianya yang masih 19 tahun.

Pada babak kedua, Moore jelas ingin melakukan lebih banyak hal. Ia tampil percaya diri dengan menggiring bola, sesekali memperlihatkan skill indah dan lari menusuk yang membuat penonton tuan rumah memberi penghormatan. Menariknya, ia disebut-sebut menjadi target peminjaman FC Köln menjelang penutupan bursa transfer, dan De Zerbi mengakui pemain ini membutuhkan menit bermain reguler untuk berkembang.

Liverpool di Anfield: Ujian Besar Berikutnya

Kemenangan ini mengantarkan Tottenham ke putaran berikutnya, dan lawan yang menanti sangat berat, yakni Liverpool di Anfield. Meski demikian, De Zerbi menegaskan timnya tidak gentar menghadapi laga tersebut. “Ini laga yang hebat,” ujarnya. “Jika kami ingin memenangkan kompetisi ini, kami harus bisa memenangkan pertandingan seperti ini.”

Sikap berani itu mencerminkan mentalitas yang ingin dibangun sang manajer di tengah musim yang penuh tantangan. Dengan skuad yang mulai pulih dan Sávio yang tampil menjanjikan, Spurs memiliki modal untuk bersaing di kompetisi ini. Namun, konsistensi tetap menjadi kata kunci bagi klub yang musim lalu nyaris terdegradasi ke Championship.

Adapun Charlton, pelatih Nathan Jones sangat kecewa dengan hasil ini. “Benar-benar sebuah bencana,” katanya menyesali kekalahan tersebut. “Ini pertandingan yang sebenarnya tidak kami butuhkan.” Jones melakukan rotasi besar-besaran dengan mengganti 10 pemain dari susunan yang tampil saat mengalahkan West Ham, dan hasilnya timnya tampil kewalahan. Hiburan kecil bagi Charlton datang lewat gol Lloyd Jones yang menyundul bola dari sepak pojok di penghujung laga.

Malam di kandang Tottenham itu meninggalkan banyak cerita positif bagi tuan rumah. Ada gol debut Sávio yang menggiurkan, kembalinya para pemain inti, serta kepercayaan diri yang kembali tumbuh setelah awal musim yang buruk. Meskipun tugas berat melawan Liverpool sudah menanti, Spurs kini tahu bahwa mereka memiliki senjata baru yang siap memberikan kejutan.

Bagi Sávio, ini baru permulaan. Tantangan 10 hingga 12 gol dari De Zerbi akan menjadi tolak ukur adaptasinya di sepak bola Inggris. Jika penampilan debutnya menjadi indikasi, para penggemar Tottenham berhak bermimpi sedikit lebih besar pada musim ini.

Celtic Tersingkir dari Liga Champions Usai Dibantai Lask 1-5

Celtic tersingkir dari Liga Champions untuk tahun kedua beruntun setelah membuang keunggulan agregat empat gol saat melawan Lask di Austria. Juara Skotlandia itu dibantai tuan rumah dengan skor 1-5 di Linz, sebuah hasil yang tercatat sebagai salah satu malam terburuk dalam sejarah Eropa mereka. Hasil ini sekaligus memupus harapan Celtic untuk tampil di fase liga musim ini.

Padahal, Celtic sempat berada di ambang lolos ketika Callum McGregor membawa timnya unggul agregat 4-0 pada menit ke-21 lewat tembakan yang membelok. Namun, laga berubah total setelah itu dan kekalahan ini diperkirakan menjadi pukulan finansial senilai lebih dari £20 juta bagi klub asal Glasgow tersebut. Dari posisi yang nyaris aman, Celtic justru keluar dengan tangan hampa dan harus puas turun ke Liga Europa.

Kronologi Kekalahan Celtic dari Lask di Linz

Celtic sejatinya punya peluang untuk menambah keunggulan di babak pertama. Mika Baur nyaris mencetak gol saat tembakannya melenceng tipis, sementara Kasper Høgh memaksa kiper Lask melakukan beberapa penyelamatan dari peluang yang cukup bagus. McGregor membuka keunggulan di sela-sela peluang tersebut ketika ia melepaskan tembakan langsung yang membelok setelah Yang Hyun-jun bermain satu-dua dengan Kieran Tierney.

Tuan rumah sempat menekan sebelum gol McGregor tercipta, dan akhirnya mereka menemukan jalan kembali ke pertandingan. Pada menit ke-32, Moses Usor memanfaatkan umpan ceroboh dari Benjamin Nygren untuk menyamakan kedudukan di laga tersebut. Gol itu memberi nyawa bagi Lask dan membuat atmosfer di Linz semakin panas menjelang turun minum.

Memasuki babak kedua, keadaan justru semakin buruk bagi Celtic. Robert Ljubicic dan Samuel Adeniran masing-masing mencetak gol dari luar kotak penalti, membuat Lask unggul 3-1 di laga tersebut dan agregat menyempit menjadi 4-3. Celtic mencoba bertahan, tetapi Florian Flecker menyundul bola dari jarak dekat di masa injury time untuk memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu selama 30 menit.

