Harry Kane: Kekalahan Inggris dari Argentina Paling Perih

Kapten tim nasional Inggris, Harry Kane, mengaku kekalahan timnya dari Argentina di semifinal Piala Dunia sebagai momen tersingkirnya yang paling menyakitkan sepanjang karier. Baginya, luka itu bukan semata soal skor akhir, melainkan karena Inggris kehilangan jati diri mereka di lapangan pada laga terpenting. Ia pun menyebut cara timnya kalah membuat rasa kecewa itu jauh lebih dalam dibandingkan kegagalan-kegagalan sebelumnya.

Kane saat ini tengah bersiap membawa Inggris menghadapi Spanyol di Stadion Wembley pada Sabtu malam dalam laga Nations League. Namun ia terang-terangan mengakui bahwa dirinya belum benar-benar bisa melupakan pertandingan melawan Argentina tersebut. Menurutnya, proses menerima kekalahan itu harus ia dan rekan-rekannya jalani sambil tetap melangkah ke pertandingan berikutnya.

Kekalahan dari Argentina yang Masih Membekas

Dalam refleksinya soal kekalahan 2-1 dari Argentina, Kane menyoroti bagaimana Inggris seakan kehilangan arah setelah unggul pada menit ke-55. Ia menilai, setelah mencetak gol, timnya justru nyaris tidak lagi menyentuh bola dan membiarkan pertandingan lepas dari kendali. Kondisi itulah yang membuatnya merasa Inggris tampil bukan sebagai versi terbaik diri mereka sendiri.

“Rasanya bukan kami sebagai tim,” ujar Kane menggambarkan laga tersebut. Ia menegaskan bahwa penampilan itu bukanlah sosok tim yang ingin mereka bangun dan seperti yang selalu mereka janjikan. Ketika sebuah tim keluar dari keyakinannya sendiri lalu kalah, kata Kane, rasa sakitnya terasa sepuluh kali lebih buruk dibandingkan kekalahan biasa.

Kane menjelaskan bahwa kekalahan yang terjadi karena tim tetap bermain sesuai prinsipnya akan jauh lebih mudah diterima. Dalam situasi seperti itu, ia bisa menerima hasilnya, menerima kritik, lalu melanjutkan perjalanan. Namun kekalahan karena meninggalkan cara bermain sendiri adalah hal yang jauh lebih sulit untuk dicerna, dan sampai sekarang pun ia mengaku masih bergulat dengan perasaan itu.

Lebih Menyakitkan daripada Gagal Penalti di Qatar

Kane menuturkan bahwa setiap kegagalan bersama Inggris selalu meninggalkan rasa sakit dengan bentuknya masing-masing. Sebab, ia telah melewati perjalanan panjang bersama tim nasional, mulai dari final, semifinal, hingga berada di posisi yang sangat dekat dengan gelar juara. Karena itulah ia menyebut kekalahan dari Argentina sebagai yang paling berat dari semuanya.

Bahkan, ia menempatkan luka itu di atas pengalaman pahitnya ketika gagal mengeksekusi penalti di Qatar. Saat itu Inggris tersingkir dari perempat final Piala Dunia 2022 setelah kalah 2-1 dari Prancis. Namun menurut Kane, cara Inggris kalah dari Argentina membuat rasa sakitnya melebihi momen tersebut.

Ketika disinggung bahwa yang sedang ia jalani adalah proses penyembuhan, Kane menjawab setuju dengan nada hati-hati. Ia menilai proses itu memang sedang berlangsung, tetapi harus dijalani sambil terus bermain karena sepak bola tidak memberi waktu untuk berhenti. Sebelum seseorang selesai mencerna satu kegagalan, pertandingan besar berikutnya sudah menanti. Ia menyebutnya sebagai keseimbangan yang sulit, sebab di satu sisi ia ingin melupakan dan belajar, di sisi lain Sabtu nanti ia harus menghadapi juara dunia dalam laga yang sangat penting.

Pertanyaan soal Mentalitas di Laga-Laga Besar

Kane menyadari bahwa Inggris perlu mencari tahu alasan mereka berulang kali gagal di momen-momen krusial melawan tim terkuat. Ia melontarkan pertanyaan soal bagaimana timnya bisa tampil lebih baik dan lebih menjadi diri sendiri di situasi seperti itu. Menurutnya, sepanjang fase kualifikasi dan banyak pertandingan turnamen, Inggris mampu bermain dengan intensitas serta cara yang baik.

Persoalannya, kata Kane, kualitas itu belum berhasil mereka hadirkan di fase-fase akhir turnamen ketika berhadapan dengan negara-negara besar dan lebih kuat. Ia menduga ada banyak faktor yang berperan, mulai dari kepribadian para pemain hingga mentalitas tim. Bisa juga persoalannya terletak pada arah dan cara mereka ingin bermain di pertandingan-pertandingan semacam itu. Semua itu, tegasnya, adalah hal yang harus dibicarakan bersama sebagai sebuah kelompok.

Kane juga tidak menutup mata bahwa laga melawan Argentina bukan satu-satunya penampilan Inggris yang jauh dari kata optimal. Ia mengakui ada pertandingan-pertandingan lain di Piala Dunia di mana timnya belum mencapai potensi terbaik, termasuk dalam hal kualitas latihan mereka sehari-hari. Karena itu, pembenahan yang dibutuhkan bukan hanya soal satu pertandingan besar, melainkan menyangkut cara tim mempersiapkan diri secara keseluruhan.

