Andy Burnham Khawatir Manchester City Kehilangan Pemilik

Wali Kota Greater Manchester, Andy Burnham, mengaku akan “sangat khawatir” jika Manchester City sampai kehilangan pemiliknya akibat dinyatakan bersalah atas lebih dari 100 pelanggaran aturan Premier League. Pernyataan itu ia lontarkan ketika menanggapi putusan keras yang dijatuhkan komisi independen terhadap klub tersebut. Menurut Burnham, keberadaan pemilik saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan kota Manchester dalam beberapa tahun terakhir.

Pernyataan Burnham muncul di hari yang sama ketika Independent Football Regulator (IFR) memastikan memiliki kewenangan untuk menyelidiki kelayakan Abu Dhabi United Group sebagai pemilik klub Inggris. Langkah itu diambil setelah komisi independen menyoroti kontrak-kontrak semu senilai £900 juta yang melibatkan Manchester City. Situasi ini membuat masa depan kepemilikan klub berada di persimpangan, di tengah proses yang masih berjalan dan belum menemukan titik akhir.

Sikap Andy Burnham soal Pemilik Manchester City

Dalam pernyataannya, Andy Burnham menegaskan bahwa ia tidak ingin melihat pemilik Manchester City hengkang dari klub. Ia menyebut mereka sebagai mitra besar dalam pembangunan Manchester modern sekaligus sosok di balik transformasi City menjadi kekuatan global seperti sekarang. Baginya, kepergian pemilik akan menjadi pukulan tersendiri bagi kota yang selama ini merasakan manfaat investasinya.

Burnham secara khusus menyampaikan terima kasih kepada City Football Group dan kepemilikan yang lebih luas. Ia menilai dana yang mereka tanamkan tidak hanya mengalir ke Stadion Etihad dan kawasan di sekitarnya, tetapi juga turut menyentuh pembangunan kota secara keseluruhan. Karena itu, ia mengaku akan merasa sangat kehilangan apabila hubungan tersebut berakhir.

Meski begitu, Burnham menegaskan dirinya tidak akan ikut campur dalam proses disipliner Premier League. Ia menyadari keputusan terhadap City berpotensi berdampak pada hubungan dagang antara Inggris dan Abu Dhabi, yang nilainya disebut mencapai sekitar £30 miliar per tahun. Namun menurutnya, ikut mengintervensi proses hukum justru merupakan langkah yang keliru.

Duduk Perkara: Lebih dari 100 Pelanggaran dan Kontrak Senilai £900 Juta

Kasus yang membelit Manchester City berpusat pada temuan komisi independen terkait lebih dari 100 pelanggaran aturan Premier League. Salah satu sorotan utamanya adalah keberadaan kontrak-kontrak semu dengan nilai total mencapai £900 juta. Temuan inilah yang kemudian memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk regulator sepak bola Inggris.

Hingga kini, Manchester City masih membantah dan memperjuangkan posisinya dalam proses yang belum selesai. Karena statusnya masih diperdebatkan, Burnham memilih untuk tidak berbicara terlalu banyak mengenai substansi perkara. Ia menekankan pentingnya mempelajari seluruh detail sebelum menarik kesimpulan apa pun.

Burnham juga menyinggung pengalamannya saat membela Everton beberapa tahun lalu. Pada 2023, Everton dijatuhi sanksi pengurangan enam poin oleh Premier League karena melanggar aturan profitabilitas dan keberlanjutan. Ia mengaku masih sangat yakin bahwa klub asal Merseyside itu tidak diperlakukan secara adil dalam proses tersebut.

Peran IFR dan Pernyataan David Kogan

Dalam pernyataan yang dirilis lebih awal, Rabu, kepala eksekutif IFR, David Kogan, menegaskan bahwa pihaknya tengah memantau kasus City dan siap mengambil tindakan. Menurut Kogan, keputusan komisi independen memunculkan persoalan serius yang perlu ditindaklanjuti. Pernyataan ini menegaskan bahwa regulator tidak tinggal diam menghadapi temuan tersebut.

