Presiden UEFA Kecam Rencana Infantino Jual Piala Dunia

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, melontarkan kritik tajam terhadap rencana Infantino jual Piala Dunia melalui skema FIFA Forward Enterprise (FFE). Dalam wawancara dengan podcast The Rest is Politics: Leading, Ceferin menyebut rencana tersebut bahkan lebih buruk daripada gagasan Super League yang sempat mengguncang sepak bola Eropa pada 2021. Baginya, skema yang digagas presiden FIFA Gianni Infantino itu pada hakikatnya menjual olahraga yang merupakan milik semua orang.

Kecaman ini muncul di tengah babak baru perseteruan dua tokoh paling berpengaruh di sepak bola dunia. Skema FFE yang dirancang untuk menjual hak kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta itu akhirnya dibekukan pada awal Agustus setelah menghadapi penolakan luas dari berbagai federasi. UEFA, bersama Concacaf dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), kini mendesak Infantino untuk mundur, bahkan tidak menutup kemungkinan memboikot kompetisi FIFA bila tuntutan mereka tidak diindahkan.

President of FIFA Gianni Infantino attends the closing ceremony of the Esports World Cup at the Grand Palais in Paris, France, August 23, 2026. Teresa Suarez/Pool via REUTERS?

Rencana Infantino Jual Piala Dunia: Fakta di Balik Skema FFE

FIFA Forward Enterprise bukan sekadar wacana biasa, melainkan proposal yang dirancang untuk membuka kepemilikan Piala Dunia bagi pihak swasta. Rencana ini dianggap sebagai ancaman serius terhadap tata kelola sepak bola global karena menyerahkan kendali turnamen paling bergengsi di dunia kepada kepentingan komersial. Setelah resmi dibekukan pada awal Agustus, Ceferin menegaskan bahwa skema tersebut tidak akan pernah hidup lagi. “Saya yakin sekali rencana itu sudah mati,” ujarnya dalam podcast tersebut.

Lebih lanjut, Ceferin menekankan pentingnya keberhasilan mereka menggagalkan upaya penjualan sepak bola tersebut. “Hal yang paling penting adalah kami menghentikan upaya lain untuk menjual olahraga ini,” kata pria asal Slovenia itu. “Sulit dibayangkan orang seperti apa yang rela menjual olahraga yang seharusnya menjadi milik semua orang.”

Lebih Buruk daripada Rencana Super League

Ceferin secara terang-terangan membandingkan skema FFE dengan proyek Super League yang gagal total pada 2021. “Saya pikir rencana ini bahkan lebih buruk daripada rencana Super League,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa dalam kasus Super League, klub-klub yang sangat penting ingin membentuk liga sendiri, sebuah langkah yang salah dan akan merusak sepak bola. Namun, dalam kasus FFE, sepak bola benar-benar akan dijual kepada pihak lain.

Perbandingan ini terasa relevan karena sebelumnya muncul laporan bahwa Infantino sempat melakukan pembicaraan tentang pengoperasian Super League dengan merek FIFA. Meski begitu, Ceferin yakin kebangkitan kembali Super League masih sangat jauh, sekitar dua dekade lagi. “Mungkin terjadi dalam 20 tahun, siapa yang tahu, tetapi untuk saat ini kami bekerja sama dengan semua orang dengan cara yang baik. Saya yakin hal itu tidak akan terjadi dalam 10 tahun ke depan,” ungkapnya.

Dua Opsi Infantino Jelang Pemilihan Presiden FIFA

Ceferin mengungkapkan bahwa ia dan Infantino sudah tidak saling berkomunikasi sejak skandal FFE mencuat. “Saya tidak berbicara dengannya, dia juga tidak menghubungi saya sejak kejadian ini,” katanya. Menurut Ceferin, presiden FIFA itu kini hanya punya dua pilihan di hadapannya.

Opsi pertama, Infantino menyadari bahwa dirinya tidak lagi memiliki dukungan politik, baik dari mereka yang akan memberikan suara maupun dari komunitas sepak bola secara luas. Dukungan tersebut mencakup para penggemar, pemain, mantan pemain, dan pelatih yang selama ini menjadi penopang legitimasi kepemimpinan FIFA. Opsi kedua, Infantino tetap maju pada pemilihan bulan Maret, tetapi dalam kasus itu ia akan menghadapi lawan. “Saya belum tahu siapa,” ujar Ceferin.

