Pendahuluan: Sosok Legendaris yang Lebih dari Sekadar Ledakan Emosi
Kevin Keegan, legenda sepak bola Inggris yang meninggal pada usia 75 tahun, adalah satu-satunya pemain asal Inggris yang meraih Ballon d’Or dua kali. Ia menjadi bintang di tim pertama Liverpool yang memenangkan Piala Eropa, figur mesianik di Newcastle United baik sebagai pemain maupun pelatih, serta kapten dan manajer tim nasional Inggris. Namun, seperti yang sering ia akui, banyak orang justru mengingatnya karena sebuah ledakan emosi yang memicu kegagalan bersejarah Newcastle dalam perburuan gelar Premier League. Wawancara TV yang ikonik itu menjadi cikal bakal era modern sepak bola yang dipenuhi sorotan media dan narasi kepribadian.
Ledakan emosi Keegan pada April 1996—di mana ia meneriakkan “I’d love it!” kepada Alex Ferguson—telah menjadi meme sebelum istilah itu populer. Video tersebut diputar berulang kali di Sky Sports dan melekat di ingatan banyak generasi, bahkan yang belum lahir saat peristiwa itu terjadi. Meski demikian, mereduksi kehidupan Keegan hanya pada momen-momen emosionalnya akan mengaburkan pencapaian luar biasa yang ia raih. Ia adalah pemain Inggris paling karismatik di era modern, lebih fasih dari David Beckham dan Paul Gascoigne, serta lebih bergairah dari Bobby Moore. Ia memiliki bakat langka untuk menginspirasi rekan setimnya.
Masa Kecil dan Awal Karier yang Tidak Pernah Diduga
Kevin Keegan lahir di Armthorpe, Doncaster, dari pasangan Doris dan Joe, seorang penambang batu bara veteran perang. Masa kecilnya sangat sederhana: rumah tanpa listrik, kamar mandi berupa bak seng, dan toilet di ujung taman. Baru pada usia 10 tahun keluarganya pindah ke rumah dewan di Balby. Kesederhanaan ini membentuk karakter pekerja kerasnya.
Bakat sepak bola Keegan awalnya tidak diakui banyak orang. Ia dianggap terlalu kecil dan bahkan ditolak oleh Doncaster Rovers. Namun, seorang biarawati bernama Suster Mary Oliver yang melatih tim sepak bola sekolah dasarnya melihat potensi besar. “Sepak bola Kevin harus didorong,” tulisnya dalam rapor sekolah, memberikan kepercayaan diri yang luar biasa pada Keegan. Ia kemudian bekerja di pabrik kuningan Peglers dan bermain untuk tim pabrik serta tim pub. Secara kebetulan, ia bertemu dengan pemandu bakat Scunthorpe, Bob Nellis, yang memberinya kesempatan trial di klub Divisi Ketiga tersebut.
Kejayaan di Liverpool dan Ballon d’Or Pertama
Meskipun baru bermain di Scunthorpe, Keegan mendapat panggilan dari manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly. Shankly dengan berani berkata, “Kamu bukan hanya pemain hebat—kamu adalah salah satu pemain hebat!” Keegan membuktikan kata-kata itu dengan mencetak gol pada debutnya bersama Liverpool dan tidak pernah dicadangkan lagi. Shankly menjadi figur ayah kedua baginya, mewariskan kemampuan motivasi yang luar biasa.
Di Liverpool, Keegan meraih tiga gelar liga, dua Piala UEFA, satu Piala FA, dan Piala Eropa. Ia menjadi bagian dari tim pertama Liverpool yang menjuarai Piala Eropa pada 1977. Prestasi ini membawanya meraih Ballon d’Or pertamanya. Namun, Keegan dikenal sebagai pemain yang suka menantang dirinya sendiri. Ia memutuskan meninggalkan Liverpool di puncak kejayaan untuk bergabung dengan klub Jerman, Hamburg, yang saat itu berada di peringkat keenam Bundesliga.
Petualangan di Hamburg: Dari Kegagalan Awal hingga Gelar Bundesliga
Kepindahan ke Hamburg tidak langsung mulus. Rekan setim yang cemburu mengadakan pertemuan untuk mengusirnya, dan ia mengaku bola jarang diberikan padanya. Puncak frustrasinya terjadi saat pertandingan persahabatan Natal 1977 ketika ia memukul pemain lawan hingga KO dan mendapat larangan bermain delapan pekan. Namun, setahun kemudian, Keegan berhasil meraih Ballon d’Or keduanya dan membawa Hamburg meraih gelar Bundesliga pertama mereka sejak 1960.
