Alexis Mac Allister memilih menjawab semua tanda tanya dengan cara paling meyakinkan: mencetak gol kemenangan saat Liverpool bangkit untuk mengalahkan Atlético Madrid di Anfield. Gelandang asal Argentina itu melepaskan tembakan akurat dari jarak sekitar 20 yard yang tidak mampu dijangkau kiper Jan Oblak. Hasil ini sekaligus memperpanjang catatan buruk Atlético, yang kini menelan 11 laga tanpa kemenangan melawan klub Inggris di fase liga Liga Champions.
Gol tersebut lahir di tengah situasi yang tidak nyaman bagi Mac Allister. Ia disebut sedang merasa sangat kecewa karena Liverpool menolak memberinya kontrak baru, sementara Dominik Szoboszlai dan Ryan Gravenberch justru mendapatkan perpanjangan. Alih-alih melampiaskan kekecewaan lewat mikrofon, ia memilih bicara di lapangan. Laga ini juga menjadi momen penting bagi pelatih kepala Liverpool, Andoni Iraola, yang untuk pertama kalinya memimpin pertandingan Liga Champions sepanjang kariernya.
Mac Allister Bicara Lewat Gol di Lapangan
Proses terciptanya gol kemenangan Liverpool menunjukkan bagaimana Mac Allister membaca situasi dengan tenang. Rio Ngumoha yang tampil lincah berhasil melewati Marcos Llorente, lalu umpan silangnya membentur Alexander Isak dan mengarah ke Mac Allister di depan kotak penalti. Ia sempat meminta Szoboszlai agar tidak menyentuh bola, sebelum melepaskan tembakan kaki kiri yang melesat tak terbendung ke gawang Oblak.
Sebelum pertandingan, Mac Allister memang sudah memberi sinyal soal sikapnya musim ini. Dalam konferensi pers pra-laga, ia mengaku percaya diri bahwa dirinya sedang bermain untuk mendapatkan kontrak baru. Ia juga berjanji akan memberikan “100% sampai hari terakhir” kepada klub. Janji itu ia tepati dengan penampilan yang menentukan hasil akhir pertandingan.
Penampilan Mac Allister malam itu bukan sekadar soal gol. Ia menjadi salah satu dari lima finalis Piala Dunia yang terlibat dalam laga yang berjalan ketat dan menarik ini. Kontribusinya menegaskan bahwa kekecewaan terhadap manajemen klub tidak lantas menurunkan standar profesionalismenya di lapangan.
Llorente Kembali Menghantui Anfield
Liverpool memulai laga dengan buruk, dan itu tidak lepas dari keputusan Diego Simeone mengubah formasi Atlético menjadi 3-5-2. Perubahan tersebut membuat tuan rumah kewalahan sejak menit awal. Gol pembuka Atlético lahir ketika Julián Álvarez melepas umpan terobos di belakang pertahanan Liverpool, dan Llorente berlari bebas menuju gawang sebelum menchip bola melewati Alisson.
Bagi Llorente, Anfield seperti tanah yang bersahabat. Gol tersebut merupakan gol kelimanya di stadion itu, atau setengah dari total golnya di Liga Champions sepanjang karier. Ia sebelumnya menamai anjingnya “Anfield” setelah mencetak dua gol yang menyingkirkan tim asuhan Jürgen Klopp dari kompetisi pada 2020, dalam laga yang digelar ketika Madrid sedang lockdown akibat pandemi Covid-19.
Dalam proses gol itu, Llorente dijaga onside oleh Milos Kerkez. Álvarez sendiri tampil sebagai starter Atlético untuk pertama kalinya musim ini, setelah upayanya bergabung dengan Barcelona gagal terwujud. Namanya sempat mendapat sorakan dari sekelompok kecil pendukung Atlético ketika susunan pemain diumumkan, dan ia membalasnya dengan menciptakan gol pembuka.
Álvarez nyaris menggandakan keunggulan tim tamu ketika diberi terlalu banyak ruang untuk melepaskan tembakan dari jarak hampir 30 yard. Alisson yang meregang penuh berhasil menyelamatkan gawangnya dengan penyelamatan ujung jari yang luar biasa. Anfield mulai gelisah melihat kelalaian Liverpool dalam menguasai bola, sementara Atlético tampak nyaman memainkannya.
