FIFA akhirnya angkat bicara soal masa depan Gianni Infantino. Melalui pernyataan resmi yang dirilis Rabu malam usai rapat krisis di Rabat, Maroko, FIFA menegaskan bahwa Infantino tetap menjabat sebagai presiden. Kepastian ini sekaligus meredam spekulasi yang sempat berkembang setelah munculnya gelombang kritik dari berbagai pihak.
Rapat tersebut digelar di tengah tekanan besar dari UEFA dan Concacaf, yang sama-sama meminta evaluasi terhadap tata kelola FIFA. Kedua konfederasi itu kecewa karena Infantino tidak berkonsultasi terlebih dahulu mengenai rencana penjualan hak komersial Piala Dunia. Selain itu, Infantino juga telah mengirimkan permintaan maaf tertulis kepada Dewan FIFA dan 211 asosiasi anggota.
FIFA Pastikan Infantino Tetap di Kursi Presiden
Dalam pernyataannya, FIFA menyebut Sekretaris Jenderal Mattias Grafström dan anggota dewan manajemen yang hadir dalam pertemuan di Rabat menegaskan dukungan penuh mereka kepada Infantino. Ia dinilai sebagai satu-satunya pejabat yang dipilih langsung oleh 211 asosiasi anggota FIFA. Sebaliknya, Infantino juga menyatakan dukungan penuh kepada Grafström dan jajaran administrasi FIFA atas kerja keras mereka mewujudkan visinya.
Sebelumnya, Infantino menghabiskan waktu seharian berdialog dengan Grafström dan Kepala Bagian Hukum Emilio García Silvero. Dalam pertemuan itu, ia menegaskan tekadnya untuk bertahan di tengah derasnya kritik yang datang. FIFA pun menambahkan bahwa proses komunikasi dan interaksi antara presiden, sekretaris jenderal, dan dewan manajemen akan terus dievaluasi agar lebih efektif dan efisien.
Akar Krisis: Rencana Penjualan Hak Komersial Piala Dunia
Krisis ini bermula dari usulan FIFA Forward Enterprise atau FFE yang kini resmi dibatalkan. Rencana tersebut akan menjual 21 persen hak komersial FIFA kepada investor swasta. Karena digarap tanpa melibatkan Dewan FIFA dan asosiasi anggota, banyak pihak merasa tersisih dari proses pengambilan keputusan yang seharusnya menjadi domain bersama.
Dalam pernyataannya, FIFA mengakui adanya kesalahan dalam proses penyusunan usulan itu. FIFA juga mengakui ada kekeliruan setelah proposal tersebut bocor ke media. Meski begitu, FIFA menegaskan bahwa semua langkah yang diambil saat itu tetap patuh pada kerangka regulasi FIFA.
Infantino pun telah mengirim surat permintaan maaf terpisah kepada Dewan FIFA dan 211 asosiasi anggota. Ia berkomitmen untuk memastikan kesalahan serupa tidak terulang lagi di masa depan. FIFA juga berjanji akan melakukan tinjauan menyeluruh dan menyampaikan laporannya pada rapat dewan yang dijadwalkan berikutnya.
UEFA dan Concacaf Menolak Diam, Kandidat Lawan Terus Dicari
Sikap FIFA yang menyatakan tidak akan lagi menoleransi kritik terhadap tata kelola organisasi kemungkinan besar tidak akan menyurutkan langkah UEFA. Badan sepak bola Eropa itu dikabarkan terus mencari kandidat yang akan menantang Infantino pada pemilihan presiden FIFA yang digelar Maret tahun depan. Menariknya, pemilihan tersebut juga akan berlangsung di Rabat.
Concacaf, konfederasi untuk kawasan Amerika Utara dan Tengah, juga ikut mendesak agar tata kelola FIFA dikaji ulang. Tekanan dari dua konfederasi besar ini membuat peta politik di FIFA memanas jelang kongres pemilihan. Meski demikian, FIFA tampak berusaha memperlihatkan kekompakan internal di tengah badai yang menerpa.
Sebagai bentuk solidaritas, Infantino dan Grafström tampil bersama dalam laga Grup Piala Afrika Wanita antara Malawi melawan Zambia pada Rabu. Keduanya juga menandatangani surat bersama yang ditujukan kepada anggota Dewan FIFA dan wakil presiden, sejalan dengan pernyataan resmi FIFA. Langkah ini seolah ingin menunjukkan bahwa hubungan presiden dan sekretaris jenderal tetap solid.
Langkah Berikutnya dan Dampaknya bagi Sepak Bola Global
Dengan batalnya FFE dan ditegaskannya posisi Infantino, arah kebijakan FIFA ke depan kini lebih jelas. FIFA menyatakan akan fokus mendukung pengembangan sepak bola melalui program FIFA Forward demi kepentingan 211 asosiasi anggotanya, konfederasi, dan asosiasi regional. Organisasi ini juga bertekad memperbaiki proses dan komunikasi internal sebagai pelajaran berharga dari pengalaman ini.
Di sisi lain, rencana Infantino terbang ke Kolombia pada Kamis untuk menghadiri pelantikan presiden baru Abelardo de la Espriella di Cali menjadi sinyal bahwa ia tak berniat mengubah gaya kerjanya. Ia tetap aktif bergerak di panggung diplomasi sepak bola dunia. Artinya, persaingan menuju pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang diprediksi bakal semakin seru untuk diikuti.
Singkatnya, FIFA telah memilih untuk tetap solid mendukung Gianni Infantino dan menjadikan kasus FFE sebagai pelajaran berharga. Namun, kritik dari UEFA dan Concacaf belum sepenuhnya reda, dan perburuan kandidat penantang masih terus berjalan. Semua mata kini tertuju pada kongres pemilihan di Rabat tahun depan untuk melihat apakah Infantino sanggup mempertahankan kursinya.
