Hull kembali membuktikan bahwa kehadiran mereka di Premier League bukan sekadar kebetulan. Bermain di Stamford Bridge, tim asuhan Sergej Jakirovic itu menahan Chelsea 2-2 setelah sempat unggul 2-1 di babak pertama lewat dua gol Mohamed Belloumi, sebelum João Pedro menyelamatkan satu poin untuk tuan rumah. Hasil ini memperpanjang rekor tak terkalahkan Hull menjadi empat pertandingan dan menempatkan mereka di posisi ketiga klasemen sementara.
Bagi Chelsea, laga ini menjadi pukulan tersendiri karena mereka membuang keunggulan yang sudah di depan mata. Xabi Alonso menyebut timnya terlalu “lunak” ketika tidak menguasai bola, dan kritik itu muncul dari sosok yang biasanya tenang serta penuh pertimbangan. Nyanyian dari tribun tamu soal gelar juara memang dinyanyikan sebagai gurauan, tetapi penampilan Hull sepanjang awal musim ini membuat candaan tersebut terasa tidak sepenuhnya berlebihan.
Jalannya Laga: Dua Gol Cepat Mohamed Belloumi
Chelsea membuka keunggulan pada menit ketujuh melalui Morgan Rogers. Serangan itu berawal ketika tuan rumah meninggalkan empat pemain di depan saat Hull mengambil sepak pojok, lalu umpan João Pedro diteruskan Rogers dengan melewati Regan Slater sebelum menaklukkan Konstantinos Tzolakis di tiang dekat lewat tembakan rendah dan keras dari sisi kiri. Rekrutan senilai £117 juta dari Aston Villa itu menjadi pemain pertama yang mampu membobol gawang Hull sejak mereka promosi.
Alih-alih menambah gol, Chelsea justru kehilangan momentum. Pedro Neto sempat menguji Tzolakis dari sisi kanan, tetapi tuan rumah kemudian tampil datar dan lengah, sehingga membuka jalan bagi kebangkitan Hull. Gol penyama kedudukan lahir pada menit ke-28 dan berawal dari kesalahan Malo Gusto, yang gagal mengantisipasi bola panjang Tzolakis.
Ryan Giles memenangkan duel fisik melawan bek kanan Chelsea itu dan mengirim umpan silang ke tiang jauh, sementara Jorrel Hato salah membaca arah bola sehingga Belloumi leluasa melepaskan tembakan melewati Emiliano Martínez. Hull tidak berhenti di situ. Belloumi kembali mengirim bola ke Lewie Coyle, yang berlari melewati Rogers, tetapi tembakannya berhasil disapu Levi Colwill tepat di garis gawang.
Dari sepak pojok berikutnya, Martínez gagal meninju bola dengan sempurna, sundulan Semi Ajayi membentur mistar, dan bola yang jatuh di kaki Belloumi berubah arah sebelum masuk ke gawang. Hull pun menutup babak pertama dengan keunggulan 2-1, sebuah posisi yang membuat Stamford Bridge terdiam.
Babak Kedua dan Gol Penyelamat João Pedro
Alonso merespons dengan mengganti Hato dan memasukkan Pep Chavarría di posisi bek kiri. Chelsea sempat mengancam lewat tendangan bebas Reece James yang masih bisa diamankan Tzolakis. Namun Hull tetap berbahaya setiap kali melakukan serangan balik, bahkan hampir menambah gol ketika Martínez menumpahkan tembakan Regan Slater.
Kiper asal Argentina itu menebus kesalahannya dengan memblok rebound dari McBurnie. Tidak lama berselang, Chelsea menyamakan kedudukan lewat aksi Cole Palmer yang sebelumnya nyaris tidak terlihat: ia menusuk dari sisi kiri dan mengirim bola kepada João Pedro, yang melepaskan tembakan keras ke atap gawang.
Hull menolak menyerah. Ajayi, Giles, dan John Egan tampil luar biasa di lini belakang, dan para pemain bertahan itu tetap disiplin setelah kehilangan Nobel Mendy akibat tabrakan keras dengan João Pedro. Jakirovic melakukan pergantian yang berani, Alonso memasukkan Danny Welbeck, tetapi peluang terbaik justru datang dari sisi Hull ketika umpan silang Giles disambut Mohamed-Ali Cho, meski tembakannya mengarah tepat ke Martínez.
Chelsea Dominan tapi Rapuh di Lini Belakang
Menarik untuk dicatat bahwa laga ini menjadi kali pertama Chelsea mendominasi penguasaan bola dalam pertandingan liga musim ini, namun hasilnya jauh dari meyakinkan. Hull membatasi tuan rumah pada xG 0,89, yang menegaskan masalah Chelsea ketika menghadapi lawan dengan blok rendah. Sebaliknya, Hull tampil klinis setiap kali mendapat ruang untuk menyerang.
