Klub-klub papan atas Eropa sempat mengancam akan boikot Piala Dunia Antarklub edisi mendatang jika Presiden FIFA, Gianni Infantino, tidak mencabut skema Fifa Forward Enterprise. Ancaman itu disampaikan hanya beberapa jam sebelum rencana bisnis yang kontroversial tersebut akhirnya dibatalkan pada awal Agustus. Sikap keras ini menunjukkan betapa gentingnya hubungan antara klub-klub Eropa dan FIFA dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam surat yang dikirim kepada Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, kelompok European Football Clubs (EFC) yang sangat berpengaruh menegaskan bahwa kerja sama mereka dengan turnamen-turnamen mendatang bergantung pada keputusan Infantino. Surat bertanggal 31 Juli yang ditandatangani CEO EFC, Charlie Marshall, itu menyebut langkah Infantino berpotensi menjadi “pelanggaran substansial” atas nota kesepahaman kedua pihak. EFC bahkan mengancam akan menarik dukungannya terhadap Piala Dunia Antarklub jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Fakta Utama: Ultimatum Menit Terakhir Sebelum Rencana FFE Dibatalkan
Eskalasi ini terjadi setelah FIFA memperkenalkan Football Forward Enterprise (FFE), skema yang didanai pihak swasta dan dirancang untuk mengelola hak siar, hak komersial, serta hak sponsor turnamen-turnamen FIFA. EFC menilai skema ini mengambil alih hak-hak yang sebelumnya dijanjikan akan dikelola bersama melalui usaha patungan antara EFC dan FIFA. Dalam suratnya, EFC menuntut kejelasan dari FIFA terkait skema baru tersebut dan mengancam akan mengambil tindakan tegas jika tuntutan itu tidak diakomodasi.
EFC menegaskan bahwa usaha patungan yang kerangkanya telah disepakati dalam nota kesepahaman itu harus diselesaikan sebelum hak siar Piala Dunia Antarklub Wanita 2028 dijual. Organisasi ini juga melontarkan kritik tajam karena proyek usaha patungan tersebut, tidak seperti proposal FFE, tidak mengalami kemajuan berarti selama setahun terakhir. Padahal, EFC sudah memiliki pengalaman kerja sama serupa dengan UEFA melalui perusahaan patungan bernama UC3 yang diluncurkan pada 2025.
Infantino akhirnya menghentikan skema FFE pada dini hari 1 Agustus setelah mendapat kecaman luas dari berbagai pihak. Namun, surat EFC menyiratkan bahwa ancaman boikot itu masih tetap berlaku selama usaha patungan yang dijanjikan belum terbentuk secara penuh. FIFA sendiri dikabarkan telah berjanji untuk segera mengadakan pertemuan dengan EFC demi menjaga kelangsungan proyek kerja sama tersebut.
Apa Isi Surat EFC dan Mengapa Klub Eropa Murka?
Bagian paling keras dalam surat EFC memuat ancaman yang sangat eksplisit. Dalam surat itu disebutkan: “Kecuali usaha patungan FIFA-EFC untuk Piala Dunia Antarklub, dengan kewenangan eksklusif atas semua urusan komersial dan operasional, terbentuk jauh sebelum siklus hak siar Piala Dunia Antarklub Wanita 2028, EFC tidak akan mendukung – dan klub-klub anggotanya tidak akan berpartisipasi dalam – edisi mendatang mana pun, termasuk Piala Dunia Antarklub wanita dan pria 2028 serta 2029.” Pernyataan ini menegaskan bahwa dukungan EFC terhadap turnamen mendatang benar-benar dipertaruhkan.
Kemarahan ini bukan hanya datang dari EFC, melainkan juga dari sejumlah besar klub di seluruh Eropa yang kecewa karena tidak dilibatkan dalam perancangan FFE. Salah satu klub besar Eropa bahkan menyampaikan kekhawatirannya melalui surat terpisah dan menyatakan siap mendukung EFC dalam “aksi kolektif yang lebih tegas” jika diperlukan. Klub tersebut juga menuntut adanya proses tata kelola yang lebih ketat dan transparan di tubuh FIFA.
