Laga Seru Putaran Pertama Piala FA yang Wajib Dipantau

Putaran pertama Piala FA akan bergulir serentak pada Sabtu pukul 15.00 GMT dengan 31 pertandingan dimainkan di berbagai penjuru Inggris, dan untuk kali ini tanpa kehadiran VAR. Bagi banyak penggemar, justru babak-babak awal inilah bagian paling nikmat dari kompetisi tertua di dunia tersebut, karena di sinilah klub-klub kecil mendapat panggung yang jarang mereka dapatkan di kompetisi lain.

Pada fase ini, dua divisi terbawah Football League mulai bergabung ke dalam kompetisi, sehingga perhatian otomatis terarah pada klub-klub non-liga yang masih bertahan dan berjuang demi kehormatan piramida sepak bola Inggris. Formatnya sederhana, tanpa banyak teknologi pendukung keputusan, dan jadwal kickoff yang seragam membuat Sabtu sore terasa seperti perayaan sepak bola yang sesungguhnya. Berikut sejumlah laga pada putaran pertama Piala FA yang paling layak untuk diikuti.

Mengapa Putaran Pertama Piala FA Terasa Berbeda

Ada alasan kuat mengapa banyak orang menyebut babak awal sebagai bagian terbaik dari Piala FA. Di tahap ini, klub-klub besar belum tentu terlibat, tetapi energi kompetisinya justru paling murni: tim-tim dari liga bawah bertemu lawan yang levelnya lebih tinggi, dan setiap pertandingan terasa seperti kesempatan sekali seumur hidup. Semua laga yang digelar serentak pada Sabtu pukul 15.00 GMT menambah kesan bahwa sepak bola masih milik semua orang, bukan hanya klub elite.

Ketiadaan VAR juga menjadi daya tarik tersendiri. Tanpa campur tangan teknologi, pertandingan berjalan lebih cepat, keputusan wasit diterima apa adanya, dan atmosfer stadion kecil tetap terjaga. Bagi klub non-liga yang biasanya bermain di hadapan ratusan penonton, bermain di stadion klub profesional dengan sorotan media yang jauh lebih besar sudah menjadi pencapaian tersendiri.

Fase ini juga menandai masuknya klub-klub dari dua divisi terbawah Football League, sehingga terjadi benturan antara tim profesional mapan dan tim yang sehari-harinya berkompetisi di level amatir atau semi-profesional. Kombinasi itulah yang membuat putaran pertama Piala FA selalu menyimpan potensi kejutan.

Mansfield vs Macclesfield: Bayang-Bayang Kejutan Terbesar

Laga antara Mansfield dan Macclesfield menarik perhatian karena nama kedua klub terdengar hampir sama. Warga Macclesfield pun kerap harus mengoreksi orang lain bahwa klub mereka berasal dari kota di Cheshire, bukan dari kota bernama serupa di Nottinghamshire. Kali ini, tim berjuluk The Silkmen itu harus menyeberangi kawasan Pennines untuk menghadapi Mansfield, klub yang namanya sering tertukar dengan mereka.

Macclesfield datang bukan sebagai tim sembarangan. Pada Januari lalu, klub yang kini dilatih John Rooney tersebut mencatatkan kejutan terbesar dalam sejarah kompetisi dengan menyingkirkan juara bertahan Crystal Palace di putaran ketiga. Kini mereka kembali ke kompetisi ini sebagai tim National League North yang siap merepotkan lawan dari level lebih tinggi.

Ada pula cerita menarik di balik bangku kepelatihan. Macclesfield kini memiliki direktur olahraga bernama Keith Curle, yang pernah menjadi manajer Mansfield. Curle dan bos Mansfield saat ini, Nigel Clough, adalah rekan setim di timnas Inggris pada Euro 92, sebuah turnamen yang agaknya lebih baik tidak dibahas panjang lebar.

Marine dan Bradford City: Romantisme Rossett Park

Jika bicara soal klub yang paling “asli” di Merseyside, Marine dari Crosby punya klaim yang sulit dibantah, bahkan oleh Everton maupun Liverpool. Rossett Park, markas mereka, menyimpan romantisme tersendiri: tempat orang bisa menikmati sepak bola sembari menyantap pai dan segelas bir ketika hiruk-pikuk sepak bola modern mulai melelahkan. Klub ini juga lekat dengan Roly Howard, manajer legendaris yang menakhodai Marine selama 33 tahun.

Pada Sabtu nanti, Marine harus bertandang ke Bradford City. Tuan rumah sedang dalam tren yang kurang menggembirakan sejak ditinggal Graham Alexander, yang memilih hengkang untuk menangani Preston. Kondisi itu tentu memberi harapan bagi Marine untuk menciptakan kejutan di laga tandang mereka pada putaran pertama Piala FA ini.