Keputusan Alonso menggeser Maxence Lacroix dari posisi bek tengah dan mengubah sistem dari tiga bek menjadi 4-2-3-1 tidak berjalan sesuai rencana. Hull mendapat ruang begitu lebar di kedua sisi lapangan, dan pertahanan Chelsea yang disebut Alonso “terlalu lunak” membuat keunggulan awal mereka menguap begitu saja. Kegagalan Gusto dan Hato dalam mengantisipasi bola panjang serta umpan silang menunjukkan persoalan komunikasi, bukan hanya kualitas individu.
Masalah ini bukan hal baru bagi Alonso. Chelsea memang menghibur saat menyerang, tetapi mereka tidak bisa bertahan dengan meyakinkan, dan kebobolan dua gol per pertandingan. Sifat pendekatan Alonso yang mirip pertandingan bola basket justru menciptakan kekacauan alih-alih kendali, sesuatu yang jelas mengganggu mantan pelatih Bayer Leverkusen itu.
“Semuanya menghibur, tetapi saya berharap suatu hari nanti Anda bilang ini pertandingan yang membosankan dan kami menang,” kata Alonso. Ia menegaskan bahwa timnya masih perlu belajar untuk tetap kompetitif setelah memimpin dan tidak memberikan peluang kepada lawan dengan mudah, terutama pada gol pertama Hull yang dinilainya terlalu lunak. Menurutnya, proses pembenahan akan memakan waktu, tetapi dampaknya sudah terasa pada performa tim saat ini.
Dampak Hull Tahan Chelsea bagi Kedua Tim
Arti hasil Hull tahan Chelsea ini sangat berbeda bagi kedua kubu. Bagi Chelsea, kegagalan meraih kemenangan melawan tim promosi di kandang menjadi catatan buruk yang kelima, dan mereka tampaknya tidak peka terhadap bahaya yang mengintai. Statistik itu memperkuat gambaran bahwa Chelsea punya persoalan struktural, bukan sekadar kesalahan individu sesekali.
Bagi Hull, satu poin ini menjadi bukti bahwa pendekatan disiplin dan cerdas yang diterapkan Jakirovic mampu bersaing dengan klub besar. Mereka memaksa Stamford Bridge menyaksikan pertandingan yang menegangkan, meski Martínez dua kali melakukan penyelamatan besar untuk mencegah kekalahan tuan rumah. Penampilan Belloumi, Giles, dan Egan menunjukkan bahwa tim ini punya keseimbangan antara ketenangan bertahan dan ketajaman menyerang.
Kritik Alonso juga menyoroti persoalan yang lebih dalam. Ia mengaku tidak menyukai dinamika kebobolan timnya, baik dari permainan terbuka, bola mati, maupun bola panjang. Menurutnya, ketangguhan dan rasa kompetitif harus menjadi bagian dari identitas Chelsea jika mereka ingin bersaing di papan atas.
Konteks Lebih Luas: Hull dan Target yang Masih Sama
Meski berada di posisi ketiga, Hull dan Jakirovic memilih untuk tidak terbawa suasana. Pelatih asal Bosnia itu menepis pembicaraan soal peluang tampil di kompetisi Eropa dan menegaskan bahwa target utama tim tetap bertahan di Premier League. Semua elemen di klub, menurutnya, menarik ke arah yang sama sehingga hasil-hasil positif bisa terus berlanjut.
Ada cerita menarik yang menunjukkan seberapa terukur ambisi Jakirovic. Sebelum musim dimulai, ia berjanji kepada stafnya akan memberikan libur tujuh hari jika Hull mampu mengumpulkan delapan poin dari lima pertandingan pertama. Target itu sudah tercapai dengan satu laga masih tersisa, buah dari kombinasi kemenangan dan hasil imbang seperti yang diraih di Stamford Bridge.
Pendekatan semacam ini menjelaskan mengapa Hull tidak cepat puas. Mereka sadar bahwa musim masih panjang dan lawan-lawan besar akan semakin serius menghadapi mereka. Namun penampilan di kandang Chelsea menunjukkan bahwa Jakirovic sudah membangun tim yang tahu cara bertahan, menyerang, dan mengelola tekanan dalam situasi sulit.
Hull tahan Chelsea 2-2 berkat dua gol cepat Mohamed Belloumi dan gol penyama João Pedro, dan hasil itu membuat mereka tetap tak terkalahkan dalam empat laga sambil menempati posisi ketiga. Sementara itu, Chelsea harus mengakui bahwa keunggulan yang mereka bangun dengan susah payah kembali menghilang karena kelemahan bertahan yang belum juga terselesaikan.
Pertanyaan yang tersisa adalah seberapa lama Hull mampu mempertahankan performa ini, dan apakah Chelsea bisa mengubah kritik menjadi perbaikan nyata di laga-laga berikutnya. Bagi keduanya, hasil di Stamford Bridge sudah memberi gambaran jelas tentang apa yang masih perlu dibenahi.