Kerkez Menebus Kesalahan, Szoboszlai Menyamakan
Milos Kerkez menjalani malam yang naik-turun. Bek kiri itu beberapa kali salah posisi dan kurang akurat dalam distribusi bola, tetapi ia menebusnya dengan peran penting dalam gol penyama kedudukan Liverpool. Kerkez merebut bola lewat tekel bersih dan keras kepada Lee Kang-in, lalu mengirimnya ke Bradley Barcola. Tembakan Barcola diblok Oblak, namun Wirtz terus menekan dan membuat peluang kembali terbuka.
Gol penyama kedudukan lahir dari sentuhan cerdik Ronald Araújo. Szoboszlai, yang sebelumnya dihentikan di tepi kotak penalti, mendapat bola kedua dari flick Araújo dan langsung melepaskan tembakan first time yang bersarang di sudut jauh gawang Atlético. Gol ini menjadi bukti ketangguhan Liverpool dalam menjaga tekanan meski sempat tertinggal.
Barcola seharusnya bisa membawa Liverpool unggul lebih dulu di awal babak kedua. Ia dilepas Wirtz menuju gawang dan punya cukup waktu untuk mengukur penyelesaian, tetapi tembakannya melebar di sisi kanan tiang gawang Oblak. Winger asal Prancis itu kemudian harus keluar lapangan karena kram.
Dampak bagi Iraola, Mac Allister, dan Atlético
Andoni Iraola mengakui bahwa ia turut bertanggung jawab atas buruknya awal pertandingan timnya. Menurutnya, Atlético mengejutkan Liverpool dengan cara mereka mendekati laga, karena formasi tersebut jarang digunakan sepanjang musim ini. Ia menilai para pemainnya kesulitan karena tidak siap, tetapi kemudian mampu menyesuaikan diri dan bermain lebih baik.
“Di babak kedua kami adalah tim terbaik,” ujar Iraola. Ia juga menekankan bahwa ini merupakan comeback ketiga Liverpool musim ini, sebuah tanda bahwa para pemain terus berjuang dan memiliki karakter kuat. Kemenangan ini pun menjadi awal yang ideal bagi Iraola di kancah Liga Champions sebagai pelatih.
Bagi Mac Allister, penampilan seperti ini justru memperkuat posisinya dalam negosiasi kontrak. Gol tersebut menjadi pernyataan tegas bahwa kontribusinya masih sangat dibutuhkan Liverpool. Sementara bagi Atlético, kekalahan ini menambah panjang derita mereka melawan klub Inggris di fase liga Liga Champions menjadi 11 pertandingan tanpa kemenangan.
Malam Penuh Debut dan Tren yang Berlanjut
Laga ini menjadi malam pertama bagi sejumlah pihak. Iraola memimpin pertandingan Liga Champions untuk pertama kalinya sepanjang karier, setelah sebelumnya menangani 12 laga Europa League bersama AEK Larnaca pada 2018-19. Bradley Barcola juga menjalani start pertamanya untuk Liverpool setelah kepindahan senilai £123 juta dari Paris Saint-Germain.
Di kubu Atlético, Julián Álvarez akhirnya masuk sebagai starter untuk pertama kalinya musim ini setelah gagalnya upaya kepindahan ke Barcelona. Simeone juga mengambil keputusan taktis dengan mengubah formasi menjadi 3-5-2, yang terbukti sempat membuat Liverpool kedinginan di awal laga. Masuknya Ademola Lookman di babak kedua menambah dimensi baru bagi serangan tim tamu, tetapi Liverpool bertahan dengan impresif.
Ketangguhan lini belakang Liverpool di penghujung laga memastikan kemenangan yang mereka layak dapatkan. Kombinasi antara ketenangan Mac Allister, kerja keras Isak, kreativitas Florian Wirtz, serta kecerdasan Szoboszlai memberi Iraola banyak hal untuk disyukuri. Laga ini menjadi gambaran bahwa Liverpool mampu bangkit meski memulai pertandingan dengan cara yang jauh dari ideal.
Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan Liga Champions, hasil ini menegaskan dua hal sekaligus. Pertama, kualitas individu seperti Mac Allister masih bisa menjadi pembeda dalam laga ketat. Kedua, tren buruk Atlético melawan klub Inggris belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat, meski penampilan mereka di Anfield sempat menjanjikan.
Kemenangan Liverpool atas Atlético Madrid meninggalkan satu pesan jelas: Mac Allister memilih menjawab ketidakpastian kontraknya dengan gol, bukan dengan keluhan. Ia tampil profesional, menentukan, dan tepat pada momen yang paling dibutuhkan timnya. Sementara bagi Atlético dan Simeone, Anfield kembali menjadi tempat yang sulit untuk ditaklukkan.
