Belanja Besar Tak Sembuhkan Masalah Tottenham: Kurang Jiwa

Masalah Tottenham Hotspur sejatinya tidak pernah berubah: berapa pun uang yang dikeluarkan, klub ini tetap kehilangan jiwa dan tulang punggung. Kekalahan dari Newcastle United menjadi bukti terbaru bahwa belanja besar-besaran tidak otomatis menyembuhkan penyakit kronis yang sudah mendarah daging. Tottenham memang punya pelatih baru, struktur kepemimpinan baru, dan lebih dari sepertiga miliar poundsterling untuk belanja pemain, tetapi hasilnya tetap sama: rapuh saat tekanan datang.

Soccer Football – Premier League – Brentford v Tottenham Hotspur – GTech Community Stadium, London, Britain – August 22, 2026 Tottenham Hotspur’s Sandro Tonali looks dejected after the match Action Images via Reuters/Matthew Childs EDITORIAL USE ONLY. NO USE WITH UNAUTHORIZED AUDIO, VIDEO, DATA, FIXTURE LISTS, CLUB/LEAGUE LOGOS OR ‘LIVE’ SERVICES. ONLINE IN-MATCH USE LIMITED TO 120 IMAGES, NO VIDEO EMULATION. NO USE IN BETTING, GAMES OR SINGLE CLUB/LEAGUE/PLAYER PUBLICATIONS. PLEASE CONTACT YOUR ACCOUNT REPRESENTATIVE FOR FURTHER DETAILS..

Sebenarnya, pertanyaan apakah Tottenham mulai panik adalah pertanyaan jebakan yang tidak perlu dijawab. Tottenham termasuk klub yang tidak pernah benar-benar berhenti panik: mereka panik ketika kebobolan, panik ketika mencetak gol, panik saat menguasai bola, dan panik ketika lawan yang memegang kendali permainan. Pelatih Roberto De Zerbi bahkan memiliki ekspresi wajah yang selalu tampak siaga, seperti seseorang yang terus-menerus dikejutkan oleh keadaan di sekelilingnya. Pernah juga mereka panik sedemikian rupa sampai akhirnya lolos ke Liga Europa. Bagi penggemar Spurs yang sudah terbiasa gelisah, klub ini bukanlah kebanggaan yang menenangkan, melainkan semacam teror yang menemani seumur hidup.

Fakta Kekalahan: Newcastle Memangsa Kegugupan Tottenham

Gol Anthony Elanga lahir dari umpan panjang Nico González yang tidak ditekan, sundulan Amar Dedic yang kurang sempurna, lalu satu putaran badan dan penyelesaian dingin. Tiga kejadian sederhana yang beruntun, dan setidaknya dua di antaranya seharusnya bisa dicegah oleh lini belakang Tottenham. Tidak ada blunder besar atau momen mengejutkan di sini — hanya serangkaian duel yang kalah, akumulasi kelemahan kecil, dan tim yang belum benar-benar menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh.

Newcastle, tim yang hanya mencatat satu clean sheet dalam 18 laga terakhir, justru tampil rapat dan sabar. Mereka menunggu kereta yang selalu datang, karena melawan Tottenham, tekanan pada akhirnya akan membuahkan hasil. Yoane Wissa pun menutup laga dengan gol penentu yang tidak mengejutkan siapa pun, mengingat betapa mudahnya Spurs kecolongan di momen-momen penting.

Ironisnya, kegagalan ini terjadi di kandang sendiri. Tottenham Hotspur Stadium yang megah bahkan belum memiliki hak penamaan karena hampir setiap tim tamu merasa berhak “memiliki” tempat tersebut. Dalam 12 bulan terakhir, Aston Villa memenangi dua laga domestik di stadion ini — jumlah yang sama dengan kemenangan Tottenham sendiri di sana. Pasukan Unai Emery bahkan berpeluang kembali unggul di stadion ini dalam tiga pekan ke depan.

Belanja Besar Tak Menyembuhkan Sindrom “Long Tottenham”

Ada semacam penyakit bawaan yang oleh banyak pengamat disebut “Long Tottenham”, dan hingga kini belum ditemukan obatnya. Sejak mengalahkan Aston Villa 4-1 pada penghujung 2024, Spurs telah tertinggal lebih dulu sebanyak 44 kali di semua kompetisi dan tidak pernah sekali pun berhasil membalikkan keadaan menjadi kemenangan. Angka itu menunjukkan bahwa persoalan ini bukan soal kualitas pemain, melainkan soal karakter tim yang runtuh ketika tertinggal.

Pelatih baru Roberto De Zerbi, struktur kepemimpinan anyar, dan lebih dari sepertiga miliar poundsterling yang dibelanjakan untuk transfer tetap tidak membawa perubahan berarti. De Zerbi datang dengan reputasi sepak bola menyerang, tetapi raut wajahnya justru menggambarkan keadaan darurat yang permanen. Para penggemar yang setia bertahun-tahun hanya bisa menyaksikan pola kegagalan yang sama berulang terus-menerus.