Runtuhnya Pertahanan Celtic di Babak Kedua

Celtic kehilangan daya serang mereka sejak babak kedua dimulai, dan lini pertahanan mereka kewalahan menghadapi tekanan Lask yang terus meningkat. Ljubicic membobol gawang Celtic lewat tembakan keras dari jarak 20 yard setelah Usor mengalahkan Auston Trusty dalam duel fisik dan mengirim bola ke dalam. Selang beberapa menit, Adeniran memperbesar keunggulan Lask dengan gol melengkung indah ke pojok atas gawang dari jarak 25 yard pada menit ke-58.

Kiper Viljami Sinisalo sempat menjadi penyelamat Celtic dengan sejumlah aksi gemilang. Ia melakukan penyelamatan penting dari tembakan Sascha Horvath setelah beberapa peluang Lask melesat melewati gawangnya. Tornich juga nyaris mencetak gol saat sundulannya melenceng tipis, sementara Adeniran sempat menghantam sisi bawah mistar gawang.

Martin O’Neill bahkan memasang empat bek tengah sekaligus—Liam Scales dan Dane Murray masuk untuk menemani Trusty dan Cameron Carter-Vickers—demi bertahan mati-matian. Sayangnya, Carter-Vickers harus berjuang dengan kram, sementara Luke McCowan, Reo Hatate, dan Sebastian Tounekti yang dimasukkan dari bangku cadangan tidak mampu mengubah arah permainan. Sinisalo kembali menggagalkan sundulan Tornich di masa injury time, tetapi Flecker memanfaatkan bola rebound untuk mencetak gol penyama agregat, dan Anthony Ralston sempat menggantikan Carter-Vickers di awal perpanjangan waktu.

Dampak Finansial Celtic Tersingkir dari Liga Champions

Kegagalan ini menjadi tamparan berat bagi Celtic, baik secara sportif maupun finansial. Gagal menembus fase liga Liga Champions berarti klub kehilangan pendapatan yang diperkirakan mencapai lebih dari £20 juta. Ini merupakan kegagalan kedua berturut-turut di babak playoff kualifikasi, setelah musim lalu Celtic tersingkir melalui adu penalti melawan Kairat Almaty.

Keputusan klub menjadi sorotan tajam dari para penggemar. Musim lalu, Celtic dianggap gagal mendatangkan striker yang sudah terbukti kualitasnya, dan kali ini publik mempertanyakan kebijakan menjual Arne Engels tepat sebelum leg pertama. Kehilangan kendali di lini tengah saat melawan Lask menjadi bukti nyata bahwa masalah tersebut belum juga teratasi.

Padahal, kualitas penyelesaian akhir menjadi pembeda saat Celtic menang di leg pertama di Glasgow. Namun, Lask sebenarnya menciptakan banyak peluang sepanjang dua leg dan terus berkembang di leg kedua. Celtic gagal belajar dari ancaman yang sudah terlihat sejak awal, dan akhirnya mereka membayar mahal atas kecerobohan tersebut.

Evaluasi dan Tantangan Celtic Setelah Tersingkir

Dengan kekalahan ini, Celtic harus turun kasta ke Liga Europa, sebuah kenyataan pahit bagi tim yang sempat unggul agregat 4-0. Adeniran memastikan kekalahan telak tersebut dengan tembakan dari jarak 25 yard lima menit sebelum laga perpanjangan waktu berakhir, setelah ia merebut bola dari McCowan. Sinisalo sempat menggagalkan penalti Adeniran yang ingin mencetak hat-trick, tetapi itu tidak mengubah nasib Celtic pada malam itu.

Kegagalan ini juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi Celtic di pentas Eropa. Dua musim beruntun gagal di babak playoff kualifikasi Liga Champions tentu menjadi bahan evaluasi besar, terutama dalam hal strategi transfer dan kedalaman skuad. Lask layak mendapat pujian atas kebangkitan luar biasa mereka, tetapi bagi Celtic ini adalah peringatan keras yang tidak bisa diabaikan.

Ke depan, Celtic harus segera bangkit dan fokus pada kompetisi domestik serta Liga Europa. Evaluasi menyeluruh terhadap komposisi tim, kebijakan transfer, dan ketahanan mental para pemain menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Jika tidak, mimpi untuk kembali tampil di Liga Champions akan semakin sulit diwujudkan pada musim-musim berikutnya.

Kekalahan telak dari Lask akan dikenang sebagai salah satu kegagalan terbesar Celtic di Eropa. Dari keunggulan agregat 4-0 yang nyaris mustahil hilang, Celtic justru membuang semuanya dalam satu malam yang menghancurkan. Pelajaran berharga ini harus segera dipetik jika Celtic ingin kembali bersaing di level tertinggi benua Eropa.