Timnas Inggris wanita membuka persaingan playoff Piala Dunia Wanita dengan kemenangan 3-1 atas Yunani pada leg pertama, tetapi hasil itu tidak sepenuhnya mencerminkan penampilan meyakinkan yang diharapkan publik sendiri. Gol Georgia Stanway, Maya Le Tissier, dan Alessia Russo sudah cukup untuk memberi Inggris kendali atas pertandingan, namun satu gol balasan Yunani membuat tie ini belum benar-benar selesai.
Laga leg kedua akan digelar Selasa di Leicester, dan di sanalah Inggris harus menuntaskan pekerjaan mereka. Padahal, lawan yang mereka hadapi adalah tim peringkat 59 dunia yang belum pernah sekalipun lolos ke turnamen besar. Bagi Sarina Wiegman dan pasukannya, hasil di leg pertama ini lebih terasa seperti tugas yang belum rampung daripada modal aman menuju babak berikutnya.
Hasil Leg Pertama: Inggris Tundukkan Yunani 3-1
Inggris sebenarnya menguasai bola hampir sepanjang pertandingan, tetapi dominasi itu lama tidak berbuah apa pun. Mereka tampak kesulitan membongkar rapatnya pertahanan Yunani yang bermain dalam blok rendah, sehingga serangan-serangan yang dibangun sering berhenti di depan kotak penalti. Bola berpindah dari kaki ke kaki, tetapi terobosan yang benar-benar mengancam baru muncul setelah pertandingan berjalan cukup lama.
Gol pembuka lahir dari kombinasi cepat di lini tengah. Laura Blindkilde Brown melepas bola kilat kepada Russo, yang dengan sentuhan bagus melepaskan umpan kepada Stanway, dan sang gelandang menyelesaikannya dengan sepakan rendah yang rapi. Keunggulan itu kemudian berlipat setelah jeda, ketika Le Tissier mencetak gol pertamanya untuk timnas Inggris melalui penyelesaian keras usai kerja cerdik Keira Walsh membuka ruang.
Empat menit berselang, Russo menuntaskan sepakan rendah ke sudut bawah gawang untuk membuat kedudukan menjadi 3-0, dan saat itu Inggris tampak berharap bisa menambah gol sebanyak mungkin. Harapan itu pupus karena pertahanan mereka tampak lengah mengantisipasi bola panjang tinggi yang memantul, sehingga Yunani mampu memperkecil kedudukan lewat penyelesaian rendah. Gol tersebut menjadi pengingat bahwa Yunani, meski dijagokan kalah, masih punya cara untuk menghukum kelengahan lawan.
Babak Pertama yang Lesu dan Stadion yang Sepi
Wiegman hampir pasti tidak puas dengan penampilan anak asuhnya di 45 menit pertama. Inggris memang menguasai penguasaan bola, tetapi banyak gerakan terlihat berjalan seadanya dan tanpa urgensi, seolah para pemain menjalankan instruksi tanpa menikmati permainan. Bahasa tubuh mereka menunjukkan fokus pada tugas yang harus diselesaikan, bukan antusiasme yang biasanya menyertai laga tim besar.
Suasana di stadion diduga ikut memengaruhi hal itu. Federasi Sepak Bola Yunani menggratiskan tiket untuk laga ini, tetapi hanya beberapa ribu penonton yang hadir, dan hampir tidak ada suara berarti dari pendukung tuan rumah. Sebaliknya, sekitar 500 penggemar Inggris yang datang justru menghasilkan sebagian besar kebisingan di stadion yang relatif sunyi, sehingga instruksi antarpemain di lapangan kerap terdengar jelas sampai ke tribun di seberang lintasan atletik.
Di tengah atmosfer yang datar itu, momen paling menarik di paruh pertama justru datang dari peluang yang tidak berbuah gol. Lauren James melepas chip indah dari jarak sekitar 25 yard yang sempat membuat pendukung Inggris bersorak karena mengira bola sudah masuk, sebelum pemeriksaan VAR menunjukkan ia berada dalam posisi offside. Sebelumnya, Inggris juga nyaris kecolongan ketika penyerang Yunani, Papatheodorou, melewati Esme Morgan dan Leah Williamson dengan mudah lalu melepas tembakan dari jarak jauh yang membentur mistar gawang Hannah Hampton.
Perubahan Taktik Wiegman dan Debut Para Pemain Baru
Sepanjang laga, Inggris bermain dengan tiga bek saat menguasai bola, mendorong Le Tissier sangat tinggi sebagai wing-back kanan, lalu beralih ke formasi empat bek ketika kehilangan bola. Skema ini membuat mereka nyaris tidak menghadapi masalah berarti di lini belakang, kecuali pada satu momen krusial ketika kedudukan masih 0-0. Selain itu, Laura Blindkilde Brown sempat melepas tembakan tepat ke arah kiper, James mengurungkan sepakan bebas yang melebar, dan Lauren Hemp melepas tembakan rendah yang tipis menyamping di depan gawang.
