Liverpool Kalahkan Everton di Anfield, Akhiri Kutukan Derby

Liverpool kalahkan Everton di Anfield dengan skor 2-0 pada lanjutan Women’s Super League (WSL), sekaligus mengakhiri paceklik kemenangan yang selama ini menghantui mereka di laga derby. Dua gol kemenangan tuan rumah lahir dari sundulan Beata Olsson di menit-menit awal dan penyelesaian Cornelia Kapocs menjelang laga usai. Hasil itu menjadi kemenangan pertama Liverpool atas Everton di Anfield sejak kompetisi WSL bergulir, sebuah catatan yang selama bertahun-tahun terasa mustahil dipatahkan.

Saat peluit akhir berbunyi, para pemain Liverpool bisa berkumpul di depan The Kop untuk berfoto bersama sebagai bentuk perayaan, merayakan sensasi baru yang sudah lama tidak mereka rasakan. Maklum, Everton sebelumnya selalu pulang dengan kemenangan dalam enam kunjungan ke Anfield di era WSL, bahkan mantan manajer mereka, Brian Sørensen, sempat menyindir bahwa Anfield seperti “lapangan latihan” bagi timnya. Karena itu, kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin, melainkan pembalasan atas deretan hasil pahit di laga paling bergengsi bagi kedua klub tersebut.

Jalannya Laga: Gol Cepat Olsson dan Kegigihan Liverpool

Liverpool membuka keunggulan dengan cara yang terlihat sederhana. Olsson bergerak di depan penjaganya, Hannah Blundell, untuk menyambut sepak pojok dari sisi kanan yang dilepaskan Natalia Ramos. Sundulannya diarahkan secara diagonal melewati kiper dan masuk ke sudut jauh gawang, hanya dalam empat menit pertama pertandingan. Karena prosesnya begitu mulus, wajar jika banyak yang mengira Liverpool akan menjalani sore itu dengan mudah.

Kenyataannya, anggapan tersebut tidak terbukti. Setelah gol pembuka, pertandingan berubah menjadi duel melelahkan karena Liverpool harus membongkar lini belakang Everton yang sejak awal tampil rapat dan sulit ditembus. Tuan rumah terus menguasai bola dan menekan, tetapi ruang di sepertiga akhir lapangan nyaris selalu tertutup. Everton sendiri berulang kali mencoba menghukum Liverpool lewat serangan balik sebelum babak pertama berakhir.

Memasuki babak kedua, tekanan Liverpool justru semakin menjadi. Sepak bola mati kembali hampir membuahkan hasil ketika voli Vivien Endemann menghantam mistar gawang. Sejak momen itu, serangan datang bertubi-tubi tanpa henti dan Everton semakin sering dipaksa bertahan di area sendiri. Namun, penyelesaian akhir Liverpool beberapa kali masih bisa digagalkan oleh pemain lawan.

Aksi Ruby Mace Tahan Ketajaman Liverpool

Gelandang Everton, Ruby Mace, menjadi sosok yang paling merepotkan bagi Liverpool di laga ini. Ketika pertandingan menyisakan sekitar 20 menit, Ramos tampak pasti akan mencetak gol karena sudah berada kurang dari 10 yard dari gawang dengan waktu cukup untuk menembak. Akan tetapi, upaya tersebut diblok Mace, yang melemparkan tubuhnya ke depan bola demi menjaga peluang timnya tetap hidup.

Lima menit berselang, Mace kembali menyelamatkan Everton. Kali ini ia menyapu bola hasil percobaan Kapocs tepat di garis gawang, setelah sundulan penyerang Liverpool itu mengenai bagian atas bahunya dan memantul ke arah gawang. Tanpa kecepatan reaksi Mace, Liverpool seharusnya sudah menggandakan keunggulan lebih awal dan mengubah jalannya pertandingan jauh sebelum waktu tersisa menipis.

Gol kedua Liverpool akhirnya datang juga di fase akhir pertandingan. Kapocs menemukan ruang di dalam kotak penalti, berputar menghadap gawang, dan melepaskan tembakan yang tidak mampu dijangkau kiper Everton. Gol itu disambut kelegaan besar dari para pendukung Liverpool yang sejak awal menantikan momen tersebut.

Akhir Kutukan Derby dan Reaksi Gareth Taylor

Pelatih kepala Liverpool, Gareth Taylor, mengakui bahwa mematahkan catatan buruk itu merupakan hal yang menyenangkan. “Senang rasanya akhirnya mematahkan rekor itu, tentu saja,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa staf pelatih sengaja tidak membesar-besarkan laga ini karena tekanan yang berlebihan justru membuat pemain khawatir. Menurutnya, pemain perlu tampil natural, seperti saat mereka bermain di masa muda.

