Rui Pinto Kehilangan Status Saksi Usai Bocoran Man City

Rui Pinto, pendiri Football Leaks, resmi kehilangan perlindungan sebagai saksi dari otoritas Portugal. Keputusan itu keluar hanya beberapa jam setelah ia melancarkan kritik tajam terhadap eksekutif Manchester City dan Presiden FIFA, Gianni Infantino. Pencabutan ini mengejutkan pria berusia 37 tahun tersebut, yang kini berada dalam kondisi tanpa pekerjaan, rumah, maupun penghasilan tetap.

Pinto selama ini hidup di rumah aman dan tidak pernah mengungkap lokasinya kepada publik. Status saksi terlindungi yang ia pegang sejak 2020 memberi jaminan keamanan, tetapi kini semua itu hilang. Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar tentang perlindungan bagi whistleblower yang membongkar dugaan pelanggaran di dunia sepak bola.

Pencabutan Perlindungan Saksi Rui Pinto dan Dampaknya

Otoritas Portugal mengonfirmasi bahwa Pinto tidak lagi berstatus saksi terlindungi. Konfirmasi itu datang kurang dari dua jam setelah ia menyoroti Infantino di media sosial. Pinto sebelumnya menuduh para eksekutif Manchester City sebagai “curang” karena menunjukkan “kurangnya rasa hormat terhadap aturan”.

Menurut laporan The Guardian, Pinto disebut terkejut dengan keputusan tersebut. Ia kini tidak memiliki pekerjaan, tempat tinggal tetap, maupun sumber penghasilan. Selama ini ia berlindung di sebuah safe house dan tidak pernah membocorkan lokasinya, bahkan tidak pernah menerima kunjungan.

Upaya reintegrasi Pinto ke kehidupan sosial dan profesional sebenarnya sudah mulai dirintis. Namun, inisiatif itu dihentikan begitu status perlindungannya dicabut. Pinto dinasihati untuk tidak pulang ke rumah, tidak menghubungi anggota keluarga, dan menghindari tempat ramai, baik untuk urusan sosial maupun pekerjaan.

Pinto menjadi saksi terlindungi sejak 2020. Status itu diberikan setelah ia bersedia memberi otoritas Portugal akses ke jutaan file yang ia kumpulkan sebelum penangkapan di Budapest. Ia pindah ke Hongaria setelah setahun menempuh studi Erasmus di ibu kota negara itu.

Latar Belakang Football Leaks dan Peran Pinto

Pinto mendirikan situs Football Leaks setelah skandal FIFA pada 2015. Mantan mahasiswa sejarah ini dikenal dengan gaya rambut spike dan pernah berjualan buku tentang Perang Dunia II untuk menambah penghasilan. Sejak putusan bersalah Manchester City oleh komisi independen Premier League, ia aktif melontarkan pernyataan di media sosial.

Bocoran dokumen yang ia dapatkan mendorong UEFA dan kemudian Premier League menyelidiki keuangan Manchester City. Dalam memo internal, CEO City Ferran Soriano disebut menulis: “Kita perlu melawan ini dan melakukannya dengan cara yang tidak terlihat, atau kita akan ditunjuk sebagai musuh global sepak bola.” City terus membantah dan berencana mengajukan banding karena putusan komisi dinilai “mengandung kesalahan hukum, prinsip, dan fakta yang jelas dan material serta tidak aman”.

Penggunaan bukti dari Football Leaks memicu debat publik di Portugal. Regulasi Premier League menyatakan penyelidikan “tidak terikat oleh aturan yudisial tentang admisibilitas bukti”, dan fakta terkait pelanggaran dapat dibuktikan dengan cara andal apa pun. Pinto pada 2019 menegaskan bahwa data yang ia berikan tidak ternoda meski diperoleh secara ilegal. Ia menyebut dokumen-dokumen itu asli dan mengaku bukan hacker, melainkan warga yang bertindak untuk kepentingan publik.

Persidangan pertama Pinto pada 2020 berlangsung ketat. Ia mengenakan rompi antipeluru dan masuk melalui pintu khusus yang dijaga pasukan khusus. Pengunjung diperiksa tiga kali dan dilarang membawa ponsel atau komputer ke ruang sidang. Penembak jitu ditempatkan di gedung-gedung sekitar pengadilan.

Vonis, Kehidupan Terisolasi, dan Risiko Keselamatan

Pada September 2023, Pinto dijatuhi hukuman empat tahun percobaan setelah dinyatakan bersalah atas percobaan pemerasan, akses ilegal terhadap data, dan pelanggaran korespondensi. Ia bersikeras tidak pernah menerima uang, tetapi mengakui penyesalan karena meminta dana dari Doyen Sports Investments setelah memperoleh ribuan email internal agensi tersebut. Meski tidak harus menjalani hukuman penjara langsung, status terpidana membuat hidupnya semakin terbatas.

