Celtic tersingkir dari Liga Champions untuk tahun kedua beruntun setelah membuang keunggulan agregat empat gol saat melawan Lask di Austria. Juara Skotlandia itu dibantai tuan rumah dengan skor 1-5 di Linz, sebuah hasil yang tercatat sebagai salah satu malam terburuk dalam sejarah Eropa mereka. Hasil ini sekaligus memupus harapan Celtic untuk tampil di fase liga musim ini.
Padahal, Celtic sempat berada di ambang lolos ketika Callum McGregor membawa timnya unggul agregat 4-0 pada menit ke-21 lewat tembakan yang membelok. Namun, laga berubah total setelah itu dan kekalahan ini diperkirakan menjadi pukulan finansial senilai lebih dari £20 juta bagi klub asal Glasgow tersebut. Dari posisi yang nyaris aman, Celtic justru keluar dengan tangan hampa dan harus puas turun ke Liga Europa.
Kronologi Kekalahan Celtic dari Lask di Linz
Celtic sejatinya punya peluang untuk menambah keunggulan di babak pertama. Mika Baur nyaris mencetak gol saat tembakannya melenceng tipis, sementara Kasper Høgh memaksa kiper Lask melakukan beberapa penyelamatan dari peluang yang cukup bagus. McGregor membuka keunggulan di sela-sela peluang tersebut ketika ia melepaskan tembakan langsung yang membelok setelah Yang Hyun-jun bermain satu-dua dengan Kieran Tierney.
Tuan rumah sempat menekan sebelum gol McGregor tercipta, dan akhirnya mereka menemukan jalan kembali ke pertandingan. Pada menit ke-32, Moses Usor memanfaatkan umpan ceroboh dari Benjamin Nygren untuk menyamakan kedudukan di laga tersebut. Gol itu memberi nyawa bagi Lask dan membuat atmosfer di Linz semakin panas menjelang turun minum.
Memasuki babak kedua, keadaan justru semakin buruk bagi Celtic. Robert Ljubicic dan Samuel Adeniran masing-masing mencetak gol dari luar kotak penalti, membuat Lask unggul 3-1 di laga tersebut dan agregat menyempit menjadi 4-3. Celtic mencoba bertahan, tetapi Florian Flecker menyundul bola dari jarak dekat di masa injury time untuk memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu selama 30 menit.
Runtuhnya Pertahanan Celtic di Babak Kedua
Celtic kehilangan daya serang mereka sejak babak kedua dimulai, dan lini pertahanan mereka kewalahan menghadapi tekanan Lask yang terus meningkat. Ljubicic membobol gawang Celtic lewat tembakan keras dari jarak 20 yard setelah Usor mengalahkan Auston Trusty dalam duel fisik dan mengirim bola ke dalam. Selang beberapa menit, Adeniran memperbesar keunggulan Lask dengan gol melengkung indah ke pojok atas gawang dari jarak 25 yard pada menit ke-58.
Kiper Viljami Sinisalo sempat menjadi penyelamat Celtic dengan sejumlah aksi gemilang. Ia melakukan penyelamatan penting dari tembakan Sascha Horvath setelah beberapa peluang Lask melesat melewati gawangnya. Tornich juga nyaris mencetak gol saat sundulannya melenceng tipis, sementara Adeniran sempat menghantam sisi bawah mistar gawang.
Martin O’Neill bahkan memasang empat bek tengah sekaligus—Liam Scales dan Dane Murray masuk untuk menemani Trusty dan Cameron Carter-Vickers—demi bertahan mati-matian. Sayangnya, Carter-Vickers harus berjuang dengan kram, sementara Luke McCowan, Reo Hatate, dan Sebastian Tounekti yang dimasukkan dari bangku cadangan tidak mampu mengubah arah permainan. Sinisalo kembali menggagalkan sundulan Tornich di masa injury time, tetapi Flecker memanfaatkan bola rebound untuk mencetak gol penyama agregat, dan Anthony Ralston sempat menggantikan Carter-Vickers di awal perpanjangan waktu.
Dampak Finansial Celtic Tersingkir dari Liga Champions
Kegagalan ini menjadi tamparan berat bagi Celtic, baik secara sportif maupun finansial. Gagal menembus fase liga Liga Champions berarti klub kehilangan pendapatan yang diperkirakan mencapai lebih dari £20 juta. Ini merupakan kegagalan kedua berturut-turut di babak playoff kualifikasi, setelah musim lalu Celtic tersingkir melalui adu penalti melawan Kairat Almaty.
Keputusan klub menjadi sorotan tajam dari para penggemar. Musim lalu, Celtic dianggap gagal mendatangkan striker yang sudah terbukti kualitasnya, dan kali ini publik mempertanyakan kebijakan menjual Arne Engels tepat sebelum leg pertama. Kehilangan kendali di lini tengah saat melawan Lask menjadi bukti nyata bahwa masalah tersebut belum juga teratasi.
Padahal, kualitas penyelesaian akhir menjadi pembeda saat Celtic menang di leg pertama di Glasgow. Namun, Lask sebenarnya menciptakan banyak peluang sepanjang dua leg dan terus berkembang di leg kedua. Celtic gagal belajar dari ancaman yang sudah terlihat sejak awal, dan akhirnya mereka membayar mahal atas kecerobohan tersebut.
Evaluasi dan Tantangan Celtic Setelah Tersingkir
Dengan kekalahan ini, Celtic harus turun kasta ke Liga Europa, sebuah kenyataan pahit bagi tim yang sempat unggul agregat 4-0. Adeniran memastikan kekalahan telak tersebut dengan tembakan dari jarak 25 yard lima menit sebelum laga perpanjangan waktu berakhir, setelah ia merebut bola dari McCowan. Sinisalo sempat menggagalkan penalti Adeniran yang ingin mencetak hat-trick, tetapi itu tidak mengubah nasib Celtic pada malam itu.
Kegagalan ini juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi Celtic di pentas Eropa. Dua musim beruntun gagal di babak playoff kualifikasi Liga Champions tentu menjadi bahan evaluasi besar, terutama dalam hal strategi transfer dan kedalaman skuad. Lask layak mendapat pujian atas kebangkitan luar biasa mereka, tetapi bagi Celtic ini adalah peringatan keras yang tidak bisa diabaikan.
Ke depan, Celtic harus segera bangkit dan fokus pada kompetisi domestik serta Liga Europa. Evaluasi menyeluruh terhadap komposisi tim, kebijakan transfer, dan ketahanan mental para pemain menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Jika tidak, mimpi untuk kembali tampil di Liga Champions akan semakin sulit diwujudkan pada musim-musim berikutnya.
Kekalahan telak dari Lask akan dikenang sebagai salah satu kegagalan terbesar Celtic di Eropa. Dari keunggulan agregat 4-0 yang nyaris mustahil hilang, Celtic justru membuang semuanya dalam satu malam yang menghancurkan. Pelajaran berharga ini harus segera dipetik jika Celtic ingin kembali bersaing di level tertinggi benua Eropa.
