Manchester United vs Sabah: Menang 4-0 di Liga Champions

Manchester United membuka kiprah mereka di Liga Champions setelah dua tahun absen dengan kemenangan tegas 4-0 atas Sabah di Old Trafford. Matheus Cunha memecah kebuntuan di pertengahan babak pertama, lalu Bruno Fernandes dan Benjamin Sesko memastikan keunggulan tiga gol sebelum turun minum, dan Lisandro Martínez menutup pesta gol di akhir laga. Bagi manajer Michael Carrick, duel Manchester United vs Sabah ini berjalan tanpa guncangan sama sekali.

Hasil ini terasa melegakan karena United baru saja menyerahkan dua poin di menit-menit akhir saat bermain imbang melawan Everton di Premier League pada Minggu. Tim ini butuh sesuatu untuk menenangkan diri, terutama karena laga besar sudah menanti: derby melawan Manchester City pada Minggu berikutnya. Sabah sendiri datang membawa cerita yang luar biasa, sehingga malam itu mempertemukan dua hal sekaligus — romantisme sepak bola dan kenyataan yang keras.

Jalannya Laga Manchester United vs Sabah

United memulai pertandingan dengan tempo yang perlahan menghangat sebelum akhirnya menyala. Gol pembuka lahir dari usaha Fernandes mengejar bola panjang ke atas yang tampak sudah hilang, namun ia berhasil menjaga bola tetap hidup. Setelah Sabah kehilangan bola dengan mudah kepada Bryan Mbeumo, United bergerak cepat ke sisi kiri, umpan silang Patrick Dorgu diselesaikan Cunha dengan penyelesaian yang bersih.

Sabah bukan tim yang datang untuk bertahan. Mereka menurunkan formasi 4-3-3 dan berani mengajukan pertanyaan kepada lini belakang United yang terlihat belum sepenuhnya solid. Peluang emas mereka datang pada menit ke-35 ketika umpan silang Kaheem Parris ke tiang jauh disambut sundulan Joy-Lance Mickels yang sudah lepas dari Noussair Mazraoui, tetapi bola melebar. Sudut memang tidak menguntungkan bagi Mickels, meski itu tidak sepenuhnya menjadi alasan.

Skor babak pertama terasa terlalu keras bagi Sabah, karena mereka sebenarnya ikut bermain dan menciptakan peluang. Akan tetapi, dua pukulan beruntun di penghujung babak pertama mengubah segalanya. Fernandes — lagi-lagi dia — menyelesaikan dengan sisi kaki setelah Youri Tielemans menerobos dari umpan Cunha ke dalam kotak penalti, berputar, lalu menyodorkan bola. Gol ketiga berawal dari umpan langsung Fernandes kepada Mbeumo, yang melepaskan Sesko; dengan garis belakang Sabah terlalu tinggi, Sesko melewati kiper dan tidak tampak akan gagal.

Sabah: Debutan Liga Champions dengan Kisah Luar Biasa

Laga ini punya nuansa romantis karena Sabah menjalani debut di Liga Champions di Old Trafford. Klub ini bahkan belum ada satu dekade lalu, dan tidak ada yang menduga mereka bisa menjuarai Liga Azerbaijan musim lalu. Sebelumnya, pada 2024-25, mereka finis 41 poin di bawah pemuncak klasemen, sehingga lonjakan mereka ke tangga juara benar-benar di luar perkiraan.

Pekerjaan yang dilakukan manajer Valdas Dambrauskas sejak mengambil alih pada musim panas tahun lalu tergolong istimewa. Ia membawa tim dengan latar belakang sederhana ini ke panggung paling bergengsi di Eropa. Sembilan puluh menit sebelum kick-off, sebagian pemain Sabah berjalan-jalan di lapangan yang masih hampir kosong, mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan ketenangan sebelum badai dan besarnya skala Old Trafford. Mereka tersenyum lebar dan bertekad tidak terpukau oleh suasana.

Performa gelandang tengah Ivan Lepinjica memberi kesan tersendiri, terutama dalam membawa bola dari lini kedua. Namun, masalah utama Sabah sepanjang laga adalah kelonggaran mereka di area pertahanan sendiri. Berani bermain menyerang memang memberi mereka kehormatan, tetapi juga membuka ruang yang dihukum tanpa ampun oleh tuan rumah.

Bayang-Bayang Kampanye 2023-24

Kembalinya United ke kompetisi elite Eropa tidak bisa dilepaskan dari memori buruk dua tahun lalu. Pada 2023-24, saat Erik ten Hag masih menjadi manajer, United mengakhiri fase grup di dasar klasemen dengan hanya empat poin. Kampanye itu dibuka dan ditutup dengan kekalahan dari Bayern Munich, dan yang paling membuat banyak orang masih bergidik adalah apa yang terjadi di antara kedua laga tersebut.