Dalam wawancara dengan Der Spiegel pada 2019, Pinto mengaku pernah berpikir bahwa menerima tawaran buyout akan membuatnya sama buruk dengan bisnis tersebut. Ia lalu meminta Doyen menyimpan uang mereka dan menegaskan tidak ada satu sen pun yang dibayarkan. Meski mengaku tindakannya naif dan disesali, ia tetap membantah telah melakukan tindak pidana.

Hakim menilai pembelaan Pinto “tidak kredibel”. Majelis hakim menyatakan Pinto dan rekan terdaknya, pengacara Aníbal Pinto, “sangat menyadari ilegalitas tindakan mereka”. Setelah vonis, Pinto mulai tinggal di rumah aman. Ibunya meninggal karena kanker saat ia berusia 11 tahun, dan ia hanya diizinkan berkomunikasi dengan ayahnya sesekali.

Selama enam tahun, Pinto hanya dua kali terlihat di publik. Pertama, di sebuah supermarket di Lisbon, ia didampingi polisi dan mengenakan topi serta kacamata. Kedua, ia diserang dalam keributan yang diduga dipicu alasan terkait sepak bola. Alisnya memar dan polisi diberi tahu, meski tidak ada laporan resmi yang diajukan. Hubungan asmaranya dengan aktor Mikaela Lupu, yang putus tahun lalu, tidak pernah mengganggu keamanan properti tempatnya berlindung.

Kontroversi Hukum dan Spekulasi di Balik Pencabutan Status

Keputusan mencabut perlindungan Pinto menimbulkan kekhawatiran atas keselamatannya. Ia disebut takut akan keselamatan dirinya. Setelah pengungkapan Football Leaks dan Luanda Leaks, kabarnya ada sayembara untuk memburu Pinto. Luanda Leaks membongkar seluk-beluk kerajaan bisnis Isabel dos Santos, perempuan terkaya di Afrika, yang membantah tuduhan korupsi.

The Guardian mencoba meminta klarifikasi kepada Komisi Program Keamanan Khusus (CPES), badan di bawah Kementerian Kehakiman Portugal yang mengelola program perlindungan saksi khusus. Namun, tidak ada respons yang diberikan. Muncul spekulasi bahwa pencabutan status ini merupakan respons atas tuduhan bahwa Pinto meretas sistem komputer PLMJ, firma hukum Portugal yang didirikan José Miguel Júdice.

Júdice bersaksi melawan Pinto dalam persidangan Football Leaks. Ia menggambarkan peristiwa itu sebagai pencurian yang menyebabkan tekanan moral dan psikologis berat. Júdice adalah ayah Rita Alarcão Júdice, Menteri Kehakiman Portugal sejak Juni 2025.

Pada April, Pinto dibebaskan dalam persidangan kedua dari 241 tuduhan akses ilegal terhadap akun email sejumlah badan olahraga Portugal, termasuk Benfica, serta firma hukum, hakim, dan otoritas pajak. Tidak ada bukti yang ia berikan kepada otoritas Portugal yang berujung pada tuduhan. Keputusan tersebut menjadi salah satu perkembangan terbaru dalam rangkaian panjang kasus hukum Pinto.

Dampak Lebih Luas bagi Whistleblower dan Sepak Bola

Pinto telah menjadi cause célèbre yang memecah opini di Portugal. Ia dibandingkan dengan Edward Snowden dan Julian Assange. Kasusnya menyoroti dilema antara transparansi dan legalitas, terutama ketika pengungkapan pelanggaran justru membuat pelakunya kehilangan perlindungan.

Bagi Premier League, bukti dari Football Leaks tetap menjadi bagian penting dalam kasus Manchester City. Banding City akan menjadi ujian berikutnya. Sementara itu, Pinto harus bertahan tanpa perlindungan, tanpa pekerjaan, dan dengan ancaman yang masih membayangi.

Pencabutan status saksi juga mengirim sinyal tentang risiko yang dihadapi whistleblower di Portugal dan dunia olahraga. Jika pengungkapan pelanggaran tidak diikuti jaminan keamanan, orang-orang dengan informasi sensitif mungkin berpikir dua kali sebelum bersuara. Kasus ini masih akan terus berkembang, terutama menjelang proses banding City dan kemungkinan langkah hukum lanjutan bagi Pinto.

Rui Pinto kini berada di titik paling rentan dalam hidupnya. Perlindungan yang ia pegang selama lima tahun lebih dicabut, tepat setelah ia kembali menyoroti dugaan pelanggaran di Manchester City dan FIFA. Tanpa pekerjaan, rumah, dan penghasilan, ia harus menghadapi ancaman keselamatan sendirian.

Kasus Pinto menunjukkan bahwa perjalanan seorang whistleblower tidak berhenti pada pengungkapan. Ada harga yang harus dibayar, baik secara hukum maupun personal. Perhatian publik kini tertuju pada bagaimana otoritas Portugal menjelaskan keputusan mereka dan apakah keselamatan Pinto tetap menjadi prioritas.