Belanja Besar Tak Sembuhkan Masalah Tottenham: Kurang Jiwa

Masalah Tottenham Hotspur sejatinya tidak pernah berubah: berapa pun uang yang dikeluarkan, klub ini tetap kehilangan jiwa dan tulang punggung. Kekalahan dari Newcastle United menjadi bukti terbaru bahwa belanja besar-besaran tidak otomatis menyembuhkan penyakit kronis yang sudah mendarah daging. Tottenham memang punya pelatih baru, struktur kepemimpinan baru, dan lebih dari sepertiga miliar poundsterling untuk belanja pemain, tetapi hasilnya tetap sama: rapuh saat tekanan datang.

Soccer Football – Premier League – Brentford v Tottenham Hotspur – GTech Community Stadium, London, Britain – August 22, 2026 Tottenham Hotspur’s Sandro Tonali looks dejected after the match Action Images via Reuters/Matthew Childs EDITORIAL USE ONLY. NO USE WITH UNAUTHORIZED AUDIO, VIDEO, DATA, FIXTURE LISTS, CLUB/LEAGUE LOGOS OR ‘LIVE’ SERVICES. ONLINE IN-MATCH USE LIMITED TO 120 IMAGES, NO VIDEO EMULATION. NO USE IN BETTING, GAMES OR SINGLE CLUB/LEAGUE/PLAYER PUBLICATIONS. PLEASE CONTACT YOUR ACCOUNT REPRESENTATIVE FOR FURTHER DETAILS..

Sebenarnya, pertanyaan apakah Tottenham mulai panik adalah pertanyaan jebakan yang tidak perlu dijawab. Tottenham termasuk klub yang tidak pernah benar-benar berhenti panik: mereka panik ketika kebobolan, panik ketika mencetak gol, panik saat menguasai bola, dan panik ketika lawan yang memegang kendali permainan. Pelatih Roberto De Zerbi bahkan memiliki ekspresi wajah yang selalu tampak siaga, seperti seseorang yang terus-menerus dikejutkan oleh keadaan di sekelilingnya. Pernah juga mereka panik sedemikian rupa sampai akhirnya lolos ke Liga Europa. Bagi penggemar Spurs yang sudah terbiasa gelisah, klub ini bukanlah kebanggaan yang menenangkan, melainkan semacam teror yang menemani seumur hidup.

Fakta Kekalahan: Newcastle Memangsa Kegugupan Tottenham

Gol Anthony Elanga lahir dari umpan panjang Nico González yang tidak ditekan, sundulan Amar Dedic yang kurang sempurna, lalu satu putaran badan dan penyelesaian dingin. Tiga kejadian sederhana yang beruntun, dan setidaknya dua di antaranya seharusnya bisa dicegah oleh lini belakang Tottenham. Tidak ada blunder besar atau momen mengejutkan di sini — hanya serangkaian duel yang kalah, akumulasi kelemahan kecil, dan tim yang belum benar-benar menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh.

Newcastle, tim yang hanya mencatat satu clean sheet dalam 18 laga terakhir, justru tampil rapat dan sabar. Mereka menunggu kereta yang selalu datang, karena melawan Tottenham, tekanan pada akhirnya akan membuahkan hasil. Yoane Wissa pun menutup laga dengan gol penentu yang tidak mengejutkan siapa pun, mengingat betapa mudahnya Spurs kecolongan di momen-momen penting.

Ironisnya, kegagalan ini terjadi di kandang sendiri. Tottenham Hotspur Stadium yang megah bahkan belum memiliki hak penamaan karena hampir setiap tim tamu merasa berhak “memiliki” tempat tersebut. Dalam 12 bulan terakhir, Aston Villa memenangi dua laga domestik di stadion ini — jumlah yang sama dengan kemenangan Tottenham sendiri di sana. Pasukan Unai Emery bahkan berpeluang kembali unggul di stadion ini dalam tiga pekan ke depan.

Belanja Besar Tak Menyembuhkan Sindrom “Long Tottenham”

Ada semacam penyakit bawaan yang oleh banyak pengamat disebut “Long Tottenham”, dan hingga kini belum ditemukan obatnya. Sejak mengalahkan Aston Villa 4-1 pada penghujung 2024, Spurs telah tertinggal lebih dulu sebanyak 44 kali di semua kompetisi dan tidak pernah sekali pun berhasil membalikkan keadaan menjadi kemenangan. Angka itu menunjukkan bahwa persoalan ini bukan soal kualitas pemain, melainkan soal karakter tim yang runtuh ketika tertinggal.

Pelatih baru Roberto De Zerbi, struktur kepemimpinan anyar, dan lebih dari sepertiga miliar poundsterling yang dibelanjakan untuk transfer tetap tidak membawa perubahan berarti. De Zerbi datang dengan reputasi sepak bola menyerang, tetapi raut wajahnya justru menggambarkan keadaan darurat yang permanen. Para penggemar yang setia bertahun-tahun hanya bisa menyaksikan pola kegagalan yang sama berulang terus-menerus.

Budaya vs Komersial: Pelajaran Berharga dari Newcastle

Di tengah kekalahan ini, ada simbolisme yang menenangkan sekaligus menyakitkan: pelajaran tentang nilai budaya yang bertahan di atas komersialitas. Newcastle kehilangan separuh timnya tetapi tetap mempertahankan jiwa mereka; Tottenham membeli separuh tim baru dan masih saja mencari jati diri. Matthias Jaissle berhasil meracik tim Newcastle yang unggul dalam duel dan bola kedua, dua hal yang sama sekali tidak dimiliki Spurs.

Beberapa pemain Tottenham sebenarnya tampil baik di laga ini. Sandro Tonali, yang tentu saja tidak luput dari cemoohan, justru bermain apik — termasuk salah satu dari sedikit pemain Spurs yang benar-benar menghargai bola dan mencoba melakukan hal-hal menarik dengannya. Mateus Fernandes tampil lincah, elegan, dan sangat baik, sementara Omar Marmoush yang menjalani debut terlihat bugar dan tajam. Sayangnya, kualitas individu tidak pernah menjadi akar persoalan klub ini.

Akar Masalah Tottenham: Hal-Hal Kecil dan Trauma Kolektif

Masalah Tottenham sebenarnya tidak sulit dikenali jika diperhatikan dari detail-detail kecil di lapangan. Momentum yang baru saja terbangun sering kali langsung padam karena satu dua sentuhan yang salah. Ketika duel terjadi, terlalu banyak pemain yang memilih mundur alih-alih berani bertarung. Kekalahan dari Newcastle memperlihatkan semua gejala itu secara gamblang.

Secara lebih luas, kelemahan tersebut muncul dalam berbagai bentuk:

  • sundulan yang kalah dalam duel udara;
  • jeda sesaat di atas bola yang membunuh momentum serangan;
  • tembakan tergesa-gesa tanpa pengaturan;
  • sentuhan ekstra yang tidak perlu;
  • tekel yang tidak tuntas dan setengah hati.

Semua itu adalah tanda kelembutan yang mengakar jauh di dalam tim. Pemain-pemain veteran dari musim 2024-25, ketika skuat tipis dipaksa bermain melampaui batas kewajaran dan kesehatan mental, masih menyimpan trauma kolektif. Archie Gray, Micky van de Ven, Destiny Udogie, dan Rodrigo Bentancur kerap terlihat menahan diri dalam duel fisik 50-50, seolah-olah belum sepenuhnya percaya pada tubuh mereka sendiri.

Lawan-lawan Tottenham jelas membaca kerentanan ini. Saat ini sudah ada cetak biru untuk mengalahkan Spurs: bertarung sejak menit pertama, melakukan hal-hal sederhana dengan baik, dan terus menekan sampai mereka bermain di bawah kendali lawan. Newcastle membuktikan resep itu berhasil, dan tim-tim lain pasti akan meniru pola yang sama.

Dampak ke Depan: Seberapa Dalam Tottenham Akan Terpuruk?

Pertanyaan yang kini menggantung adalah seberapa buruk kondisi ini sebelum akhirnya membaik. Apakah dua kekalahan akan berubah menjadi empat atau enam? Apakah pada bulan November nanti pencetak gol terbanyak Spurs masih Richarlison dengan dua gol? Klub yang secara medis begitu kecanduan panik ini tentu akan sulit menghindari kekacauan jika hasil buruk terus berlanjut.

Namun, di balik semua kekacauan itu, Tottenham sebenarnya menyimpan talenta kreatif yang luar biasa. Kedatangan Marmoush dan Sávio, lini tengah baru, kembalinya Mohammed Kudus dan Dominic Solanke, serta prospek James Maddison, Dejan Kulusevski, dan Xavi Simons yang akan bergabung memberikan secercah harapan. Bahkan Marcos Senesi, finalis Piala Dunia, masih duduk di bangku cadangan.

Mustahil rasanya Tottenham kembali terjerumus ke zona degradasi dengan materi pemain seperti ini. Tetapi seperti yang dialami banyak klub sebelum mereka, Spurs sedang belajar bahwa membeli pemain baru hanyalah bagian yang mudah. Menumbuhkan tulang punggung tim membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, dan di sanalah masalah Tottenham yang sesungguhnya berada.

Kesimpulannya, akar persoalan Tottenham bukan terletak pada minimnya investasi, melainkan pada hilangnya jiwa dan ketahanan mental yang tidak bisa dibeli dengan uang. De Zerbi dan para pemain barunya butuh waktu, tetapi waktu adalah barang mewah yang tidak pernah dimiliki klub yang kecanduan panik. Sampai akar masalah ini dibereskan, Tottenham akan terus menjadi stadion impian bagi tim-tim lain dan kisah menyakitkan bagi pendukungnya sendiri.