Di Jerman, Keegan belajar bahasa setempat dan dijuluki “Mighty Mouse” karena kekuatannya yang luar biasa meskipun bertubuh kecil. Sayangnya, kariernya di Hamburg berakhir dengan kekalahan di final Piala Eropa melawan Nottingham Forest. Itu menjadi trofi terakhir yang ia menangkan. Ia baru berusia 29 tahun saat memutuskan kembali ke Inggris.
Kembali ke Inggris: Newcastle dan Momen “I’d Love It”
Keegan bergabung dengan Southampton untuk membantu mereka finis di posisi enam besar, tetapi klub itu mulai menurun. Pada 1982, ia menerima tawaran dari Newcastle United yang saat itu terlilit krisis finansial dan bermain di Divisi Kedua. Kepindahan ini membuatnya kehilangan tempat di timnas Inggris karena manajer Bobby Robson tidak merasa pantas memanggil pemain dari divisi bawah. Keegan merasa dikhianati dan dipermalukan.
Namun, kehadiran Keegan menggandakan jumlah penonton di St James’ Park. Newcastle promosi sebagai juara Divisi Kedua pada musim 1983-84. Keegan pensiun sebagai pemain di usia 33 tahun setelah sebuah insiden saat lawan mampu mengecohnya dalam pertandingan Piala FA melawan Liverpool. Ia kemudian menikmati masa pensiun di Marbella, tetapi rasa bosan segera muncul.
Pada 1992, Sir John Hall memohon Keegan untuk menyelamatkan Newcastle dari degradasi ke divisi ketiga. Keegan menerima dan berhasil menjaga klub tetap di divisi kedua, lalu berjanji membangun dinasti yang bisa menyaingi Liverpool. Setelah promosi ke Premier League, Newcastle tampil gemilang. Pada musim 1995-96, mereka memimpin klasemen dengan selisih 12 poin pada Januari. Namun, kekalahan krusial dari Manchester United diikuti oleh rentetan hasil buruk. Puncaknya, dalam wawancara TV yang terkenal, Keegan meluapkan emosinya kepada Ferguson dengan kalimat “I would love it if we beat them!” Manchester United akhirnya juara dengan selisih empat poin.
Karier Kepelatihan dan Tim Nasional Inggris
Setelah Newcastle, Keegan sempat menjadi manajer Fulham dan membawa mereka promosi. Ketika Glenn Hoddle dipecat sebagai pelatih timnas Inggris, Keegan dipanggil. Namun, masa kepelatihannya bersama Inggris berakhir buruk: tersingkir di fase grup Euro 2000 dan kekalahan memalukan dari Jerman di Wembley. Ia mengakui pekerjaan itu di luar kemampuannya dan mengundurkan diri di toilet stadion.
Keegan kemudian melatih Manchester City di Divisi Pertama dan membawa mereka promosi ke Premier League dengan 99 poin. Ia bertahan selama empat tahun, periode stabilitas yang langka bagi City. Setelah itu, ia mencoba peruntungan di Newcastle di bawah kepemilikan Mike Ashley, tetapi berakhir dengan bencana dan hanya bertahan delapan bulan. Keegan kemudian menggugat klausul pemecatan konstruktif dan menang, tetapi itu menjadi babak terakhirnya di sepak bola.
Warisan dan Kehidupan Akhir
Kevin Keegan adalah pionir dalam hal negosiasi klausul pelepasan di Inggris, memungkinkannya mengontrol perpindahannya sendiri. Ia juga menjadi wajah komersial sepak bola modern, dari iklan Brut hingga penampilan di Top of the Pops dengan singel “Head Over Heels in Love”. Meskipun dikenal karena emosinya, ia tetap rendah hati dan setia pada akar kelas pekerja. Ia adalah pendukung Partai Buruh dan dekat dengan Perdana Menteri Tony Blair.
Pada akhir hidupnya, Keegan didiagnosis menderita kanker stadium empat. Ia mengungkapkannya dalam serangkaian acara bicara pada Mei 2024. Salah satu acara di Newcastle menjadi perpisahan yang mengharukan dengan para penggemar yang sangat ia cintai. Ia meninggal dunia pada usia 75 tahun. Seperti yang ia katakan, sepak bola telah memberinya segalanya, kecuali akhir yang bahagia.
Warisan Keegan tetap abadi: ia adalah legenda yang menginspirasi banyak pemain, menunjukkan bahwa tekad dan kerja keras bisa mengatasi segala keterbatasan fisik. Momen emosionalnya justru menjadi bagian dari daya tariknya sebagai manusia sejati yang tidak takut menunjukkan perasaan.