Presiden Concacaf, Victor Montagliani, disebut-sebut sebagai kandidat potensial yang siap menantang Infantino apabila ia memutuskan maju dalam pemilihan di Rabat. Sementara itu, Ceferin menegaskan tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden FIFA karena ingin menjaga kredibilitasnya. “Kredibilitas saya jauh, jauh, jauh lebih tinggi jika saya tidak tertarik pada posisi itu,” katanya. Ia sendiri diperkirakan akan kembali terpilih tanpa pesaing untuk periode keempat sebagai presiden UEFA pada pemilihan bulan April mendatang.

Tekanan Menguat: Asosiasi Nordik dan Kasus Kartu Merah Balogun

Penolakan terhadap kepemimpinan Infantino tidak hanya datang dari UEFA. Enam asosiasi sepak bola Nordik secara kolektif mengeluarkan pernyataan yang menyatakan telah kehilangan kepercayaan pada presiden FIFA. Mereka juga menyuarakan kekhawatiran serius tentang tata kelola dan pengambilan keputusan tingkat tinggi di FIFA, serta meminta jaminan mengikat bahwa FIFA tidak akan pernah lagi membuka tata kelola atau kompetisinya untuk kepemilikan swasta. Selain itu, mereka menuntut tinjauan menyeluruh oleh pihak ketiga terhadap skema FFE.

Sebelumnya, Federasi Sepak Bola Norwegia menjadi asosiasi anggota pertama yang secara langsung menyerukan Infantino untuk mundur pada awal Agustus. Langkah ini kemudian diikuti oleh berbagai kritik lain yang semakin memojokkan posisi Infantino di pentas sepak bola global. Tekanan yang terus berdatangan ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kepemimpinan Infantino kini sudah bersifat luas dan terorganisasi.

Di tengah tekanan tersebut, hubungan dekat Infantino dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga ikut menjadi sorotan. Trump sempat menelepon Infantino untuk meminta peninjauan kembali kartu merah yang diberikan kepada penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Larangan bermain Balogun pada babak 16 besar melawan Belgia kemudian ditangguhkan. Ceferin menyebut intervensi semacam itu “lebih dari mengejutkan” dan menegaskan bahwa aturan harus dihormati.

“Kami punya aturan, dan jika Anda tidak menghormati aturan Anda sendiri, maka permainan tidak masuk akal. Itu mengejutkan dan percayalah, hampir semua orang terkejut, hanya saja tidak semua orang berani berbicara,” kata Ceferin. Ia juga mengomentari kedekatan Infantino dengan Trump dengan nada sinis. “Jujur saja, Anda naif jika mengira politisi seperti itu, atau politisi mana pun, adalah teman baik Anda. Saat Anda menjadi masalah, Anda bukan lagi teman seorang politisi.”

Langkah Berikutnya: Nasib Infantino Makin Terpojok

Sementara semua tekanan ini menguat, Infantino justru terlihat beraktivitas seperti biasa. Ia terbang langsung dari Republik Dominika menuju Paris pada hari Minggu untuk menghadiri upacara penutupan Esports World Cup. Siaran televisi memperlihatkan ia berbagi sapa dengan Presiden Perancis, Emmanuel Macron, di tengah krisis yang sedang dihadapinya.

Namun, jalan Infantino untuk mempertahankan kursinya semakin sempit. Dengan skema FFE yang mati, dukungan politik yang menguap, serta calon lawan yang mulai muncul, pemilihan presiden FIFA pada Maret akan menjadi momen penentu. Ceferin dan kubu Eropa tampaknya tidak akan tinggal diam sampai perubahan nyata terjadi di FIFA.

Perseteruan Ceferin dan Infantino kali ini bukan hanya soal persaingan kekuasaan, melainkan juga arah masa depan tata kelola sepak bola dunia. Rencana penjualan Piala Dunia yang gagal itu telah menyatukan berbagai pihak, dari UEFA hingga asosiasi Nordik, dalam satu tujuan: melindungi sepak bola dari kepemilikan swasta. Pertarungan sesungguhnya tinggal menunggu hitungan bulan, dan dunia sepak bola akan menyaksikan apakah Infantino mampu bertahan atau akhirnya menghadapi lawan yang menentukan.