Rayan Cherki dan Haaland Brace, Man City Kalahkan Palace

Rayan Cherki tampil memukau saat Manchester City mengalahkan Crystal Palace. Pemain Prancis itu mencetak dua gol, begitu pula Erling Haaland, dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan nyaman untuk tim tamu. Penampilan Cherki menjadi sorotan utama karena aksinya tidak hanya menghasilkan gol, tetapi juga menghidupkan serangan City sepanjang laga.

Kemenangan ini tentu menjadi jawaban penting bagi City setelah kegagalan di Community Shield. Di sisi lain, Crystal Palace justru semakin tenggelam karena belum meraih satu poin pun musim ini. Bagi pelatih Enzo Maresca, hasil ini juga menjadi bukti bahwa transisi permainannya mulai berjalan mulus.

Rayan Cherki: Bintang di Balik Kemenangan City

Cherki sedang dalam performa terbaiknya di tahun kedua berkarier di Inggris. Pekan sebelumnya, ia masuk dari bangku cadangan dan memberikan dua assist saat City membalikkan keadaan melawan Bournemouth. Kali ini, kontribusinya jauh lebih besar karena ia tampil sebagai kreator sekaligus pencetak gol penentu.

Gol pertama Cherki lahir dari aksi individunya yang melewati beberapa pemain Palace, lalu diakhiri sentuhan halus menggunakan kaki kiri bagian luar. Ia bahkan memanfaatkan Takehiro Tomiyasu sebagai tameng, dan bola pun menggelinding pelan melewati garis meski Dean Henderson sudah berusaha menjangkaunya. Gol keduanya datang dari tembakan keras dari jarak 20 yard yang membelok dan mengecoh Henderson.

Meski tampil cemerlang, Cherki tetap rendah hati. Saat menerima pujian setelah laga, ia hanya tersenyum dan menyebut penampilannya di babak pertama “payah”. Namun Maresca berbeda pendapat; pelatih asal Italia itu menilai penampilan Cherki sangat lengkap, bukan hanya karena gol, tetapi juga karena cara dia bekerja tanpa bola.

Haaland Kembali Subur, Foden Ikut Bersinar

Erling Haaland juga menunjukkan ketajamannya dengan mencetak dua gol kontra Palace. Gol pertamanya tercipta pada menit ke-17 melalui sundulan cerdas memanfaatkan umpan silang Antoine Semenyo. Gol keduanya lahir setelah menerima umpan matang dari Phil Foden, dan seperti biasa, Haaland tidak menyia-nyiakan peluang tersebut.

Catatan menarik muncul dari gol-gol Haaland melawan Palace. Penyerang asal Norwegia itu selalu mencetak gol dalam enam laga liga melawan tim asal London tersebut. Dengan performa seperti ini, Haaland kembali menjadi mesin gol utama City musim ini.

Phil Foden juga tampil impresif dan menjadi perhatian Thomas Tuchel yang hadir di stadion. Kombinasi Foden dan Haaland membuat lini serang City semakin tajam. Penampilan kolektif ini pun meyakinkan Maresca bahwa timnya sudah bangkit dari keterpurukan di Community Shield, meski sempat kesulitan di awal laga karena pressing yang salah.

Crystal Palace: Nihil Poin dan Masalah yang Menumpuk

Crystal Palace masih belum menemukan kemenangan di bawah pelatih Pierre Sage. Padahal, dalam dua pertandingan pertamanya, ada tanda-tanda permainan yang cukup positif. Namun menghadapi City, mereka tidak mampu membendung kualitas individu lawan yang jauh lebih unggul.

Masalah Palace semakin pelik karena banyak pemain penting yang tidak tersedia. Jean-Philippe Mateta absen dan dikabarkan bisa menepi hingga empat pekan, sementara Ismaïla Sarr tidak bisa dimainkan karena ingin pindah ke Galatasaray. Daniel Muñoz juga hanya menjadi cadangan di tengah kab

Gol Debut Sávio Bawa Tottenham Lumat Charlton di Carabao Cup

Tottenham Hotspur meraih kemenangan telak 5-1 atas Charlton Athletic di ajang Carabao Cup, dengan gol debut Sávio menjadi puncak dari malam yang nyaris sempurna. Rekrutan anyar seharga £75 juta dari Manchester City itu mencetak gol hanya 11 menit setelah masuk sebagai pemain pengganti. Laga yang digelar di kandang Tottenham itu juga menjadi panggung kebangkitan Spurs setelah awal musim yang buruk.

Kemenangan ini terasa sangat berarti bagi Spurs yang sedang tertekan. Pasukan Roberto De Zerbi baru saja menelan kekalahan memalukan 0-3 dari Brentford, dan hasil positif ini menjadi penawar yang mereka butuhkan. Apalagi musim lalu Tottenham hanya meraih empat kemenangan kandang melawan tim domestik, tiga di antaranya terjadi di Premier League dengan kemenangan atas Everton di hari terakhir yang menyelamatkan mereka dari degradasi.

Jalannya Pertandingan: Dari Kebuntuan Menuju Pesta Gol

Untuk waktu yang cukup lama, laga ini tampak akan menjadi milik Mikey Moore. Pemain berusia 19 tahun asuhan akademi Spurs itu memecah kebuntuan dengan tendangan keras dari tepi kotak penalti yang membuat gawang Charlton bergetar. Kemurnian tembakan kaki kirinya menjadi kunci, dan stadion langsung memberikan tepuk tangan meriah sebagai bentuk penghormatan.

Sebelum gol itu tercipta, Tottenham sebenarnya kesulitan menembus pertahanan rapat tim tamu. Peluang pertama baru hadir ketika tembakan Dominic Solanke diblok, dan Archie Gray melepaskan tembakan rebound yang masih bisa diamankan kiper Tiernan Brooks. Bahkan, Charlton nyaris unggul lebih dulu lewat tembakan Greg Docherty yang ditepis Antonin Kinsky, serta sundulan Nathan Asiimwe yang masih melenceng tipis dari sasaran.

Setelah gol pertama hadir, Spurs meningkatkan tempo permainan secara signifikan. Mateus Fernandes tampil impresif di lini tengah, sementara Solanke akhirnya memperlebar keunggulan dengan penyelesaian klinis ke pojok gawang. Gol itu bermula dari bola liar di kotak penalti akibat keraguan bek Charlton dalam menyapu bola, dan Solanke tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Di babak kedua, Tottenham semakin menggila. Kevin Danso yang masuk sebagai pemain pengganti langsung mencetak gol dengan sundulan pada sentuhan pertamanya, memanfaatkan tendangan bebas Fernandes. Namun, dalam proses mencetak gol tersebut, ia sempat berbenturan dengan pemain pengganti Charlton, Danny McNamara, dan mengalami luka yang membutuhkan perawatan. Sávio yang sudah siap masuk harus bersabar menunggu hingga Danso selesai ditangani.

Gol Debut Sávio, Kilatan yang Mengubah Laga

Momen yang paling dinanti akhirnya tiba ketika Roberto De Zerbi memasukkan Sávio untuk debutnya di laga ini. Penyerang sayap asal Brasil itu langsung membuktikan nilai transfernya dengan gol debut yang memukau hanya 11 menit setelah masuk lapangan. Gol itu tercipta setelah ia meliuk dari sisi kanan, melewati pemain bertahan yang tampak dekat namun tak mampu menjangkaunya, sebelum melepaskan tembakan rendah yang melesat deras ke pojok dekat gawang.

Tidak berhenti di situ, Sávio kembali menjadi mimpi buruk pertahanan Charlton pada serangan berikutnya. Ia menusuk dari sisi kanan, memotong ke dalam, dan melewati lawan-lawannya dengan tenang sebelum melepaskan tembakan yang justru mengenai rekan setimnya, Ben Davies, dan masuk ke gawang. Gol tersebut akhirnya dicatatkan atas nama Davies, yang mengaku sama sekali tidak keberatan dengan kejadian itu.

De Zerbi menyebut malam itu sebagai hari yang sempurna bagi Sávio dan langsung memberikan tantangan besar kepada pemain anyarnya tersebut. “Saya ingin dia mencetak 10 hingga 12 gol sebelum akhir musim,” tegas sang manajer. Target itu terasa realistis mengingat penampilan impresif yang ia tunjukkan hanya dalam beberapa menit di lapangan.

Kemenangan yang Sangat Dibutuhkan Spurs

Awal musim Tottenham berjalan sangat buruk. Kekalahan telak 0-3 dari Brentford di laga pembuka menjadi pukulan berat, dan tanpa sepak bola Eropa musim ini, perjalanan yang baik di kompetisi domestik menjadi prioritas utama. Kemenangan ini menjadi langkah pertama untuk memulai proses pembersihan setelah performa mengecewakan akhir pekan lalu.

Bahkan, musim lalu Spurs hanya mengoleksi empat kemenangan kandang melawan tim domestik. Tiga di antaranya terjadi di Premier League, termasuk kemenangan atas Everton pada hari terakhir yang menyelamatkan mereka dari degradasi. Andai kalah di laga tersebut, pertandingan Carabao Cup melawan Charlton ini akan dimainkan sebagai tim Championship, bukan Premier League.

Menariknya, laga ini juga menjadi ajang kembalinya sejumlah pemain penting. Destiny Udogie, Rodrigo Bentancur, Mateus Fernandes, dan Solanke yang hanya duduk di bangku cadangan saat melawan Brentford langsung dipasang sebagai starter. Sementara itu, Pedro Porro dan Micky van de Ven juga akhirnya mendapatkan menit bermain setelah melewatkan pramusim dan tidak tampil melawan Brentford.

Namun, Marcos Senesi dan Sandro Tonali tidak masuk dalam skuad pada laga ini. Keduanya diharapkan sudah siap tampil saat Tottenham menjamu Newcastle di akhir pekan nanti. Kehadiran mereka akan menambah kekuatan tim di pertandingan-pertandingan berikutnya.

