Inggris hancurkan Kroasia dengan skor telak 7-0 dalam lanjutan Liga Negara (Nations League), sebuah hasil yang mengukuhkan posisi mereka di peringkat kedua grup sekaligus membuka peluang menembus perempat final tahun depan. Harry Kane menyumbang dua gol, sementara Jude Bellingham tampil luar biasa dengan torehan tiga assist dan satu gol. Kemenangan ini menjadi salah satu penampilan paling meyakinkan Inggris sejak mengalahkan Kroasia 4-2 di Piala Dunia.
Laga yang digelar di Stadion HNK Rijeka itu menyuguhkan atmosfer tak biasa. Sebanyak 6.200 anak Kroasia di bawah usia 14 tahun diizinkan masuk secara gratis, sedangkan hanya 100 tiket diberikan kepada pendukung Inggris. Meski tribunnnya terasa seperti konser musik, pertandingan ini tetap menjadi pengalaman berharga bagi Inggris, yang kini mengokohkan diri sebagai penantang serius di kompetisi antarbangsa Eropa tersebut.
Kane dan Bellingham Pimpin Inggris Hancurkan Kroasia
Kane menandai penampilan ke-124 bersama tim nasional dengan dua gol internasionalnya yang ke-88 dan ke-89. Penyerang berusia 33 tahun itu membuka skor pada menit kedelapan setelah menerima umpan terobosan dari Bellingham, memanfaatkan kesalahan umpan Josko Gvardiol yang dipotong Marc Guéhi. Gol keduanya lahir di babak kedua lewat penyelesaian atas umpan silang Elliot Anderson.
Bellingham tampil sebagai arsitek serangan Inggris. Gelandang yang kembali ke starting XI setelah diistirahatkan saat kemenangan 2-0 atas Ceko itu mencetak gol kedua Inggris pada menit ke-21 setelah Gordon menyambar umpan silang Saka. Ia juga menyumbang tiga assist, termasuk untuk gol Saka dan Morgan Rogers.
Anthony Gordon dan Bukayo Saka sama-sama menunjukkan ketajaman di sisi sayap. Gordon mencetak gol ketiga lewat sundulan memanfaatkan umpan Jarell Quansah, dan kini tercatat selalu mencetak gol atau assist dalam tujuh laga terakhirnya untuk Inggris. Saka sendiri mengemas dua gol, salah satunya lahir menjelang turun minum.
Di Balik Laga Tanpa Penonton Dewasa di Rijeka
Laga ini awalnya dijadwalkan berlangsung tanpa penonton. Uefa menjatuhkan sanksi kepada Kroasia setelah perilaku diskriminatif dan rasis suporter mereka pada perempat final Liga Negara tahun lalu. Namun, regulasi memperbolehkan tiket dialokasikan bagi anak-anak lokal, sehingga tribun Stadion HNK Rijeka dipenuhi sorakan bernada tinggi.
Situasinya jauh berbeda dibanding 2018, ketika Inggris bermain di sini tanpa seorang pun pendukung di stadion. Banyak anak yang hadir malam itu bahkan belum lahir saat Luka Modric pertama kali menghadapi Inggris 20 tahun silam. Hal ini menjadi semacam tanda betapa panjangnya karier sang bintang Kroasia.
Modric kini berusia 41 tahun dan tetap menjadi andalan Kroasia bersama Mateo Kovacic. Namun, di tengah usia yang tak lagi muda, Tuchel justru menurunkan pemain muda seperti Alex Scott dan Elliot Anderson, yang kembali menjalin kemitraan sejak membawa Inggris menjuarai Piala Eropa U-21 tahun lalu.
Debut Gemilang Alex Scott dan Keputusan Tuchel
Alex Scott menjalani debut penuh yang mengesankan. Pemuda 22 tahun milik Bournemouth itu tampil dengan kegigihan dan kualitas baik saat menguasai maupun kehilangan bola. Satu umpan terobosannya yang memecah pertahanan Kroasia membebaskan Gordon, menunjukkan bahwa ia punya masa depan besar bersama Inggris.
Penampilan Scott memunculkan anggapan bahwa Tuchel melewatkan kesempatan dengan tidak membawanya ke Piala Dunia. Laga melawan Kroasia ini menjadi penampilan kedua Scott bersama tim senior, dan fakta bahwa Tuchel memercayainya untuk menghadapi Modric menunjukkan besarnya kepercayaan sang pelatih.
Tuchel melakukan lima perubahan, termasuk mengembalikan Jordan Pickford di bawah mistar. Pickford tetap menjadi pilihan utama dan melakukan penyelamatan penting saat kedudukan 1-0, menerjang keluar untuk menghalau peluang Ivan Perisic. Anderson, Scott, dan Bellingham menjadi trio yang tampil superior di lini tengah.
Arti Kemenangan 7-0 bagi Inggris dan Kroasia
Kemenangan ini merupakan kekalahan terbesar yang pernah dialami Kroasia sepanjang sejarah. Bagi Inggris, hasil tersebut mempertegas cengkeraman mereka di posisi kedua grup Liga Negara, sekaligus meningkatkan peluang melaju ke perempat final tahun depan. Melawan tim peringkat 12 dunia, Inggris sebenarnya bisa mencetak dua digit gol, tetapi mereka puas dengan tujuh.
Slaven Bilic, yang kembali menangani Kroasia untuk periode kedua, tak berdaya menghentikan gempuran Inggris. Sebuah kesalahan langka dari Anderson sempat memberi peluang bagi Kovacic, yang justru melebar setelah melewati Pickford. Namun, itu menjadi salah satu dari sedikit momen berbahaya yang diciptakan tuan rumah.
Di babak kedua, Inggris tak mengendurkan tekanan. Anderson berlari kencang di sisi kanan dan mengirim umpan silang yang disambut Kane untuk mencetak gol kelima. Bellingham yang masih tampil bugar hingga akhir pertandingan kemudian mengirim Rogers yang masuk sebagai pengganti untuk menutup pesta gol menjadi 7-0.
Menanti Rekor Kane dan Laga Berikutnya
Kane akan menyamai rekor penampilan Peter Shilton saat Inggris menjamu Ceko pada Selasa mendatang. Catatan 124 caps itu menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah tim nasional Inggris. Meski telah berusia 33 tahun, ketajamannya belum menunjukkan tanda-tanda menurun.
Bagi Inggris, performa ini menjadi fondasi penting menjelang laga-laga berikutnya di Liga Negara. Kombinasi pemain senior berpengalaman dan talenta muda seperti Scott dan Anderson memberi Tuchel banyak opsi. Jika konsistensi ini terjaga, langkah ke perempat final bukan sekadar angan-angan.
Inggris hancurkan Kroasia dengan permainan menyerang yang efisien dan tanpa ampun, diperkuat kontribusi Kane, Bellingham, serta para pemain muda yang tampil menonjol. Kemenangan 7-0 ini bukan hanya soal angka, tetapi juga sinyal bahwa skuad asuhan Tuchel siap bersaing di level tertinggi. Selanjutnya, laga melawan Ceko akan menjadi kesempatan bagi Kane menorehkan rekor sekaligus mengunci posisi Inggris di grup.
