Karier Jack Grealish kini berada di persimpangan jalan. Gelandang serang berusia 31 tahun itu pernah dipercaya tampil penuh 90 menit di final Liga Champions—laga terbesar dalam sejarah Manchester City—namun sekarang justru tersingkir dari skuad Everton karena pelanggaran disiplin klub. Situasi ini menandai titik terendah baru bagi pemain yang sempat digadang-gadang sebagai wajah baru era Everton.
Everton sendiri mengonfirmasi bahwa Grealish tidak masuk dalam skuad saat tim menang atas Newcastle di ajang Carabao Cup pada Kamis lalu. Klub menyebut telah terjadi “pelanggaran disiplin klub” tanpa merinci bentuknya. Keputusan itu diambil setelah Grealish dilaporkan absen dari sesi latihan pada Senin. Bagi Everton yang tengah berjuang dengan skuad tipis, kehilangan seorang pemain senior karena alasan yang sebenarnya bisa dihindari jelas menjadi pukulan tersendiri.
Ditinggalkan dari Skuad Everton Usai Melanggar Disiplin
Keputusan Everton mencoret Grealish dari daftar pemain bukan tanpa sebab. Manajer David Moyes berbicara singkat dan dingin ketika ditanya soal pemain asal Inggris itu, dan tampaknya tidak akan merekomendasikan untuk mempertahankannya setelah masa pinjaman berakhir. Sikap tersebut wajar mengingat Everton sedang bekerja dengan skuad yang sangat minim, sehingga kehilangan satu pemain senior untuk alasan yang bisa dihindari tentu membuat frustrasi.
Insiden ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Grealish kembali ke Everton untuk masa pinjaman kedua. Pada musim ini ia baru mencatat enam penampilan bersama The Toffees sebelum akhirnya absen. Padahal, kehadirannya semula diharapkan bisa menambah kedalaman lini serang tim yang sedang membangun identitas baru.
Dari Pahlawan Treble Manchester City ke Pinggiran
Perjalanan Grealish di Manchester City dimulai dengan status pemain termahal. Ia dibeli dengan harga £100 juta dan sempat menjadi andalan di momen-momen penting, termasuk ketika City meraih treble. Di final Liga Champions melawan Inter, Pep Guardiola memilihnya sebagai starter dan membiarkan Phil Foden, Julián Alvarez, serta Riyad Mahrez menghangatkan bangku cadangan. Ia bermain penuh 90 menit dalam laga bersejarah tersebut karena Guardiola menaruh kepercayaan paling besar padanya.
Namun kepercayaan itu perlahan memudar. Cedera ikut memperburuk situasi, dan Grealish hanya mencatat 17 kali menjadi starter di Premier League selama dua musim berikutnya di bawah Guardiola. City pun ingin melepasnya pada musim panas 2025, dan Everton hadir sebagai solusi lewat skema pinjaman. Awalnya segalanya tampak menjanjikan: Grealish sempat menjadi pembeda lewat gol kemenangan melawan Crystal Palace dan Bournemouth, serta mengumpulkan enam assist dalam 20 penampilan Premier League sebelum musimnya berakhir lebih cepat pada pertengahan Januari karena cedera kaki.
Konsistensi tetap menjadi masalah utama. Grealish tidak pernah tampil lebih dari 28 laga liga dalam satu musim sejak 2019-20 bersama Aston Villa, dan fakta itu seharusnya menjadi peringatan serius bagi dirinya. Ia bisa bersinar sesekali, tetapi momen-momen tersebut tidak pernah cukup sering untuk membangun fondasi karier yang stabil di level tertinggi.
Rekam Jejak Indisipliner yang Tak Kunjung Usai
Grealish sebenarnya sadar akan kelemahannya, dan itu menjadi langkah awal yang baik. Namun menyadari dan memperbaiki adalah dua hal yang berbeda. Dalam wawancaranya dengan Sky Sports tahun lalu, ia mengakui bahwa dirinya memang senang keluar dan berpesta, tetapi menegaskan bahwa ada waktu dan tempat yang tepat untuk itu—dan ia mengakui sering salah memilih momen.
