Andy Carroll, mantan penyerang tim nasional Inggris, mengungkap bahwa dirinya pernah menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang pria pada 2021. Pengakuan itu ia tuangkan dalam autobiografinya yang berjudul Owning It. Sebagai korban kekerasan seksual, Carroll sebenarnya otomatis memperoleh hak anonimitas, sehingga keputusan untuk membuka sendiri identitasnya lahir dari pilihannya sendiri, bukan karena identitasnya terbongkar.
Pemain berusia 37 tahun itu kini berstatus sebagai pemain sekaligus salah satu pemilik klub Dagenham & Redbridge di kasta National League South. Pengakuannya menambah daftar atlet pria yang mulai berbicara terbuka soal kekerasan seksual, isu yang selama ini jarang dibahas di dunia olahraga. Bobot kisah Carroll semakin terasa karena ia memilih membicarakannya di saat namanya masih lekat sebagai mantan penyerang Liverpool dan West Ham.
Isi Pengakuan Andy Carroll dalam Buku Owning It
Dalam buku tersebut, Carroll mengungkap bahwa insiden itu terjadi di rumahnya, tepat pada periode masa bakti keduanya bersama Newcastle. Ia menuliskan pengalamannya dengan kalimat yang lugas: “Saya dilecehkan secara seksual, nah sudah saya katakan.” Menurutnya, hal itu menakutkan bahkan hanya untuk dipikirkan, dan sebelum buku ini terbit hanya segelintir orang yang mengetahui kejadian tersebut.
Carroll mengaku butuh waktu panjang sebelum akhirnya memutuskan memasukkan bagian itu ke dalam bukunya. Ia menyebut keputusan tersebut diambil “pada menit-menit terakhir” setelah berdiskusi panjang dengan pasangannya, Lou Teasdale. Ia bahkan sempat menghindari penerbitnya cukup lama, sampai-sampai pihak penerbit menduga ia kehilangan keberanian untuk melanjutkan rencana itu.
“Saya dan Lou menghabiskan banyak waktu untuk membahas apakah hal ini perlu disebut di buku ini atau tidak,” tulis Carroll. Ia menambahkan bahwa dirinya sengaja menghindar dari penerbit karena masih ragu. Keraguan itu akhirnya kalah oleh keyakinan bahwa ceritanya perlu diketahui orang lain.
Kronologi Kejadian dan Proses Hukum yang Dijalaninya
Peristiwa itu terjadi saat Carroll sedang tidur. Pelaku merupakan seorang teman dari mantan pasangannya, yang pada waktu kejadian sedang tidak berada di rumah. Setelah terbangun dan menyadari apa yang terjadi, Carroll langsung mengusir pria tersebut keluar dari rumahnya. Ketika pria itu mencoba masuk kembali, Carroll memukulnya hingga tidak sadarkan diri.
Kasus ini kemudian berlanjut ke ranah hukum. Pelaku akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun, dan Carroll hadir sebagai saksi di persidangan. Dalam proses itu, pelaku dinyatakan bersalah atas tindak pidana seksual serta dimasukkan ke dalam daftar pelaku kejahatan seksual.
Bagi Carroll, bersaksi di pengadilan menjadi pengalaman yang sangat berat. Ia menggambarkannya sebagai “memalukan, membuat malu, dan benar-benar mengerikan”. Harus menceritakan ulang detail kejadian di depan ruang sidang menjadi beban tersendiri, terutama karena ia sudah berusaha menutup rapat persoalan itu selama bertahun-tahun.
Dampak yang Dirasakan Carroll pada Karier dan Hidupnya
Carroll tidak menyembunyikan bahwa insiden tersebut meninggalkan bekas yang panjang. Ia mengaku apa yang terjadi telah memengaruhi hampir setiap aspek hidupnya. Pikirannya terus kembali ke kejadian itu setiap hari, sehingga ia sulit berkonsentrasi pada hal lain, termasuk saat menjalani pekerjaan sebagai pesepak bola profesional.
Bagi seorang pemain yang dituntut fokus tinggi di lapangan, gangguan seperti itu jelas bukan persoalan kecil. Carroll menyatakan trauma yang ia alami tidak pernah benar-benar hilang. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemulihan dari kekerasan seksual tidak berjalan linear, bahkan ketika seseorang tetap tampil di panggung publik dan menjalani karier yang terlihat normal.
Tekanan untuk tampil kuat di depan publik menjadi salah satu alasan mengapa banyak korban memilih diam. Hal serupa juga berlaku bagi atlet pria, yang sering dihadapkan pada ekspektasi sosial untuk tidak menunjukkan kerentanan. Keraguan Carroll selama berbulan-bulan sebelum buku terbit menggambarkan betapa besar beban psikologis yang menyertai keputusan untuk berbicara terbuka.
Alasan Carroll Akhirnya Memilih Bicara
Meski berat, Carroll akhirnya menilai pengakuannya punya tujuan yang lebih besar. Ia menyadari bahwa pengalaman buruk itu turut membentuk dirinya, sebagaimana hal-hal baik lain yang pernah ia alami. Jika ceritanya bisa membantu satu orang saja untuk merasa tidak sendirian, ia menganggap keputusan itu sepadan.
Carroll juga menyebut bahwa membicarakannya tetap terasa menakutkan, tetapi ia memilih melakukannya. Dengan langkah ini, ia keluar dari posisi aman sebagai korban yang identitasnya dilindungi undang-undang dan memilih tampil dengan nama sendiri. Pilihan tersebut membuat kasusnya lebih dari sekadar catatan hukum, karena kini menjadi bagian dari narasi publik tentang kekerasan seksual di dunia olahraga.
Kisah Carroll menegaskan bahwa kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja, termasuk figur publik yang secara fisik dianggap kuat. Semakin banyak atlet yang bersuara, semakin besar pula peluang isu ini dibahas tanpa stigma, sekaligus membuka jalan bagi korban lain untuk mencari bantuan. Perkembangan itu penting, terutama di lingkungan sepak bola yang selama ini lebih sering menuntut ketangguhan ketimbang membuka ruang bagi pemulihan mental.
Hingga kini Carroll tetap menjalani perannya di Dagenham & Redbridge sebagai pemain dan pemilik klub, sementara kehidupan pribadinya bersama Lou Teasdale turut menjadi bagian dari cerita yang ia tuliskan. Pengakuan ini menjadi penanda bahwa perjalanan kariernya tidak bisa dipisahkan dari pengalaman pahit yang pernah ia alami.
Pada akhirnya, pengakuan Andy Carroll dalam Owning It menunjukkan bahwa keberanian berbicara sering kali lahir dari proses panjang penuh keraguan. Ia memilih membuka luka lamanya bukan untuk mencari simpati, melainkan agar orang lain yang mengalami hal serupa tahu bahwa mereka tidak sendirian. Pesan itulah yang membuat kejadian 2021 tersebut tetap relevan dibicarakan, jauh setelah persidangan selesai.