Bagi para penggemar yang lelah dengan komersialisasi sepak bola, pertandingan semacam ini menjadi pengingat bahwa klub kecil dengan sejarah panjang tetap punya tempat di jantung kompetisi. Atmosfer lapangan yang sederhana justru memperkuat daya tariknya.

Billy Sharp dan Perburuan Gol ke-300

Penonton di Pirelli Stadium, markas Burton, akan menyaksikan comeback Billy Sharp. Salah satu penyerang paling produktif di Football League dan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Championship dengan 130 gol itu sempat pensiun, tetapi kini kembali bermain bersama AFC Rushden & Diamonds. Klub tersebut merupakan klub phoenix dari mantan klub pinjaman Sharp, tempat ia mencetak gol pertamanya pada 2005 sebelum klub itu dilikuidasi enam tahun kemudian.

Sharp adalah sosok yang benar-benar layak menyandang label penjelajah, termasuk sempat memperkuat LA Galaxy. Namun kesempatan menontonnya kali ini sangat singkat: kembalinya sang penyerang hanya untuk satu pertandingan, demi mengejar gol ke-300 sepanjang karier. Ia meninggalkan Doncaster dengan koleksi 299 gol, angka yang membuat perburuan itu terasa semakin dramatis.

Karena hanya tampil sekali, laga ini menjadi momen yang sayang untuk dilewatkan. Bagi penggemar yang mengikuti perjalanan karier Sharp, pertemuan melawan Burton bisa menjadi penutup manis sebuah kisah panjang di sepak bola Inggris.

Alvechurch, Plymouth Argyle, dan Nama Alan Smith

Alvechurch mewakili sebuah desa di Worcestershire dan sebelumnya paling dikenal sebagai klub yang melahirkan Alan “Smudger” Smith, salah satu anggota skuad Inggris di Euro 92. Klub alumni Smith itu kini bermain di Southern League dan harus bertandang ke Plymouth Argyle pada putaran pertama Piala FA.

Plymouth sendiri kini ditangani Tom Cleverley, mantan pemain yang dulu lebih dikenal sebagai wajah komersial dan sekarang meniti jalan sebagai manajer di pinggir lapangan. Dua musim lalu, tim berjuluk The Pilgrims itu sempat mencatat prestasi besar dengan mengalahkan Liverpool, yang akhirnya menjadi juara Premier League, di putaran ketiga, meski pada periode yang sama mereka juga terdegradasi ke League One.

Jika laga itu kurang menggugah, kota Plymouth masih menyajikan hidangan lain pada Senin malam, ketika Parkway menjamu Berkhamsted, klub komunitas dari kota penyangga di dekat London. Dua pertandingan dalam beberapa hari membuat kota pelabuhan itu menjadi salah satu pusat perhatian di awal kompetisi.

Cray Wanderers, Stockport County, dan Reuni Keluarga Savage

Cray Wanderers mewakili Isthmian League dan mengklaim sebagai klub sepak bola tertua di London, dengan jejak asal-usul yang dirunut hingga 1860, bahkan mungkin lebih tua dari Notts County. Bermarkas di Chislehurst, kawasan yang lebih dikenal karena gua-gua kapurnya, tim berjuluk The Wands itu akan menghadapi Stockport County, klub League One yang sedang tampil impresif.

Selain itu, ada pula reuni keluarga Savage yang membuat putaran pertama kian menarik. Peterborough, yang ditangani Robbie Savage, menjamu Reading, klub yang diperkuat putranya, Charlie Savage. Duel ayah dan anak di dua bangku tim yang berlawanan tentu menjadi cerita yang jarang terjadi di kompetisi mana pun.

Kisah-kisah semacam inilah yang membuat Piala FA tetap dicintai. Di tengah jadwal padat dan tekanan kompetisi modern, kompetisi ini masih menyediakan ruang bagi cerita keluarga, klub kecil, dan momen yang tak terduga.

Penutup

Putaran pertama Piala FA menawarkan lebih dari sekadar hasil pertandingan: ada kejutan dari Macclesfield, romantisme Marine, misi pribadi Billy Sharp, hingga reuni keluarga Savage di Peterborough. Semua itu berlangsung dalam satu sore yang sama, tanpa VAR, dengan 31 laga dimulai serentak pada pukul 15.00 GMT.

Bagi siapa pun yang ingin merasakan sepak bola dalam bentuknya yang paling murni, akhir pekan panjang ini adalah kesempatan yang tepat untuk menyimak jalannya kompetisi dari babak paling awal, sebelum klub-klub raksasa masuk ke panggung.