Mikey Moore, Bintang Muda di Tengah Sorotan

Mikey Moore berhasil mencuri perhatian pada awal laga dengan gol pembuka yang spektakuler. Berawal dari pergerakannya masuk ke dalam dari sisi kanan, pemain muda itu melepaskan tendangan kaki kiri yang begitu manis hingga bola menghujam tajam melewati jangkauan kiper. Pemain Charlton yang paling dekat dengannya, Millenic Alli, bahkan sempat tergelincir sebelum tembakan itu dilepaskan.

Moore sendiri baru memiliki satu gol sebelumnya untuk Spurs, yakni ke gawang Elfsborg di Liga Europa pada Januari 2025. Setelah pertandingan tersebut, rekan setimnya James Maddison sempat membandingkannya dengan Neymar. Meski lintasan kariernya tidak setajam yang dibayangkan banyak orang, Moore tetap menjadi talenta muda yang menjanjikan di usianya yang masih 19 tahun.

Pada babak kedua, Moore jelas ingin melakukan lebih banyak hal. Ia tampil percaya diri dengan menggiring bola, sesekali memperlihatkan skill indah dan lari menusuk yang membuat penonton tuan rumah memberi penghormatan. Menariknya, ia disebut-sebut menjadi target peminjaman FC Köln menjelang penutupan bursa transfer, dan De Zerbi mengakui pemain ini membutuhkan menit bermain reguler untuk berkembang.

Liverpool di Anfield: Ujian Besar Berikutnya

Kemenangan ini mengantarkan Tottenham ke putaran berikutnya, dan lawan yang menanti sangat berat, yakni Liverpool di Anfield. Meski demikian, De Zerbi menegaskan timnya tidak gentar menghadapi laga tersebut. “Ini laga yang hebat,” ujarnya. “Jika kami ingin memenangkan kompetisi ini, kami harus bisa memenangkan pertandingan seperti ini.”

Sikap berani itu mencerminkan mentalitas yang ingin dibangun sang manajer di tengah musim yang penuh tantangan. Dengan skuad yang mulai pulih dan Sávio yang tampil menjanjikan, Spurs memiliki modal untuk bersaing di kompetisi ini. Namun, konsistensi tetap menjadi kata kunci bagi klub yang musim lalu nyaris terdegradasi ke Championship.

Adapun Charlton, pelatih Nathan Jones sangat kecewa dengan hasil ini. “Benar-benar sebuah bencana,” katanya menyesali kekalahan tersebut. “Ini pertandingan yang sebenarnya tidak kami butuhkan.” Jones melakukan rotasi besar-besaran dengan mengganti 10 pemain dari susunan yang tampil saat mengalahkan West Ham, dan hasilnya timnya tampil kewalahan. Hiburan kecil bagi Charlton datang lewat gol Lloyd Jones yang menyundul bola dari sepak pojok di penghujung laga.

Malam di kandang Tottenham itu meninggalkan banyak cerita positif bagi tuan rumah. Ada gol debut Sávio yang menggiurkan, kembalinya para pemain inti, serta kepercayaan diri yang kembali tumbuh setelah awal musim yang buruk. Meskipun tugas berat melawan Liverpool sudah menanti, Spurs kini tahu bahwa mereka memiliki senjata baru yang siap memberikan kejutan.

Bagi Sávio, ini baru permulaan. Tantangan 10 hingga 12 gol dari De Zerbi akan menjadi tolak ukur adaptasinya di sepak bola Inggris. Jika penampilan debutnya menjadi indikasi, para penggemar Tottenham berhak bermimpi sedikit lebih besar pada musim ini.

Celtic Tersingkir dari Liga Champions Usai Dibantai Lask 1-5

Celtic tersingkir dari Liga Champions untuk tahun kedua beruntun setelah membuang keunggulan agregat empat gol saat melawan Lask di Austria. Juara Skotlandia itu dibantai tuan rumah dengan skor 1-5 di Linz, sebuah hasil yang tercatat sebagai salah satu malam terburuk dalam sejarah Eropa mereka. Hasil ini sekaligus memupus harapan Celtic untuk tampil di fase liga musim ini.

Padahal, Celtic sempat berada di ambang lolos ketika Callum McGregor membawa timnya unggul agregat 4-0 pada menit ke-21 lewat tembakan yang membelok. Namun, laga berubah total setelah itu dan kekalahan ini diperkirakan menjadi pukulan finansial senilai lebih dari £20 juta bagi klub asal Glasgow tersebut. Dari posisi yang nyaris aman, Celtic justru keluar dengan tangan hampa dan harus puas turun ke Liga Europa.

Kronologi Kekalahan Celtic dari Lask di Linz

Celtic sejatinya punya peluang untuk menambah keunggulan di babak pertama. Mika Baur nyaris mencetak gol saat tembakannya melenceng tipis, sementara Kasper Høgh memaksa kiper Lask melakukan beberapa penyelamatan dari peluang yang cukup bagus. McGregor membuka keunggulan di sela-sela peluang tersebut ketika ia melepaskan tembakan langsung yang membelok setelah Yang Hyun-jun bermain satu-dua dengan Kieran Tierney.

Tuan rumah sempat menekan sebelum gol McGregor tercipta, dan akhirnya mereka menemukan jalan kembali ke pertandingan. Pada menit ke-32, Moses Usor memanfaatkan umpan ceroboh dari Benjamin Nygren untuk menyamakan kedudukan di laga tersebut. Gol itu memberi nyawa bagi Lask dan membuat atmosfer di Linz semakin panas menjelang turun minum.

Memasuki babak kedua, keadaan justru semakin buruk bagi Celtic. Robert Ljubicic dan Samuel Adeniran masing-masing mencetak gol dari luar kotak penalti, membuat Lask unggul 3-1 di laga tersebut dan agregat menyempit menjadi 4-3. Celtic mencoba bertahan, tetapi Florian Flecker menyundul bola dari jarak dekat di masa injury time untuk memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu selama 30 menit.

Runtuhnya Pertahanan Celtic di Babak Kedua

Celtic kehilangan daya serang mereka sejak babak kedua dimulai, dan lini pertahanan mereka kewalahan menghadapi tekanan Lask yang terus meningkat. Ljubicic membobol gawang Celtic lewat tembakan keras dari jarak 20 yard setelah Usor mengalahkan Auston Trusty dalam duel fisik dan mengirim bola ke dalam. Selang beberapa menit, Adeniran memperbesar keunggulan Lask dengan gol melengkung indah ke pojok atas gawang dari jarak 25 yard pada menit ke-58.

Kiper Viljami Sinisalo sempat menjadi penyelamat Celtic dengan sejumlah aksi gemilang. Ia melakukan penyelamatan penting dari tembakan Sascha Horvath setelah beberapa peluang Lask melesat melewati gawangnya. Tornich juga nyaris mencetak gol saat sundulannya melenceng tipis, sementara Adeniran sempat menghantam sisi bawah mistar gawang.

Martin O’Neill bahkan memasang empat bek tengah sekaligus—Liam Scales dan Dane Murray masuk untuk menemani Trusty dan Cameron Carter-Vickers—demi bertahan mati-matian. Sayangnya, Carter-Vickers harus berjuang dengan kram, sementara Luke McCowan, Reo Hatate, dan Sebastian Tounekti yang dimasukkan dari bangku cadangan tidak mampu mengubah arah permainan. Sinisalo kembali menggagalkan sundulan Tornich di masa injury time, tetapi Flecker memanfaatkan bola rebound untuk mencetak gol penyama agregat, dan Anthony Ralston sempat menggantikan Carter-Vickers di awal perpanjangan waktu.

Dampak Finansial Celtic Tersingkir dari Liga Champions

Kegagalan ini menjadi tamparan berat bagi Celtic, baik secara sportif maupun finansial. Gagal menembus fase liga Liga Champions berarti klub kehilangan pendapatan yang diperkirakan mencapai lebih dari £20 juta. Ini merupakan kegagalan kedua berturut-turut di babak playoff kualifikasi, setelah musim lalu Celtic tersingkir melalui adu penalti melawan Kairat Almaty.

Keputusan klub menjadi sorotan tajam dari para penggemar. Musim lalu, Celtic dianggap gagal mendatangkan striker yang sudah terbukti kualitasnya, dan kali ini publik mempertanyakan kebijakan menjual Arne Engels tepat sebelum leg pertama. Kehilangan kendali di lini tengah saat melawan Lask menjadi bukti nyata bahwa masalah tersebut belum juga teratasi.

Padahal, kualitas penyelesaian akhir menjadi pembeda saat Celtic menang di leg pertama di Glasgow. Namun, Lask sebenarnya menciptakan banyak peluang sepanjang dua leg dan terus berkembang di leg kedua. Celtic gagal belajar dari ancaman yang sudah terlihat sejak awal, dan akhirnya mereka membayar mahal atas kecerobohan tersebut.

Evaluasi dan Tantangan Celtic Setelah Tersingkir

Dengan kekalahan ini, Celtic harus turun kasta ke Liga Europa, sebuah kenyataan pahit bagi tim yang sempat unggul agregat 4-0. Adeniran memastikan kekalahan telak tersebut dengan tembakan dari jarak 25 yard lima menit sebelum laga perpanjangan waktu berakhir, setelah ia merebut bola dari McCowan. Sinisalo sempat menggagalkan penalti Adeniran yang ingin mencetak hat-trick, tetapi itu tidak mengubah nasib Celtic pada malam itu.

Kegagalan ini juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi Celtic di pentas Eropa. Dua musim beruntun gagal di babak playoff kualifikasi Liga Champions tentu menjadi bahan evaluasi besar, terutama dalam hal strategi transfer dan kedalaman skuad. Lask layak mendapat pujian atas kebangkitan luar biasa mereka, tetapi bagi Celtic ini adalah peringatan keras yang tidak bisa diabaikan.

