Lima Wakil Presiden FIFA Desak Gianni Infantino Mundur

Sandor Csanyi, Ketua Federasi Sepak Bola Hongaria sekaligus salah satu wakil presiden FIFA, secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Gianni Infantino. Dalam surat yang dikirim pada Selasa dan pertama kali diperoleh kantor berita Agence France-Presse (AFP), Csanyi mengkritik “penilaian profesional, standar etika, dan kepemimpinan” presiden FIFA tersebut. Ia bahkan menyebut pemecatan Kevin Lamour, chief operating officer (COO) FIFA, sebagai “pukulan terakhir” yang memicu sikapnya.

Langkah Csanyi ini bukan sekadar protes pribadi. Ia tercatat sebagai wakil presiden FIFA kelima dari total delapan wakil presiden yang kini mendesak Infantino mundur. Kondisi ini memperlihatkan semakin menipisnya dukungan terhadap kepemimpinan Infantino di tubuh organisasi sepak bola dunia.

Isi Surat Csanyi: Kritik Tajam untuk Kepemimpinan Infantino

Dalam suratnya, Csanyi menegaskan bahwa ia telah kehilangan keyakinan yang sebelumnya ia berikan kepada Infantino. “Keyakinan saya bahwa Anda mampu terus memimpin FIFA secara sukses dan efektif sesuai dengan nilai-nilai bersama yang sebelumnya menjadi dasar kerja sama kita telah terkikis,” tulis Csanyi. Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap sejumlah keputusan yang diambil presiden FIFA dalam beberapa bulan terakhir.

Csanyi menggambarkan pemecatan Kevin Lamour sebagai “final straw” atau puncak dari seluruh kekecewaannya. Baginya, pemberhentian Lamour merupakan keputusan yang tidak terduga dan sulit diterima. Surat itu sekaligus menjadi sinyal bahwa kesabaran para petinggi sepak bola dunia terhadap Infantino semakin menipis.

Kevin Lamour dan Kontroversi di Balik Pemecatannya

Kevin Lamour resmi dipecat FIFA pada Senin, sehari sebelum surat Csanyi dikirim. Pemecatan ini terjadi setelah Lamour memutuskan keluar dari barisan pada bulan lalu dengan mengkritik Infantino. Kritik tersebut menyasar rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta yang akhirnya dibatalkan.

Selain kasus Lamour, surat Csanyi juga menyoroti sejumlah keputusan kontroversial di Piala Dunia tahun ini. Csanyi mengangkat persoalan rencana outsourcing kompetisi FIFA yang disebut-sebut akan menyerahkan berbagai turnamen kepada pihak eksternal. Ia menilai langkah-langkah semacam ini mengancam tata kelola dan independensi FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia.

Daftar Wakil Presiden FIFA yang Menentang Infantino

Csanyi bergabung dengan sederet nama besar yang sebelumnya lebih dulu menyatakan sikap menentang Infantino. Mereka adalah Aleksander Ceferin, presiden UEFA; Victor Montagliani dari Concacaf, konfederasi sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia; serta Sheikh Salman bin Ebrahim al Khalifa dari Konfederasi Sepak Bola Asia. Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris, Debbie Hewitt, juga telah menyampaikan posisi serupa terhadap kepemimpinan Infantino.

Di sisi lain, masih ada tiga wakil presiden FIFA yang tetap mendukung Infantino. Mereka adalah Alejandro Domínguez dari Conmebol Amerika Selatan, Patrick Motsepe dari Konfederasi Sepak Bola Afrika, dan Lambert Maltock dari Oseania. Dengan komposisi ini, Infantino kini kehilangan dukungan dari mayoritas wakil presidennya di FIFA.

Posisi Infantino di FIFA Council Kian Rapuh

Csanyi juga merupakan anggota FIFA Council yang beranggotakan 37 orang. Dewan ini secara teoretis menjadi badan pengambil keputusan utama FIFA, tetapi nyatanya kerap diabaikan oleh Infantino dalam berbagai kebijakan. Kritik dari internal dewan seperti yang dilontarkan Csanyi menjadi indikasi lemahnya komunikasi antara presiden dan badan tertinggi organisasi.

Ketika anggota dewan yang juga menjabat wakil presiden mulai bersuara lantang, posisi Infantino semakin sulit dipertahankan. Dukungan yang terus menyusut berpotensi memengaruhi proses pengambilan keputusan di FIFA, terutama jika konflik ini berlarut hingga periode kepemimpinan berikutnya. Tekanan publik dan internal yang terus menguat membuat setiap langkah Infantino ke depan akan diawasi ketat.

Apa Dampaknya bagi Masa Depan FIFA?

Tren ditinggalkan oleh para petinggi sepak bola global menunjukkan adanya perpecahan serius di level tertinggi FIFA. Meski surat Csanyi tidak secara tegas meminta Infantino mundur, desakan agar presiden FIFA tersebut bertanggung jawab kian nyata. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin akan muncul tuntutan yang lebih formal dari federasi-federasi anggota.

Keputusan kontroversial yang disorot Csanyi, termasuk pemecatan Lamour dan rencana outsourcing kompetisi, akan terus menjadi perbincangan. Publik dan federasi anggota tentu berharap FIFA bisa kembali fokus pada pengembangan sepak bola, bukan justru tersibukkan oleh konflik internal. Namun dengan semakin banyaknya petinggi yang kehilangan kepercayaan, jalan menuju rekonsiliasi tampak masih panjang.

Tekanan terhadap Gianni Infantino kini datang dari lima dari delapan wakil presiden FIFA. Sandor Csanyi menjadi sosok terbaru yang menyatakan kehilangan kepercayaan, dengan pemecatan Kevin Lamour sebagai pemicu utamanya. Surat tersebut sekaligus mempertegas adanya perpecahan serius di level tertinggi FIFA.

Dengan semakin banyaknya petinggi yang angkat suara, tuntutan perbaikan tata kelola FIFA hampir mustahil diabaikan. Infantino dihadapkan pada pilihan sulit antara melakukan konsolidasi internal atau menghadapi tekanan yang kian membesar. Publik sepak bola dunia pun menanti langkah selanjutnya dari presiden FIFA tersebut.