Deretan insiden sudah mewarnai perjalanan kariernya. Mulai dari melanggar aturan lockdown, larangan mengemudi, hingga beberapa kali menjadi viral karena difoto dalam kondisi mabuk di tempat umum. Guardiola bahkan pernah memperingatkannya soal perilaku, termasuk menjatuhkan sanksi pada 2021 untuk laga melawan Newcastle setelah ia dan Foden datang latihan dalam kondisi tidak fit.
Pola ini menunjukkan bahwa kedisiplinan Grealish tak kunjung membaik seiring bertambahnya usia. Padahal, belajar dari kesalahan adalah bagian dari pendewasaan. Dengan 39 caps bersama Timnas Inggris, ia seharusnya sudah menjadi teladan bagi pemain muda di sekitarnya, bukan justru menjadi sumber masalah di klub yang meminjamnya.
Dampak bagi Everton dan Masa Depan Karier Jack Grealish
Everton sebenarnya sempat ragu untuk membawa Grealish kembali pada musim panas ini. Namun penjualan Iliman Ndiaye ke Manchester City membuat langkah itu terasa pragmatis untuk mengisi kekosongan di lini serang. Grealish sempat menjalani pramusim di bawah Enzo Maresca, yang memberinya kesempatan tampil di Community Shield dan laga pembuka melawan Bournemouth. Maresca pun masih menyimpan simpati, dengan menyebut Grealish sebagai “anak baik dengan hati besar” pada Jumat lalu.
Meski begitu, reaksi Moyes menunjukkan arah yang berbeda. Ia enggan berpanjang lebar soal Grealish dan tampaknya tidak akan merekomendasikan perpanjangan pinjaman. Dengan skuad yang tipis, Moyes butuh pemain yang bisa diandalkan setiap pekan, bukan sosok yang justru menambah masalah di luar lapangan. Keputusan meninggalkan Grealish dari skuad menghadapi Newcastle menjadi sinyal jelas bahwa kesabaran mulai menipis.
Di sisi lain, Grealish tetap punya sisi humanis yang membuatnya dicintai penggemar. Ia dikenal mudah didekati, bersedia menandatangani autograf lebih lama daripada pemain lain, dan antusias terlibat dalam kegiatan amal yang melekat pada klub-klub besar. Saat masuk dan keluar dari Hill Dickinson Stadium, ia kerap dikerumuni dan dengan senang hati berfoto selfie dengan siapa pun. Energi positif itu ia bagikan kepada orang lain, tetapi ia masih perlu menemukan kesadaran diri untuk melakukan hal yang sama bagi dirinya sendiri.
Kontrak Habis dan Peluang Terakhir di Usia 31
Kontrak Grealish di Manchester City berakhir pada akhir musim ini. Itu berarti ada insentif besar baginya untuk membuktikan bahwa ia masih mampu bersinar di Premier League dan membantu Everton meraih trofi yang sudah lama mereka dambakan. Namun dengan status yang terus menurun, tujuh bulan ke depan akan sangat menentukan arah kariernya.
Di usia 31 tahun, ia masih punya waktu untuk bermain di level tertinggi selama beberapa tahun ke depan. Ia pernah menjadi rekrutan £100 juta dan peraih treble, tetapi semua itu kini hanya menjadi kejayaan masa lalu. Grealish perlu membuktikan bahwa ia punya rasa hormat terhadap dirinya sendiri dan terhadap Everton untuk ingin berbuat lebih.
Sebagai pemain, Grealish tetaplah sosok yang memikat ketika berada dalam performa terbaik. Dengan gaya dribelnya yang bebas dan kaos kaki turun, ia mampu membuat penonton berdiri, menciptakan peluang, mencetak gol, dan memaksa lawan melakukan pelanggaran. Namun momen-momen itu terlalu jarang terjadi, sementara masalah di luar lapangan terus mengiringi langkahnya.
Tanpa perubahan besar, kepercayaan Moyes dan Everton akan sulit kembali. Grealish pernah berkata bahwa ia adalah pemain yang sangat bergantung pada rasa percaya diri dan ingin merasa dicintai. Kini, ia harus lebih dulu membuktikan bahwa dirinya layak mendapatkan kepercayaan itu—bukan hanya dari klub, tetapi juga dari dirinya sendiri.