Ke depan, Celtic harus segera bangkit dan fokus pada kompetisi domestik serta Liga Europa. Evaluasi menyeluruh terhadap komposisi tim, kebijakan transfer, dan ketahanan mental para pemain menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Jika tidak, mimpi untuk kembali tampil di Liga Champions akan semakin sulit diwujudkan pada musim-musim berikutnya.

Kekalahan telak dari Lask akan dikenang sebagai salah satu kegagalan terbesar Celtic di Eropa. Dari keunggulan agregat 4-0 yang nyaris mustahil hilang, Celtic justru membuang semuanya dalam satu malam yang menghancurkan. Pelajaran berharga ini harus segera dipetik jika Celtic ingin kembali bersaing di level tertinggi benua Eropa.

De Zerbi Sebut Tottenham Bukan Tim, Singgung Kondisi Fisik

Roberto De Zerbi menyebut Tottenham bukan tim yang sesungguhnya setelah mereka dipermalukan Brentford 3-0 pada laga pembuka musim ini. Pelatih asal Italia itu mengaku kecewa dengan kurangnya perlawanan dari anak asuhnya di Gtech Community Stadium. Ia bahkan menyoroti kesiapan fisik para pemainnya yang dinilai belum berada pada level yang diharapkan.

Kekalahan ini menjadi tamparan keras bagi Spurs yang nyaris terdegradasi pada musim lalu. Klub London utara itu diproyeksikan membelanjakan lebih dari 300 juta pound sterling pada bursa transfer musim panas ini untuk memperkuat skuad. Alih-alih tampil meyakinkan, Tottenham justru tampil inferior dan tidak berdaya di hadapan Brentford yang bermain lebih hidup serta terorganisir.

De Zerbi Sebut Tottenham Bukan Tim

Dalam konferensi pers usai laga, De Zerbi tidak menutup-nutupi kelemahan timnya. Ia menyebut ada banyak alasan mengapa Tottenham belum pantas disebut tim. Menurutnya, sebelum benar-benar menjelma menjadi sebuah tim, tidak ada yang bisa memastikan apa yang mampu mereka capai musim ini.

“Kami belum menjadi sebuah tim karena banyak alasan. Sebelum Anda menjadi tim, Anda tidak bisa mengatakan apa yang bisa Anda lakukan,” ujar De Zerbi. Ia juga menyoroti kesiapan fisik para pemainnya yang dinilai belum berada dalam kondisi terbaik. Beberapa pemain baru kembali dari Piala Dunia, sementara tur pramusim di Australia dinilainya jauh dari ideal.

“Kami tidak dalam kondisi fisik yang tepat karena banyak alasan. Beberapa pemain kembali terlambat dari Piala Dunia. Di Australia kami tidak bekerja dengan cara yang benar, tapi ini bukan alasan. Ini adalah situasi normal ketika membangun proyek baru,” tegasnya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa De Zerbi sadar betul dengan keterbatasan yang ada, meski ia tidak mau menjadikannya sebagai pembenaran. Ia justru memilih untuk tetap percaya pada proses yang sedang berjalan.

Kronologi dan Latar Belakang Masalah Tottenham

Tottenham memang datang ke laga ini dengan modal yang tidak ideal. Mereka nyaris terdegradasi musim lalu dan harus menjalani musim yang penuh gejolak. Manajemen lantas merespons dengan belanja besar-besaran, tetapi hasil di lapangan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Pada laga ini, Tottenham memberikan debut kepada lima pemain anyar sekaligus: Andy Robertson, Jan Paul van Hecke, Marcos Senesi, Mateus Fernandes, dan Sandro Tonali. Banyaknya pemain baru yang langsung diturunkan membuat koordinasi di lini belakang dan lini tengah masih terlihat rapuh. Kondisi itu wajar terjadi di awal proyek, tetapi tetap tidak bisa dijadikan alasan atas kekalahan telak ini.

De Zerbi juga mengungkapkan bahwa ia tidak diperkuat Pedro Porro, Kevin Danso, dan Micky van de Ven. Rodrigo Bentancur yang memulai laga dari bangku cadangan pun baru kembali bergabung belakangan pada pramusim. Ia menyebut tur Australia ikut membuat persiapan fisik kurang maksimal, meski ia enggan menjadikannya sebagai pembenaran.

Dampak dan Implikasi bagi Proyek De Zerbi

Kekalahan telak dari Brentford menjadi sinyal bahwa pekerjaan rumah De Zerbi masih sangat banyak. Ia tidak hanya dituntut membenahi fisik pemain, tetapi juga membangun mental juang yang belum terlihat sepanjang laga. Ungkapannya soal kalah dalam duel dan bola kedua menunjukkan kesenjangan yang cukup besar antara ekspektasi dan realitas di lapangan.

“Kami bisa bertarung lebih kuat dari yang kami lakukan hari ini. Kami kehilangan terlalu banyak duel. Kami tiba kedua di bola kedua. Kami tidak memenangkan satu pun bola kedua, satu duel, satu tekel,” keluh De Zerbi. Ucapan tersebut menggambarkan betapa dominannya Brentford dalam duel-duel fisik sepanjang pertandingan. Tottenham nyaris tidak mampu bersaing di setiap perebutan bola, dan itu jelas menjadi pekerjaan rumah yang serius.

De Zerbi menegaskan bahwa target utama saat ini adalah menjadikan Tottenham sebagai sebuah tim yang sesungguhnya. Ia menolak anggapan bahwa tim bisa dibangun hanya di atas kertas lewat belanja pemain. Menurutnya, koneksi, semangat, dan jiwa tim hanya bisa terbentuk ketika para pemain benar-benar menemukan ikatan satu sama lain.

Brentford dan Debut Impresif Mamadou Sangaré

Di sisi lain, laga ini menjadi awal yang sempurna bagi Brentford untuk memulai tahun kedua mereka di bawah Keith Andrews. Gol-gol dari Keane Lewis-Potter, Vitaly Janelt, dan Michael Kayode memastikan tiga poin penuh bagi tim tuan rumah. Namun, sorotan terbesar justru tertuju pada Mamadou Sangaré, gelandang anyar yang direkrut dari Lens dengan banderol 39 juta pound sterling.

Sangaré menjalani debut yang luar biasa di lini tengah Brentford. Andrews pun memberikan kredit besar kepada klub atas keberhasilan menyelesaikan kesepakatan tersebut. Ia menilai Sangaré sudah menunjukkan kapasitas dan atribut yang dimilikinya sejak laga pertama.

“Kalian telah melihat hari ini apa yang dia mampu lakukan. Dia menambah kekuatan di lini tengah yang berbakat. Saya sangat menikmati penampilannya hari ini. Dia beradaptasi dengan sangat baik. Dia adalah pemuda rendah hati yang sangat lapar akan permainan,” puji Andrews. Pujian setinggi itu membuktikan bahwa Sangaré langsung menjadi bagian penting dari rencana permainan Brentford. Kehadirannya jelas menambah kedalaman dan kualitas di lini tengah tim asuhan Andrews.

Transfer dan Langkah Berikutnya Tottenham

Tottenham dilaporkan hampir menyelesaikan perekrutan Omar Marmoush dan Savinho dari Manchester City untuk menambah daya gedor di lini depan. Kendati demikian, De Zerbi menegaskan bahwa kehadiran pemain baru tidak otomatis membuat tim menjadi solid. Ia menekankan pentingnya proses dan waktu untuk membangun kolektivitas.

“Ada langkah-langkah untuk menjadi lebih baik. Sekarang targetnya adalah menjadi sebuah tim. Anda tidak bisa menjadi tim dari bursa transfer di atas kertas. Anda menjadi tim ketika para pemain menemukan koneksi, semangat, dan jiwa. Ini sebuah proyek,” kata De Zerbi. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ia melihat pekerjaannya di Tottenham sebagai proyek jangka panjang. Ia tidak ingin terburu-buru menilai hasil, tetapi tetap sadar bahwa perbaikan harus segera datang.

Dengan jadwal padat yang menanti, De Zerbi harus segera menemukan formula yang tepat. Kegagalan di laga pembuka bukan akhir segalanya, tetapi jika tidak segera dibenahi, musim Tottenham bisa kembali berubah menjadi mimpi buruk. Laga demi laga ke depan akan menjadi ujian nyata bagi proyek yang sedang ia bangun.

Pada akhirnya, kekalahan dari Brentford menjadi pengingat bahwa membangun tim butuh proses yang panjang. De Zerbi sadar akan hal itu dan menolak kehilangan kepercayaan kepada para pemainnya. Namun, waktu terus berjalan dan publik Tottenham tentu berharap proyek ini segera menunjukkan hasil nyata di lapangan.

Lima Wakil Presiden FIFA Desak Gianni Infantino Mundur

Sandor Csanyi, Ketua Federasi Sepak Bola Hongaria sekaligus salah satu wakil presiden FIFA, secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Gianni Infantino. Dalam surat yang dikirim pada Selasa dan pertama kali diperoleh kantor berita Agence France-Presse (AFP), Csanyi mengkritik “penilaian profesional, standar etika, dan kepemimpinan” presiden FIFA tersebut. Ia bahkan menyebut pemecatan Kevin Lamour, chief operating officer (COO) FIFA, sebagai “pukulan terakhir” yang memicu sikapnya.

Langkah Csanyi ini bukan sekadar protes pribadi. Ia tercatat sebagai wakil presiden FIFA kelima dari total delapan wakil presiden yang kini mendesak Infantino mundur. Kondisi ini memperlihatkan semakin menipisnya dukungan terhadap kepemimpinan Infantino di tubuh organisasi sepak bola dunia.