Menghadapi Galatasaray dan Copenhagen, United berulang kali kehilangan kendali ketika sudah memimpin. Tim ini panik tak terkendali, sementara kesalahan di lini belakang datang bertumpuk-tumpuk dalam waktu singkat. Karena itulah kemenangan bersih atas Sabah punya makna lebih dari sekadar tiga poin bagi Carrick dan para pemainnya.

Perbandingannya cukup jelas: dulu United rapuh saat unggul, kini mereka menutup laga tanpa gol balasan. Carrick juga tidak mengambil risiko besar dengan susunan pemainnya, memilih melakukan rotasi seminimal mungkin di lini tengah dan lini depan. Dampaknya terlihat pada stabilitas permainan yang jauh lebih terjaga dari awal hingga akhir.

Rotasi Carrick dan Sinyal Menuju Derby Manchester

Carrick memberikan start pertama musim ini kepada Sesko di posisi nomor 9, sementara lini tengah dan depan nyaris tidak diubah. Pilihan itu mudah dibaca sebagai upaya memantapkan pasangan Youri Tielemans dan Kobbie Mainoo di jantung permainan sebelum menghadapi Manchester City. Fernandes tetap menjadi penggerak utama, dengan pergerakan cerdas, umpan-umpan tajam, dan penyamaran arah passing yang menyulitkan lawan.

Pada babak kedua, Mason Mount masuk menggantikan Tielemans untuk penampilan pertamanya musim ini. “Senang rasanya bisa mengembalikan Mason ke lapangan,” ujar Carrick setelah pertandingan. Penampilan Tielemans sendiri layak diapresiasi karena memberi pengaruh nyata dalam terciptanya gol kedua.

Carrick juga menarik keluar sejumlah pemain yang kemungkinan besar akan menjadi starter melawan City, termasuk Mainoo dan Sesko pada menit ke-64. Sesko meninggalkan lapangan dengan tepuk tangan hangat dari penonton, apalagi setelah ia mencetak gol ke gawang Everton pada Minggu. Pertanyaannya sekarang, apakah penampilan itu sudah cukup membuatnya masuk starting XI di derby?

“Kami selalu menuntut lebih. Dari sisi hasil, ini belum jadi awal yang kami inginkan, tetapi dari sisi performa ada banyak hal yang kami cari,” kata Carrick. “Clean sheet malam ini penting. Secara kolektif sebagai tim kami sudah melakukan banyak hal baik dan itulah kenapa kami bersemangat menyambut musim ini.”

Gaya Pass-and-Move Carrick Sedang Diuji

United mengendalikan babak kedua dengan nyaman dan ancaman terhadap mereka sudah lama hilang. Mainoo dan Fernandes terus terlibat dalam aliran bola, dan ketika permainan umpan-lalu-bergerak ala Carrick berjalan mulus, kemungkinan besar yang bisa diraih tim ini terasa nyata. Tantangan sesungguhnya adalah menerapkan pola itu secara konsisten melawan tim-tim besar, dan ujian pertamanya adalah City.

Gol keempat menjadi gambaran sempurna kesulitan Sabah di sepertiga akhir pertahanan mereka. Fernandes mengangkat bola dari tendangan bebas untuk Joshua Zirkzee yang masuk sebagai pengganti, dan ketika penyelesaian tumitnya mengenai Aden McCarthy, kiper Sabah, Stas Pokatilov, kehilangan arah sehingga bola tersangkut di kakinya. Martínez hanya perlu menyonteknya masuk.

Sabah nyaris mendapat gol penghiburan ketika pemain pengganti Orphé Mbina menyundul bola tinggi di akhir laga, tetapi gol dongeng itu tidak pernah datang. Kekalahan 0-4 memang berat, namun penampilan mereka di babak pertama memberi gambaran bahwa keberanian bermain bisa menjadi modal berharga di laga-laga berikutnya.

Kesimpulan

Kemenangan 4-0 atas Sabah membuat United memulai kiprah Liga Champions tanpa keraguan dan tanpa guncangan yang pernah menghantui mereka. Cunha, Fernandes, Sesko, dan Martínez berbagi peran dalam pesta gol yang menutup malam di Old Trafford, sementara clean sheet menjadi nilai tambah yang disebut langsung oleh Carrick. Untuk sementara, misi pertama sudah tuntas.

Namun, ukuran sebenarnya dari kemajuan United tidak ditentukan oleh laga melawan debutan. Derby melawan Manchester City pada Minggu akan menunjukkan apakah gaya pass-and-move Carrick sudah cukup matang untuk diandalkan di pertandingan besar. Sabah pulang dengan pelajaran keras, sementara United berjalan menuju ujian sesungguhnya dengan modal kepercayaan diri.