Budaya vs Komersial: Pelajaran Berharga dari Newcastle

Di tengah kekalahan ini, ada simbolisme yang menenangkan sekaligus menyakitkan: pelajaran tentang nilai budaya yang bertahan di atas komersialitas. Newcastle kehilangan separuh timnya tetapi tetap mempertahankan jiwa mereka; Tottenham membeli separuh tim baru dan masih saja mencari jati diri. Matthias Jaissle berhasil meracik tim Newcastle yang unggul dalam duel dan bola kedua, dua hal yang sama sekali tidak dimiliki Spurs.

Beberapa pemain Tottenham sebenarnya tampil baik di laga ini. Sandro Tonali, yang tentu saja tidak luput dari cemoohan, justru bermain apik — termasuk salah satu dari sedikit pemain Spurs yang benar-benar menghargai bola dan mencoba melakukan hal-hal menarik dengannya. Mateus Fernandes tampil lincah, elegan, dan sangat baik, sementara Omar Marmoush yang menjalani debut terlihat bugar dan tajam. Sayangnya, kualitas individu tidak pernah menjadi akar persoalan klub ini.

Akar Masalah Tottenham: Hal-Hal Kecil dan Trauma Kolektif

Masalah Tottenham sebenarnya tidak sulit dikenali jika diperhatikan dari detail-detail kecil di lapangan. Momentum yang baru saja terbangun sering kali langsung padam karena satu dua sentuhan yang salah. Ketika duel terjadi, terlalu banyak pemain yang memilih mundur alih-alih berani bertarung. Kekalahan dari Newcastle memperlihatkan semua gejala itu secara gamblang.

Secara lebih luas, kelemahan tersebut muncul dalam berbagai bentuk:

  • sundulan yang kalah dalam duel udara;
  • jeda sesaat di atas bola yang membunuh momentum serangan;
  • tembakan tergesa-gesa tanpa pengaturan;
  • sentuhan ekstra yang tidak perlu;
  • tekel yang tidak tuntas dan setengah hati.

Semua itu adalah tanda kelembutan yang mengakar jauh di dalam tim. Pemain-pemain veteran dari musim 2024-25, ketika skuat tipis dipaksa bermain melampaui batas kewajaran dan kesehatan mental, masih menyimpan trauma kolektif. Archie Gray, Micky van de Ven, Destiny Udogie, dan Rodrigo Bentancur kerap terlihat menahan diri dalam duel fisik 50-50, seolah-olah belum sepenuhnya percaya pada tubuh mereka sendiri.

Lawan-lawan Tottenham jelas membaca kerentanan ini. Saat ini sudah ada cetak biru untuk mengalahkan Spurs: bertarung sejak menit pertama, melakukan hal-hal sederhana dengan baik, dan terus menekan sampai mereka bermain di bawah kendali lawan. Newcastle membuktikan resep itu berhasil, dan tim-tim lain pasti akan meniru pola yang sama.

Dampak ke Depan: Seberapa Dalam Tottenham Akan Terpuruk?

Pertanyaan yang kini menggantung adalah seberapa buruk kondisi ini sebelum akhirnya membaik. Apakah dua kekalahan akan berubah menjadi empat atau enam? Apakah pada bulan November nanti pencetak gol terbanyak Spurs masih Richarlison dengan dua gol? Klub yang secara medis begitu kecanduan panik ini tentu akan sulit menghindari kekacauan jika hasil buruk terus berlanjut.

Namun, di balik semua kekacauan itu, Tottenham sebenarnya menyimpan talenta kreatif yang luar biasa. Kedatangan Marmoush dan Sávio, lini tengah baru, kembalinya Mohammed Kudus dan Dominic Solanke, serta prospek James Maddison, Dejan Kulusevski, dan Xavi Simons yang akan bergabung memberikan secercah harapan. Bahkan Marcos Senesi, finalis Piala Dunia, masih duduk di bangku cadangan.

Mustahil rasanya Tottenham kembali terjerumus ke zona degradasi dengan materi pemain seperti ini. Tetapi seperti yang dialami banyak klub sebelum mereka, Spurs sedang belajar bahwa membeli pemain baru hanyalah bagian yang mudah. Menumbuhkan tulang punggung tim membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, dan di sanalah masalah Tottenham yang sesungguhnya berada.

Kesimpulannya, akar persoalan Tottenham bukan terletak pada minimnya investasi, melainkan pada hilangnya jiwa dan ketahanan mental yang tidak bisa dibeli dengan uang. De Zerbi dan para pemain barunya butuh waktu, tetapi waktu adalah barang mewah yang tidak pernah dimiliki klub yang kecanduan panik. Sampai akar masalah ini dibereskan, Tottenham akan terus menjadi stadion impian bagi tim-tim lain dan kisah menyakitkan bagi pendukungnya sendiri.