Isi Surat Csanyi: Kritik Tajam untuk Kepemimpinan Infantino

Dalam suratnya, Csanyi menegaskan bahwa ia telah kehilangan keyakinan yang sebelumnya ia berikan kepada Infantino. “Keyakinan saya bahwa Anda mampu terus memimpin FIFA secara sukses dan efektif sesuai dengan nilai-nilai bersama yang sebelumnya menjadi dasar kerja sama kita telah terkikis,” tulis Csanyi. Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap sejumlah keputusan yang diambil presiden FIFA dalam beberapa bulan terakhir.

Csanyi menggambarkan pemecatan Kevin Lamour sebagai “final straw” atau puncak dari seluruh kekecewaannya. Baginya, pemberhentian Lamour merupakan keputusan yang tidak terduga dan sulit diterima. Surat itu sekaligus menjadi sinyal bahwa kesabaran para petinggi sepak bola dunia terhadap Infantino semakin menipis.

Kevin Lamour dan Kontroversi di Balik Pemecatannya

Kevin Lamour resmi dipecat FIFA pada Senin, sehari sebelum surat Csanyi dikirim. Pemecatan ini terjadi setelah Lamour memutuskan keluar dari barisan pada bulan lalu dengan mengkritik Infantino. Kritik tersebut menyasar rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta yang akhirnya dibatalkan.

Selain kasus Lamour, surat Csanyi juga menyoroti sejumlah keputusan kontroversial di Piala Dunia tahun ini. Csanyi mengangkat persoalan rencana outsourcing kompetisi FIFA yang disebut-sebut akan menyerahkan berbagai turnamen kepada pihak eksternal. Ia menilai langkah-langkah semacam ini mengancam tata kelola dan independensi FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia.

Daftar Wakil Presiden FIFA yang Menentang Infantino

Csanyi bergabung dengan sederet nama besar yang sebelumnya lebih dulu menyatakan sikap menentang Infantino. Mereka adalah Aleksander Ceferin, presiden UEFA; Victor Montagliani dari Concacaf, konfederasi sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia; serta Sheikh Salman bin Ebrahim al Khalifa dari Konfederasi Sepak Bola Asia. Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris, Debbie Hewitt, juga telah menyampaikan posisi serupa terhadap kepemimpinan Infantino.

Di sisi lain, masih ada tiga wakil presiden FIFA yang tetap mendukung Infantino. Mereka adalah Alejandro Domínguez dari Conmebol Amerika Selatan, Patrick Motsepe dari Konfederasi Sepak Bola Afrika, dan Lambert Maltock dari Oseania. Dengan komposisi ini, Infantino kini kehilangan dukungan dari mayoritas wakil presidennya di FIFA.

Posisi Infantino di FIFA Council Kian Rapuh

Csanyi juga merupakan anggota FIFA Council yang beranggotakan 37 orang. Dewan ini secara teoretis menjadi badan pengambil keputusan utama FIFA, tetapi nyatanya kerap diabaikan oleh Infantino dalam berbagai kebijakan. Kritik dari internal dewan seperti yang dilontarkan Csanyi menjadi indikasi lemahnya komunikasi antara presiden dan badan tertinggi organisasi.

Ketika anggota dewan yang juga menjabat wakil presiden mulai bersuara lantang, posisi Infantino semakin sulit dipertahankan. Dukungan yang terus menyusut berpotensi memengaruhi proses pengambilan keputusan di FIFA, terutama jika konflik ini berlarut hingga periode kepemimpinan berikutnya. Tekanan publik dan internal yang terus menguat membuat setiap langkah Infantino ke depan akan diawasi ketat.

Apa Dampaknya bagi Masa Depan FIFA?

Tren ditinggalkan oleh para petinggi sepak bola global menunjukkan adanya perpecahan serius di level tertinggi FIFA. Meski surat Csanyi tidak secara tegas meminta Infantino mundur, desakan agar presiden FIFA tersebut bertanggung jawab kian nyata. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin akan muncul tuntutan yang lebih formal dari federasi-federasi anggota.

Keputusan kontroversial yang disorot Csanyi, termasuk pemecatan Lamour dan rencana outsourcing kompetisi, akan terus menjadi perbincangan. Publik dan federasi anggota tentu berharap FIFA bisa kembali fokus pada pengembangan sepak bola, bukan justru tersibukkan oleh konflik internal. Namun dengan semakin banyaknya petinggi yang kehilangan kepercayaan, jalan menuju rekonsiliasi tampak masih panjang.

Tekanan terhadap Gianni Infantino kini datang dari lima dari delapan wakil presiden FIFA. Sandor Csanyi menjadi sosok terbaru yang menyatakan kehilangan kepercayaan, dengan pemecatan Kevin Lamour sebagai pemicu utamanya. Surat tersebut sekaligus mempertegas adanya perpecahan serius di level tertinggi FIFA.

Dengan semakin banyaknya petinggi yang angkat suara, tuntutan perbaikan tata kelola FIFA hampir mustahil diabaikan. Infantino dihadapkan pada pilihan sulit antara melakukan konsolidasi internal atau menghadapi tekanan yang kian membesar. Publik sepak bola dunia pun menanti langkah selanjutnya dari presiden FIFA tersebut.

Kevin Lamour Dipecat FIFA Usai Kritik Rencana Infantino

Kevin Lamour Dipecat FIFA: Ini Kata Organisasi

Kevin Lamour dipecat FIFA dari posisinya sebagai Chief Operating Officer (COO) setelah secara terbuka mengkritik rencana kontroversial Presiden Gianni Infantino untuk menjual sebagian hak Piala Dunia kepada investor swasta. Kabar ini mengejutkan banyak pihak karena Lamour baru menjabat kurang dari dua tahun. Ia menjadi salah satu pejabat tinggi yang berani bersuara lantang menentang kebijakan tersebut.

Pemecatan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan terhadap Infantino, yang wacana penyingkirannya terus bergulir. Skema FFE yang ia usung disebut telah menimbulkan keresahan besar di internal FIFA, termasuk di kalangan staf administrasi. Lamour sendiri sebelumnya sudah menyatakan siap menerima risiko kehilangan pekerjaan akibat sikapnya itu.

FIFA resmi mengonfirmasi bahwa hubungan kerja dengan Kevin Lamour sebagai chief operating officer telah berakhir pada 17 Agustus 2026. Juru bicara FIFA menyampaikan ucapan terima kasih atas pengabdian Lamour selama dua tahun dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya. Namun, FIFA menolak memberikan komentar lebih lanjut mengenai masalah ini.

Sebelum pengumuman resmi itu, Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafström telah memberi tahu para staf melalui surel bahwa Lamour akan meninggalkan organisasi. Hingga saat ini, detail pasti di balik pemecatan Lamour masih belum jelas. Yang jelas, kepergiannya terjadi tak lama setelah ia melontarkan kritik keras terhadap rencana Infantino.

Kronologi Kritik Lamour terhadap Skema FFE

Lamour merupakan salah satu pejabat internal yang paling vokal menentang rencana Infantino untuk menjual bagian-bagian Piala Dunia kepada investor swasta, yang dikenal sebagai skema FFE. Dalam pernyataannya pada 31 Juli, ia mengungkapkan bahwa jajaran administrasi FIFA merasa telah “ditipu” oleh rencana tersebut. Ia juga menilai presiden FIFA “percaya dirinya adalah FIFA” padahal seharusnya ia melayani organisasi itu.

Lebih jauh, Lamour menegaskan bahwa para koleganya “pantas diperlakukan lebih baik daripada rasa hina dan intimidasi”. Ia juga mengungkapkan perasaannya bahwa semua orang ingin bangga bekerja untuk FIFA, tetapi saat ini banyak yang tidak lagi merasakan hal itu. Menariknya, hanya beberapa jam setelah pernyataan itu meluncur, rencana FFE pun dibatalkan.

Menanggapi risiko yang dihadapinya, Lamour menyatakan siap menerima konsekuensi apa pun, termasuk kehilangan pekerjaan. “Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, biarlah,” ujarnya dalam pernyataan resmi. “Saya akan memahami dan menghormati keputusan tersebut. Setidaknya saya akan tidur nyenyak malam ini.”

Dampak Pemecatan terhadap Tekanan Kepemimpinan Infantino

Pemecatan Lamour menjadi semakin signifikan karena terjadi bersamaan dengan mundurnya Carlos Cordeiro, salah satu penasihat senior Infantino. Cordeiro mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap usulan rencana FFE tersebut. Dua kepergian penting dalam waktu berdekatan ini menunjukkan adanya resistensi internal yang cukup kuat di tubuh FIFA.

Tekanan terhadap Infantino pun disebut semakin membesar setelah kegagalan rencana FFE. Upaya untuk memaksakan kepergiannya dari kursi presiden FIFA terus berlanjut. Situasi ini menjadi ujian besar bagi kepemimpinan Infantino di tengah krisis kepercayaan yang melanda organisasi.

Hubungan Lama Lamour dan Infantino

Yang membuat pemecatan ini semakin mencolok adalah fakta bahwa Lamour memiliki hubungan kerja yang panjang dengan Infantino. Sebelum bergabung dengan FIFA, Lamour pernah menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal UEFA dan pertama kali bergabung dengan badan sepak bola Eropa itu pada 2007. Ia juga sempat bekerja sama dengan Infantino saat keduanya berkarier di UEFA.

Kedekatan historis ini membuat keputusan Lamour untuk bersuara melawan rencana Infantino semakin menarik perhatian. Ia tampaknya lebih memilih mempertahankan integritas daripada menjaga loyalitas buta kepada atasannya. Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa kritik terhadap arah kepemimpinan FIFA tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari lingkaran dalam.