Kogan menjelaskan bahwa IFR memiliki kewenangan untuk menilai kelayakan pemilik, direktur, dan eksekutif sebuah klub. Kewenangan itu akan digunakan bila diperlukan, dengan tujuan melindungi keberlanjutan, kejujuran, dan integritas sepak bola Inggris ketika ada bukti jelas adanya pelanggaran. Ia menambahkan bahwa penilaian tersebut juga mempertimbangkan temuan yang dihasilkan oleh liga.

Meski demikian, Kogan menyatakan pihaknya akan menunggu perkembangan lebih lanjut. Alasannya, proses antara Manchester City dan Premier League masih berlangsung. Artinya, potensi tindakan lanjutan dari IFR masih bergantung pada dinamika perkara yang belum tuntas tersebut.

Dampak bagi City, Hubungan Dagang, dan Preseden Everton

Bagi Manchester City, ancaman kehilangan pemilik bukan sekadar soal nama besar di balik klub. Selama ini, investasi besar dari Abu Dhabi menjadi fondasi pertumbuhan klub, baik di level domestik maupun Eropa. Jika kelayakan kepemilikan dipersoalkan lebih jauh, stabilitas jangka panjang klub bisa ikut terguncang.

Di sisi lain, kasus ini bersinggungan dengan kepentingan yang lebih luas, yakni hubungan dagang Inggris dan Abu Dhabi. Nilai kerja sama yang disebut mencapai sekitar £30 miliar per tahun membuat setiap keputusan berpotensi memiliki efek berantai. Itulah sebabnya Burnham menyoroti besarnya dampak yang bisa timbul, meski ia tetap menolak terlibat dalam proses disipliner.

Pengalaman Everton menjadi cerminan bagaimana sanksi bisa mengguncang sebuah klub. Burnham mengingat momen ketika banyak pihak dengan cepat menyatakan Everton bersalah, meski belakangan penilaian itu dianggap kurang adil oleh sebagian orang. Ia pun berharap kasus City ditangani dengan kehati-hatian serupa, tanpa terburu-buru menyimpulkan.

Apa yang Mungkin Terjadi Berikutnya

Karena Manchester City masih memperjuangkan posisinya, perkembangan kasus ini kemungkinan besar belum akan selesai dalam waktu dekat. IFR menyatakan akan menunggu hasil lanjutan sebelum mengambil langkah, sehingga arah akhirnya masih terbuka. Semua mata kini tertuju pada bagaimana proses antara klub dan Premier League bergulir.

Yang jelas, kombinasi antara temuan komisi independen, kewenangan IFR, dan kepentingan dagang lintas negara membuat kasus ini jauh lebih rumit daripada sekadar sanksi olahraga. Setiap keputusan berpotensi menggema ke berbagai arah, mulai dari kompetisi domestik hingga hubungan bilateral. Karena itu, wajar bila banyak pihak memilih bersikap hati-hati.

Kesimpulan

Pernyataan Andy Burnham menegaskan bahwa isu kepemilikan Manchester City menyentuh lebih dari sekadar urusan di lapangan. Ia mengakui akan sangat khawatir jika klub kehilangan pemiliknya, namun tetap menolak mencampuri proses disipliner Premier League. Di saat yang sama, IFR melalui David Kogan menyatakan siap menggunakan kewenangannya bila diperlukan.

Dengan proses yang masih berjalan dan belum ada keputusan final, masa depan Manchester City maupun pemiliknya masih penuh tanda tanya. Yang bisa dipastikan, kasus ini akan terus menjadi sorotan karena menyangkut integritas kompetisi, investasi besar, dan hubungan dagang antarnegara. Semua pihak kini tinggal menanti bagaimana babak berikutnya dari perkara ini akan terungkap.