Memasuki babak kedua, Wiegman memasukkan Beth Mead menggantikan Blindkilde Brown demi membuat bentuk tim juara Eropa itu lebih agresif menyerang. Perubahan itu segera menghasilkan peluang tambahan, termasuk saat Mead terjatuh di kotak penalti tepat ketika tampak siap melepas tembakan, serta penyelamatan bagus dari kiper Yunani, Fafailia Petaloti, yang menahan ancaman Le Tissier.
Di akhir laga, Inggris juga memberi kesempatan debut internasional senior kepada Erica Meg Parkinson dan Grace Fisk. Meski sudah unggul jauh, tuan rumah tetap mendekati gol tambahan: James kembali melebar tipis dan pemain pengganti Jess Park membentur mistar gawang. Malam itu memang bukan pertunjukan paling produktif bagi Inggris, tetapi cukup untuk memastikan mereka pulang dengan keunggulan.
Arti Hasil Ini bagi Langkah Inggris di Playoff
Keunggulan 3-1 memberi Inggris posisi yang menguntungkan, tetapi bukan jaminan apa pun sebelum leg kedua di Leicester digelar. Gol tandang Yunani membuat selisih dua gol itu bisa saja sirna jika Inggris kembali tampil datar dan lengah seperti di penghujung laga pertama. Karena itu, menjaga konsentrasi sejak menit awal akan sama pentingnya dengan urusan mencetak gol.
Jika mampu menuntaskan tugas tersebut, Inggris akan menghadapi Slovakia atau Ukraina pada babak kedua playoff di jendela pertandingan internasional November-Desember. Duel itu juga dimainkan dalam dua leg, dan Inggris wajib memenanginya untuk mengamankan tiket ke turnamen besar musim panas mendatang di Brasil. Artinya, masih ada dua rintangan berbeda yang harus dilewati sebelum ambisi mereka benar-benar terjaga.
Yang menarik, Inggris sebenarnya bisa dibilang kurang beruntung harus melewati jalur playoff ini. Mereka memenangi lima dari enam pertandingan di fase kualifikasi, tetapi harus puas menjadi runner-up grup karena selisih gol head-to-head yang lebih baik milik Spanyol. Kondisi itu menempatkan tim asuhan Wiegman pada jalur yang lebih panjang dan berisiko dibandingkan yang seharusnya.
Konteks Lebih Luas: Menjaga Tradisi Final Besar
Inggris datang ke playoff ini dengan status runner-up Piala Dunia 2023 dan catatan selalu mencapai tiga final turnamen besar terakhir. Target mereka jelas: memperpanjang tren tersebut sekaligus memperbaiki hasil akhir setelah kalah dari Spanyol di Sydney. Untuk mewujudkannya, mereka sadar bahwa kohesi dan kelancaran penguasaan bola harus jauh lebih baik daripada yang ditunjukkan di leg pertama.
Masalahnya, performa melawan Yunani memperlihatkan bahwa kualitas individu saja belum cukup ketika ritme permainan tidak terbangun. Tim yang di atas kertas jauh lebih kuat tetap bisa kesulitan jika lawan bermain rapat, disiplin, dan sesekali menyimpan ancaman lewat serangan balik. Yunani, meski belum pernah lolos ke turnamen besar, membuktikan bahwa label peringkat tidak selalu menentukan jalan pertandingan.
Bagi Inggris, ini juga menjadi ujian mental jelang pertandingan-pertandingan besar berikutnya. Laga leg kedua bukan hanya soal memastikan tiket, tetapi tentang membangun kembali kepercayaan diri dan menemukan bentuk permainan yang bisa diandalkan ketika tekanan meningkat. Jika masalah yang sama terulang, lawan yang lebih kuat dari Yunani tentu akan lebih kejam menghukum mereka.
Kemenangan 3-1 memang menempatkan Inggris di jalur yang tepat menuju babak berikutnya, tetapi penampilan mereka menyisakan pekerjaan rumah yang jelas. Kombinasi gol Stanway, Le Tissier, dan Russo menunjukkan bahwa serangan Inggris masih punya daya rusak besar, asalkan bola bergerak lebih cepat dan ide permainan lebih tajam. Sementara gol balasan Yunani menjadi pengingat bahwa kelengahan sekecil apa pun tetap bisa memperpanjang ketegangan.
Pada akhirnya, leg kedua di Leicester akan menentukan apakah catatan ini berakhir sebagai langkah rutin menuju turnamen besar, atau justru sebagai babak yang lebih sulit dari yang dibayangkan. Inggris punya modal, tetapi modal saja tidak cukup jika permainan kembali berjalan tanpa urgensi.