Masa Depan FIFA di Tengah Krisis Tata Kelola

Kepergian Lamour meninggalkan pertanyaan besar tentang tata kelola dan transparansi di dalam FIFA. Kegagalan skema FFE yang dibatalkan hanya beberapa jam setelah kritik muncul menunjukkan betapa rapuhnya proses pengambilan keputusan di organisasi ini. Publik dan komunitas sepak bola dunia tentu akan mengawasi langkah FIFA selanjutnya.

Apakah pemecatan ini akan memicu gelombang protes baru dari internal FIFA, atau justru menjadi bahan bakar bagi mereka yang ingin menyingkirkan Infantino? Yang jelas, krisis di puncak FIFA belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Semua mata kini tertuju pada langkah berikutnya dari badan pengatur sepak bola dunia tersebut.

Singkatnya, pemecatan Kevin Lamour dari jabatan COO FIFA merupakan konsekuensi langsung dari keberaniannya mengkritik rencana kontroversial Gianni Infantino. Ia memilih bersikap jujur meskipun harus membayar mahal dengan posisinya. Di tengah tekanan yang terus menggunung, kepemimpinan Infantino kini berada di titik yang paling genting.

Bagi FIFA, insiden ini menjadi pengingat bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Masa depan organisasi akan sangat bergantung pada bagaimana mereka menyikapi kritik internal ke depannya. Satu hal yang pasti: kisah ini masih jauh dari kata usai.

Arteta Puji Mentalitas Arsenal Usai Hancurkan City di Community Shield

Kemenangan Meyakinkan Arsenal atas Manchester City

Mikel Arteta menegaskan bahwa para pemain Arsenal telah menunjukkan hasrat besar untuk mempertahankan gelar juara Premier League setelah sukses menaklukkan Manchester City dengan skor telak 3-0 pada laga Community Shield yang berlangsung di Principality Stadium, Cardiff. Kemenangan ini menjadi pembuka musim yang sempurna bagi The Gunners yang musim lalu berhasil mengakhiri puasa gelar selama 22 tahun. Arsenal pun kini mengincar gelar juara berturut-turut untuk pertama kalinya sejak musim 1934-35, sebuah pencapaian yang sudah lama dinantikan oleh para pendukung mereka.

Pertandingan ini sekaligus menjadi ujian besar pertama bagi Enzo Maresca yang baru mengambil alih kursi pelatih Manchester City menggantikan Pep Guardiola pada musim panas ini. Gol cepat Riccardo Calafiori hanya berselang 24 detik setelah kick-off langsung mengejutkan kubu City dan meruntuhkan mentalitas para pemain lawan. Kemenangan 3-0 ini pun tercatat sebagai kekalahan terburuk yang dialami seorang manajer City di laga perdananya, menyamai rekor kelam Harry Newbould pada tahun 1906 yang juga kalah dari Arsenal dengan skor 4-1.

Arteta: Ini Standar yang Harus Kami Jaga

Arteta tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah timnya tampil dominan sepanjang laga. “Saya sangat senang dengan penampilan, hasil, dan tentu saja meraih trofi pertama di musim ini,” ujar Arteta usai pertandingan. Pelatih asal Spanyol itu juga menekankan bahwa kemenangan ini adalah bukti nyata bahwa anak asuhnya sudah siap bersaing memperebutkan gelar di musim yang baru. Ia menyebut banyak hal positif yang bisa dilihat dari cara timnya bermain melawan lawan sekelas Manchester City.

“Kami berbicara tentang keinginan besar untuk memulai musim ini dan membuktikan betapa kami menginginkannya, dan saya melihat banyak hal positif melawan lawan yang kuat,” tambah Arteta. “Saya sangat terkesan dengan cara kami bermain, cara kami bertanding. Itulah standar kami. Jika kami menjaga standar di level ini, saya yakin kami akan sangat kompetitif.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Arsenal tidak hanya puas dengan satu trofi, melainkan siap untuk terus tampil konsisten dan menjadi kekuatan yang sulit dikalahkan.

Ketika ditanya mengenai sumber motivasi timnya yang tampil begitu haus akan kemenangan, Arteta menjawab dengan gamblang. “Karena kami ingin merasakan momen itu lagi. Kami ingin menjalani momen-momen lain yang bahkan lebih besar dari sebelumnya,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa mempertahankan gelar adalah tugas yang sangat sulit, terutama karena klub belum pernah melakukannya sebelumnya dalam sejarah modern. Namun, ia menegaskan bahwa skuadnya sudah siap menghadapi tantangan besar tersebut dan akan memberikan segalanya untuk mengulang kesuksesan.

Peran Penting Christos Tzolis dan Kontribusi Ødegaard

Salah satu sorotan dalam laga ini adalah penampilan impresif Christos Tzolis yang terlibat langsung dalam terciptanya tiga gol Arsenal kala itu. Arteta memberikan pujian khusus kepada pemainnya tersebut yang dinilai memiliki kecerdasan luar biasa dalam membaca situasi di lapangan. “Dia pemain yang sangat cerdas dan memiliki kualitas besar, yaitu ketika berada di 20-30 meter terakhir lapangan, dia sangat tenang dalam memilih rekan yang tepat di sekitar kotak penalti,” jelas Arteta.

Menurut Arteta, kemampuan Tzolis untuk menyelesaikan peluang juga menjadi nilai tambah yang sangat berharga bagi tim. Ia menilai bahwa pemain asal Yunani tersebut kembali membuktikan ketajamannya melalui aksi-aksi krusial di laga ini. Keberadaan pemain seperti Tzolis memberikan dimensi baru dalam serangan Arsenal, terutama ketika mereka menghadapi pertahanan yang rapat seperti milik Manchester City.

Di sisi lain, kapten tim Martin Ødegaard juga tampil gemilang dengan menyumbangkan satu gol pada menit ke-48 setelah sebelumnya Kai Havertz menggandakan keunggulan. Ødegaard menegaskan bahwa penampilan timnya malam itu adalah bukti nyata bahwa Arsenal layak memenangkan gelar beruntun. “Kami memainkan sepak bola yang brilian. Penampilan hebat dan cara yang luar biasa untuk memulai musim,” kata playmaker asal Norwegia itu. Ia juga menegaskan ambisinya pribadi untuk terus mencetak gol dan membantu tim dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Maresca dan Kesiapan Manchester City Menghadapi Musim Baru

Di kubu Manchester City, Enzo Maresca mengakui bahwa timnya masih membutuhkan tambahan pemain baru sebelum memulai laga perdana Premier League melawan Bournemouth di kandang sendiri pada hari Minggu. The Citizens dikabarkan sedang mendekati kesepakatan untuk merekrut Ayyoub Bouaddi dari Lille, seiring dengan persiapan mereka melepas Rodri ke Barcelona. Rodri sendiri tidak ikut terbang ke Cardiff dan posisinya di lini tengah diisi oleh Elliot Anderson, sementara Jack Grealish masuk dari bangku cadangan untuk penampilan pertamanya sejak Mei 2025.

Maresca menegaskan bahwa kedatangan pemain baru semakin cepat akan semakin baik bagi kesiapan timnya. “Pemain baru mana pun, semakin cepat mereka datang, semakin baik karena kami akan memulai Premier League dalam satu minggu lagi. Jika mereka mulai bekerja bersama kami sesegera mungkin, itu akan lebih baik karena mereka juga bisa memahami cara kami ingin bermain,” jelas pelatih asal Italia tersebut. Ia tampak sangat menyadari bahwa persiapan yang minim akan menjadi hambatan besar bagi timnya di awal musim.

Meski menuai kekalahan telak, Maresca menegaskan bahwa dirinya tidak merasa khawatir berlebihan dengan hasil tersebut. “Secara umum saya selalu khawatir, bahkan ketika kami memenangkan pertandingan, jadi bayangkan bagaimana perasaan saya karena kami tidak memenangkan pertandingan ini,” katanya dengan nada ringan. Ia menganggap kekalahan ini sebagai bagian dari proses adaptasi timnya dan menegaskan bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki sebelum pertandingan berikutnya. Reaksi tim setelah kebobolan gol pertama dinilainya cukup baik, dan ia akan segera menganalisis pertandingan ini bersama staf pelatihnya.

Dampak Kemenangan Ini bagi Persaingan Gelar Musim Ini

Kemenangan telak atas Manchester City tentu memberikan dampak psikologis yang besar bagi kedua tim. Bagi Arsenal, hasil ini bukan sekadar trofi pelengkap, melainkan pernyataan jelas bahwa mereka layak diperhitungkan sebagai calon kuat juara musim ini. Para pemain menunjukkan kematangan dan kepercayaan diri yang tinggi, sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk melewati musim yang panjang dan penuh tekanan. Keberhasilan mengalahkan lawan terkuat di kompetisi domestik juga menjadi modal berharga bagi mentalitas mereka menghadapi laga-laga berat lainnya.

Sementara itu, bagi City, kekalahan ini menjadi alarm awal bahwa musim ini tidak akan berjalan mudah tanpa kehadiran Pep Guardiola di bangku pelatih. Maresca harus segera menemukan formula yang tepat untuk mengembalikan performa terbaik timnya, terutama di lini pertahanan yang tampak rapuh sepanjang laga. Proses transisi kepelatihan memang selalu membutuhkan waktu, namun tekanan untuk meraih hasil di kompetisi seketat Premier League tidak memberi ruang untuk beradaptasi terlalu lama.

Menarik untuk dinantikan bagaimana kedua tim akan menjalani start musim ini, apakah Arsenal mampu membuktikan konsistensinya atau apakah City akan bangkit dengan cepat di bawah kepemimpinan anyar. Yang jelas, persaingan di papan atas Premier League musim ini diprediksi akan berlangsung sengit dengan beberapa tim lain yang juga memperkuat skuad mereka. Jika Arsenal mampu menjaga standar permainan seperti yang ditunjukkan di Cardiff, maka bukan tidak mungkin mereka akan kembali mengangkat trofi di akhir musin nanti.