Pesan Thomas Tuchel dan Ujian Nations League

Pelatih Thomas Tuchel disebut telah menyampaikan pesannya kepada skuad di St George’s Park pada Selasa lalu. Inti pesan tersebut adalah kebutuhan untuk melakukan penyempurnaan hal-hal kecil, bukan memulai dari nol. Kane mengungkapkan bahwa pesan umum yang disampaikan adalah agar Inggris melanjutkan apa yang sudah mereka bangun selama ini.

Menurut Kane, setelah sebuah turnamen biasanya muncul godaan untuk menganggap semuanya sebagai awal yang baru. Namun ia tidak sepakat dengan cara pandang itu karena Inggris sudah melakukan banyak hal baik yang layak dilanjutkan. Ia menegaskan bahwa momen ini adalah kelanjutan dari proses yang sedang berjalan, bukan titik balik yang menghapus semua capaian sebelumnya.

Ujiannya langsung datang dalam waktu dekat. Setelah menghadapi Spanyol di Wembley, Inggris akan bertandang ke Ceko dan Kroasia sebelum kembali ke Wembley untuk menjamu Ceko. Rangkaian pertandingan Nations League ini menjadi kesempatan bagi Kane dan rekan-rekannya untuk membuktikan bahwa mereka bisa tampil sesuai identitas mereka, termasuk ketika berhadapan dengan lawan sekelas juara dunia.

Absennya Declan Rice dan Empat Pemain Lain

Tuchel mendapat pukulan menjelang laga-laga tersebut karena sejumlah pemain memilih mundur dari skuad. Nama-nama yang absen adalah Declan Rice, Cole Palmer, Kobbie Mainoo, Marcus Rashford, dan Tino Livramento. Absennya Rice paling menyita perhatian karena alasan yang dikemukakan bukan cedera yang langsung membuatnya tidak bisa bermain, melainkan kebutuhan pengaturan beban latihan dan pertandingan.

Kane mengaku memahami keputusan tersebut, terutama dengan latar belakang masalah nyeri saraf pada hamstring yang sudah lama dialami Rice. Ia mengungkapkan bahwa dirinya sempat berbicara langsung dengan Rice dan menyebut sang gelandang telah mengirimkan pesan suara kepadanya. Bagi Kane, setiap pemain bertanggung jawab menjaga kondisi tubuhnya sendiri.

Kapten Inggris itu menegaskan bahwa ia mempercayai semua pemain di skuad untuk mengambil keputusan terbaik bagi karier dan kondisi mereka. Ia juga menilai Rice selalu memberikan yang terbaik, bahkan melampaui batas, baik untuk klub maupun negaranya. Sikap itu yang membuat Kane tidak meragukan komitmen rekan setimnya meski harus absen di jendela pertandingan kali ini.

Rekor Caps, Ballon d’Or, dan Mimpi di Luar Sepak Bola

Momentum ini menjadi periode besar bagi Kane karena ia hanya berjarak empat penampilan dari rekor 125 caps milik Peter Shilton. Artinya, ia berpotensi menyamai rekor tersebut pada akhir jendela internasional kali ini. Selain itu, ia disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat peraih Ballon d’Or pada 26 Oktober mendatang.

Kane juga dikabarkan berada di jalur untuk memperpanjang kontraknya bersama Bayern Munich. Ia mengonfirmasi bahwa pembicaraan kedua pihak sudah cukup dekat dan menyatakan dirinya bahagia di sana. Menurutnya, tidak akan butuh waktu lama sebelum ada semacam pengumuman resmi terkait masa depannya.

Di usianya yang menginjak 33 tahun, Kane mulai membicarakan rencana jangka panjang, termasuk ambisinya menjadi kicker di NFL. Ia melihat posisi itu memiliki tekanan dan teknik yang mirip dengan mengeksekusi penalti. Jika benar-benar menjalaninya, ia mengaku akan melakukannya dengan serius dan menyiapkan waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk berlatih terlebih dahulu.

Dalam kaitannya dengan itu, Kane memberi sinyal bahwa ia membayangkan bisa menutup karier sepak bolanya di Major League Soccer. Gagasannya, jika ia bermain di MLS atau liga serupa pada masa depan, jadwal kompetisi bisa memungkinkan dua hal itu dihubungkan dengan penyesuaian musim. Kane sebelumnya juga pernah menyatakan ketertarikannya menjadi pegolf profesional karena kegemarannya bermain golf.

Ia bahkan mengaku tidak menonton final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina karena sedang bermain golf di New York. Kane bercerita bahwa ia sering menonton golf dan merasa bisa berada di level itu, tetapi kenyataannya berbeda ketika ia sendiri yang bermain. Dengan handicap dua, ia menjadi anggota di Wentworth, namun hanya mampu bermain 10 over, sementara para pemain profesional bisa menang dengan 20 under di lapangan yang sama. Dari sana ia menyimpulkan bahwa dirinya akan tetap bertahan di sepak bola.

Penutup

Kisah Kane menunjukkan bahwa kekalahan dari Argentina meninggalkan luka yang tidak hanya soal tersingkirnya Inggris dari Piala Dunia, tetapi juga soal hilangnya identitas permainan tim. Ia belum sepenuhnya bisa melupakan laga itu, namun harus tetap melangkah karena pertandingan melawan juara dunia sudah menanti. Di sisi lain, pembicaraan soal mentalitas dan cara tampil di laga besar menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab skuad bersama Thomas Tuchel.

Di tengah semua itu, periode ini juga menandai babak baru dalam karier Kane, mulai dari rekor caps, peluang meraih Ballon d’Or, hingga perpanjangan kontrak di Bayern Munich. Sementara mimpi soal NFL dan MLS tetap ia simpan sebagai rencana masa depan, ia menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini masih sepak bola. Jawaban atas semua pertanyaan itu akan mulai terlihat saat Inggris menghadapi Spanyol di Wembley.