EFC juga mengangkat persoalan keterlambatan penyaluran dana solidaritas sebesar £185 juta kepada klub-klub yang tidak berpartisipasi dalam Piala Dunia Antarklub. Masalah ini pertama kali dilaporkan pada Februari lalu dan hingga kini belum juga tuntas. EFC meminta FIFA segera membagikan laporan surplus pendapatan final dari Piala Dunia Antarklub 2025 beserta laporan laba rugi lengkap agar semua pendapatan, biaya, dan pengeluaran dapat dievaluasi secara transparan sesuai semangat kemitraan.
Dampak: Mengapa Ancaman Boikot Ini Begitu Serius?
Dalam praktiknya, jika klub-klub Eropa benar-benar menarik diri, turnamen Piala Dunia Antarklub tidak mungkin bisa berjalan tanpa keikutsertaan mereka. EFC dan FIFA sendiri telah mengoperasikan Piala Dunia Antarklub tahun lalu, edisi pertama dengan format 32 tim, dengan menggunakan semacam prototipe jangka pendek dari usaha patungan yang direncanakan. Hingga saat ini, belum ada tuan rumah yang diumumkan untuk Piala Dunia Antarklub Wanita yang baru maupun edisi turnamen pria pada 2029.
Ada optimisme yang meningkat bahwa masalah dana solidaritas ini akan segera menemukan titik terang. Namun, jika dana £185 juta itu dibagi rata, setiap klub liga papan atas dunia hanya akan menerima sekitar £50.000 – jumlah yang sangat kecil dibandingkan hadiah £84 juta yang sudah diterima Chelsea sebagai juara Piala Dunia Antarklub tahun lalu. Ketimpangan yang mencolok ini jelas memicu kekecewaan di kalangan klub yang tidak ikut serta dalam turnamen.
EFC juga mengingatkan bahwa nota kesepahaman yang akan berakhir pada 30 Desember 2030 mencakup penerimaan EFC dan klub anggotanya terhadap kalender pertandingan internasional serta aturan pelepasan pemain untuk tim nasional. Kedua hal ini dinilai sangat relevan bagi asosiasi anggota FIFA di luar Eropa dan juga bagi nilai yang seharusnya dimiliki FFE. Jika nota kesepahaman itu dibatalkan, EFC menyebut visi komersial FIFA dalam skema FFE merupakan “pelanggaran serius atas kepercayaan” yang bisa membahayakan seluruh kerja sama kedua belah pihak.
Kekuatan EFC: Dari Lobi Klub Menjadi Penentu Arah Sepak Bola Global
Surat bernada keras ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh EFC, yang diketuai oleh presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi. Organisasi yang didirikan pada 2008 sebagai kelompok lobi untuk klub-klub Eropa ini kini memiliki lebih dari 800 anggota, meskipun hanya sebagian kecil yang memiliki hak suara penuh. Pengaruh EFC terhadap FIFA disebut telah melampaui perkiraan banyak pihak di industri sepak bola.
Sejumlah pemangku kepentingan lain dalam ekosistem sepak bola dikabarkan merasa khawatir dengan tingkat kekuatan yang telah diambil alih oleh EFC. Sebagai respons, terbentuklah Union of European Clubs pada 2023 yang mewakili klub-klub kecil, meskipun organisasi ini tidak diakui oleh UEFA. Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika kekuasaan yang kompleks dan semakin memanas di sepak bola Eropa.
Salah satu konsekuensi potensial dari pembahasan EFC dengan FIFA adalah kemungkinan ekspansi organisasi ini menjadi kelompok yang mewakili klub di seluruh dunia dalam jangka menengah. Dalam waktu dekat, surat bulan lalu itu juga menuntut FIFA memenuhi janjinya untuk mengintegrasikan Al-Khelaifi ke dalam Dewan FIFA, yang dianggap sebagai badan pengambil keputusan utama. Tuntutan ini semakin mempertegas ambisi EFC untuk duduk di kursi kekuasaan sepak bola global.
Ancaman boikot yang dilayangkan EFC pada akhirnya berhasil memaksa FIFA untuk menghentikan skema FFE, tetapi pekerjaan rumah bagi kedua belah pihak masih panjang. Usaha patungan yang dijanjikan, transparansi keuangan, dan penyaluran dana solidaritas menjadi ujian apakah hubungan EFC dan FIFA benar-benar bisa kembali sehat. Jika tidak ditangani dengan serius, bukan tidak mungkin ancaman boikot Piala Dunia Antarklub itu akan kembali mencuat di masa depan.