Klub-Klub Eropa Ancam Boikot Piala Dunia Antarklub FIFA

Klub-klub papan atas Eropa sempat mengancam akan boikot Piala Dunia Antarklub edisi mendatang jika Presiden FIFA, Gianni Infantino, tidak mencabut skema Fifa Forward Enterprise. Ancaman itu disampaikan hanya beberapa jam sebelum rencana bisnis yang kontroversial tersebut akhirnya dibatalkan pada awal Agustus. Sikap keras ini menunjukkan betapa gentingnya hubungan antara klub-klub Eropa dan FIFA dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam surat yang dikirim kepada Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, kelompok European Football Clubs (EFC) yang sangat berpengaruh menegaskan bahwa kerja sama mereka dengan turnamen-turnamen mendatang bergantung pada keputusan Infantino. Surat bertanggal 31 Juli yang ditandatangani CEO EFC, Charlie Marshall, itu menyebut langkah Infantino berpotensi menjadi “pelanggaran substansial” atas nota kesepahaman kedua pihak. EFC bahkan mengancam akan menarik dukungannya terhadap Piala Dunia Antarklub jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Fakta Utama: Ultimatum Menit Terakhir Sebelum Rencana FFE Dibatalkan

Eskalasi ini terjadi setelah FIFA memperkenalkan Football Forward Enterprise (FFE), skema yang didanai pihak swasta dan dirancang untuk mengelola hak siar, hak komersial, serta hak sponsor turnamen-turnamen FIFA. EFC menilai skema ini mengambil alih hak-hak yang sebelumnya dijanjikan akan dikelola bersama melalui usaha patungan antara EFC dan FIFA. Dalam suratnya, EFC menuntut kejelasan dari FIFA terkait skema baru tersebut dan mengancam akan mengambil tindakan tegas jika tuntutan itu tidak diakomodasi.

EFC menegaskan bahwa usaha patungan yang kerangkanya telah disepakati dalam nota kesepahaman itu harus diselesaikan sebelum hak siar Piala Dunia Antarklub Wanita 2028 dijual. Organisasi ini juga melontarkan kritik tajam karena proyek usaha patungan tersebut, tidak seperti proposal FFE, tidak mengalami kemajuan berarti selama setahun terakhir. Padahal, EFC sudah memiliki pengalaman kerja sama serupa dengan UEFA melalui perusahaan patungan bernama UC3 yang diluncurkan pada 2025.

Infantino akhirnya menghentikan skema FFE pada dini hari 1 Agustus setelah mendapat kecaman luas dari berbagai pihak. Namun, surat EFC menyiratkan bahwa ancaman boikot itu masih tetap berlaku selama usaha patungan yang dijanjikan belum terbentuk secara penuh. FIFA sendiri dikabarkan telah berjanji untuk segera mengadakan pertemuan dengan EFC demi menjaga kelangsungan proyek kerja sama tersebut.

Apa Isi Surat EFC dan Mengapa Klub Eropa Murka?

Bagian paling keras dalam surat EFC memuat ancaman yang sangat eksplisit. Dalam surat itu disebutkan: “Kecuali usaha patungan FIFA-EFC untuk Piala Dunia Antarklub, dengan kewenangan eksklusif atas semua urusan komersial dan operasional, terbentuk jauh sebelum siklus hak siar Piala Dunia Antarklub Wanita 2028, EFC tidak akan mendukung – dan klub-klub anggotanya tidak akan berpartisipasi dalam – edisi mendatang mana pun, termasuk Piala Dunia Antarklub wanita dan pria 2028 serta 2029.” Pernyataan ini menegaskan bahwa dukungan EFC terhadap turnamen mendatang benar-benar dipertaruhkan.

Kemarahan ini bukan hanya datang dari EFC, melainkan juga dari sejumlah besar klub di seluruh Eropa yang kecewa karena tidak dilibatkan dalam perancangan FFE. Salah satu klub besar Eropa bahkan menyampaikan kekhawatirannya melalui surat terpisah dan menyatakan siap mendukung EFC dalam “aksi kolektif yang lebih tegas” jika diperlukan. Klub tersebut juga menuntut adanya proses tata kelola yang lebih ketat dan transparan di tubuh FIFA.

EFC juga mengangkat persoalan keterlambatan penyaluran dana solidaritas sebesar £185 juta kepada klub-klub yang tidak berpartisipasi dalam Piala Dunia Antarklub. Masalah ini pertama kali dilaporkan pada Februari lalu dan hingga kini belum juga tuntas. EFC meminta FIFA segera membagikan laporan surplus pendapatan final dari Piala Dunia Antarklub 2025 beserta laporan laba rugi lengkap agar semua pendapatan, biaya, dan pengeluaran dapat dievaluasi secara transparan sesuai semangat kemitraan.

Dampak: Mengapa Ancaman Boikot Ini Begitu Serius?

Dalam praktiknya, jika klub-klub Eropa benar-benar menarik diri, turnamen Piala Dunia Antarklub tidak mungkin bisa berjalan tanpa keikutsertaan mereka. EFC dan FIFA sendiri telah mengoperasikan Piala Dunia Antarklub tahun lalu, edisi pertama dengan format 32 tim, dengan menggunakan semacam prototipe jangka pendek dari usaha patungan yang direncanakan. Hingga saat ini, belum ada tuan rumah yang diumumkan untuk Piala Dunia Antarklub Wanita yang baru maupun edisi turnamen pria pada 2029.

Ada optimisme yang meningkat bahwa masalah dana solidaritas ini akan segera menemukan titik terang. Namun, jika dana £185 juta itu dibagi rata, setiap klub liga papan atas dunia hanya akan menerima sekitar £50.000 – jumlah yang sangat kecil dibandingkan hadiah £84 juta yang sudah diterima Chelsea sebagai juara Piala Dunia Antarklub tahun lalu. Ketimpangan yang mencolok ini jelas memicu kekecewaan di kalangan klub yang tidak ikut serta dalam turnamen.

EFC juga mengingatkan bahwa nota kesepahaman yang akan berakhir pada 30 Desember 2030 mencakup penerimaan EFC dan klub anggotanya terhadap kalender pertandingan internasional serta aturan pelepasan pemain untuk tim nasional. Kedua hal ini dinilai sangat relevan bagi asosiasi anggota FIFA di luar Eropa dan juga bagi nilai yang seharusnya dimiliki FFE. Jika nota kesepahaman itu dibatalkan, EFC menyebut visi komersial FIFA dalam skema FFE merupakan “pelanggaran serius atas kepercayaan” yang bisa membahayakan seluruh kerja sama kedua belah pihak.

Kekuatan EFC: Dari Lobi Klub Menjadi Penentu Arah Sepak Bola Global

Surat bernada keras ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh EFC, yang diketuai oleh presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi. Organisasi yang didirikan pada 2008 sebagai kelompok lobi untuk klub-klub Eropa ini kini memiliki lebih dari 800 anggota, meskipun hanya sebagian kecil yang memiliki hak suara penuh. Pengaruh EFC terhadap FIFA disebut telah melampaui perkiraan banyak pihak di industri sepak bola.

Sejumlah pemangku kepentingan lain dalam ekosistem sepak bola dikabarkan merasa khawatir dengan tingkat kekuatan yang telah diambil alih oleh EFC. Sebagai respons, terbentuklah Union of European Clubs pada 2023 yang mewakili klub-klub kecil, meskipun organisasi ini tidak diakui oleh UEFA. Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika kekuasaan yang kompleks dan semakin memanas di sepak bola Eropa.

Salah satu konsekuensi potensial dari pembahasan EFC dengan FIFA adalah kemungkinan ekspansi organisasi ini menjadi kelompok yang mewakili klub di seluruh dunia dalam jangka menengah. Dalam waktu dekat, surat bulan lalu itu juga menuntut FIFA memenuhi janjinya untuk mengintegrasikan Al-Khelaifi ke dalam Dewan FIFA, yang dianggap sebagai badan pengambil keputusan utama. Tuntutan ini semakin mempertegas ambisi EFC untuk duduk di kursi kekuasaan sepak bola global.

Ancaman boikot yang dilayangkan EFC pada akhirnya berhasil memaksa FIFA untuk menghentikan skema FFE, tetapi pekerjaan rumah bagi kedua belah pihak masih panjang. Usaha patungan yang dijanjikan, transparansi keuangan, dan penyaluran dana solidaritas menjadi ujian apakah hubungan EFC dan FIFA benar-benar bisa kembali sehat. Jika tidak ditangani dengan serius, bukan tidak mungkin ancaman boikot Piala Dunia Antarklub itu akan kembali mencuat di masa depan.

Prakiraan Everton Premier League 2026-27: Mampukah Bangkit?

Prakiraan Everton di Premier League 2026-27 dari para penulis Guardian menempatkan The Toffees di peringkat 10. Posisi ini tiga tingkat lebih baik dari akhir musim lalu, ketika Everton mengakhiri kompetisi di peringkat 13. Namun, prediksi ini datang dengan catatan besar: kemajuan yang sesungguhnya masih harus dibuktikan di lapangan.

Musim lalu sebenarnya sempat berjalan melebihi ekspektasi pada empat perlima awal, dengan Everton tampil lebih proaktif dan berani menyerang, bebas dari ketakutan akan degradasi. Namun, keruntuhan di pengujung musim mengubah total persepsi terhadap musim penuh pertama David Moyes. Kini, pembicaraan soal kemajuan menuntut bukti yang lebih nyata daripada sekadar janji.