Taylor juga menyoroti bagaimana statistik tersebut bisa terus membengkak jika tidak dihentikan. Ia merasa timnya kurang beruntung pada pertemuan musim lalu di Anfield, ketika Everton mampu mencetak empat gol di pertandingan itu meski menurutnya gol-gol tersebut tercipta dengan penyelesaian luar biasa. Sebaliknya, pada laga kali ini Liverpool hanya mencetak dua gol padahal peluangnya jauh lebih banyak.

Latar belakang pertemuan ini memang tidak seimbang sejak awal. Everton datang ke Anfield dengan modal enam kemenangan dari enam kunjungan di era WSL, sebuah dominasi yang membuat derby ini selalu terasa berat bagi Liverpool. Sindiran Sørensen tentang “lapangan latihan” menunjukkan betapa nyamannya Everton setiap kali bertandang. Kini, catatan itu resmi berakhir.

Arti Hasil Ini bagi Langkah Liverpool

Tiga poin dari laga ini melanjutkan awal musim yang menjanjikan bagi Liverpool, yang kini mengoleksi tujuh poin dari empat pertandingan pembuka. Satu-satunya kekalahan mereka terjadi saat bertandang ke markas juara bertahan, Manchester City. Tren tersebut menunjukkan bahwa tim asuhan Taylor jauh lebih siap dibandingkan musim sebelumnya.

Sebagai perbandingan, musim lalu Liverpool butuh waktu hingga 25 Januari untuk mengumpulkan tujuh poin. Pencapaian cepat kali ini menegaskan adanya peningkatan signifikan, yang dibangun dari kemajuan yang sudah terlihat pada paruh kedua musim 2025-26. Kombinasi antara pertahanan yang lebih rapi dan penyelesaian akhir yang efektif membuat Liverpool kini lebih diperhitungkan di papan atas.

Lebih dari itu, kemenangan atas Everton memberi dampak psikologis yang besar. Setelah bertahun-tahun kalah di kandang sendiri pada laga derby, Liverpool kini punya bukti bahwa mereka mampu bersaing dan menang bahkan di pertandingan yang paling penuh tekanan.

Everton dan Masalah Kreativitas di Lini Depan

Di sisi lain, Everton meninggalkan Anfield dengan pekerjaan rumah yang jelas. Sebelum jeda, mereka sempat membuang beberapa peluang bagus lewat serangan balik, termasuk upaya Hannah Cain yang menyapu bola ke atas dari posisi menjanjikan. Secara keseluruhan, Everton tampak kurang kreatif ketika harus membangun serangan dari nol.

Persoalan itu tercermin dari statistik: dua gol Everton di liga musim ini keduanya berstatus gol bunuh diri pemain lawan. Pelatih kepala Everton, Scott Phelan, mengakui timnya perlu lebih tegas dalam mengambil keputusan di sepertiga akhir lapangan. Menurutnya, para pemain yang mengisi area tersebut memiliki kualitas dan diyakini akan segera menyumbang gol.

Phelan juga menegaskan bahwa situasi ini belum masuk kategori panik. Ia mengingatkan bahwa Everton sudah memenangi dua laga di liga dan tiga pertandingan secara beruntun, sehingga pencapaian itu tidak boleh dilupakan. Dengan empat pertandingan yang sudah dijalani, ia berharap momen kontribusi gol itu datang sesegera mungkin.

Hingga saat ini, Everton masih berada dengan nyaman di papan tengah dengan dua kemenangan dari empat laga. Namun, bagi para pendukungnya, bagian paling mengecewakan dari kekalahan ini adalah bahwa mereka tidak lagi bisa mengandalkan tiga poin tahunan dari Anfield.

Secara keseluruhan, laga ini menandai titik balik penting bagi Liverpool. Gol cepat Olsson dan penyelesaian akhir Kapocs memastikan kemenangan 2-0 yang pantas, sementara penampilan Ruby Mace membuat skor tidak melebar. Bagi Liverpool, hasil ini menegaskan kemajuan mereka di awal musim dan mengubur kutukan derby yang terlalu lama dibiarkan hidup.

Bagi Everton, sorotan kini tertuju pada produktivitas lini depan yang belum menemukan bentuk terbaik. Perjalanan musim masih panjang, tetapi pertanyaan soal siapa yang akan mencetak gol pertama dari kalangan pemain sendiri akan terus mengiringi langkah mereka.