Peluang dan Target Everton di Premier League 2026-27

Pada 21 Maret lalu, Everton hanya tertinggal tiga poin dari posisi kelima yang menjadi ambang terakhir Liga Champions setelah menghancurkan Chelsea di kandang baru mereka. Sejak saat itu, The Toffees tidak pernah menang lagi hingga akhir musim dan jatuh ke peringkat 13. Posisi itu sama persis dengan musim sebelumnya di bawah Sean Dyche dan Moyes, dengan selisih satu poin lebih banyak tetapi selisih gol yang lebih buruk.

Sebenarnya, lolos ke kompetisi Eropa boleh dibilang target ambisius untuk klub yang masih beradaptasi dengan stadion baru dan kehilangan 10 pemain akibat habisnya kontrak, termasuk pemain pinjaman. Namun, peluang itu terbuka lebar di depan mata tim asuhan Moyes, dan mereka gagal memanfaatkannya. Musim ini, tanpa gejolak besar seperti musim panas lalu, lini tengah yang lebih baik, dan pengalaman setahun para pemain muda, peluang lolos ke Eropa bisa menjadi lebih realistis.

Semua itu hanya berlaku jika sejumlah lubang besar di skuad Moyes akhirnya diisi. Everton butuh peningkatan di posisi penyerang tengah, karena Beto dan Thierno Barry masih terbatas kemampuannya, meski Barry menunjukkan tanda-tanda positif di pramusim. Berikut beberapa sektor yang wajib dibenahi sebelum bursa transfer ditutup:

  • Penyerang tengah: Beto dan Thierno Barry dinilai belum cukup tajam untuk standar Premier League.
  • Bek kanan: Everton masih mencari penerus Séamus Coleman.
  • Bek tengah: sektor yang musim lalu kerap menjadi titik lemah.

Situasi di Luar Lapangan: Denda dan Tekanan Finansial

Konsekuensi dari kepemilikan Farhad Moshiri yang kacau masih terus dirasakan Everton hingga sekarang. Klub diperintahkan membayar kompensasi hampir £40 juta kepada Burnley atas degradasi tim tersebut pada musim 2021-22. Vonis yang dikeluarkan komisi disiplin independen Premier League ini dibarengi dengan denda finansial terbesar yang pernah dijatuhkan kepada klub Premier League.

Everton mengajukan banding atas vonis yang membuka kotak pandora ini, sekaligus atas denda terbesar tersebut. Klub mengklaim hukuman terbaru ini tidak memengaruhi rencana transfer mereka pada musim panas. Namun, di sisi lain, banyak pemegang tiket musiman harus menanggung kenaikan harga di atas inflasi, bahkan di sebagian kasus hampir 10 persen.

Di tengah semua tekanan itu, Everton justru memperpanjang kesepakatan sponsor dengan Stake. Padahal, pemerintah Inggris telah berkomitmen menindak operator judi tanpa izin yang mensponsori tim olahraga Inggris. Langkah ini tentu tidak lepas dari sorotan publik.

Hubungan Pemilik dan Suporter yang Belum Hangat

The Friedkin Group (TFG) memang berhasil membawa stabilitas finansial yang sangat dibutuhkan Everton. Namun, akan sulit untuk mengklaim bahwa suporter sudah benar-benar terhubung dengan kelompok pemilik yang rendah profil ini. Mereka bahkan jarang menghadiri pertandingan.

CEO Angus Kinnear, orang yang ditunjuk TFG untuk menjalankan klub, sempat memancing kemarahan suporter di akhir musim lalu. Ia menyebut hierarki klub merasa “bahagia namun tidak puas” dengan musim pertama di Hill Dickinson Stadium. Komentar itu langsung dianggap sebagai bukti baru bahwa Everton mulai terbiasa dengan mediokritas.

Namun, perlu dilihat konteks penuh dari pernyataan Kinnear tersebut. Ia sedang menulis tentang tekad TFG untuk mengusir ancaman ketidakstabilan finansial, degradasi, dan sanksi regulasi. Dalam kesempatan yang sama, ia juga menambahkan: “Kemajuannya jelas, tetapi kami belum mencapai apa pun.”

David Moyes dan Masa Depan di Tengah Spekulasi

David Moyes genap berusia 64 tahun pada April nanti dan tetap menjadi manajer tertua di Premier League. Ketajaman dan ambisinya untuk membangun kembali Everton masih jelas terlihat, meskipun menarik untuk disimak apakah ia tetap punya selera beradu argumen dengan kritikus jika musim dimulai dengan buruk. Terlebih, kursi pelatih tim nasional Skotlandia masih kosong dan Moyes tampak sebagai kandidat ideal untuk menggantikan Steve Clarke.

Hingga akhir musim lalu yang buruk, Moyes sebenarnya melampaui ekspektasi yang diberikan kepadanya. Namun, hasil buruk di pengujung musim merampas peluang Everton tampil di Eropa dan membuat pemilihan pemainnya disorot tajam. Pembicaraan soal perpanjangan kontrak pun sejak itu meredup.

Rekrutan yang Bisa Menjadi Kunci Kejutan

Jendela transfer Everton sejauh ini lebih terkesan masuk akal ketimbang spektakuler, seperti mengganti Idrissa Gana Gueye dengan Christian Nørgaard senilai £7 juta. Namun, satu langkah yang mungkin menjadi kejutan adalah pertukaran Dwight McNeil dengan Brennan Johnson. Hampir tidak ada yang membantah bahwa kepindahan pemain asal Wales itu dari Tottenham ke Crystal Palace pada Januari berakhir mengecewakan.

Palace pun siap menanggung kerugian besar atas investasi rekor mereka senilai £35 juta hanya tujuh bulan kemudian. Akan tetapi, jika Johnson yang kini berusia 25 tahun mampu menemukan kembali performa terbaiknya seperti di Nottingham Forest atau saat mencetak 18 gol untuk Spurs pada 2024-25, ia bisa menjadi pembelian yang sangat menguntungkan. Pemain ini dinilai mampu menjawab sejumlah masalah di lini depan Everton.

Statistik: Skuad Paling Stabil di Premier League

David Moyes dikenal sebagai manajer yang sangat suka mempertahankan susunan pemain tetap. Everton pun mencatatkan rata-rata perubahan susunan starter paling sedikit dibanding tim mana pun di Premier League 2025-26. Ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari pendekatan Moyes yang mengutamakan stabilitas dan chemistry antarpemain.

Dengan skuad yang sebagian besar masih sama seperti musim lalu, tren ini kemungkinan besar akan berlanjut. Namun, ada satu pertanyaan besar yang menggantung: bagaimana jika cedera mulai menyerang pemain-pemain kunci? Konsistensi memang baik, tetapi tanpa kedalaman skuad yang memadai, gaya ini bisa menjadi bumerang ketika jadwal padat datang.

Tyler Dibling: Pembelian Termahal yang Gagal Menonjol

Tyler Dibling seharusnya menjadi kandidat kuat untuk kategori pemain yang bakal bersinar musim ini setelah dibeli dari Southampton dengan biaya awal £35 juta. Namun, musim debutnya di Merseyside nyaris tidak meninggalkan jejak sama sekali. Dengan kata lain, ia kembali dinominasikan setahun kemudian justru karena musim yang tidak terjadi apa-apa.

Everton menginvestasikan banyak waktu dan uang untuk memboyong pemain timnas Inggris U-21 ini, yang hingga kini menjadi pembelian termahal pada periode kedua Moyes. Namun, hasilnya sangat mengecewakan. Gelandang serang itu hanya tampil sebagai starter dalam empat pertandingan liga sepanjang musim.

Yang lebih parah, Dibling tidak diberi satu menit pun bermain setelah kemenangan 2-0 atas Burnley pada 3 Maret lalu. Moyes tidak menyembunyikan frustrasinya terhadap apa yang ia lihat di lapangan latihan. Ini jelas bukan sinyal bagus bagi pemain yang diyakini bakal menjadi bintang masa depan Everton.

Dampak Piala Dunia bagi Skuad Everton

Piala Dunia terlama dalam sejarah ini seharusnya tidak memberi dampak terlalu berat bagi skuad Moyes. Hanya tiga pemain Everton yang terlibat, dan dari jumlah itu hanya Jordan Pickford yang masih tampil setelah 1 Juli. Pickford kembali menerima kritik yang biasa ia dapatkan setelah penampilannya melawan Ghana dan Argentina, meskipun ia menegaskan statusnya sebagai kiper utama Inggris sepanjang turnamen.

Iliman Ndiaye hanya sekali menjadi starter untuk Senegal dan ditarik keluar pada menit ke-73 ketika timnya unggul 2-0 atas Belgia di babak 32 besar. Hasil akhirnya justru kekalahan 3-2. Sementara itu, Nathan Patterson, yang masa depannya di Everton belum jelas, tampil dalam tiga pertandingan babak grup Skotlandia yang mudah dilupakan.

Everton kini berada di persimpangan yang sama seperti musim lalu: modal awal yang cukup baik, tetapi janji kemajuan harus dibuktikan dengan konsistensi. Skuad asuhan Moyes perlu mengisi posisi-posisi krusial, terutama penyerang tengah dan bek kanan, agar target Eropa tidak kembali menguap. Langkah terakhir di bursa transfer akan sangat menentukan apakah The Toffees benar-benar melaju atau kembali tertahan di papan tengah.

Prakiraan peringkat 10 dari para penulis Guardian bisa menjadi pijakan yang wajar, tetapi bukan sesuatu yang otomatis terjadi. Everton harus belajar dari keruntuhan musim lalu, ketika peluang tampil di Eropa hilang hanya dalam beberapa pekan. Kini tinggal menunggu apakah skuad Moyes sanggup membuktikan bahwa kemajuan itu nyata, bukan sekadar wacana.